
"Ha..ha...ha...!," suara tawa panjang terdengar lagi, dengan masih penuh ejekan.
Sesaat setelah tawa itu menghilang kemudian terlihat gambaran bayangan, makin lama bayangan buram itu makin jelas dan memadat membentuk sebuah sosok yang menampakkan diri di depan Cakra Tirta.
Sosok itu adalah seorang pria tua dengan badan sedikit lebih pendek darinya, badannya penuh bulu dengan ekor di belakang nya.
Cakra Tirta menatap sekilas, merasa ada yang aneh, lalu tak bisa menyembunyikan tawa-nya.
Melihat penampakan wujud di depannya entah mengapa membuat Cakra Tirta tak bisa menahan tawa itu.
Memang hampir seluruh yang di pakai sosok tersebut mirip dengan apa yang di pakai diri-nya, hanya saja ukuran nya lebih kecil karena tubuhnya pendek.
Semuanya benar benar mirip, di mulai dari mahkota dengan Surai ekor burung Hong, baju Zirah dengan gambaran bintang di dada serta senjata tombak dan tamengnya juga sangat mirip dengan apa yang saat ini di pegang nya hanya saja ukuran sedikit berbeda, dan yang membuat Cakra Tirta tertawa adalah apa mungkin perwujudan dirinya di alam itu seperti sosok di depannya. Itulah yang membuat Cakra Tirta alias Jaya Sanjaya tak bisa menahan tawa.
"Kampreeet...!!, kau menertawakan ku bocah..!." bentak sosok tersebut dengan wajah memerah marah.
Melihat sosok di depannya marah, bukannya Cakra berhenti tertawa, tawa nya malah kian nyaring dan terpingkal pingkal, membuat entah mulai kapan tekanan di alam itu terhadap Cakra makin berkurang.
Jika semula Cakra Tirta kesulitan bernafas apalagi bergerak, namun kini dia sudah bisa bernafas seperti biasa, gerakannya juga tak lagi di batasi.
"Kalahkan ingsun bocah, jika kau menginginkan pasukan itu..!," kembali sosok itu mengingatkan Cakra Tirta akan tujuannya ke alam ini.
Cakra Tirta sejenak terkesiap, lalu kembali berkonsentrasi.
"Terimalah serangan ingsun...!." Sosok tua penuh bulu itu melesat menerjang kearah Cakra Tirta.
Lintasan serangan itu terasa mengerikan, gelombang kekuatan yang sangat dahsyat terpancar, padahal inti dari serangan itu bahkan belum tiba.
Cakra Tirta mengangkat perisai Wojo Digdoyo yang ada di tangan kirinya, menangkis lintasan serangan tersebut.
BLAAAANG.... BLAAAANG......
Hantaman terdengar berturut turut, serangan tersebut hampir mirip dengan jurusnya, Selaksa Ombak Menerjang.
Hanya perlu sekali serang akan menghasilkan beberapa serangan.
Seperti ombak yang datang bergulung gulung menghantam ke arah Cakra Tirta Sanjaya.
"Hmm, serangan yang sangat kuat," Cakra Tirta mundur beberapa langkah ke belakang.
Selama ini sangat jarang ada lawan yang mampu membuatnya mundur setelah beradu kekuatan, jika sosok ini mampu membuat nya mundur itu menandakan kekuatan lawan sangat kuat.
"Kau kuat juga bocah..!."
Sosok tersebut terdiam sejenak, tangannya memutar tombaknya lalu menghunuskan senjata itu ke depan.
Tekad tombak dari serangan itu langsung tercipta, menciptakan gambaran gambaran bayangan tombak yang langsung melesat menerjang Cakra Tirta Sanjaya.
Serangan yang bertubi tubi terus di lakukan sosok tersebut, namun kembali Cakra Tirta mampu menepis semua nya.
JEDUAAAARR...! JEDUAAAARR...!
Ledakan kekuatan terdengar bersahut sahutan, saat bayangan bayangan tombak itu beradu dengan ujung tombak kyai Seto Ludiro.
Cakra Tirta Sanjaya juga mulai memutar senjata nya, tombak panjang itu berkelebat melesat menerabas kehampaan, menusuk ke depan.
__ADS_1
ZRIIIING...
BLEGAAAAARRTTT....!!
Kedua sosok tersebut terpental ke belakang saat serangan kedua nya bertabrakan.
Mereka berdua terlempar hingga beberapa kilometer.
Mereka kini makin meningkat kan kekuatan, alam makin terasa pekat, dengan udara makin mencekam.
Cakra Tirta kini sudah benar benar serius, karena melihat kekuatan lawan yang tak bisa di anggap enteng.
"BADAI MATAHARI...!!."
Cakra Tirta mulai mengeluarkan jurus andalan nya, yaitu jurus Badai Matahari yang memiliki aura panas yang mampu meledakkan gunung dan membakar samudera.
"Kau pikir hanya kamu yang bisa ..!," teriak sosok tua penuh bulu tersebut sambil melakukan apa yang tadi di lakukan Cakra Tirta.
Sosok itu juga melakukan beberapa gerakan mudra dan mulai membaca rajah mantra, memanggil kekuatan.
"BADAI MATAHARI...!.''
Badan sosok tua penuh bulu itu langsung berpendar, bahkan bulu bulu nya seakan menyala dengan lompatan lompatan nyala api.
"HIAAAAAA...!."
Keduanya berteriak sebelum maju menghantamkan pukulan dengan tombak yang disertai kekuatan gelombang badai matahari.
