Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Bertarung melawan Srigala Merah


__ADS_3

Karsh menatap dua gadis di depannya dengan tatapan membara.


Meskipun sedikit tak percaya, jika ternyata para penganggu Jiwa Abadi masih sangat lah muda muda, tapi itu nyata.


"Sungguh berani sekali kalian berurusan dengan Jiwa Abadi..!," teriak geram Karsh dengan otot otot di tubuhnya yang menegang.


Kumala dan Pelangi yang sudah mencabut senjata andalannya mulai bersiap menghadapi lawan yang terlihat sudah meluap luap tenaga nya dengan penuh kemarahan.


"Kepung tempat ini, jangan biarkan ada yang mencoba lolos..!," teriak Karsh dengan lantang memerintahkan anak buahnya.


Lima puluh anggota Srigala Merah langsung membentuk formasi mengurung keempat orang tersebut.


Narimo dan Sugara yang semula berada di pinggiran dan sempat melepas suar kini sudah digiring ke tengah hingga berkumpul dengan Pelangi dan Kumala berada dalam kepungan kelompok tersebut.


"Babaat habis mereka..!!," teriak Karsh menggeram memberikan perintah kepada anak buahnya.


Dengan teriakan tersebut, anak buah Srigala Merah langsung meloncat, melesat maju menyerang secara bersamaan.


"Hiaaaaa...!."


"Hiaaaaa....!!"


Teriakan teriakan anak buah Karsh yang berloncatan menyerang keempat orang tersebut, terdengar saling bersahut sahutan.


Wuusss...


Wuuussss....


Sriingg..! sriiiing...!!


Aneka senjata berdesing mengarah ke arah empat orang yang kini terkurung di tengah kepungan tersebut.


"Mati kau...!!." teriak beberapa anak buah Srigala Merah tersebut sambil mengayunkan aneka macam senjata.


Orang yang melihat pasti akan mengira ke-empat nya akan celaka tersambar puluhan senjata yang bergerak liar itu.


CLAAAAPP.....


Pelangi melepaskan jurus Mata Dewa dengan kekuatan penuh-nya, karena pasti akan kesulitan jika menangkis sambaran aneka senjata yang menyerang.


Gelembung tipis transparan tercipta dari pancaran yang di ciptakan Pelangi, memerangkap anak buah Srigala Merah yang bergerak menyerang empat orang tersebut.


Dengan jurus tersebut para penyerangnya kini bergerak melambat sebelum sampai ke sasaran.


CLAAAAPP.....!


Kumala juga melepaskan jurus Mata Iblis nya untuk menyerang orang orang tersebut.


Karsh yang mengawasi penyerbuan anak buahnya dari pinggiran, melihat dua pancaran gelombang kekuatan Mata tersebut melesat, langsung meloncat dan menghantamkan tongkat Wesi Kuning senjata tingkat Dewa pinjaman dari sang Iblis kembar.


BLEGAAARRTTT....!


Luar biasa sekali senjata milik sepasang iblis Wora Wari itu, senjata pusaka yang memiliki kekuatan tingkat Dewa yang di pinjamkan kepada Karsh itu benar benar sangat ampuh, terbukti mampu memecah gelombang kekuatan Mata Dewa dan sekaligus gelombang serangan Mata Iblis, meskipun Karsh juga terpental saat terjadi ledakan karena pecahnya gelombang kekuatan yang meledak tersebut.


"Aaaaarrcchh.... gggrrrrhh... Keparaat..!!," racau Karsh, berjumpalitan ke belakang sebelum mendarat sedikit goyah.


Anak buahnya juga pada terlempar tak beraturan, hingga formasi pengepungan menjadi buyar dalam seketika.


**


Jaya yang melihat suar dari kelompok nya terpancar dan meledak di udara sangat kaget.


Tak biasanya hal itu terjadi jika tak benar benar genting.


"Kita kesana..!," teriak Jaya langsung meloncat melesat kearah pusat suar itu berasal.

__ADS_1


Di belakang Jaya, melesat Baroto Sarkawi, Pitu Geni dan Empu Cipta guna yang berlari menyusul dan mengikuti dari belakang.


