Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Perang Kembali Pecah V


__ADS_3

Sosok Layon Raja Neraka mencoba memainkan senjata tongkat merah senjatanya yang sudah membara, hawa panas langsung menguar kesekitarnya.


Begitu juga dengan Iblis Salju, menebaskan pedang putih tulangnya sehingga hawa dingin menyeruak, mencoba menghalau Jaya yang sudah mulai makin menggila dengan serangannya.


Di sebelahnya ada jendral 9 nyawa dan Singa Surai Emas, masing masing sudah memainkan senjatanya.


Jendral 9 Nyawa dengan tombak andalannya dan Singa Surai Emas dengan Golok senjatanya, golok dengan penampang Lebar dan ujung tumpul namun memiliki kekuatan hebat saat di tebaskan.


Namun Jaya tak memperdulikan semua itu, setelah menumbangkan sosok Layon Jagat Mandhala Birowo dan di susul sosok Layon si Badai Topan Jaya langsung mengejar Layon lainnya.


Layon Layon itu kini sudah tak sempurna dan belum meregenerasi tubuhnya setelah terkena Badai Matahari dari ledakan yang pertama tadi.


CRAAASHH...!


CRAAASH...!!


Jaya meloncat menghujamkan tombaknya, menerjang ke arah Raja Neraka serta Iblis salju.


Dua Layon tersebut mencoba menepis serangan Jaya dengan senjata masing masing, namun kuatnya sabetan Jaya membuat senjata itu sukses menyambar tubuh dua layon itu.


Raja Neraka langsung terbelah dadanya sementara Iblis salju terburai perutnya.


Senjata Illahi memang Luar biasa, selain memiliki jiwa daya hancurnya memang sangatlah hebat.


Sesaat dua Layon legenda itu bergerak tak terarah setelah tersambar senjata Jaya, sebelum akhirnya tumbang karena kembali di sambar oleh senjata Jaya.


CRAASSHH..!


CRAAAASH...!


Rakumba makin tercekat, Layon andalannya kembali tumbang oleh lawan yang sama.


"Jangan berpikir untuk kabur...!," teriak Jaya, begitu melihat Rakumba menengok kanan kiri.


Jaya kembali meloncat melesat setelah mengambil dua senjata milik Raja Neraka dan Iblis Salju, kini bergerak menyerang Jendral 9 Nyawa dan Singa Surai Emas.


Dua Layon yang juga belum begitu sempurna itu mencoba menghadang dengan senjata nya, namun apalah artinya bagi seorang Jaya yang tengah dalam mode menyerang.


"HIAAA....!!."


JLEEEBB...!!


CRAAASH...!!


Dua Layon itu langsung tertembus dadanya oleh tombak Jaya, dan satunya langsung tertebas lehernya hingga menganga dengan kepala sengklek hampir putus.


Tak butuh waktu lama dua sosok tersebut tumbang tak bangun lagi.


Matinya cacing darah Sarma pala yang menghuni tubuh dua sosok itu membuat mati juga tubuh dan jaringan dua raga itu, dan dalam waktu sesaat dua raga itu menghitam membusuk lalu rusak parah.


**


Dengan kekalahan tiga penyerangnya membuat Dwarakolo menggila kembali.


Dengan senjata yang kini di genggamnya dia membantai lawan dengan sadisnya.


Sebuah senjata pusaka cukup aneh semacam pedang dua sisi dengan model huruf S besar yang pegangannya ada di tengah tengah, dan bisa di mainkan dengan cara di putar atau di lempar( di lempar seperti senjata kyai Putar Giling di cerita Sang Pengacau)


Wungwungwungwung....!


CRAAASSHH.....!


CRAAASSHHH....!!

__ADS_1


Senjata itu menerabas kelompok Awan Putih dan sekutu nya, membuat puluhan orang langsung tumbang dan terbabat oleh senjata tersebut.


"Hati hati...! senjata lontar itu sangat berbahaya..!!." teriak Baroto mengingatkan yang lainnya.


Pitu Geni, Anuso Birowo serta Mata Elang langsung bersiap di sebelah Baroto mencoba meredam lemparan senjata yang entah siapa pelontarnya, mereka belum tahu.


"Ya..senjata aneh yang sangat hebat.." seru Anuso Birowo, melihat senjata dengan bentuk S yang bagi manusia senjata itu terlihat sangat besar.


Wungwungwungwung....!


Kembali senjata itu melesat, terbang ke udara berputar putar seakan mencari mangsa.


"Awaas...senjata itu datang lagi...!," teriak Pitu Geni.


WUNGWUNGWUNGWUNG...!


Senjata tersebut makin mendekat menyasar keempat tokoh Awan Putih tersebut.


TRAAANG...!


DUAAAAARRR...!!


Senjata tersebut menghantam keempat orang itu berada, terlihat semua menangkiskan senjatanya melindungi dirinya, dan terjadilah ledakan.


Keempat orang itu terlempar akibat dahsyatnya hantaman tersebut.


"Gila senjata yang luar biasa..!."


"Pancen edan tenan..senjata siapa ini..!??!."


"Pasti milik petinggi Iblis..."


**


Iblis Wora dan Iblis Wari bergerak, mulai membalas serangan para petinggi dari kelompok persilatan tersebut.


