Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Pelajaran untuk anggota Pisau Terbang


__ADS_3

"Hei..mana ada upeti hanya segini?!" kalian ingin celaka di sini?!." gertak salah seorang peminta upeti, sambil menimang nimang bungkusan kantong uang yang di berikan oleh pengawal barang itu.


"Itu sudah cukup untuk upeti?." balas kepala pengawalan ngeyel dengan pendapat nya.


"Kalian meremehkan kami kelompok pisau terbang?!."


"Kalian tak takut jika kelompok kami ini akan merusak usaha mu di sini..!!?."


Kembali peminta upeti yang ternyata orang orang dari kelompok Pisau Terbang itu mengancam.


Para pengawal itu sedikit tercekat mendengar ancaman tersebut, namun menurut mereka uang pelicin yang telah di berikan itu sudah pantas.


Rakit yang membawa kereta kuda dari pemilik rombongan pedagang yang saat itu satu rakit dengan rombongan Jaya merapat, segera seorang pria paruh baya turun dari kereta itu dan menghampiri orang orang yang tengah bersitegang.


"Maaf ada apa ini??." tanya pria paruh baya tersebut.


"Maaf Juragan orang orang ini mau minta upeti lebih banyak dari yang biasa kita berikan selama ini." sahut kepala pengawalan kepada sang saudagar.


Saudagar itu mendekat ke arah orang orang Pisau Terbang, "Mohon maaf tuan pendekar, mohon di lancarkan usaha kami."


"Jika mau lancar berikan lagi apa yang kami minta..!," bentak para preman tersebut.


Sementara itu rombongan Jaya sudah bersiap akan melanjutkan perjalanan ketiga terdengar bentakan, "Heii..mau kemana kalian..?."


Beberapa orang anggota Pisau Terbang yang lainnya mendekat ke arah rombongan Jaya.


"Ada apa??!!." sedikit keras Jaya menyahut dengan di sertai gerakan memperlihatkan pedang nya, menandakan mereka juga pendekar dan tak takut ancaman lawan.


Gerakan Jaya di ikuti oleh semua rombongan nya, mereka memperlihatkan senjata seakan berkata "Kami bukan orang lemah."


"Kalian dari kelompok apa??.'' tiba tiba sudah berkelebat mendekat sosok Kliwon di sertai oleh Gono Margo langsung mengeluarkan pertanyaan.


Baroto Sarkawi maju sedikit, "Kami berasal dari kelompok Awan Putih dari negeri timur."


Kliwon dan Gono Margo saling berpandangan, mencoba mengingat nama kelompok tersebut.


Keduanya tersenyum miring, meremehkan kelompok tersebut karena bukan kelompok perkumpulan yang perlu di takuti.


"Cuih..hanya kelompok antah berantah saja bertingkah..!," balas Kliwon.


"Mana upeti kalian..!!," bentak Gono Margo.


Kini di pinggiran sungai yang luas tersebut sudah ada dua kelompok yang di tahan perjalanannya oleh kelompok Pisau Terbang.


"Kami tak pernah memberikan upeti karena tekanan kelompok lain, dan kami tak pernah takut dengan Akar Jiwa." Jaya berkata dengan maju sedikit mensejajari Baroto yang tadi sudah pasang badan terlebih dahulu.


"Kalian cari penyakit...!."


"Justru kalianlah yang sudah melanggar etika persilatan...!." teriak Pitu Geni menyahut perkataan orang orang Pisau Terbang tersebut.


Gono Margo dan Kliwon sudah mulai meradang, puluhan anak buah Pisau Terbang sudah bergerak mengurung rombongan Jaya, hanya menyisakan beberapa orang yang masih menahan rombongan saudagar itu.

__ADS_1


Rombongan Jaya yang tak ingin terlihat lemah, langsung menunjukkan kemampuan masing masing, Pitu Geni langsung mengeluarkan golok Wiso Geni nya, Baroto sudah mengaktifkan Jurus Tinju Baja andalannya hingga kedua lengannya terlihat berkilat menghitam.


Begitupun dengan Pelangi, Kumala, Sugara dan empu Cipta guna sudah mengeluarkan senjata pasukannya masing masing.


Narimo berdiri di belakang Jaya yang sudah mencabut senjata pedang Angin Puyuh nya, hingga udara langsung berdesir akibat tenaga dalam tingkat tinggi yang di kerahkan nya menyebar ke semua tempat termasuk sedikit mendorong anak buah Pisau Terbang.


Gono Margo dan Kliwon sedikit tercekat melihat kemampuan orang orang di depannya, untuk mundur sudah tak mungkin lagi karena akan mencoreng nama baik kelompok nya.


"Maju...!!," teriak Jaya kepada orang orang nya.


Jaya sudah melesat menghantam kan pedang Angin Puyuh ke arah Gono Margo yang langsung melemparinya dengan beberapa pisau dengan kecepatan tinggi.


Siiing...siiing...


Pisau pisau kecil berdesingan mengarah kepada Jaya, namun dengan sekali ayunan pedang Angin Puyuh, pisau itu rontok dan jatuh di tanah, di lanjutkan dengan tebasan pedang Jaya yang melaju menebas ke arah Gono Margo.


Traaang...!!