Mereka berlari berloncatan dari atap rumah satu ke atap rumah yang lainnya.


Kecepatan berlari Jaya yang luar biasa dia tunjuk kan, hingga nampak seperti terbang dan hanya sesekali menjejak di atap rumah warga yang ada di sana.


BLEGAAAART....! terdengar sebuah ledakan yang cukup keras dan mengguncangkan sekitarnya.


"Disana..!," teriak Jaya menunjukkan arah yang akan di tuju, kemudian melesat ke arahnya.


Dari kejauhan sudah terlihat debu mengepul dengan sisa sisa pertarungan dan ledakan yang masih ketara.


Jaya melihat Pelangi dan Kumala terlempar akibat hantaman tongkat Wesi Kuning yang menghajar gelombang kekuatan mata ciptaan keduanya, begitu juga dengan Narimo serta Sugara.


Bisa Jaya lihat juga lawan yang memegang senjata beraura kuat sudah kembali berdiri dan bersiap menghajarkan pukulannya.


"Hentiikaaan....!." teriak Jaya begitu lawan akan bergerak menghantam kan senjatanya kembali.


Karsh menghentikan serangan yang akan di hantamkan nya, menoleh menatap keempat orang yang kini sudah berdiri kokoh di antara dirinya dan dua gadis itu.


"Gggrrrhhhh.... keparaat..siapa kalian?, apakah rombongan nya juga?"


"Benar kisanak, aku rombongan mereka." Jaya menarik nafasnya, "Apa yang terjadi? kenapa kalian menyerangnya?"


Mendengar Jaya termasuk rombongan lawannya, Karsh kembali menyeringai, "Gggrhh...setan alaaas.. rupanya kalian pengacau itu..!."


"Apa maksud mu?"


"Kalian sudah mencampuri urusan Jiwa Abadi..!," teriak Karsh marah, dengan menudingkan tongkat Wesi Kuning.


Begitu mendengar nama Jiwa Abadi, raut muka ramah Jaya langsung berubah.


"Hmm, kalian dari kelompok itu." gumam Jaya.


Jaya hanya menatap lawan di depannya, pikiran nya langsung terpacu.


"Aku jadi makin penasaran dengan kelompok kalian, apalagi dengan pemimpin nya, berusaha menguasai jagat persilatan dengan mengandalkan segala cara."


Karsh tertawa lantang, "Hua..ha..ha..!!, tak akan pantas kelompok kecil macam kalian bertemu dengan pemimpin Agung kami..!."


"Hanya rombongan cecurut berani berharap bersua pemimpin Serikat Pendekar." kata Karsh meremehkan lawannya.


"Karena sebelum kalian bertemu dengannya sudah di jemput Malaikat Kematian..!," seru Karsh kembali, sambil bersiap melakukan kuda kuda tanda akan menyerang nya.


Jaya menatap gelombang kekuatan lawan mulai melingkupi senjata tongkat Wesi Kuning, membuat senjata tingkat Dewa itu makin bergolak dengan aura yang makin menakutkan.


Bukan hanya itu, Karsh pun langsung mengeluarkan ajian Asu Panglimunan, dimana badannya kemudian sedikit merunduk dengan tulang tulang menonjol dan mengeras, pandangan mata memerah dan kekuatan yang meledak ledak.


"Aaaarghh....Ggrrrhhh..."


Karsh menggeram mengerikan, langsung melesat meloncat maju menerkam lawan di barengi hantaman senjata Pusaka tingkat Dewa itu.


Wwuuuusss....


Seiring dengan melesat nya sang pemimpin, semua anak buah Srigala Merah juga langsung melakukan serangan kearah anggota lawan itu.


"Hiaaaa...! hiaaaaaa.......!!" teriak anak buah Srigala Merah.


Sambaran tongkat Wesi Kuning yang mengandung gelombang kuat mematikan itu bergerak cepat kearah Jaya.


Jaya yang merasa gelombang kekuatan lawan, mencoba menangkis dengan pedang Angin Puyuh, yang di lambari dengan kekuatan serangan Manggar Pecah.


JDUAAAAAAARRT...!!


