
Jaya sudah meninggalkan tempat di mana dirinya bertarung dengan dua iblis tadi, sedikit turun dari puncak tersebut, namun tidak benar benar meninggalkan gunung itu, bagaimanapun juga dirinya perlu melakukan pemulihan setelah bertarung sengit melawan para iblis selama ini.
Jaya menghampiri sebuah gua yang kebetulan di lewatinya, saat turun tadi.
"Aku akan semedi bertapa di sana, memulihkan tenaga dan kekuatanku.
Meski kini kyai Rojo Molo sudah bersamaku tapi aku juga perlu kembali menyatukan dengan kekuatan yang lainnya agar bisa padu padan seperti sedia kala." gumam Jaya sembari menghampiri gua, memasukinya lalu mencari tempat yang di rasa cocok untuk semedi meditasi memulihkan kekuatannya.
"Aah...aku rasa tempat itu bisa aku gunakan untuk meditasi.'' Jaya meloncat di sebuah batu besar dengan permukaan datar yang ada di dalam gua yang ternyata cukup longgar.
Setelah duduk bersila dan mengatur posisi dirinya kini tenggelam dalam meditasinya.
**
"Ampun beribu ampun Pukulun Yang Mulia Agung, kami mau melaporkan bahwa tugas mengamati peperangan di Alam Manusia sudah kami selesaikan."
"Bagaimana hasilnya? apakah para manusia sudah di tumpas dan dibinasakan Iblis?" Terlihat di sini sosok sang raja yang duduk di singgasana-nya tampak acuh tak acuh dengan apa yang di laporkan para Pelapor.
" Ampun Pukulun Yang Mulia, apa yang Pukulun Kaisar katakan tidak sesuai," sambut Pelapor dengan takut takut, meralat apa yang di katakan sang raja tersebut.
"Apa maksudmu?." sedikit keras sang Kaisar berkata.
"P..para..ma.manusia... masih banyak yang selamat Yang Mulia Pukulun." sedikit terbata salah satu Pelapor itu berkata.
"Selamat?, manusia selamat dari serangan Iblis?."
"B.benar.. Yang Mulia Pukulun."
"Bagaimana mungkin?." terlihat jelas raja tersebut kaget, lalu memperbaiki posisi duduknya, "Coba ceritakan secara lengkap."
Tiga sosok Pelapor tersebut lalu menceritakan apa yang di lihatnya tersebut.
Terlihat sosok sang raja mendengar dengan seksama apa yang di katakan oleh para Pelapor.
"Siapa manusia itu?." potong sang raja yang ternyata Kaisar Dewa dengan wajah penuh keterkejutan.
Ketiga Pelapor saling berpandangan, mereka bingung karena tak tahu siapa sosok manusia tersebut.
"Dasar bodoh..!, tak berguna..!." bentak sang Kaisar Dewa meradang begitu melihat ketiganya hanya saling pandang yang menandakan jika ketiganya tak tahu menahu.
__ADS_1
"Terus apa guna kalian mengamati pertarungan tersebut?"
Ketiganya hanya menunduk merasa bersalah melalaikan tugas yang di emban nya.
"Dasar payah...!," hardik sang Kaisar Dewa dengan merah padam wajahnya.
Perlu di ketahui jika di Alam Dewa terdapat banyak terdapat istana, bukan hanya istana Kaisar Dewa tapi ada banyak lainnya, salah satu nya istana Dewa Perang.
Kekuasaannya juga memiliki wilayah masing masing dan mempunyai keunggulan di bidang masing masing, seperti istana Dewa Perang yang otomatis memiliki kelebihan di bidang angkatan perang nya, itu dulu saat Dewa Perang ada di istana tersebut.
"Sekarang aku perintahkan kalian menyelidiki siapa manusia itu?, bagaimana pribadinya?, dan apakah kemungkinan dirinya akan membahayakan Alam Dewa."
"Jika kalian dapati tanda tanda itu(membahayakan Alam Dewa)maka aku perintahkan kalian binasakan manusia itu saat itu juga."
Ketiganya menunduk hormat, melakukan penyembahan, "Sendiko dawuh Yang Mulia Pukulun, kami akan melakukan apa yang Paduka Pukulun perintahkan."
"Hmm, lakukan sebaik baiknya, karena urusan dunia manusia masuk di bawah kuasa ku(sebagai Kaisar Dewa).
**
Sudah sepekan sejak peristiwa berdarah di padang Selayang Pandang terjadi.
Bahkan kini kekuasaan kerajaan terlihat lebih mencolok, apalagi kerajaan besar( Panca Buana : Karang Pandan, Karang Kadempel, Wukir Asri, Pati Sruni dan Jongka Lengko).
Selain kerajaan yang makin menunjukkan eksistensinya, kelompok kecil yang selama ini tak berani menampakkan diri kini mulai unjuk gigi, terutama dari golongan hitam, seperti Kelompok Jubah Perak, kelompok Bayangan Kegelapan dan masih banyak yang lainnya.
"Sepekan semenjak Purnama Berdarah (kejadian di peristiwa pertemuan Serikat Pendekar) usai, aku merasa dunia persilatan malah kacau balau." Respati berkata mengungkapkan berita apa yang di ketahuinya dari para anak buahnya.
"Benar aku merasakan itu juga." sahut Koloireng.
Kini semua sudah kembali ke tempat asal muasal masing masing seperti Randu Sembrani, Prono Condro dan pengikutnya yang sudah banyak berkurang juga anggota kelompok Golok Naga dan Kawah Welirang, hanya partai Pengemis Tongkat Hijau sebagi kongsi yang masih bertahan.
"Apa yang mesti kita lakukan?," Baroto menyahut perkataan para tokoh tua tersebut.
Di ruang pertemuan Awan Putih itu kini tinggal Sumanjaya, Respati, Koloireng, Jayeng Rono, empu Cipta Guna, Pitu Geni, Baroto Sarkawi dan tentu saja Pelangi serta Kumala.
Sebagi pengurus rumah tangga ada Narimo dan Sugara.
"Kita tegakkan keadilan sebagaimana Nakmas Junjungan dahulu bersikap," kata Sumanjaya.
__ADS_1
"Benar..,'' hampir berbarengan Koloireng menyahut bersama Respati.
"Jika begitu kita mulai aktif kembali mengibarkan bendera panji Awan Putih?" tanya Kumala. Mengibarkan bendera panji di sini berarti ikut campur masalah dunia luar, untuk menegakkan keadilan dan kebenaran.
"Benar apa yang Nimas Kumala katakan," sahut Respati sambil mengangguk.
"Apa kita sanggup melakukan itu tanpa keberadaan kakang Jaya?.'' sahut Pelangi sedikit ragu, "Bukan karena takut atau apa, tapi nanti pasti akan banyak musuh dengan kita ikut campur urusan dunia luar."
"Masalah itu pasti terjadi, tapi kita sebagai pendekar mesti melakukan itu nduk cah ayu," sahut Jayeng rono kepada Pelangi, sebagai orang yang mengasuh Pelangi semenjak bayi hingga usia belasan tahun, dirinya tahu apa yang menjadi ketakutan dari murid yang juga di anggap anaknya tersebut.
"Benar Nimas Pelangi, kita memang harus bersikap," Respati menimpali nya kembali.
**
Sebulan telah berlalu, tanpa terasa Jaya sudah selama itu bertapa melakukan semedi di dalam gua, memulihkan kekuatannya sebagaimana Dewa Perang di zamannya.
Mulut gua tempatnya bertapa bahkan sudah di tumbuhi rerumputan karena tak pernah di jamah siapapun.
Tiga Dewa yang bertugas menyelidiki siapa manusia yang telah membunuh iblis tak sedikitpun menemukan titik terang.
"Sudah satu bulan kita mengelilingi Alam ini, namun tak terasa aura orang itu."
"Ya benar, apa mungkin dia benar benar menghilang?."
"Bagaimana nanti kita menghadapi Kaisar Dewa?, jika kita tak berhasil menemukan orang tersebut."
Ketiganya masih terbang dengan menutupi tubuhnya dengan seonggok awan tebal melindungi dari pandangan orang orang.
Mereka bertiga menatap tajam semua orang, menelisik aura yang orang itu pancarkan mencari sosok manusia pemusnah iblis.
Sementara itu jagat manusia makin kacau balau, semua menuruti hukum dan peraturan yang di tetapkan oleh diri dan kelompok masing masing.
Kelompok Jubah Perak dan kelompok Bayangan Kegelapan adalah dua kelompok yang paling terlihat aktif melakukan penindasan.
Dua kelompok itu kini merasa paling kuat di dunia persilatan.
____________
Jangan Lupa Jejaknya.....
__ADS_1