BOOOUUUUUUMMMMM....!!
Tak ada akibat yang lebih mengerikan dari pertarungan keduanya.
Ribuan pepohonan yang ada di alam itu langsung terbakar hingga puluhan kilometer, menampilkan alam gersang yang benar benar mengerikan.
Masih belum selesai sampai di sana, Sosok tua penuh bulu itu melempar tombaknya yang juga memiliki Roh pusaka untuk menyerang Cakra Tirta Sanjaya.
"Hancurkan...!."
Tak mau kalah Cakra Tirta juga melempar kyai Seto Ludiro serta tameng Wojo Digdoyo.
Empat senjata tingkat Illahi itu melesat saling menyerang untuk menjadi yang paling unggul.
Selanjutnya sosok tua penuh bulu langsung menyerang, menghantam langsung badan Cakra Tirta Sanjaya, kini mereka tak lagi bertempur jarak jauh.
Keduanya saling hantam dan saling tendang, disini Cakra Tirta Sanjaya sedikit kewalahan, karena ternyata ekor dari sosok tua penuh bulu itu juga bisa menjadi senjata mematikan.
Ekor tersebut bisa memukul, menghantam serta membelit badan lawan.
"Mampus kau...!.''
"Kau yang mampus..!."
Ratusan bahkan ribuan serangan sudah mendarat di tubuh masing masing, entah sudah berapa lapisan Raga Abadi yang telah berguguran dari keduanya.
"Apakah kau masih nekat ingin menjadi penguasa Pasukan Batu?!."
__ADS_1
"Apakah kau masih ingin menjadi pemimpin prajurit itu..?!.''
Sosok tua penuh bulu itu terus menyerang sambil berkata kata.
"Tak perduli apapun yang terjadi, ingsun harus menjadi penguasa atas pasukan itu..!."
"Tak perduli jika ingsun harus menghancurkan mu pak tua...!.''
Cakra Tirta Sanjaya pun terus menyerang dan juga menjawab perkataan lawannya.
JEENG...JEENG...
Alam tiba tiba terdistorsi kembali, langit seperti di balik, saat ini Cakra Tirta Sanjaya sudah berdiri di depan ratusan bahkan ribuan bulatan bulatan batu yang berjajar rapi dengan nafas tersengal.
Di depannya sosok tua penuh bulu kini juga berdiri di sana, sedikit jauh juga dengan nafas kembang kempis.
Sedikit lebih jauh lagi dari keduanya, ada sosok lain yang tampak lebih tua dari pria tua penuh bulu, juga memakai pakaian yang sama dengan Cakra Tirta dan sosok tua penuh bulu, tengah memperhatikan keduanya.
Cakra Tirta dan sosok tua penuh bulu menatap ke arah sosok tua itu.
"Bagus kita akhirnya bertemu di sini." suara yang sangat luar biasa penuh wibawa terdengar di sana.
Rupanya sosok paling tua yang berdiri sangat jauh itu yang berkata.
Suara yang sangat berwibawa namun menenangkan itu membuat pria tua penuh bulu serta Cakra Tirta terdiam sejenak.
"Dewa Perang Pertama..!." seru sosok tua penuh bulu sedikit terkesiap, dengan rasa hormat sedikit merunduk.
Cakra Tirta Sanjaya sangat kaget, menatap lebih cermat lagi.
Ya, pakaian mereka sama, pun dengan senjata yang sama.
Cakra mulai menggali informasi dari Roh Kitab Pusaka yang ada di alam fikirnya.
Penguasa Pasukan Batu selama ini hanya ada dua Dewa sebelum dirinya, Dewa Perang pertama dan Dewa Perang Ke Sembilan.
Sosok Dewa Perang Pertama tersenyum, senyuman yang menenangkan, membuat alam di sana terlihat menakjubkan.
"Seperti kataku tadi kita akhirnya bertemu di sini, Ingsun Dewa Perang Pertama, dan kau Dewa Perang Ke Sembilan," kata Dewa Perang Pertama sambil menunjuk sosok tua penuh bulu.
Memang benar sosok tua penuh bulu itu adalah Dewa Perang ke Sembilan.
"Angka pertama adalah awal, angka ke sembilan adalah akhir, diantara angka angka yang ada kedua angka itu adalah yang istimewa, awal dan akhir."
"Setelah era satu dan sembilan, ada lagi yang istimewa yaitu kau Dewa Perang ke Sembilan belas," kata Dewa Perang Pertama sambil menunjuk ke arah Cakra Tirta Sanjaya.
Akhirnya semua menyadari siapa sesungguhnya mereka, mereka adalah para Dewa Perang yang benar benar memiliki keistimewaan untuk membangunkan Pasukan Batu.
"Senior...!," Cakra Tirta akhirnya menyadari itu, lalu membungkuk kepada keduanya dengan penuh hormat, kini semua sudah terkuak siapa kedua sosok di depannya.
Rentang jarak milyaran tahun tersebut kini bisa terpangkas dan ketiga nya bertemu di tempat itu.
"Ingsun tahu apa yang tengah terjadi, mari kita bangkitkan pasukan istimewa kita, Pasukan Prajurit Batu."
Dewa Perang Pertama mulai memimpin, Lalu diikuti oleh Dewa Perang ke Sembilan, mereka berdua mengajari Dewa Cakra Tirta Sanjaya bagaimana cara membangkitkan pasukan prajurit batu yang tengah tertidur.
__ADS_1