Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Hancur nya Akar Jiwa


__ADS_3

Jaya sudah di kerubuti enam tetua yang tergabung dalam kelompok Akar Jiwa.


Keenam orang tersebut langsung melakukan serangan tingkat tinggi dengan senjata andalan masing masing.


Tohpati (tetua Angsa Emas) dengan tombak pedangnya kembali menebas membabat ke arah badan Jaya.


Sementara Ki Ronggeng (pemimpin agung Akar Jiwa) menyambar dengan dua pedang di tangannya.


Pisau pisau dari Gambir Anom (tetua Pisau Terbang) juga berseliweran melayang di badan Jaya yang meliuk liuk menghindari serangan itu.


Wirogo (tetua Hati Singa) dengan gada senjatanya juga tak mau kalah menghantamkan pusaka itu ingin ******* badan lawannya.


Padmo Sumingkir (tetua Tiga Tombak) yang bersenjata tombak sudah merangsek mencari celah berusaha menjebol perut Jaya.


Sedangkan Bargolo (tetua Ular Kembang) dengan pedang yang sudah di lumuri dengan racun mematikan, mencoba menusuk dari belakang.


Serangan bertubi tubi tersebut terlihat mengerikan bagi yang melihatnya.


"Pasti mati bocah itu."


"Mayatnya bakal di cincang tak berbentuk." seru yang lainnya.


Kini para penduduk dan yang tak berkepentingan sudah berada di luar lapangan alun alun tersebut menonton pertempuran ganas itu.


Jaya hanya tersenyum senang menghadapi semua serangan itu, setelah zirah sayap Garuda kembali kepadanya hampir belum pernah di gunakan fungsi nya.


"Aku akan mengujimu teman" kata Jaya pelan kepada Roh pusaka sayap Garuda yang kini sudah berpendar melingkupi Jaya.


Kini badan Jaya seakan dibimbing oleh sesuatu kekuatan untuk menghindar dan menjauh dari serangan serangan tersebut.


Ibarat tangan Jaya mau di tebas, sebelum serangan itu mencapai sasaran yaitu tiga jari dari permukaan kulitnya, maka tangannya sudah otomatis tergerak oleh kekuatan roh pusaka, menghindar...semua itu bisa terjadi karena lawan lawannya hanya berada di tingkat prajurit Raja.


"Keparaaat...bocah ini licin seperti belut..!." racau Padmo Sumingkir sembari terus menusukkan tombak nya.


Kecepatan tusukan yang tak main main itu, bahkan hanya mengenai ruang kosong.


"Iblis dari mana ini, mengapa begitu lincah menghindari semua serangan kita..!," Wirogo juga berteriak sedikit frustasi.


"Bangsaaat... keparaat...!," maki ki Ronggeng kesal karena semua serangan tersebut hanya mengenai ruang kosong.


Jaya sudah meloncat mundur, sedikit tersenyum miring ke arah lawan lawannya.


"Sekarang giliran ku menyerang kalian..!," seru Jaya dengan tersenyum dingin, membuat suasana menakutkan bila ada menyadarinya, senyum malaikat pencabut nyawa.


Jaya melesat maju gantian menyerang dengan pedang Angin Puyuh di tangan kanan dan tongkat Wesi Kuning hasil merebut dari lawannya di tangan kiri.


Gambir Anom yang melihat lawannya bergerak maju kembali melempar pisau pisau di tangan nya.


Sriing...sriing....


Pisau pisau itu melesat kearah Jaya yang juga maju menyerang.


Jika orang biasa pisau pisau itu akan mengenai tubuh nya, karena dua kecepatan yang saling berlawanan akan mempercepat tubrukan itu.


Taaang....! traaang....!!


Lima pisau yang di lemparkan Gambir Anom itu di tangkis Jaya, tiga pisau rontok berguguran dan dua pisau lainnya di balikkan Jaya ke arah para penyerangnya.


Sriing...sriiiing.....


Taaang...! Wirogo menepis pisau yang meluncur balik kearahnya, dengan Gada senjata pusaka nya.


"Aaarh.." sebuah teriakan Padmo Sumingkir saat salah satu pisau itu lolos dari tangkisannya dan mengenai lengannya.