"Mati kalian...!!," teriak Iblis Wora menebaskan pedang lengkungnya yang sangat panjang dan besar tersebut.


SRIIIING...!


Desingan pedang yang sangat kuat menerjang ke arah Lindu Bajra dan Wirabhumi.


KRATAAAKK...!


Dengan tergagap sesepuh Bumi Langit itu menggerakkan tanah di sekelilingnya membentengi keduanya.


BLAAAARRR...!!


Benteng buatan Wirabhumi pecah berhamburan terhantam senjata Iblis Wora, bahkan sisa kekuatan tebasan itu masih mengejar keduanya.


CLAAAAPP....!


TRAANG...!!


Dengan dua kekuatan langsung Lindu Bajra mencoba menghentikan serangan tersebut, yaitu dengan jurus Mata Iblisnya dan di susul tangkisan senjata pedangnya.


BRUAAAKK...!


Namun masih saja hantaman tersebut melempar keduanya cukup jauh, SANGAT DAHSYAT serangan tersebut.


Begitu pula dengan Iblis Wari yang juga mengayunkan pedang nya.


SRIIING....!

__ADS_1


Sambaran pedang tersebut menebas ke arah lawan yang mengeroyoknya.


Gelombang hantaman tersebut terasa sangat mengerikan, membuat sekitarnya beraura mencekam.


BLEGAAARRT....!!


Hantaman itu di tangkis oleh empat tokoh sekaligus yaitu, Bayu Sastra, Agni Mahesa Suro, Sumanjaya dan Rogo Sakti.


Begitu dua kekuatan itu bertemu langsung terjadi ledakan yang melemparkan ke empat tokoh persilatan tersebut, berhamburan bagai daun tertiup angin, terlihat sekali kontrasnya dua kekuatan meski jumlah tak sama.


Iblis Wora masih mengejar dua lawannya yaitu Wirabhumi dan Lindu Bajra yang terlempar, namun di hadang oleh Joko Baron si Dewa Salju serta Dewi Racun Salju.


"Mau kemana..??!." gertak dua sesepuh dari partai Es Abadi tersebut.


Iblis Wora menoleh, masih ada dua lawan yang masih terlihat bugar berdiri menghadang.


"Gggrrhh, cari mati kau menghalangiku...!."


Iblis Wora lalu berbalik memburu kearah dua tokoh partai Es Abadi tersebut.


SRIIINGG...


Pedangnya terayun menebas ke arah dua tokoh tersebut.


Joko Baron langsung menciptakan benteng pelindung dari lapisan tebal yang di buatnya, sedangkan Dewi Racun Salju langsung menebar racunnya ke udara lalu membentuknya menjadi ratusan jarum jarum yang siap menerjang badan sang iblis.


"Hiaaaaa...!!." pekik sang nenek racun tersebut, melepaskan ratusan jarum es dengan kandungan racun di dalamnya.


Sring... sriiing.... sriing... sriiing...


Ratusan Jarum es beracun meluncur menyasar ke arah badan Iblis Wora.


CRAAKKKK....!!


Hanya dengan memutar pedang lengkung panjang tersebut Iblis Wora merontokkan ratusan jarum es beracun, lalu meneruskan tebasan itu membabat benteng es ciptaan Joko Baron.


BYAAAARRR....!!


Runtuh sudah benteng es tebal tersebut terhantam pukulan sang Iblis.


Kini pertarungan tersebut menjadi dua kelompok dengan Iblis Wora di kepung Wirabhumi, Lindu Bajra, Joko Baron serta Dewi Racun Salju, sedangkan Iblis Wora di keroyok Sumanjaya, Bayu Sastra, Agni Maheso Suro dan Rogo Sakti.


Pertarungan masih berlangsung seru, namun terlihat sekali siapa yang unggul dalam pertempuran tersebut, sudah pasti dua Iblis tersebut yang nanti akan memenangkan pertarungan itu.


**


Jauh di atas langit, bersembunyi di balik gumpalan awan yang tebal terlihat tiga sosok melayang di udara.


Ketiganya tampak sedang menyaksikan pertarungan dari jarak yang cukup jauh.


Aura sangat kuat tercipta dari ketiga sosok tersebut.


"Jangan ikut campur, kita lihat apa yang bakal terjadi." kata sosok pertama, sambil menatap tajam ke arah padang Selayang Pandang.


"Benar, biarkan semua berjalan dengan apa adanya." sahut sosok kedua, menelisik pertarungan yang terlihat jauh di bawah sana.


"He..he..he.., kadang aku gatal ingin mencoba kekuatan mereka," potong sosok ketiga sambil terkekeh, bersidekap memandang pertempuran yang memakan banyak korban seakan menonton sebuah hiburan selayaknya main game.


"Sabaar..., saat itu pasti akan tiba, kita bisa bermain main dengan makhluk lemah ini."


"He..he..he... iya, tak sabar aku."


Ketiga bayangan tersebut lalu menghilang, bergerak dengan kecepatan melebihi cahaya berpindah tempat memilih lokasi menonton yang di rasa lebih nyaman.

__ADS_1


____________


Jangan Lupa Jejaknya.....


__ADS_2