Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Cerita tentang Dewa


__ADS_3

Di markas kelompok Awan Putih terlihat mulai berbenah, mempercantik diri karena mau ada hajatan Sumpah Janji Langit yang akan segera di langsungkan.


Semua bagian dari gedung di rapikan dan di bersihkan, pun dengan lingkungan sekitar.


Undangan sudah di sebar, baik kepada sesama rekan di dunia persilatan maupun kepada rekan di pemerintahan.


Bahkan utusan yang di perintahkan memberi kabar kepada orang tua Pelangi dan Kumala sudah kembali dari tugasnya, kedua calon mertua Jaya berjanji akan datang paling lambat tiga hari dari waktu yang sudah di tentukan.


"Kenapa semakin ke sini aku semakin tegang?."


"Aku juga Adik." sahut Kumala, sambil meraba dada nya, " makin berdebar."


Keduanya tersenyum, "He..he..he... Iya, padahal kita sudah hidup bersama sama dalam satu markas selama ini."


**


Di atas awan masih telihat sesosok bayangan yang melintas ke sana kemari, meneliti melihat segala sesuatu yang ada di alam manusia.


"Hmm, terlihat aman aman saja, tak ada gejolak apapun semenjak ingsun kemari."


"Yang dikatakan para Dewa yang lain hingga saat ini tak terbukti, dan ingsun belum menemukannya."


"Apa mungkin Kaisar Dewa mengada ada?."


Perlu di ketahui di sini jika sesuatu melintasi portal dimensi khususnya dari Alam Dewa ke Alam Manusia atau sebaliknya akan terjadi perubahan fisik, entah menjadi sedikit muda atau bahkan tua. Dan untuk kasus Jaya jika di bandingkan saat di Alam Dewa dahulu mengalami perubahan fisik menjadi lebih muda. Jika di Alam Dewa Jaya berujut fisik pria tiga puluhan, di alam manusia dia berujut pria muda sekitar dua puluhan awal.


Sosok yang ada di awan tersebut meluncur dengan sangat cepat menuju ke daratan.


"Ingsun akan mencoba berjalan di permukaan, mungkin dengan demikian akan lebih jelas apa saja yang aku perhatikan."


**


Tiga orang masih duduk di beranda lantai tiga, menikmati suasana di Awan Putih dari atas bangunan tersebut.

__ADS_1


"Apa kehidupan di alam dewa sangat nyaman Kakang?." Kumala bertanya kepada Jaya yang duduk di apit dua gadisnya.


"Hmm, ada enak dan tidaknya."


"Jika semua menjadi Dewa terus siapa yang mau menjadi pelayan?." tanya Pelangi dengan sedikit heran.


Jaya tergelak, saking geli nya hingga matanya berair karena pertanyaan Pelangi tersebut.


"Alam Dewa adalah sebuah alam yang luasnya mungkin tiga atau empat kali alam manusia ini."


"Disana hampir sama dengan di sini, maksud kakang ada panas ada hujan, ada siang dan ada malam."


"Yang hidup di alam dewa juga bukan melulu hanya para Dewa, tapi ada juga manusia yang kami pindahkan di sana yang juga sudah beranak pinak, binatang binatang, siluman bahkan mungkin juga iblis yang bersembunyi di hutan dan jurang."


Kumala dan Pelangi mengangguk mendengar penuturan Jaya.


"Para Dewa juga ada yang tampan dan cantik, tapi ada juga yang jelek dan buruk."


"Di manapun makhluk yang masih punya nafsu pasti memiliki rasa ingin selalu lebih sesuai keinginanya bukan?."


Kumala dan Pelangi kembali mengangguk.


"Berarti Kakang dari lahir ceprot langsung jadi Dewa?." Pelangi bertanya lagi dengan wajah menggemaskannya.


"Ha..ha..ha..!," Jaya merangkul gadis yang ada di sisi kanannya tersebut, mengacak rambutnya dengan gemas.


"Kakang beritahu ya, bahwa tak semua yang di alam dewa bisa menjadi Dewa."


"Bapaknya Dewa belum tentu anaknya juga Dewa."


"Terus gimana dong?." Kumala makin bingung tersenyum nyengir.


"Kita bisa menjadi Dewa atas anugerah SANG PENCIPTA, jika kita di angkat menjadi Dewa maka akan ada sebuah peristiwa pengangkatan yang biasa kita sebut dengan Indraparamita yang jika kami artikan sebagai "Penguasa Kesempurnaan", meski kami juga masih jauh dari kata sempurna."

__ADS_1


"Euum.. kalau Kakang umur berapa di angkat menjadi Dewa?." tanya Pelangi yang juga di angguki Kumala.


"Coba tebak," kata Jaya membuat dua gadis itu meringis gemas.


"Ayo tebak."


Dua gadis itu masih belum juga menjawab, malah menatap Jaya dengan kebingungan.


"Ayo cepat, kok malah diam."


Keduanya masih terpaku, tak mampu menduga duga.


"Menurut kalian umur Kakang berapa?."


Keduanya menggeleng.


"Kakang di angkat menjadi Dewa saat berumur sekitar limaratusan lebih sekian, saat itu kakang masih sangat muda untuk ukuran hidup di alam dewa."


"Haaah..??," dua gadis itu terkejut dan menganga.


Jadi menurut Jaya seorang Dewa akan terlihat seperti saat dia di angkat atau di nobatkan menjadi dewa, meski mereka juga bisa merubah dirinya dengan kemampuan Raga Abadinya.


"Tapi Kakang terlihat tampan bukan karena merubah diri kan?," Kumala bertanya tiba tiba.


Jaya menggeleng, "Kakang memang tampan semenjak dari kandungan."


Ketiganya lalu tertawa bersama.


__________


**Mohon maaf hanya bisa update secuil, juga mohon maaf jika cerita asal muasal seorang Dewa tak sama dengan apa yang ada di kehidupan kalian semua.


Ini hanya sebuah pemikiran yang ada di pikiran author dan saya tuangkan menjadi sebuah cerita yang semoga bisa menghibur bukan menjadi perdebatan dan perseteruan, semoga bisa menghibur semuanya...makasih**.

__ADS_1


__ADS_2