
Melihat gelengan Jaya Sanjaya yang menolak nya, membuat Cempaka sedikit gemas, ada niat di hati nya untuk menguji kehebatan pemuda tampan ini.
Laki laki muda yang sudah menarik perhatian nya meski baru bertemu beberapa kali itu terbukti tak membuatnya menjadi murka, padahal biasanya Ratu Dewi Mata Iblis sangatlah kejam, tak pandang bulu untuk menindas lawan lawannya.
"Kau ingin menguji kesabaran ku heum..?," bisik sang Ratu lagi dengan bisikan jarak jauh, namun dengan pandangan menggoda.
Jaya hanya mengangkat bahu nya seakan berkata "Terserah".
Cempaka yang yakin jika pemuda di depannya bukan pemuda biasa, sudah memberikan perintah kepada sebagian anak buahnya untuk menghadapi Jaya Sanjaya.
Dengan hanya mengangkat tangannya, lima orang sudah maju mengurung Jaya Sanjaya, nampaknya sang Ratu masih berbaik hati hanya mengirimkan lima orang anggota Mata Iblis untuk menyerang nya.
"Kenapa hanya lima orang..?." sahut Jaya Sanjaya sambil mendengus pelan, melirik ke arah wanita dewasa cantik yang makin cantik dengan dandanan yang sedikit menor seakan kian menampakkan dominasinya.
Respati pun demikian, sudah di kepung oleh lima orang anggota Mata Iblis juga.
"Hiaaa..!!," anak buah Mata Iblis pimpinan sang Ratu mulai menyerang Jaya Sanjaya dengan di awali sebuah teriakan.
Dengan tingkat kependekaran setingkat pendekar Raja Perak level pertengahan, kelima orang itu mulai menyerang Jaya Sanjaya dengan penuh semangat.
Bergabungnya mereka berlima seakan membuat kekuatan mereka meningkat menjadi setingkat pendekar Raja Emas, dan itu pasti akan mudah untuk membekuk seorang pemuda, batin Cempaka.
Satu anggota Mata Iblis sudah melesat mencoba menyerangnya dengan senjata golok yang di ayunkan dari tangan nya.
Wuuusss...!
Sambaran golok yang sangat cepat tersebut, terbukti tak berpengaruh bagi seorang Jaya Sanjaya.
Hanya dengan sedikit bergeser Jaya menghindari serangan sambaran senjata tersebut.
Dari arah yang berbeda dua anggota lain nya maju dan menebaskan pedangnya, mengarah ke kepala dan perut Jaya Sanjaya.
Wuuusss...! wuuusss...!!
Kembali dua sambaran senjata lawan menghampiri badan Jaya Sanjaya.
Merasa serangannya makin menjadi, Jaya pun sudah mencabut pedang di pinggangnya untuk menepis atau menangkis salah satu serangan lawan.
Sengaja memang Jaya membawa pedang biasa yang hanya setingkat senjata Raja, untuk kegiatan sehari hari nya.
Traaang....!
Satu serangan itu di tangkis dengan pedangnya, dan satu serangan di hindari nya dengan Cepat, dengan sedikit menekuk badannya.
"Cuih..hanya serangan sepele..!." seru Jaya tersenyum miring, memanas manasi para penyerangnya.
Kini di tempat tersebut sudah berlangsung beberapa kelompok pertempuran yang makin membuat kegaduhan di tempat itu.
Tempat yang semula tenang kini sudah tak terbayang lagi kegaduhan-kegaduhan nya, karena banyaknya pertempuran yang masih terjadi di sana.
Kelompok partai Es Abadi masih bertarung seru dengan orang orang desa Pucung, begitu pula dengan Iblis Pemusnah yang masih seru bertarung dengan Pemakan Arwah dan Pendekar Gila.
Kini di tambah lagi pertarungan Jaya Sanjaya dan Raja Pengemis melawan kelompok Mata Iblis.
__ADS_1
Sementara itu Sepasang Raja Pedang dan Tongkat Iblis yang tengah berkongsi sudah mencoba melesat lebih dulu menuju ke arah tempat yang di sebut altar, dimana sebuah kitab pusaka berada.
**
Di puncak gundukan tersebut, yang di sebutkan sebagai altar terdapat semacam cekungan mirip gua namun tak terlalu dalam.
Hanya seperti melindungi sebuah kitab pusaka yang memang berada di sana.
Aura keemasan yang keluar dari kitab pusaka dan menyinari tempat itu membuat ketiga orang pemburu pusaka itu ternganga.
"Pasti pusaka yang hebat...!, jika melihat tampilan nya," kata Ketiga orang tersebut, dengan tatapan takjub dan bibir tersenyum, menatap sebuah cekungan dengan sinar keemasan dari dalamnya, mereka merasa pasti akan memiliki benda pusaka tersebut.
Sepasang Raja Pedang dan Tongkat Iblis yang sudah berada disana sangat takjub melihat menampakan tersebut.
Mereka mencoba maju untuk lebih mendekat lagi kearah Kitab Pusaka itu berada, namun sebelum mereka maju terlalu dekat, sebuah sambaran ular raksasa menghentikan gerakan ketiga orang tersebut.
Sraaaakak...!! Ular tersebut langsung menyerang ketiganya.
"Aawaaas..!!," teriak salah satu Raja Pedang memperingatkan.
Ketiga berjumpalitan menjauh, menghindari sambaran ular raksasa tersebut.
Karpo dipolo salah satu Raja Pedang sudah menebaskan pedang pusaka nya yang biasa diandalkannya.
Wuuusss... Craaaaakkk..!!
Tebasan itu seakan menghantam dinding yang kuat dan tebal, tak mempan di kulit binatang tersebut.