Dua hantaman itu beradu, dengan gelombang kekuatan yang saling bertubrukan, menimbulkan pecahan ledakan dua kekuatan yang mampu melempar kan apapun yang ada di sekitarnya.

__ADS_1


"AAaaaarch.....!!," teriak Karsh yang tak menyangka akibat dari benturan itu terpental berjumpalitan lebih jauh dibanding saat berbenturan dengan dua gadis tadi.


Jaya terseret beberapa langkah kebelakang, pedang Angin Puyuh di tangannya bergetar akibat benturan dengan senjata tingkat Dewa dari lawannya.


Menyadari itu dia langsung menyimpan pedang Angin Puyuh, dan memanggil kyai Seto Ludiro dan perisai Wojo Digdoyo yang merupakan senjata pusaka tingkat Illahi.


"Karena kau anak buah Jiwa Abadi maka aku tak akan ragu memusnahkan mu..!."


Ziiing...! ziiiing...!!


Baru saja Jaya berkata, dua senjata tingkat Illahi sudah meluncur dari arah tak terduga yang membuat semua orang kaget.


Sementara itu anak buah Srigala Merah sudah bertarung dengan rombongan Jaya, nampak Pitu Geni sudah menyambar nyambar kan golok Wiso Geni yang tengah membara menebas dan menyerang pasukan yang kini bertingkah dan bergerak liar layaknya binatang buas Srigala.


Banyaknya lawan dan jumlah yang tak seimbang memaksa rombongan Jaya harus mengatur strategi dalam bertarung, apalagi mereka ada sosok Narimo yang paling lemah dengan tingkat kependekaran hanya setingkat prajurit Perak.


Baroto Sarkawi sudah menghantamkan pukulannya dari lengan Baja nya.


Tinju nya menyambar nyambar kearah badan lawan yang lebih terasa liat dan tebal karena pengaruh dari ajian Asu Panglimunan.


Jurus ajian Asu Panglimunan membuat tubuh para penggunanya lebih keras, liat dan terasa tebal, ibarat kita menendang seekor anjing dia hanya terpental saja.


"Terus hantam jangan khawatir, mereka pasti hancur jika terus terusan kita hajar...!!," teriak Empu Cipta guna yang kali ini bersenjatakan pedang tumpul dengan daya kekuatan hantamannya.


Mendengar peringatan sang empu membuat semua bersemangat untuk menebaskan senjatanya.


Craaaaakk....!!


Sabetan pedang langit dari Kumala terbukti bisa menembus kulit tebal dari manusia setengah Srigala itu, karena ajian tersebut mereka kini bertingkah layaknya hewan tersebut.


"Aaauuuu...!!."


Jeritan anak buah Srigala Merah yang tercabik senjata Kumala berteriak melolong kesakitan, namun tak menyurutkan nya kembali menyerang.


"Kau pikir aku takut...pada anjing kurap seperti mu hah...!!," teriak Kumala ketika lawannya itu berbalik menyerang lagi dengan tatapan makin beringas.


Sriiing....!!


Craaass....!!


Kali ini sambaran pedang Kumala mampu melukai makin dalam di tubuh lawannya.


"Hantam di tempat yang sama..!!," teriak Kumala memperingatkan yang lain, begitu menyadari hasil cabikannya membuahkan hasil.


Pelangi langsung mencoba apa yang di katakan Kumala, dengan sebelumnya memerangkap lawan di depannya dengan jurus Mata Dewa.


CLAAAAPP...


Langsung lima orang di depannya seakan berhenti bergerak terperangkap Jurus Mata Dewa.


Craaass... craaaasss...


Dengan gerakan cepat Pelangi langsung membabat lawan lawannya tersebut seakan menebas pohon pisang.


"Aaaauuuuu...".


"Aaaaarch..."


Hanya dalam waktu tak lama anak buah Srigala Merah di depan Pelangi bertumbangan dengan anggota badan tercerai berai.


Menyadari itu anggota Jaya langsung tersenyum senang, mengetahui kelemahan lawannya.


___________


Jangan lupa tinggalkan jejak nya...karena dukungan kalian membuat karya ini tetap eksis..

__ADS_1


__ADS_2