
Kelompok Kawah Welirang yang di pimpin oleh Ruwandaru masih berdiam di tempat yang di rasakan auranya terasa "aneh" tersebut, hingga beberapa saat nanti, sambil menunggu para perserta lainnya berdatangan.
Aneh disini artinya adalah sesuatu yang menarik bagi kelompok tersebut, sama halnya seperti puncak gunung Pancawarna/ Pancarupa.
Di puncak gunung tersebut kelompok Kawah Welirang ini merasai ada sesuatu yang menarik mereka hingga merasa nyaman untuk menetap di sana, dan mengakhiri perjalanan hidup mereka sebagai kaum nomaden atau pengembara.
Rasanya seperti ada aura yang menjaga mereka, saat di puncak gunung Pancawarna/ Pancarupa, membuat rasa nyaman kelompok tersebut dan daerah sekitarnya aman dan tentram, seperti itulah yang di rasakan oleh kelompok ini.
Kelompok yang memiliki ilmu Kanuragan warisan dari sang sesepuh Resi Makaryo Jagat, bernama Rohing Jagat, sebuah kanuragan berupa ilmu yang bersumber utama dari kekuatan alam, mengambil inti sari dari kekuatan alam sekitar.
Dengan ilmu Rohing Jagat ini, kelompok Kawah Welirang mampu meningkatkan diri, mampu menarik inti sari alam sehingga mereka menjadi pengelana hebat di seluruh Panca Buana.
Mereka menjadi kaum pengembara yang di segani, hingga berakhir di puncak gunung yang terlihat aneh karena bisa berubah rubah warna puncaknya tersebut, namun juga bisa meningkatkan kekuatan mereka dan menjaga mereka.
Seperti saat ini, kelompok tersebut merasa di bagian tertentu dari padang Selayang Pandang itu memiliki sebuah kekuatan yang bisa menjaga dan menyetabilkan kekuatan mereka, makanya mereka langsung merasa cocok berdiam di sudut tersebut.
**
Satu demi satu dari beberapa kelompok besar mulai berdatangan.
Di awali dari kelompok Naga Hijau yang berasal dari negeri Barat.
Kelompok yang berasal dari Kerajaan Agung Wukir Asri tersebut tiba dengan jumlah anggota yang sangat banyak.
Tiga ribu anggota di bawa oleh sang Tetua Agung yang bernama Joko Lodro.
Selain itu Tetua agung Joko Lodro juga membawa beberapa tetua serta dua Sesepuh dari Naga Hijau, yang bergelar si Cakar Naga dan Pendekar Pedang Naga.
"Nampaknya kita sudah sampai Sesepuh," kata Tetua Agung Joko Lodro, kepada dua pria matang yang duduk satu kereta dengannya.
"Hmm, masih terlihat sepi, kita termasuk yang datang awal," sahut si Cakar Naga.
"Benar saudara ku," sahut Pendekar Pedang Naga, melongok ke luar kereta, memperhatikan suasana padang Selayang Pandang yang masih cukup lengang, meski di beberapa bagian sudah ada beberapa kelompok yang datang.
"Tapi kita beruntung bisa tiba lebih awal, bisa memilih tempat sesuka hati kita."
"Benar sekali," sahut si Cakar Naga lagi, membenarkan perkataan Pendekar Pedang Naga.
"BERHENTI...!!."
Teriak salah satu Tetua yang memimpin perjalanan itu di barisan terdepan, menghentikan rombongan yang mengular tersebut.
Kamarunto salah satu tetua itu kemudian memacu kudanya mundur mengarah ke kereta Tetua Agung.
__ADS_1
"Kita sudah sampai di Selayang Pandang Tetua Agung, di mana sebaiknya kita berdiam?."
Joko Lodro keluar dari kereta kudanya, mengawasi sekitarnya, lalu mengambil dua buah perisai dan di lemparkannya ke udara.
Sriiiiing...!
Sruiiiiing....!!
Dua buah perisai melesat ke udara dengan ketinggian yang berbeda, lalu Tetua Agung tersebut meloncat dan menapak perisai yang paling rendah sebelum melesat lagi menapak perisai yang lebih tinggi.
Rupanya dua perisai itu di gunakan sebagai pijakan oleh Joko Lodro untuk melihat padang tersebut dari ketinggian udara.
Wuuuusss....
Taaaaap.....!!
Joko Lodro mendarat dengan ringan, menandakan betapa hebatnya ilmu meringankan tubuhnya, hingga bisa berlaku begitu.
"Kita berdiam di sebelah sana....!," seru sang Tetua Agung tersebut memberikan perintah.
"Baik Tetua Agung.." balas para tetua, lalu memimpin kembali rombongan itu menuju ke tempat yang di tunjuk tadi, setelah Joko Lodro masuk ke dalam kereta.
**
Dari arah Utara berduyun duyun berdatangan beberapa kelompok yaitu kelompok Rantai Neraka, kelompok Bumi Langit dan kelompok Kuda Terbang.
Konon menurut cerita lampau para pengguna element udara bisa terbang tanpa bantuan alat apapun, menaklukan udara sekehendak hati dan pikirannya.
Namun kini para anggota Kuda Terbang mampu memiliki ilmu meringankan tubuh di atas rata rata pendekar hebat lainnya.
Mampu terbang dengan bantuan sayap buatan yang di kenakan di pakainnya.
Rata rata mereka memang menggunakan pakaian khusus yang berbeda dengan kebanyakan pendekar lainnya.
Kelompok yang di pimpin oleh sang Tetua Agung bernama Bayu Sastra serta di dampingi oleh lima Tetua dan dua tokoh legenda dari Kuda Terbang yaitu Bayu Geni dan Bayu Banyu.
Dua tokoh inilah yang sempat menggemparkan dunia saat itu karena dianggap anak ajaib saat muda dahulu dengan kemampuan bisa sedikit menaklukan Angin dan Api untuk sosok Bayu Geni serta bisa menaklukan Angin dan Air untuk sosok Bayu Banyu.
Di kelompok ini juga ada sosok Tiga Bayangan Setan yang sempat ikut memburu zirah Sayap Garuda beberapa waktu lalu.
Mereka adalah Jino, Lono dan Tino.
"Kita cari tempat berdiam, sambil menunggu yang lainnya," usul Bayu Geni, yang kini sudah terlihat tua meski masih tampak gagah.
__ADS_1
"Benar apa kata mu," Bayu Banyu menyahut perkataan saudaranya tersebut.
Bayu Sastra langsung melesat, meloncat keluar dari keretanya.
Wuuuuuss...
Laaaap....
Tokoh Kuda Terbang itu melayang di udara, dengan bantuan pakaiannya yang memang di rancang khusus tersebut membuat gerakannya makin lincah dan terlihat benar benar terbang.
Perbedaan "terbang" dari Jaya dan sosok ini adalah, jika Jaya mampu melesat tinggi dan bergerak cepat sekehendak hatinya, dan benar benar terbang tapi kalau para petinggi Kuda Terbang dia meloncat menggunakan ilmu meringankan tubuh yang sangat hebat, sedikit melayang dengan bantuan baju yang di rancang khusus tersebut, sebelum menemukan pijakan lagi.
Namun istimewa kelompok ini memang bisa sedikit menaklukan angin, dan bisa sesikit mengendalikannya.
"Aku sudah menemukan tempat yang cocok untuk kelompok kita..!," seru Bayu Sastra sambil melesat mendekat.
Kelompok tersebut lalu mulai kembali bergerak menuju ke arah yang di tunjuk oleh Tetua Agungnya.
**
"Kita menunggu di sini..!," seru Pati Kerto, kepada dua ratus anak buah yang di bawanya.
"Menunggu Tetua agung Anuso Birowo bersama Pemimpin Agung dari Awan Putih." katanya lagi.
Semua anak buah mengangguk, "Baik Tetua..!."
Mereka adalah anggota Golok Naga, sebuah kelompok yang mengikrarkan diri bergabung dengan Awan Putih.
Semenjak Tetua Agung Anuso Birowo menetap sementara di Awan Putih bersama tetua Suroloyo, kepemimpinan Golok Naga di markasnya di serahkan kepada Tetua Pati Kerto.
Dan di persimpangan inilah anggota Golok Naga itu menunggu bergabung dengan keseluruhan anggota Awan Putih.
"Kita sedikit menyingkir, jangan menganggu jalanan, jangan ada masalah dengan kelompok lain..!," Pati Kerto berkata kepada seluruh anak buahnya.
"Baik Tetua," sahut orang orang itu, lalu bergerak menajuh dari jalanan, sedikit masuk ke perkebunan yang ada di sana.
Pati Kerto memandang jalanan, nampak sedang berpikir dan menghitung.
"Menurut berita yang dikirim, mungkin petang nanti kira kira kelompok Awan Putih tiba di sini.." gumam Pati Kerto seorang diri, masih menatap tajam jalanan yang mengarah ke negeri Timur.
"Makanan sudah siap Tetua..," seru salah satu anak buah Golok Naga, membuyarkan pemikiran sang Tetua tersebut.
"Ya aku akan ke sana..!." balas Pati Kerto, lalu membalik badannya melangkah menuju ke arah kumpulannya.
__ADS_1
____________
Jangan lupa Jejaknya....