Semua terbelalak kaget, melihat kuat nya kulit Ular Raksasa itu.
Nampaknya ular ular inilah yang menjaga tempat tersebut selama ini.
Ular ular yang sangat besar itulah ternyata yang selama ini menyemburkan racun Uap Naga.
Seperti saat ini ular ular tersebut mulai menyemburkan racun tersebut ke segala arah hingga memenuhi altar tersebut, padahal sebelumnya tempat tersebut sudah terbebas dari racun Uap Naga yang hanya ada di dataran paling bawah, di bawah pepohonan.
Ketiga orang itu langsung pucat wajahnya, melihat pelan tapi pasti sebaran racun itu pasti sampai pada mereka.
Wooosss..!!
Ular ular yang badannya sebesar pohon kelapa tersebut kembali menyemburkan racun Uap Naga ke segala arah, mencoba mencari keberadaan para pengganggu tempat itu.
Meski mata ular buta sebagaimana ular pada umumnya, namun penciuman dan sensitivitas getaran, serta panas tubuh lawan lah yang membuat ular ular tersebut mengenali mangsanya.
Woosss... wooosss...!
Ular ular tersebut makin menyebar racun dari mulutnya, menyembur kearah Karpo dipolo, Singo Dimejo dan Tombak Iblis yang kini sudah menyerah meloncat di pepohonan di luar Altar.
Para Ular kini makin menggila menyemburkan racun Uap Naga ke segala arah, hingga yg tempat itu benar benar penuh dengan racun tersebut, bahkan Uap Naga sudah mulai mencapai pepohonan yang memaksa semua orang terbirit-birit berloncatan menghindar dari sana, tak terkecuali Raja Pengemis.
**
Kini hanya tersisa Jaya Sanjaya seorang, karena semua orang sudah berlari menghindari ganasnya Racun Uap Naga yang terkenal mengerikan, orang orang itu kini kembali menunggu di pinggiran hutan yang ada di dasar jurang, karena hanya di tempat itu racun Uap Naga sudah tak tampak terlihat, mereka masih mengawasi seakan mencari celah untuk memasukinya kembali menuju tengah gundukan altar.
__ADS_1
Jaya Sanjaya bergerak menuju ke arah altar yang sedikit berada di ketinggian.
Tubuhnya bergetar, begitu menatap ke arah cekungan yang penuh dengan sinar keemasan.
Nalurinya mengatakan harus waspada dengan kemunculan ular raksasa penjaga tempat tersebut yang bisa datang sewaktu waktu dari balik lebatnya pepohonan.
Jaya Sanjaya sudah mengeluarkan dua senjata Illahi miliknya, karena kali ini lawannya sungguh sangat hebat.
Sraaaakk...!!
Sebuah sambaran menyambar ke arah Jaya Sanjaya dari seekor ular yang berwarna sedikit kehijauan.
Dengan sigap Jaya meloncat, berjumpalitan menjauh.
Sraaaaakkk...!!
Kembali sebuah sambaran dari arah belakang yang tak sempat di hindari nya, di tangkis dengan perisai Kyai Wojo Digdoyo.
Craaaakkk..!!
Taring ular raksasa itu, menggores Perisai namun tak mampu merusaknya sedikit pun, bahkan tak ada bekasnya.
Ular ular makin marah, mencoba menyemburkan racun Uap Naga, namun Jaya Sanjaya yang kebal terhadap racun tersebut malah semakin merangsek maju ke arah salah satu ular yang berwarna sedikit kemerahan.
Menghantam dengan Badai Matahari dan menusukan tombak kyai Seto Ludiro tepat di mata sang Ular.
Craaaasss...! jleeeebb..!!
"GGGRRRHHH....!!."
Suara geraman dari sang ular yang terluka terdengar hingga ke ujung jurang, membuat ngeri siapa saja yang mendengar nya.
Sesosok monster pasti ada di sana, begitu pikir orang orang itu.
Semua orang yang ada di atas jurang menatap kearah jurang, begitu juga dengan yang ada di bawah jurang di pinggir hutan dalam jurang, namun tak sedikit pun terlihat apa yang terjadi sana, apalagi kini asap tebal racun Uap Naga sudah makin pekat menyebar menutupi semuanya.
Ular raksasa yang sedikit berwarna kemerahan kini berputar bergulingan hingga menumbangkan beberapa pohon yang ada di sana, matanya yang tertembus tombak pusaka Jaya kini mengucurkan darah segar membuatnya makin beringas.
Jaya makin cepat bergerak, karena kini Ada tiga ular raksasa yang mengejar dan memburu nya.
CLAAAAPP....!!
Jaya mengeluarkan jurus Mata Dewa mencoba memerangkap ular ular tersebut, namun ternyata jurus tersebut tak berefek untuk mereka yang tak menggunakan Indra penglihatan tersebut atau memang kuatnya tenaga dari ular Raksasa itu sehingga tak mampu di hentikan oleh jurus itu.
"Aah...merepotkan binatang ini..," geram Jaya mencoba berkelit dari sambaran sambaran ular raksasa itu.
Jaya meloncat mendekati ke arah cekungan di mana terdapat kitab pusaka yang mengeluarkan sinarnya, menyambar kitab pusaka tersebut.
Laaapp...!! seeett...!!
Sebuah kitab sakti dengan aura kekuningan sudah berada di genggaman nya.
Namun keanehan terjadi begitu kitab tersebut berada di genggaman nya, semua seakan berhenti bergerak, terjebak oleh sebuah Kekuatan Mata Dewa dengan kekuatan yang maha dahsyat.
__ADS_1
____________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya....