
Pergerakan tujuh orang yang terlihat mencurigakan di tengah keramaian Jogonolo tersebut, mulai mendapatkan pengawasan dari prajurit istana itu.
Apalagi mereka bertanya tanya tentang sebuah kelompok, yang tak lain adalah kelompok Awan Putih yang baru saja membela Kerajaan Jogonolo, membuat mereka yakin jika orang orang tersebut kelompok orang jahat.
"Awasi kelompok tersebut, jika memang mereka mengejar Awan Putih bisa kita pasti kan jika mereka adakah penjahat, seperti Akar Jiwa." perintah Tumenggung Supono kepada prajurit pengintai.
"Sendiko dawuh Tumenggung."
Puluhan orang langsung bergerak, mencari informasi kelompok tersebut, dan menemukan beberapa fakta, lalu mengejar kelompok Layon Pitu yang sudah melesat dengan kuda kudanya menuju ke arah Utara.
Para prajurit pengejar yang di pimpin oleh seorang senopati Jogonolo bernama Suro Wijoyo itu langsung menuju perbatasan Jogonolo untuk mencegat nya.
"Cepat jangan sampai terlambat, menurut pihak penyidik mereka lah yang melakukan pembantaian terhadap sekelompok warga beberapa hari lalu," teriak senopati Suro Wijoyo kepada seluruh anak buahnya.
"Sendiko dawuh Senopati."
Mereka kembali mencambuk kuda kuda tersebut untuk mengejar kelompok Layon Pitu.
**
Insting dari Rakumba memang sangat tajam, meskipun para pengejar masih jauh namun sosok tersebut sudah merasakan jika ada yang mengejarnya.
"Keparat..kurang ajar..!, berani beraninya mereka mengejar ku..!."
Rakumba atau sang Mayat menoleh ke belakang, jauh di sana terlihat debu mengepul menandakan serombongan kuda tengah di pacu.
Sang Mayat menghentikan rombongan nya, sengaja mencegat, ingin mengetahui siapa para pengejarnya.
"Akan aku beri pelajaran kepada kalian yang telah berani bertingkah di depanku."
Sementara itu senopati Suro Wijoyo masih memerintahkan anak buahnya untuk terus bergerak maju.
"Di depan sudah memasuki perbatasan wilayah kotaraja Jogonolo, mulai memasuki wilayah pinggiran kabupaten Jagalan, Kita bisa bertanya nanti kepada orang orang yang berpapasan dengan kita tentang keberadaan kelompok itu."
"Benar Senopati."
Belum usai apa yang di katakan Suro Wijoyo, nampak di kejauhan terlihat beberapa orang sudah berdiri mencegatnya.
"BERHENTI...!!."
"Cuiih..!, rupanya anjing istana Jogonolo..!," kata Rakumba begitu melihat dari dekat para pengejarnya.
Suro Wijoyo menatap tajam orang orang yang ada di depannya.
"Hmm, jadi kalian kelompok yang mencurigakan itu hah, membuat kekacauan dengan membunuh warga masyarakat..!!," bentak Suro Wijoyo.
Rakumba berkacak pinggang, dengan kaki mengangkang menatap limapuluhan prajurit yang mengejarnya.
"Memang benar itu perbuatan ku..!, terus kamu mau apa..!." tantang Rakumba, dengan tatapan dingin.
"Setaaan Alaaas...!, berani kau berbuat onar di wilayah ini..!." Suro Wijoyo meloncat turun dari kudanya.
"Kepung ...!, jangan sampai lolos..!."
Perintah Suro Wijoyo langsung disambut anak buahnya dengan mengitari tujuh orang tersebut, mengepungnya dengan senjata terhunus.
"Aku akan menghukum kalian yang telah berbuat lancang dengan mengganggu misi Layon Pitu..!," teriak Rakumba alias Sang Mayat.
"Seraaaang...!!," teriak Suro Wijoyo memberikan perintah.
Segera para prajurit bergerak maju menyerang kelompok didepannya.
Wuuuss....
wuuuuusss...
__ADS_1
Sriiiing...! sriiing...!!
Sambaran senjata langsung menyerang para anggota Layon Pitu.
Buuukkk..!! buuukkk....!!
Sambaran pedang tersebut mengenai badan para anggota Layon Pitu, namun kulitnya terasa liat seakan mereka menebas dengan pedang tumpul yang mengenai sebongkah karet, padahal pedang pedang itu sangat lah tajam.
"Aarch..!.' Para prajurit tercekat kaget, pedangnya tak mampu melukai lawan, jikapun ada yang memiliki tenaga kuat bisa sedikit menggores kulit lawan, dalam sekejap kulit itu pulih dan menutup kembali.
"He.he..he..., Kalian terkejut dengan kehebatan kami??!!."
Suro Wijoyo yang juga kaget, meloncat maju menghantamkan pedang tombaknya, mencoba menebas kepala salah satu anggota Layon Pitu.
Sriiing...!
Kali ini tebasan kuat tersebut di hindari oleh anggota Layon Pitu dengan gerakan yang aneh dan tak di sangka sangka.
Begitu serangan Suro Wijoyo lewat, anggota Layon Pitu yang menjadi sasaran nya langsung melesat maju menghantamkan pukulannya.
BLAAAANG...!
Pukulan itu menghantam tameng dari Suro Wijoyo yang reflek menggerakkan nya untuk melindungi tubuhnya.
"Aaarchh.."
Suro Wijoyo terlempar hingga beberapa tombak jauhnya, menandakan kekuatan pukulan lawan sangat hebat.
"Bedebah..kekuatan nya luar biasa..!."
Suro Wijoyo berdiri sedikit gemetaran, "Hati hati lawan kita tak sembarangan..!." teriaknya mengingatkan pasukannya.
Pasukan istana Jogonolo tersebut makin waspada dan hati hati.
Jumlah bukankah sebuah ukuran, buktinya enam orang itu membuat para prajurit yang berjumlah lebih dari tujuh kali jumlahnya terdesak dan tertekan hebat.
Bahkan anggota Layon Pitu belum mengeluarkan senjatanya, para prajurit sudah pada terkapar bergelimpangan dengan penuh ketakutan.
Suro Wijoyo makin pucat wajah nya, melihat kehebatan dari sang lawan.
"Untung saja aku tergesa gesa, jika tidak sudah aku habisi kalian semua..!," ancam Rakumba, sambil memberikan isyarat kepada yang lainnya, untuk meninggalkan tempat tersebut dengan pasukan yang berserakan, entah hanya pingsan apa ada yang mati.
Suro Wijoyo hanya menatap kepergian lawan, tak mampu mencegah dengan badan bergetar ketakutan.
**
"Cepat kalian dorong terus jangan berhenti, karena kalianlah yang sudah merusak jalan yang semula bagus ini..!!," teriak Jaya kepada Ki Blirik dan orang orang nya.
Dengan penuh rasa takut, para penjahat itu kembali mendorong pedati pedati yang terjebak di lumpur dan tersangkut bebatuan.
"Baik tuan pendekar..!," sahut Ki Blirik sambil menunduk.
Dirinya kembali memerintahkan anak buahnya agar bersemangat lagi mendorong, dan menarik gerobak lalu mencongkel roda pedati yang selip.
Mendekati tengah hari, bahkan matahari sudah sedikit miring ke barat, rombongan Jaya sudah terbebas dari jalur buruk yang di ciptakan oleh kelompok Ki Blirik, meskipun masih berada di hutan Kebon Ijo.
Jaya Kemabli mengumpulkan Ki Blirik dan anak buahnya.
"Aku Jaya Sanjaya, tetua dari kelompok Awan Putih hari ini mengampuni mu."
"Tapi tak semudah itu kalian bisa lepas dariku, aku akan tetap memberikan hukuman..!."