Sebelum semua menyadari itu Jaya sudah mendekat menghantamkan tongkat Wesi Kuning, senjata yang berujut besi berwarna keemasan sepanjang tiga jengkal orang dewasa itu sudah menghantam Tohpati.


Sedangkan pedang Angin Puyuh menebas ke arah Bargolo yang dekat dengan Tohpati.


Hawa gelombang kekuatan dari tongkat Wesi Kuning menghentak menghantam Tohpati yang mencoba menangkis dengan Tombak pedangnya.


DUAAAAAAAAARTT....!!


Tohpati terjengit dengan benturan itu, kaget dengan gelombang yang datang kearahnya begitu kuat, membuatnya tubuhnya limbung dan terlempar beberapa tombak bergulingan.


"Aaarch...!," teriaknya dengan dada terasa seperti di tekan berkarung-karung beras.


Traaang...!! BLAAAAAR...!!


Bergolo pun berhasil menangkis tebasan pedang Angin Puyuh, namun daya gempur yang begitu hebat juga membuat dirinya terlempar menyusul ke arah Tohpati.


Badan Bergolo bergulingan lebih hebat, akibat gempuran Selaksa Ombak Menerjang itu membuat badan Bergolo seakan daun yang tertiup angin.


"Aaauugh...!!," teriak Bergolo, miris terdengar menggema membaur dengan teriakan para korban lainnya.


Jaya melesat memburu keduanya yang tengah terkapar di sana.


Keempat tetua lainnya juga memburu ke arah jatuhnya dua rekannya berniat menghadang Jaya yang melesat ke arah keduanya.


Dengan susah payang Tohpati berdiri, begitu juga dengan Bergolo mencoba berdiri dengan gemetaran.


"Hiaaaaaa....!!."


Srriiing....


Jaya kembali menebaskan pedang Angin Puyuh.


Gelombang kekuatan tebasan itu hingga terasa membelah udara di sekitar nya.

__ADS_1


BLAAAARTTT...!


Hantaman itu ditangkis olehku ki Ronggeng dan Wirogo berbarengan, berharap dua orang itu memenangkan adu kekuatan pukulan tersebut, namun malah dua orang itu yang terlempar karena kalah kekuatan.


Jaya hanya terdorong kebelakang namun berhasil berdiri dengan tegak kembali.


Enam orang tetua di depannya kini sudah berdiri berdekatan, saling merapat sekaan ingin menggabungkan kekuatannya.


"Ayo kita adu nyawa...!!," teriak Padmo Sumingkir mulai memimpin rekan rekannya, karena dirinya masih murka akibat lengannya terkena pisau yang di balikkan tadi.


Enam orang itu membentuk formasi dengan Padmo Sumingkir berada di paling depan, disusul dua orang di belakangnya dan tiga orang di paling belakang.


"Formasi Mata Panah Dewa ...!," teriak mereka serempak, menggabungkan kekuatannya dengan menempelkan tangan di punggung orang di depannya, dan terdepan Padmo Sumingkir mengacungkan tombaknya.


Jaya pun demikian, sudah menyimpan dua senjatanya tadi, mengganti dengan tombak kyai Seto Ludiro dan perisai Wojo Digdoyo sebagai pertahanan nya.


"Aku terima tantangan kalian...!!," teriak Jaya yang juga terpancing emosinya.


Di hirupnya udara disekitar, di simpan di dada lalu pikirannya terfokus dan dari pusat tubuhnya sepercik cahaya yang makin berputar melingkupinya tercipta.


Tangannya berpendar menandakan jurus Badai Matahari sudah di ciptakan nya.


Demikian pula dengan keenam tetua yang sudah bergabung menyatukan tenaga itu sudah terlingkupi sebuah kekuatan yang akan menghadang serangan Jaya.


"HIAAAAAAA....!!."


Jaya berteriak sangat keras, meloncat menghantamkan pukulan Badai Matahari yang di wujutkan dalam tusukan tombak kyai Seto Ludiro.


Gelombang kekuatan yang bercampur dengan hawa panas menyapu ke arah lawan yang juga sudah diselimuti kekuatan yang juga siap meledak.


GLEGAAAARRTT....!!