Gono Margo mencoba menahannya dengan sebilah pisau sedikit besar.


Badan Gono Margo langsung terdorong beberapa langkah kebelakang, sengaja Jaya tak ingin melukai lawannya tersebut.


Gono Margo sedikit terkejut, dengan benturan tersebut, kembali dirinya meningkatkan aliran tenaga dalam nya.


Tangan kanannya sudah mencabut pedang pendek miliknya dan tangan kirinya sudah memegang pisau pisau kecil di antara sela sela jarinya.


"Hiaaa...!!."


Sriiing.... siiiing....


Pisau pisau itu melesat menuju ke badan Jaya dengan sangat cepat, namun Jaya langsung menghantam kan gelombang kekuatan tebasan Selaksa Ombak Menerjang.


BLAAAAAR...!!


Pisau pisau itu terlempar balik menyerang sang pemilik senjata, membuat Gono Margo terpekik blingsatan, dan dengan kesulitan mengangkisnya.


Traang ... taang....


Gono Margo berhasil merontokkan pisau pisau miliknya, namun gelombang kekuatan pukulan Jaya tetap menghantamnya.


JDUAARRT...!!


Gono Margo terlempar kebelakang beberapa tombak bergulingan, menabrak semak semak.


"Aaarrch...!," rintihnya mencoba bangkit namun tak lama kemudian, "Hoeeek..!." Gono Margo memuntahkan darah segar sebelum akhirnya tumbang dan pingsan sebelum berhasil berdiri tegak.


Semetara itu Kliwon yang menghadapi Pitu Geni langsung terlempar tumbang di serangan pertama, lengannya sedikit terbakar akibat benturan dengan golok Wiso Geni.


Anak buah yang lainnya sudah kocar kacir dengan badan penuh luka, di hajar rombongan Jaya yang lainnya, namun tak ada satupun dari orang orang Pisau Terbang itu yang terbunuh.


Semetara anak buah pisau terbang yang menghadang rombongan pedagang hanya bisa membelalakkan matanya, melihat dalam waktu tak lama kelompok pelintas mampu menghancurkan anggota Pisau Terbang yang bahkan di pimpin langsung oleh tetua dan tetua utamanya.

__ADS_1


Kliwon dan Gono Margo sudah terkapar bersama anak buah yang lainnya, sementara itu rombongan Jaya meninggalkan tempat tersebut di susul oleh rombongan pedagang itu karena para penghadang nya lebih memilih menolong teman teman nya.


**


"T..t.tuan..t.tunggu..!!," teriak saudagar pemilik dagangan rombongan yang di kawal tersebut mengejar kelompok Jaya.


Jaya berhenti sesaat, memutar kuda nya menghadap ke arah sang saudagar.


"Ada apa paman?, kenapa memanggilku?."


Dengan terengah-engah saudagar itu menghampiri Jaya, menjura sedikit kemudian berkata, "Terimakasih tuan atas bantuan nya."


"Maaf paman aku tak melakukan apapun kepada rombongan mu, aku hanya melakukan semua ini untuk kelompok ku." balas Jaya dengan acuh.


"Ya..tetap saja kami harus berterimakasih kepada tuan pendekar." sahut saudagar itu dengan tersenyum.


Akan sangat menguntungkan baginya jika bisa seperjalanan dengan kelompok para pendekar di depan matanya ini, karena pasti rombongan nya akan selalu terlindungi di perjalanan saat berada di kerajaan yang terkenal paling rusuh ini.


"Tak perlu paman melakukan itu."


"Aku mohon pendekar, aku akan menjamu kalian di peristirahatan di depan, karena aku yakin kita menuju ke tempat yang sama dan bisa seperjalanan," pinta saudagar tersebut.


Jaya menoleh ke arah rombongan nya, Pitu Geni yang pernah merasa tersinggung dengan pengawal rombongan itu hanya berdecih, "Cck."


Semetara Kumala dan Pelangi mengangguk senang, karena pasti jamuannya enak enak, dan saudagar melihat itu.


"Lihatlah istri istri pendekar sudah setuju." kata sang saudagar, tersenyum senang.


"Baiklah aku terima undangan jamuannya," kata Jaya kemudian menghampiri kelompok nya untuk mengiringi rombongan pedangan tersebut sebelum memutuskan beristirahat disertai jamuan makan nantinya.


**


"Uugh...aaah...," Gono Margo dan Kliwon nampak meringis menahan sakit di badannya.


Bukan hanya keduanya yang merintih kesakitan, namun juga anak buah yang lainnya yang mulai tersadar dari pingsannya.


Setelah orang orang Pisau Terbang yang pingsan itu di pindahkan di pos penjagaan oleh anak buah yang lainnya, mereka di rawat di sana.


"Di mana mereka?." tanya pelan Gono Margo.


"A..a.ampun T.t.tetua...," sahut anak buah itu terbata bata.


"M.m.mereka...lolos dan masuk wilayah kita."


Gono Margo menarik nafasnya, "Bukan salah kalian..mereka terlalu kuat bahkan untuk menjadi lawanku."


"Laporkan peristiwa ini kepada tetua Agung Gambir Anom." perintahnya kepada anak buah yang masih sehat tersebut.


____________


Jangan lupa tinggalkan jejak nya....

__ADS_1


__ADS_2