Semua nampak menunduk, sedikit lega karena ada kata pengampunan, namun masih ketakutan karena tetap akan di hukum.
Mereka masih menunggu kira kira apa hukuman itu? potong tangan kah? potong kaki? atau bahkan lebih dari itu?
__ADS_1
Semua gemetaran membayangkan itu.
"A..a.ampun.....t.tuan pendekar? hukuman apa yang akan panjenengan berikan kepada kami?," dengan terbata dan masih menunduk Ki Blirik bertanya sedikit ragu.
"Hmm," Jaya mendengus, membuat orang orang Ki Blirik yang masih bersimpuh makin ketakutan.
"Apakah kalian menyadari kesalahan mu?.''
Semua mengangguk dengan pelan.
"Kalian sadar saja? atau mau berubah?."
"K..k.kami mau.. be.berubah," sahut orang orang tersebut tergagap.
Jaya mengangguk, menatap tajam orang orang tersebut, "Aku akan terus mengawasi kalian, apa benar kalian berubah?."
"Ka..kami ...ja.janji."
Jaya melempar sekantong uang, semua terkejut mendapati perlakuan itu, "Pakailah uang itu untuk memulai hidup dengan baik, jangan lagi berbuat kejahatan."
"Perbaiki kembali jalur ini, agar menjadi baik dan menjadi jalur pilihan, maka kalian bisa membuka usaha berjualan sepanjang jalan ini."
Semua mengangguk senang, bahkan ada yang menitikkan air mata mendapatkan pengampunan atas jiwa mereka.
"Terimakasih tuan pendekar atas kemurahan hati panjenengan," kata Ki Blirik sambil menyembah Jaya, diikuti oleh para anggota nya.
"Kami akan melanjutkan perjalanan, ingat itu semua pesanku, dan aku pasti akan kembali ke jalur ini mengawasi kalian," sahut Jaya menekankan kepada Ki Blirik dan anggota nya.
Semua mengangguk menjura dengan penuh takzim.
**
Rombongan Jaya sudah memasuki batas kotaraja kerajaan Ngarsopuro.
Banyaknya rombongan tersebut menarik perhatian orang orang di sana, namun tak di hiraukan nya.
"Kita sudah sampai di Ngarsopuro paman, sesuai kesepakatan kita, kita akan berpisah disini."
"Kami ada urusan penting, maka kami mohon diri." kata Jaya berpamitan.
Saudagar Suryadi mengangguk, meski sedih akan berpisah dengan kelompok hebat yang sudah melindungi nya, namun inilah yang terjadi.
"Terimakasih Nakmas pendekar, jika ada kesempatan kami akan berkunjung ke Awan Putih, menyambung persaudaraan dengan anggota Nakmas Jaya."
"Kami nantikan itu paman."
Setelah sedikit berbincang, akhirnya rombongan tersebut benar benar terpisah, meneruskan perjalanan masing masing, Jaya akan ke istana Ngarsopuro lalu menuju ke timur.
Sedangkan rombongan saudagar Suryadi langsung menuju ke Utara.
Semakin mendekati wilayah kerajaan Ngarsopuro Pelangi terlihat gelisah, wajahnya terlihat berubah ubah tak tenang, apalagi saat tatapan orang orang menatap rombongan itu.
"Kakang ...aku takut," lirih Pelangi mencicit di sebelah Jaya.
"Tak perlu takut, aku akan melindungi mu dari perlakuan orang orang yang seperti dulu," sahut Jaya dengan tenang.
Kumala yang belum tahu permasalahan itu, hanya menatap Pelangi dengan keheranan.
"Kenapa takut Adik? kan ada kami," sahut Kumala dengan tatapan penasaran.
Mungkin dirinya pernah mendengar kisah di Ngarsopuro tapi tak menyangka jika Pelangi lah gadis yang di buru saat itu.
_____________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya...
__ADS_1