
Kedua Tetua itu sudah berhadapan, mulai bersiap untuk sebuah pertarungan.
"Tahan...Tetua ..!, biarkan aku yang menghadapinya ..!," teriak tetua Samingun sudah meloncat maju.
"Benar Tetua..., untuk menghadapinya tak perlu tetua turun tangan, bisa hancur reputasi Jrabang Geni jika ada yang tahu..!," sahut Kuliman salah satu anggota Lima Kipas Dewa.
Agni Maheso Suro mengangguk, sedikit mundur membiarkan tetua Samingun maju menghadapi calon lawannya.
"Ayo hadapi aku anak muda, aku tetua Samingun salah satu dari Lima Kipas Dewa..!." kata pria paruh baya itu sambil menepuk dadanya.
Jaya hanya mengangguk pelan, melihat sekeliling, "Bagaimana jika kita mencari tempat yang sedikit longgar?.''
"He..he...he...aku terserah padamu, meski sebenarnya hal itu tak perlu karena pertarungan ini paling paling tak sampai dua puluh jurus," Samingun berkata dengan arogan, dan terlihat meremehkan lawannya.
"Ikut aku..!," teriak Samingun melesat ke suatu arah, nampaknya dia berlari menuju sebuah tanah lapang di pinggiran kota tersebut.
Kepergian keduanya diikuti oleh masing masing kelompoknya.
**
Di wilayah barat daya dari Karang Doplang, tepatnya di sebuah kota kecil yang bernama Gajahan terlihat dua rombongan tengah mengadakan pertemuan.
Nampaknya mereka kelompok saudagar Branjangan dan Adipati Sentono yang menjadi penguasa wilayah tersebut.
"Bagaimana dengan rencana ki Branjangan?," tanya Adipati Sentono, penguasa kota itu nampak menatap sosok pria paruh baya di depannya.
"Hmm, lancar.., bahkan sangat lancar sesuai dengan apa yang aku perkirakan, mereka pasti mendukung kita."
"Bagaimana ki Branjangan bisa sangat yakin?."
"Aku sudah mengirim utusan dengan menyerahkan beberapa upeti, dan tentu saja mereka akan mendukung kita nantinya."
Adipati Sentono, tersenyum puas mengangguk pelan, "Ki Branjangan memang bisa di andalkan."
"Ya, tentu saja, tapi jangan lupa dengan janji tuan Adipati kepada ku."
"Ha..ha..ha.., tentu saja Saudagar, jika rencana ini berhasil kita berdua yang akan menikmatinya." sahut Adipati Sentono.
"Tapi Bagaimana dengan pemerintah pusat?, maksud saya dengan Kerajaan Agung Pati Sruni?."
"Jangan khawatir, itu nanti urusannku, Aku punya koneksi di sana."
"Mereka bersedia membantu melobi kepada Yang Mulia Agung Maharaja Jombang Wirayuda."
Kata Adipati Sentono dengan penuh keyakinan.
"Koneksi ku memiliki kedekatan dengan Yang Mulia, jadi akan mempermudah usaha kita nantinya."
Kini Ki Branjangan yang tersenyum, saudagar bekas penjahat itu terlihat senang dengan rencana yang mereka gagas bersama tersebut.
Keduanya berencana merebut pemerintahan di Karang Doplang, merebut kekuasaan dari tangan prabu Wiramerta dan memindahkan pusat kotaraja ke kota Gajahan yang di kuasai oleh Adipati Sentono.
"Semoga semua bisa berjalan lancar, sesuai apa yang kita rencanakan."
"Aku juga berharap demikian tuan Adipati." sahut Ki Branjangan.
**
Dua kelompok itu sudah tiba di tanah lapang.
Masing masing anggota menggerombol sesuai dengan kelompoknya.
Anggota Awan Putih bahkan sudah berkumpul semua setelah menyelesaikan perbelanjaan.
Bukan hanya dua kelompok itu saja yang mengerumuni tanah lapang itu, namun para warga dan para pelintas yang juga penasaran untuk melihat hal itu.
Samingun sudah berdiri dengan gagah menghadap ke arah Jaya, menatap gerak gerik Jaya yang terlihat santai saja.
"Keparat...!, bocah itu meremehkan ku, tak ada takut takutnya sama sekali."
Samingun terlihat gusar, menatap Jaya yang masih terlihat tenang tanpa rasa takut sama sekali.
"Kau..sudah siap..!." seru Samingun sedikit keras, karena jarak berdiri keduanya cukup jauh, hingga beberapa tombak.
"Hmm," Jaya hanya menggumam dan mengangguk.
__ADS_1
"Bersiap...!."
"HIAAA.....!!."
Tetua Jrabang Geni dari kelompok Lima Kipas Dewa itu berteriak keras, melesat maju menghantamkan serangannya.
Jaya sedikit menggeser badannya saat sambaran pukulan Samingun lewat beberapa jari dari nya.
Begitu serangan pertama lewat, Samingun langsung menyabetkan kakinya menyepak ke arah Jaya.
Wuuutt..!
Jaya melompat, berjumpalitan sesaat sambil menendangkan kakinya.
Tak keras memang.. tendangan itu, malah seakan menapak punggung dari Samingun, menjadikannya sebagai pijakan untuk melompat menjauh.
Pria paruh baya itu meradang, seakan lawannya mempermainkannya.
" Kurang ajaaar...!!."
Samingun yang sudah meradang, mencabut kipas senjata nya dari pinggangnya.
Traaakk...!
Kipas itu terbuka, menguar udara busuk menandakan aura racun kuat yang menempel di senjata tersebut.
Samingun kembali meloncat mengejar Jaya, menyambarkan kipasnya.
Gelombang serangan siap menggulung ke arah Jaya.
TRAAANG...!!
Jaya mengimbangi lawan dengan mencabut pedang Angin Puyuh dari pinggangnya, lalu menangkis sambaran kipas tersebut.
Samingun terjajar sedikit kebelakang begitu kipasnya membentur pedang lawan.
Tangannya tergetar begitu berbenturan dengan pedang itu.
"Arch." seruan tertahan dari mulutnya.
BRoough...!!
Jejakan kaki Jaya berhasil mendarat di dada tetua Samingun.
"Aaaaaarch..!."
Tetua itu terlempar beberapa langkah, dada nya terasa jebol, dengan nafasnya hampir putus, mulutnya melengkingkan lolongan kesakitan.
Jaya berniat menghampiri lawannya, namun sebuah bayangan melesat ke arahnya.
Wuuusss...
Kuriman salah satu anggota Lima Kipas Dewa sudah melesat menghadang langkah Jaya sambil mengibaskan senjata kipasnya.
BLAAARR.....!!
Jaya menangkis sabetan kipas tersebut dengan pedangnya, membuat Kuriman melototkan matanya, merasakan sendiri kekuatan lawannya.
"Sungguh kuat pertahanan anak ini."
Sabetan Tetua dari Jrabang Geni tersebut tak berimbas apapun, bahkan Kuriman merasa menabrak tembok kuat.
"Giliranku...!!," teriak Jaya melesat dengan sangat cepat, lalu menyabetkan pedangnya menghantam dada lawannya.
Kuriman reflek menyilangkan kipas nya menghadang tebasan pedang tersebut.
DUAAAARR...
Kuriman terlempar, menyusul Samingun yang masih terduduk memulihkan tenaga.
"Aaauughh..." Kuriman menjerit sambil memegangi dadanya.
Meski pedang Jaya terhadang senjata kipas nya namun gelombang hantaman itu meledak dan mementalkannya, membuat dada nya nyeri dan sesak.
Agni Maheso Suro terbelalak, melihat dua rekannya yang menduduki satu kursi tetua itu di hajar oleh anak muda yang menjadi lawannya.
__ADS_1
"Minggir kalian..!." teriak Agni Maheso Suro ketika melihat tiga dari Lima Kipas Dewa sudah mendekati Jaya.
