
Iblis Wora dan Iblis Wari tertawa terbahak bahak, musuh utama nya berhasil di musnahkan.
Begitu lawannya terlempar dan masuk ke kawah gunung berapi tersebut, mereka berdua sudah yakin pasti mati.
"Akhirnya mati juga..!!."
"Ya batu sandungan itu akhirnya kini hilang..ha..ha....ha....!," Iblis Wari tertawa lepas, mengingat lawannya kini musnah tertelan di kedalaman kawah gunung Pancawarna tersebut.
Keduanya kini berniat meninggalkan bibir kawah dari gunung tersebut, setelah memastikan lawannya lebur di sana.
"Ayo kita tinggalkan tempat ini..!, kita bangun kembali Jiwa Abadi dan kita kuasai alam ini.." seru Iblis Wari, melesat meninggalkan tempat itu.
BLUUAAAARR...!!
Tiba tiba sebuah ledakan terdengar dari Kawah yang meletup letup tersebut, lalu meloncatlah sebuah bayangan mengejar dua Iblis yang baru saja menyingkir dari bibir kawah.
"MAU KEMANA KAU IBLIS..!." bentak Jaya, mengagetkan dua iblis yang tengah meloncat turun gunung.
Dua iblis tercekat terbelalak mata nya, mendapati musuh yang di kira mati dan hancur lebur di panasnya kawah, kini muncul kembali dengan aura kuat yang melingkupinya.
"Keparat...sialaaan..!!, tak mati juga kau manusia..!!." maki sang Iblis.
Jaya sudah berdiri menghadang dua Iblis, badannya terasa lebih bertenaga dengan aura baru yang kini tengah melingkupinya.
"Aku akan memusnahkan kalian...!.'' Jaya langsung melesat maju menusukkan tombaknya menyerang iblis kembali.
Wuuuuss...
Serangannya kini makin cepat, kekuatannya makin berlipat dan menakutkan.
TRAAANG...!!
Iblis Wora menepis sambaran tombak Jaya, ujung senjata itu memang bergeser sedikit tapi iblis tersebut juga terjungkal karena kuatnya gelombang yang menghantamnya.
Iblis Wari menghindar dengan tergagap menyadari serangan lawan yang datangnya makin cepat mengerikan.
BLEGAAARRTT...!
Serangan Jaya menghantam bumi dan meledak menyapu semuanya.
**
"Kita tinggalkan tempat ini, sudah kita sisir berulang kali tak juga di temukan keberadaan Nakmas Junjungan," usul Prono Condro.
__ADS_1
Semua masih terdiam, belum mengatakan setuju atau tidak, tapi memang kenyataan mereka sudah berulang kali menyisir tempat tersebut tak menemukan keberadaan sosok Jaya.
Bukan keputusan yang mudah meninggalkan tempat itu dengan meninggalkan Tetua yang belum di ketahui pasti keadaan dan keberadaannya, namun tak mungkin juga mereka terus di sana.
Randu Sembrani menghela nafasnya, tatapannya memutar ke segala penjuru seakan mencari sosok yang selama ini di cari untuk yang terakhir kali, "Ya..tak mungkin juga kita terus di sini di antara ribuan mayat yang makin membusuk ini."
Dengan berat hati semua menyingkir dari wilayah tersebut.
Semua kini telah kembali ke kelompoknya masing masing berjalan beriringan menepi menuju wilayah yang sedikit menjauh dari padang tersebut, meski hanya tinggal beberpa gelintir orang saja, seperti kelompok Kawah Welirang, Kuda Terbang dan lainnya.
"Silahkan saudara saudara kembali ke asal kalian, bagaimanapun hidup akan terus berlanjut.." Sumanjaya berkata memberikan keputusannya selaku penasehat Awan Putih, karena kini perang telah usai.
"Mungkin akan banyak yang akan terjadi dengan berakhirnya kekacauan ini."
"Kita cuma berharap, agar semua bisa tetap menjadi penegak keadilan."
Meski berat semua orang kembali ke kelompoknya dan untuk selanjutnya akan kembali ke wilayah masing masing.
Dengan hasil akhir pertemuan Serikat Pendekar yang kacau balau ini, membuat alam manusia pasti berguncang karena tak ada yang di anggap menjadi pemimpin dan bisa di pastikan kejahatan makin meraja lela karena banyaknya pendekar yang mati tanpa ada penguasa jagat persilatan.
**
Gerakan Jaya yang kian cepat dan kuat, terbukti menyulitkan dua iblis lawannya.
CRAAASH...!!
Tebasan dan tusukan berkali kali singgah di badan dua iblis tersebut secara bergantian, membuat iblis itu berteriak dan menjerit kesakitan berulang kali.
Apa memang benar benar tak ingin membunuh dua iblis itu secara cepat dengan cara menyiksanya terlebih dahulu, atau memang masih kesulitan untuk menusuk jantung iblis yang di lindungi zirah di dadanya, Jaya membuat dua iblis itu makin menderita.
"Aaarragghh...!!." kembali lengkingan terdengar dari salah satu iblis tersebut saat tombak Jaya bersarang di perut bawahnya, di putar lalu di tariknya hingga ususnya terburai.
"Bajingan..kau ingin menyiksaku rupanya..!."
Jaya menatap tajam dua lawannya secara bergantian, "Anggap saja ini sudah di Neraka, siksaan nya tak ada akhir, kalianlah yang memilih pilihan ini."
Iblis Wora dan iblis Wari makin pucat wajahnya, mendengar seruan lawannya.
"Biadap..!, kami akan terus melawanmu...!!."
"Kaulah makhluk biadap...!, memangnya tak berkaca siapa yang memulai semua ini?." balas Jaya, masih sambil melakukan serangan.
CRAAASH...! CRAAASHHH...!!
__ADS_1
JLEEEB...! JLEEEBB...!!
Puluhan bahkan ratusan kali, Jaya terlihat mempermainkan lawannya tersebut, dengan cara menusuk, menikam hingga isi perut berhamburan membuat dua iblis menderita kesakitan hebat, lalu di biarkan pulih lalu di serang kembali.
"Aku bosan...!, saatnya akan ku akhiri..!," Jaya melesat meloncat kembali menyerang dua iblis yang kini berpencar.
SRIIIING...
Tombak Jaya melesat menghujam ke arah iblis Wora yang meloncat menghindari nya.
JLEEEBBB...!
Jaya menikam sang iblis dari arah bawah perut menusuk hingga mengenai jantungnya, menyisir melewati zirah pelindung yang ada di depan dadanya.
"Aaarrgghh...!!." Iblis Wora menjerit, matanya melotot merasakan kesakitan yang teramat sangat, jantungnya tertancap mata tombak yang mengandung racun Dasalaksa, membuat ratu cacing darah yang bersarang di jantungnya mati, dan mati pula seluruh cacing yang ada di sekujur tubuhnya.
Badan Iblis Wora seketika mati dengan badan menyusut, kering seperti darahnya habis terhisap dan seluruh cairan tubuhnya habis.
Iblis Wari tercekat sesaat melihat pemandangan itu, ketakutan jelas tampak di wajahnya, tapi tak berlangsung lama, karena Jaya sudah meloncat melesat lalu menusuk dari arah kepala tembus ke leher dan menikam jantung sang Iblis.
JLEEEEBBB...!
Kali ini sang Iblis tak mampu bersuara, karena langsung tertikam dari ujung kepala hingga leher dan berakhir di jantung.
Badannya langsung mengering, dan selanjutnya luruh ke bumi.
Jaya menghampiri dua iblis tersebut, mengangkat dan melemparnya ke dalam kawah gunung Pancawarna atau Pancarupa.
Sesaat Jaya menyeringai pandangannya beralih ke awan yang berada jauh di angkasa, membuat tiga pengintainya tercekat.
"Heii..apakah manusia itu melihat kita?."
"Aah..jangan mengada ada, mana mungkin dia bisa mengetahui keberadaan kita."
"Ya..tak mungkin lah."
"Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini, kita laporkan apa yang kita lihat ini kepada Kaisar."
Dengan kecepatan cahaya ketiganya melesat meninggalkan tempat dimana mereka bersembunyi selama ini.
"Hmm, Dewa Pengecut.." gumam Jaya pelan, lalu meninggalkan tempat tersebut.
____________
__ADS_1
**Segini aja ya kaka kaka, jangan lupa jejaknya.
Mohon maaf lahir batin, selamat hari raya Idul Fitri bagi yang merayakannya, damai selalu, dan semoga berkah selalu menaungi kita. Aamiin**.