
Jaya sebenarnya mendengar semua apa yang di katakan oleh orang orang desa Pucung yang katanya terkenal sebagai ahli racun itu.
Namun di acuhkan nya semua itu, Jaya pura pura tak mendengarnya.
"Aku berani taruhan racunku pasti mampu melumpuhkannya dengan sekali tancap..!," kata pria gendut dengan membawa tongkat panjang.
Semua orang dari desa Pucung memang membawa semacam tongkat panjang, selain tentu saja senjata pedang dan golok sebagai senjata utama.
Rupanya tongkat panjang itu adalah semacam senjata sumpit yang di gunakan untuk menembakkan anak sumpit (jarum jarum) beracun.
"Aku juga bisa merobohkannya dalam sekali tembak," sahut pria di sampingnya yang berbadan kerempeng tak mau kalah.
Semua omongan yang saling bersahut sahutan itu di sambut oleh sorakan teman teman yang lainnya.
Seakan hal itu di jadikan sebagai bahan taruhan oleh kedua orang tersebut.
"Sekarang gini...siapa yang paling cepat merobohkan anak bawang itu, maka akan mendapatkan sumpit emas ini..," teriak salah satu dari orang orang tersebut, sambil mengangkat sebuah sumpit yang memang nampak indah dengan warna keemasan.
"Aku setuju...!!," teriak kedua orang dengan ukuran badan yang berkebalikan tersebut, hampir bersamaan.
Keduanya lalu bangkit berdiri mulai mengejar Jaya Sanjaya dan Narimo.
Jaya yang mengetahui hal itu, memerintahkan Narimo agar berjalan terlebih dulu.
"Paman berjalanlah dahulu, nampak nya orang orang itu akan membuat masalah dengan ku.."
Mendengar perintah itu, Narimo langsung melajukan kudanya sedikit menjauh.
"Heiii...berhenti...!!," teriak dua orang dengan badan yang berkebalikan, satu gendut dan satu kerempeng.
"Ada apa..!." Jaya Sanjaya yang mendengar kesombongan orang orang itu langsung berhenti dan turun dari kudanya.
Dua orang dari dukuh Pucung itu kini sudah bersiap dengan sumpit di tangannya.
"He.he..he.. kami ingin bertanya kepada mu..!," kata si pria gendut sambil terkekeh meremehkan, sambil mengalihkan perhatian.
Siiiitt...!!
Siiiiiitt...!!
Tiba-tiba dua orang itu langsung menembakkan sumpit masing masing tanpa, berkata kata lagi...memang kejam.
Jleeeb...! jleeeb...!!
Dua buah anak sumpit melesat dan langsung menancap di dada kanan dan kiri, tanpa di tepis oleh Jaya Sanjaya sama sekali.
Tubuh Jaya langsung tumbang, ambruk ke tanah, membuat bukan hanya dua orang pria gendut dan kerempeng itu saja yang bersorak tapi hampir seluruh orang orang desa Pucung berhamburan mendekat.
"Aku yang mengenai duluan..!," teriak pria gendut kegirangan.
"Heii..aku duluan...!!," teriak pria kerempeng tak mau kalah, dengan raut wajah nampak senang.
Orang orang desa Pucung pun berhamburan, mendekat ingin membuktikan hal itu, racun siapa yang terhebat.
"Ayo kita periksa..!!," teriak orang orang itu dengan antusias mendekat ke arah ambruknya Jaya Sanjaya.
Mereka nampak gembira dan bersorak sorai, seakan nyawa orang lain itu hanya permainan, di buat taruhan tanpa ada sedikit pun rasa kemanusiaan...sungguh miris kelakuan orang orang ini.
Semua sudah berdiri mengerubungi badan Jaya yang ambruk di tanah.
Narimo yang sudah berada sedikit jauh tak bisa menutupi kesedihannya melihat Jaya sudah terkapar, semua tau kehebatan orang orang desa Pucung yang terkenal dengan kehebatan ilmu racun nya.
__ADS_1
"Siapa yang racunnya menyebar lebih banyak maka dia yang menang," kata salah satu orang desa Pucung, memberikan penilaian nya.
"Ya benar ..!!," sahut yang lain.
Biasanya jika anak sumpit itu mengenai sasarannya, maka daerah sekitar tancapan anak sumpit itu akan membiru, dan semakin luas lebam biru nya menandakan semakin ganas racun nya.
"Balikan badan anak bau kencur ini," kata salah satu dari orang orang itu memberikan perintah.
Salah satu orang dari desa Pucung itu membalikan badan Jaya yang jatuh menelungkup.
Sraaak..!
Badan Jaya sudah terbalik, dan semua nampak kaget, karena daerah sekitar tancapan anak sumpit itu tak membiru sama sekali, artinya racun itu tak menyebar atau bahkan racun tersebut hilang fungsi nya.
"Haah..???!!," seru orang orang tersebut hampir bersamaan dengan mulut menganga, tak bisa memahami kejadian tersebut.
Belum hilang rasa terkejut orang orang tersebut.
CLAAAAPP....!!
Tiba tiba mata Jaya terbuka lebar memainkan jurus Mata Dewa, lalu tercipta lah bulatan tipis transparan, melingkupi semua yang tengah mengerubungi badan Jaya Sanjaya, dan menghambat laju gerakan orang orang desa Pucung tersebut.
Praaak...! plaaakk...!! proookk...!!
Dengan kecepatan yang sangat tinggi, Jaya melesat cepat menghajar, memukul, menendang, semua orang desa Pucung hingga pingsan dan roboh di tempat itu.