Dua tubrukan kekuatan itu meledak, terdengar memekakkan telinga, gelombang nya pecah menyebar menghantam dan melemparkannya apapun yang tak kokoh di sekitarnya.


Semua terbelalak kaget dengan dahsyat nya akibat benturan tersebut.


Jaya terpental mundur beberapa langkah, kekuatannya yang masih tersegel belum sepenuhnya kembali seperti sedia kala, seperti saat menjadi Dewa Perang, memang menjadi kelemahan nya saat ini.


Namun lebih mengerikan lagi kini keadaan keenam tetua yang terlempar beberapa tombak, bergulingan badai daun terhempas angin dengan badan hangus seperti arang, tak berkutik lagi karena.. mati.


Semua orang yang melihat itu menjadi begidik ngeri, betapa hebat anak muda tetua dari Awan Putih tersebut.


**


"Hua..ha..ha . lihat lah... teman teman mu..!," seru Pitu Geni sambil menunjuk ke arah pertempuran Jaya dengan enam tetua yang berakhir mengerikan bagi kelompok Akar Jiwa.


Kiwari menoleh dan badannya langsung gemetaran, melihat betapa hebat dan ganasnya anggota lawannya.


"Sekarang giliran mu menyusul mereka..!," Pitu Geni meringis mengejek lawanya yang kini mematung.


"Hiaaaa ..!!."


Pitu Geni yang menyia nyiakan kesempatan tersebut, golok Wiso Geni langsung menyambar lawan yang masih terguncang tersebut.


Kiwari yang sudah runtuh rasa percaya dirinya, menangkis tebasan golok tersebut.


Traaaang...!!


Tenaga yang sudah lemah makin di perlemah dengan hati yang goyah membuat tebasan Pitu Geni terlihat makin superior.


Kiwari terlempar kebelakang, wajahnya makin pucat, di cobanya kembali memfokuskan diri, namun sebelum posisinya mantap kembali, lawannya melesat menghantamkan senjata yang mirip besi dengan bara dan loncatan api.


DUAAAR...!!


Kiwari kembali terlempar, kakinya makin terasa gemetaran, bahkan kali ini dengan susah payah dirinya mencoba berdiri tegak.


"Hiaaaaa...!!," Pitu Geni kembali meloncat menebaskan golok membelah dada sang lawan.


Trang... Craaak....


Meskipun tebasan golok itu mampu di tangkis, namun kuatnya hantaman itu menerabas hadangan pedang nya dan membabat dadanya hingga terbelah cukup dalam.


"Aaaaarrcchh...!."


Kiwari menjerit dengan pilu, dadanya menyemburkan darah segar karena golok Wiso Geni memotong otot jantung yang bernama arteri.


Tak butuh waktu lama tubuh Kiwari ambruk dengan nyawa melayang.


**


Kumala tertawa, begitu mengerikan dilihat oleh Aryo Suwito.


"Lihatlah...," seru Kumala menunjuk kearah rekan rekan tetua Rajawali Sakti itu, kini telah menjadi mayat.


"Apakah kau tak ingin berkumpul dengan mereka?."


"Dasar sundaa...aall."


Belum habis umpatan Aryo Suwito di keluarkan dari mulut kotornya, Kumala sudah melesat maju menebaskan pedangnya.


Pedang hitam legam itu menebas dadanya dengan sangat cepat, membuat sang tetua tergagap lalu menyilangkan tongkat kebutan senjata pusaka nya.


Traaaang...!


Jarak keduanya begitu dekat, karena pertarungan jarak pendek tersebut.


CLAAAAPP...!!..

__ADS_1


Tiba tiba Kumala melepas jurus Mata Iblis yang kini tak mampu di tepis maupun di hindari nya.


"Aaaarghh..."


Jerit Aryo Suwito begitu gelombang sinar itu menembus matanya, menjalar keseluruh aliran darah nya, menghancurkan pembuluh darah pembuluh darah yang ada di badannya.


Akibat nya mata, hidung, telinga dan mulutnya mengeluarkan darah segar hingga membanjiri seluruh badannya, sebelum badannya ambruk mati dengan mengenaskan.


**


Karto Darso tetua Rajawali Sakti yang ketakutan wajahnya sudah pucat pasi.


Bertarung melawan Pelangi, gadis muda yang tak di nyana begitu hebat itu membuatnya ketakutan setengah mati.


Apalagi melihat rekan rekannya sesama tetua sudah menjadi mayat makin gemetaran lah dirinya.


"Aku harus lolos, nyawaku lebih berharga dari apapun," gumamnya pelan.


Rencana tinggal rencana saat Karto Darso melepas serangannya mencoba mendesak lawan sebelum melarikan diri, pedang merah Pelangi malah menyulitkannya.


Sriiing...!! Traaang...!!


Dua senjata itu saling beradu, membuat Karto Darso tergetar lengannya karena tenaga Pelangi begitu kuat baginya.


"He..he..he..kenapa terburu buru paman?, mau kemana..?" ledek Pelangi yang melihat lawan belingsatan, toleh sana toleh sini.


"A..a.aku..aku....!."


"Mau kabur...??."


Karto Darso mengangguk pelan sambil menunduk.


"Tinggalkan lengan kiri dan cakarmu..!," sahut Pelangi lagi asal,


sambil mengejek lawannya.


Karto Darso mengangkat wajahnya, lalu secepat kilat menebas lengan kiri yang ada sarung Cakar Rajawali pusaka milinya.


"Aku sudah melakukan perintah mu, ijinkan aku pergi," katanya memelas, menatap Pelangi yang tak mampu berkata kata, hanya mengangguk melepas lawannya.


Karto Darso melesat pergi setelah menotok lengan kirinya mengurangi darah yang memancar dari sana.


**


Baroto Sarkawi masih bertarung dengan Citro Bawono.


Adu pukulan tangan kosong itu begitu seru terjadi.


Keduanya fokus bertarung layaknya seorang petinju, tak menghiraukan apapun di sekitar nya.


Jurus Banteng Edan milih Citro Bawono mampu menandingi hebatnya jurus Lengan Baja dari Baroto.


Praaak... praaaakkk...


Benturan dua tangan itu terdengar sangat jelas.


Pelangi mendekat kearah keduanya.


"Paman Baroto pakailah ini," teriak Pelangi melemparkan sarung tangan Cakar Rajawali.


Baroto menyambut senjata tersebut, lalu memakainya.


"Hmm, akan aku coba senjata teman mu ini." kata Baroto menatap Citro Bawono yang kaget akan peristiwa tersebut.


Citro Bawono sedikit terkejut, pandangan nya memutari situasi di sana, betapa kagetnya kini rekan rekannya sudah menjadi mayat karena sudah tak terlihat batang hidung nya.


Makin terkejut, kini lawannya sudah memakai cakar Pusaka rekannya, yang mungkin juga sudah mati.


"Kenapa ?, mulai takut anggota mu sudah pada mati..??"


Citro Bawono hanya menatap Baroto tajam tanpa membalas ucapan nya.


"Ayo aku antar menemui teman teman mu..!," teriak Baroto melesat maju menghantam dengan tangan kanannya.


Wuuusss..


Lengan sekuat baja itu sudah melayang menghantam ke arah kepala Citro Bawono.


Dengan cepat Citro Bawono menangkis hantaman tersebut dengan lengannya yang sedikit ditekuk menangkis nya.


Menyadari serangan tangan kanan nya berusaha di tangkis lawan, tangan kiri yang kini sudah di lapisi Cakar Rajawali melesat menerobos ke arah perut lawan.


Craaaaakk... "Rasakan kematian mu.."


Cakar yang kuat itu berhasil menembus kulit lawan, hingga meremas dan memutus usus usus di dalamnya.


"Aaarch.."


Jerit tertahan Citro Bawono, mengiringi kematiannya.


Seiring kematian tetua Citro Bawono, pertarungan di alun alun tersebut juga berangsur mereda, karena anggota Akar Jiwa banyak yang mati dan ada yang lari meninggalkan palagan karena ketakutan.


Suro Jelantik yang berhasil lolos, tak mampu di kejar oleh prajurit


___________


Jangan lupa tinggalkan jejak nya...baca dan dukung juga karya lainku... Kaka... terimakasih...

__ADS_1


__ADS_2