
Kini Rombongan Jaya yang terdiri dari dirinya, Pitu Geni, Baroto, serta Empu Cipta guna dan Narimo sudah bersanding dengan Kumala, Pelangi Sukarjo dan Margono.
Mereka beradu punggung melindungi Satinem yang tak bisa bertarung dan terjebak di tengah pertempuran.
"Paman Sukarjo kau lindungi bibi Satinem, biar kami yang bertarung," perintah Pelangi, menyadarkan pria paruh baya tersebut akan keadaan istrinya.
Sukarjo mengangguk dan masuk ke tengah lingkaran, mendekat ke arah Satinem dan bersiap di sana, berjaga jaga jika ada serangan nyasar.
Kini delapan orang lainnya tengah bersiap menyambut serangan lawannya.
"Seraaang....!!," perintah Rejo Sumitro kepada seluruh kubu nya untuk melakukan serangan.
Wuuusss....
JDAAAAARRT....!
Jaya langsung menghantamkan pedang Angin Puyuh yang sudah ada di genggaman nya, pedang tersebut memang tak di simpan di gelang dimensi seperti tombak dan perisai nya.
Angin hempasan gelombang pukulan Jaya menghantam prajurit yang berniat menyerang.
Puluhan orang prajurit langsung terdorong kebelakang akibat daya hantam pukulan Jaya yang meledak menghantam mereka.
Rejo Sumitro terbelalak melihat kehebatan lawannya, namun langsung di tepisnya rasa itu dengan meloncat kedepannya untuk menghadapi nya.
"Aku lawanmu..!," teriak Senopati tersebut dengan pongah.
Jaya tersenyum miring, "Hmm, baik...memang aku ingin memberi pelajaran kepada aparat tolol macam kau..!."
Keduanya kini sudah saling berhadapan, menatap tajam masing masing terhadap lawannya.
"Aku Rejo Sumitro dari perguruan Tapak Darah hari ini akan memberi pelajaran kepada mu anak muda..!."
"Huh, lihatlah dunia yang luas ini, dan rasakan kemampuan para pendekar ini yang akan membuatmu berpijak di bumi ini." balas Jaya sedikit menyindir lawannya yang merasa sudah hebat.
Rejo Sumitro yang bersenjata pedang langsung meloncat maju menyerang.
"Hiaaaaa...!."
Menebas pemuda di depannya yang terlihat biasa saja karena tak bisa di terka tingkat kependekaran nya oleh Rejo Sumitro.
Pedang Angin Puyuh yang beraura kebiruan kini makin pekat aura nya begitu Jaya sedikit mengaliri dengan tenaga dalam.
Traaang...!!
Jaya menepis sambaran pedang Rejo Sumitro, dengan memutar pedangnya melingkupi pedang lawan Jaya balas menebas lawannya.
Sraaakk.. Sriiing....!!
Melihat serangan balik lawan setelah melilit dan memutar pedangnya membuat sang Senopati meloncat mundur untuk menghindar.
Benturan yang dirasa cukup menggetarkan lengannya membuat Rejo Sumitro menaikan tenaga dalamnya untuk kembali menyerang.
"Tebasan Bulan Melingkar...!," teriak Rejo Sumitro melesat kembali menyerang Jaya yang sudah kembali tegak di depannya.
Wuuusss...
Gelombang kekuatan menderu ke arah Jaya, akibat tebasan pedang lawan.
"Manggar Pecah..!" teriak Jaya, mengeluarkan jurus ajaran Jayeng Rono, menangkis serangan pedang lawan yang di sertai hawa pukulan tenaga dalam andalannya.
BLAAAAAR....!!
__ADS_1
Dua kekuatan bertemu, Senopati yang sarat pengalaman menurut nya itu terdorong kebelakang begitu dua kekuatan itu bertemu.
"Uhuk..!," Rejo Sumitro meremas dadanya yang terasa engap dengan sentakan gelombang kekuatan lawan.
"Hoeek..!," dimuntahkannya darah segar dari mulutnya.
"Bangsaaat..!, kuat juga kau, makanya berani membuat kerusuhan di sini..!," teriaknya, sambil memegang dadanya yang masih ampeg.
"Cck, punya otak tak bisa buat berpikir..!," seru Jaya, memandang lawannya yang masih terlihat keras kepala.
Sementara itu pemimpin kota Wardi Wijaya sudah berhadapan dan melawan Pitu Geni.
Wardi Wijaya yang berasal dari tokoh dunia persilatan dengan gelar Golok Terbang, sudah memutar mutar goloknya, memulai serangan dengan memutar senjatanya tersebut.
"Golok terbang mencabut nyawa...!!," teriak Wardi Wijaya melompat menerjang Pitu Geni.
Gerakannya yang cepat sesaat berhasil membuat Pitu Geni terpana.
Traaang...!!.
Pitu Geni menepis sambaran golok lawan.
Api yang berkobar di golok Wiso Geni sedikit membuat Wardi Wijaya ternganga.
"Hah..orang Api Suci? kenapa bisa bersama kelompok lain?." gumam pelan Wardi Wijaya, sambil kembali bersiap menyerang lawannya.
Pitu Geni kembali memutar goloknya, api yang berkobar di senjatanya membuat Wardi Wijaya sedikit terkesiap, lalu sang pemimpin kota itu menyiapkan jurus yang di rasa sanggup menangkal kekuatan lawan.
Sementara anak buah Rejo Sumitro, Wardi Wijaya dan penjaga kota serta Tupai Terbang, masih bertarung mengurung Kumala, Pelangi, Baroto, empu Cipta guna serta Narimo dan Margono.
Enam orang yang di keroyok ratusan pasukan musuh itu ternyata tak nampak terdesak, bahkan terlihat Kumala dan Pelangi mengamuk menebaskan pedangnya menghancurkan pasukan musuh.
Empu Cipta guna, Narimo dan Margono tak mau kalah menyerang lawan lawan nya yang kini makin menciut nyali nya.
Praaakk...! praaakk...!!
Suara kepala yang pecah terhantam lengan Baroto Sarkawi, terdengar mengerikan.
Pelangi menyasar anggota Tupai Terbang yang membuat semua ini menjadi berantakan, "Jangan harap aku melepaskan kalian..!, pembuat onar..!!," teriak Pelangi sembari mengayunkan pedang nya, menebas ke arah lawan yang kini kocar kacir tersebut.
Kumala mengobrak abrik penjaga kota yang berkedok pejabat aparat keamanan, namun tindakan nya seperti penjahat yang bersembunyi di balik seragam prajurit nya.
"Mampus kalian semua..!!," teriak Kumala menyerang dengan pedangnya, takut jika mengerahkan Mata Iblis malah salah sasaran ke arah penduduk yang nampak menonton di pinggiran jalanan tersebut.
Craaass...!!
Craaaasss...!!
Sabetan sambaran pedang nya mampu menebas dan memisahkan anggota badan lawannya.
"Aaaaarrcchh..."
"Auugh...!."
Jeritan kesakitan bahkan kematian terdengar memilukan.
**
Rejo Sumitro yang kini terdesak hebat oleh serangan Jaya hanya bisa merutuki kebodohan nya, menyesal telah lancang bertindak tak memakai perhitungan.
"Kenapa mundur terus?, mau kabur atau mau minggat..!?," bentak Jaya yang menyadari gerakan lawan malah semakin aneh.
__ADS_1
Memang niatnya tadi seperti itu, Rejo Sumitro berniat melarikan diri.
"Jangan harap kau bisa lolos, paling tidak tinggalkan sebelah lenganmu baru kau boleh pergi ..!," teriak Jaya Sanjaya kembali, membuat Rejo Sumitro makin ketakutan.
Semua serangannya yang dikira luar biasa saat menghadapi lawan lawannya, kini tak berarti apapun saat menghadapi sosok pemuda di depannya.
Jurus "Bulan Melingkar" yang selama ini menjadi andalannya saat di medan laga, kali ini hanya di anggap mainan oleh lawannya.
Plaaak...! bouuugh...!!
Sebuah tamparan dan hantaman di dada membuat sang Senopati terpelanting dan terlempar kebelakang.
"Aaarch...!!."
Teriaknya kesakitan, memegang dadanya dan memuntahkan darah segar dari mulutnya.
"Masih mau ngeyel..??" bentak Jaya kembali.
Rejo Sumitro pias wajah nya, memuntahkan darah dari mulutnya.
"A..a.ampun.." ucapnya pelan sebelum akhirnya pingsan tak bergerak.
Di sebelah sedikit jauh Wardi Wijaya sang pemimpin kota juga pontang penting melawan serangan Pitu Geni.
Pendekar Golok Terbang itu nampak terdesak hebat oleh jurus pendekar Golok Api tersebut.
"Lihatlah temanmu sudah di hajar oleh tetua ku..!," seru Pitu Geni memecah konsentrasi lawan yang makin pucat wajah nya.
Wardi Wijaya menoleh dan melihat sang Senopati terkapar entah pingsan atau mati, sesaat dirinya termenung dan makin pias wajah nya.
"Kau ingin menyerah atau mau mati seperti anak buahmu yang lain.?" Kata Pitu Geni mengehentikan serangan sejenak, menunjuk ke sekeliling di mana gabungan pasukan kota itu sudah tercerai berai, bahkan banyak yang sudah tumbang.
Badan pemimpin kota itu kini bergetar hebat, melihat semua anak buah yang sudah terdesak, bahkan kini lawan dari Rejo Sumitro pun menghampiri dirinya.
Jika dirinya tak mengambil sikap dengan cepat, mungkin semua nanti akan habis di bantai lawan.
Dengan ragu ragu pemimpin kota melempar goloknya, "Aku menyerah, ampuni aku dan anak buah ku," katanya menjatuhkan diri di hadapan Jaya yang baru tiba di arena kedua orang tersebut.
"HENTIKAN PERTEMPURAN...!!" teriak Jaya kepada semau pihak.
Pasukan gabungan yang tersisa dari kota itu lalu melempar senjatanya tanda menyerahkan diri.
Jaya Sanjaya tersenyum, senang akhirnya pertarungan berakhir tanpa memusnahkan semuanya.
**
"Kami memang salah, sudah tak layak menjadi pemimpin," kata Rejo Sumitro diangguki oleh Wardi Wijaya.
Keduanya kini duduk menunduk di depan Jaya Sanjaya dan rombongan nya.
"Jangan ulangi Lagi, jadilah pemimpin yang baik karena ini kota yang hebat." kata Jaya Sanjaya.
Keduanya menunduk, makin menyesal atas kelakuan mereka selama ini.
"Jangan kau gunakan jabatan mu untuk mengeruk keuntungan pribadi mu."
Keduanya mengangguk kembali.
"Perusuh sesungguhnya sudah tak ada lagi, anggota ku sudah memusnahkan semua orang Tupai Terbang, kini saatny kalian memimpin kota dengan adil, dan bijaksana tanpa di tekan kelompok jahat lagi."
"Terima kasih tuan pendekar, atas semau kemurahan ini," sahut Wardi Wijaya bersamaan dengan Rejo Sumitro.
__ADS_1
___________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya.....