Narimo yang baru mengetahui kehebatan Jaya Sanjaya hanya bisa menganga, melihat nya menghajar orang orang tersebut hingga tak berkutik.
Tubuh tubuh orang desa Pucung satu persatu bertumbangan ambruk ke tanah langsung pingsan, setelah terhantam oleh pukulan tendangan maupun totokan di titik titik tertentu dari tubuhnya.
Begitu orang orang tersebut pingsan, jaya mengambil semua benda berharga mereka, termasuk harta dan bungkusan racun yang mereka bawa.
"Aku akan kasih pelajaran kepada kalian semua agar jera, dan tak lagi mempermainkan orang lain..!," seru Jaya Sanjaya setelah merampas semua harta mereka, lalu menghampiri penunjuk jalannya, sembari melempar beberapa kantong uang kepada Narimo.
**
Perlahan satu persatu orang dari desa Pucung membuka matanya.
"Uugh.. kepala ku terasa pusing sekali."
"Iya.. tengkukku rasanya sakit..!," keluh yang lain.
"Apa yang telah terjadi..?," tanya yang lain, namun tak ada yang mampu menjawab nya.
"Dimana anak muda tadi..?," seru salah satu orang desa Pucung, mengingatkan apa yang telah terjadi.
Menyadari itu, semua nampak menggigil menahan rasa takut nya.
Telah berlaku kurang ajar terhadap tokoh sakti, untung saja masih bisa bangun dan bernafas.
"Kita telah salah, berurusan dengan tokoh sakti.."
"Untung saja nyawa kita di ampuni tak di penggal kepala kita," kata yang lain, sahut sahutan.
Semua nampak gemetar menyadari kebodohannya.
**
"Nakmas sungguh hebat, luar biasa..!." seru Narimo tak bisa menyembunyikan kekagumannya.
Jaya hanya tersenyum saja sambil berkuda di samping nya.
__ADS_1
"Aku tak salah mengabdi kepada Nakmas." katanya lagi.
Jaya tertawa keras," Hei..!, Paman bukan mengabdi menjadi pembantuku..tapi bekerja..!." seru Jaya Sanjaya.
Narimo juga terkekeh," Tapi aku kan belum di bayar, ini namanya pengabdian Nakmas.." jawabnya tak mau kalah.
Keduanya masih melanjutkan perjalanan sambil bercanda tawa, Jaya baru menyadari dengan adanya Narimo perjalanan nya jadi lebih menyenangkan.
Selain ada yang menunjukkan jalan nya, ada juga teman mengobrol dan bercanda.
**
Dua kelompok terlihat saling berpandangan, entah sejak kapan ketegangan terjadi dari dua kelompok tersebut.
Mungkin karena mereka bersaing karena ingin mendapatkan pusaka, jadi hawa nya selalu ingin memusnahkan kompetitor nya.
Orang orang Iblis Pemusnah yang melintas dan bersinggungan dengan orang orang partai Es Abadi masih saling berhadapan.
Bisa di lihat jika tatapan kedua belah pihak tersebut, terdapat napsu saling bunuh.
"Huh...!, mengurangi musuh sejak dari sekarang itu lebih baik," kata Orang orang partai Es Abadi, menatap tajam lawannya.
"Kami tak takut kalian..!, kau pikir permainan bocah (membuat Es) itu menakutkan kami..!!," seru pria dengan garis tiga di dahi nya.
Orang orang partai Es Abadi mendengus mendengar ejekan itu.
"Ayo buktikan jika begitu...!!." teriak salah satu anggota partai Es Abadi sudah terbakar amarahnya, meloncat kedepan.
"Dengan senang hati..!," teriak anggota Iblis Pemusnah yang bergaris lima di dahinya.
Kini dua pria sudah saling berhadapan, dengan gaya arogan orang partai Es Abadi sudah mencabut pedang nya.
Hawa dingin mulai menyelimuti tempat tersebut.
Pria tinggi besar dengan kumis dan brewok serta lima garis di dahinya itu sudah mengeluarkan senjata anehnya, berupa semacam celurit namun di pangkalnya ada rantai yang mengikatnya dan cara pengendaliannya dengan memegang rantai tersebut.
Anggota partai Es Abadi menatap tajam senjata lawan yang sangat jarang di lihatnya tersebut.
"Apakah bisa kita mulai..??," ledek pria dengan lima garis putih di dahi nya.
"Cuiih...aku beri kau kesempatan pertama menyerangku..!," kata anggota pengguna element air itu menutupi keterkejutannya.
Dua orang tersebut kemudian memainkan jurus jurus nya.
Anggota partai Es Abadi sudah mengayunkan pedang nya, membuat aura dingin makin menyebar.
Sedangkan anggota Iblis Pemusnah mulai memutar dan mengayunkan senjata anehnya hingga melingkupi dirinya, menderu seakan mengusir hawa dingin yang di ciptakan lawan.
"Hiaaaaaa ..!!.''
Teriakan dari pria dengan lima garis di dahi tersebut mengawali serangan celurit ber-rantai itu, melesat menyasar badan anggota partai Es Abadi.
Traaang...!! Jduuaaaarrt..!!
Dengan cepat anggota partai Es Abadi itu menepis senjata lengkung yang berputar menyambar tubuhnya.
Hebatnya senjata itu di aliri dengan tenaga dalam tingkat tinggi, sehingga hantaman tersebut membuat anggota partai Es Abadi terpental mundur ke belakang.
"Aarcch...siaalaann...!!," teriak orang Partai Es Abadi mengumpat, tak menyangka akan sekuat itu hantaman senjata layang itu.
___________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak nya....