Kini Tetua Agung itu sudah maju, menyingkirkan tiga anggota dari Lima Kipas Dewa, menatap Jaya yang masih menghunus pedangnya.
"Hadapi aku anak muda...!." seru Tetua Agung Jrabang Geni tersebut.
"Aku menantikan hal ini." balas Jaya.
Tepuk tangan orang orang yang hadir dan menonton di sana makin riuh.
"Wes..pasti ramai iki." kata salah satu penonton, terlihat antusias.
"Iya..tetua agung Jrabang Geni melawan pendekar muda." sahut temannya yang ada di sampingnya.
Semua penoton kini pandangannya mengarah kepada dua sosok yang kini tengah berdiri dan saling berhadapan tersebut.
"Ayo kita mulai..!!," teriak Agni Maheso Suro.
Sosok tersebut langsung mengerahkan jurus element apinya.
Kedua lengan pria tua yang masih terlihat gagah itu mulai mengeluarkan asap tipis, menandakan jurus berhawa panas mulai di kerahkannya.
Semua penonton mundur beberapa langkah, ikut merasakan hawa panas yang kini menguar di sana.
'HIAAAA...!!."
Tokoh legenda Api Suci tersebut melesat dengan sangat cepat menghantamkan tangan kosong yang sudah mengandung hawa panas.
Jaya yang sudah menyimpan senjatanya dan mengerahkan jurus Gelombang Awan Menerjang, menyilangkan kedua lengannya menghadang serangan lawan.
BLEGAAAART....!!
Hantaman keras itu meledak begitu membentur lengan Jaya yang juga mengeluarkan gelombang kekuatan serta kabut tipis.
Sesungguhnya akibat ledakan itu hawa panas menyebar, dan bisa membahayakan para penonton di sekitarnya.
Namun tak lama hawa panas yang akan menguar menyebar keluar arena terserap oleh kabut tipis yang menyelimuti kedua lengan Jaya, membuat legenda Api Suci itu terbelalak.
"Apa ini...!, kekuatan macam apa mampu meredam panas Api Suci.?."
Agni Mahesa Suro langsung mencabut senjata yang ada di punggungnya, begitu menyadari kekuatan lawannya.
"Serius...!, kau ingin menggunakan senjata kakek tua..!," ledek Jaya, menatap sosok berpakaian merah menyala tersebut.
"Tak usah banyak cakap, jangan mentang mentang berhasil menahan serangan pertamaku terus kau jumawa anak muda..!.''
Begitu senjata Agni Mahesa Suro di cabut, hawa panas langsung menguar seiring senjata itu berkobar dengan api menyala, membuat mau tidak mau semua yang menonton mundur.
Pitu Geni yang sejak awal melihat sosok Agni Mahesa Suro, tak berkedip menatap sosok legenda tersebut.
Bagi pengguna element api sosok sosok legenda tersebut memang menjadi panutan.
Jaya kembali mencabut pedang Angin Puyuh, lalu tangan kanannya sudah menggenggam tongkat Wesi Kuning yang sudah di keluarkan dari ruang dimensi tanpa ada yang menyadari nya.
Jaya mengerahkan jurus Gelombang Awan menerjang di tangan kiri yang menggenggam pedang Angin Puyuh dan mengerahkan jurus Badai Matahari di tangan kanan hingga tongkat Wesi Kuning sedikit menyala.
"HIAAAAA.....!!."
Tetua Agung Jrabang Geni meloncat begitu di rasa sudah siap.
Wwuuusss...
Sambaran pedang dengan gelombang yang bisa membakar segalanya itu menebas ke arah Jaya.
Melihat lawannya bergerak lebih dahulu Jaya juga melesat maju menyongsong lawan yang melepaskan serangan.
TRAAAANGG...!
BLAAAAARRR....
Dua pedang berbenturan dan kembali terdengar ledakan sangat keras.
Meski hawa panas sebagian terserap oleh kabut tipis yang Jaya ciptakan, namun karena hebatnya serangan Agni Mahesa Suro, sisa hawa panas hantaman tetua Jrabang Geni tersebut tetap meluap ke arah penonton.
___________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya...