Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Rencana Lawan...


__ADS_3

Sehari sebelum perayaan nampak terlihat istana Jogonolo sudah di hias lebih rapi, bersiap mengadakan pesta besar yang di adakan setahun sekali tersebut.


Alun alun yang berada di halaman istana, atau lapangan besar sebelum memasuki halaman istana itu sudah di tata, di dirikan tenda yang besar yang nantinya akan di gunakan oleh sang Raja untuk memberikan sambutan atau setidaknya di sanalah tempat duduk sang Raja dan Ratu di hadapan rakyatnya.


Berbagai umbul umbul untuk mempercantik suasana juga sudah didirikan di sana, bendera warna warni itu berkibar kibar menambah indah suasana.


Hiasan ronce ronce janur kuning yang di pasangkan pada sebatang bambu kecil memanjang juga terlihat menancap di mana mana.


Untaian berbagai bentuk hiasan janur kuning itu makin indah di pandang mata.


Kemeriahan jelas terlihat di acara pesta yang akan di langsungkan besok hari tersebut.


Tamu undangan sudah mulai berdatangan, rata rata dari kerajaan tetangga yang ada di naungan Kerajaan Agung Karang Pandan.


Belum lagi para pedagang yang sudah mulai berdatangan, dan menggelar barang dagangannya meski acara inti baru berlangsung esok hari, membuat tempat tersebut lebih marak lagi.


Entah kenapa prabu Danurwindo menginginkan pesta yang lebih meriah untuk tahun ini di banding tahun tahun sebelumnya, apa karena adanya kepastian keamanan yang di peroleh dari kerjasama dengan kelompok Awan Putih? entah, yang jelas disini terlihat istana Jogonolo ingin menunjukkan diri sebagai istana yang megah dan meriah, kerajaan yang gemah Ripah loh jinawi, wilayah yang subur makmur aman sentosa dan sejahtera.


Sementara itu di dalam istana tepatnya di sebuah ruang khusus tengah terjadi pertemuan.


Pertemuan yang di hadiri langsung sang Raja beserta para punggawa tinggi tersebut tengah membahas adanya aktivitas mencurigakan yang berhasil di ketahui pergerakan nya oleh mata mata istana.


"Apakah apa yang kau sampaikan ini bisa terjamin kebenaran nya? prajurit Riwanda?."


Riwanda adalah seorang pasukan khusus yang bertugas menjadi mata mata dari istana Jogonolo.


Kedudukannya cukup tinggi berada di bawah senopati.


"Hamba jamin ini benar Yang Mulia, karena berita ini kami dapat dari sumber yang terpercaya.''


"Hmm, kurang ajar...selama ini aku membesarkan anak macan..!," dengan geram Prabu Danurwindo menggeram.


"Apakah semua ini ada kaitannya dengan kelompok Akar Jiwa?," tanya sang Patih.


Riwanda mengangguk membenarkan perkataan Patih kerajaan Jogonolo tersebut.


"Berarti akan terjadi perang besar jika memang mereka menyerbu kemari," sahut tumenggung kerajaan itu.


"Benar Tumenggung," balas para Senopati di sana.


Jaya dan pengikut Awan Putih masih terdiam mendengar pembicaraan disana, mereka yang bertugas sebagai pasukan bayaran masih mempelajari situasi.


Bagi Awan Putih, selain menegakkan kebenaran misi kali ini juga mengenalkan kelompok tersebut, karena ternyata semakin di kenal sebuah kelompok akan semakin di takuti lawannya.


"Bagaimana menurut tuan tuan pendekar?, dengan situasi yang kami hadapi?." tanya Prabu Danurwindo, menatap ke arah Jaya Sanjaya.

__ADS_1


"Kami hanya pendekar Yang Mulia, bertarung adalah pekerjaan kami, jika ada lawan pasti kami hadapi, tak bisa menghindar jika mereka tak menyingkir.'' Jawaban lugas Jaya membuat semua mengangguk.


"Persiapkan para prajurit, sepertinya kita akan berperang, kita terapkan siaga satu..!!." perintah sang Raja yang langsung di angguki oleh para punggawa.


**


Sore sebelum perayaan, semua sudah rapi tertata di tempat nya, termasuk singgasana yang bisa di pindah pindah kan sudah di pasang di tempat yang seharusnya, di sebuah panggung yang sudah didirikan dengan di beri alas kain tebal, hanya saja singgasana itu masih di tutupi semacam kain agar tak kotor atau bahkan ada yang nekat mendudukinya.


Sejumlah prajurit sudah di siaga kan menjaga panggung tersebut.


Selain itu para prajurit juga berkeliling di Kotaraja untuk mengamankan suasana.


Kelompok Awan Putih pun di bagi menjadi dua bagian melakukan patroli membantu para prajurit tersebut meski secara diam diam.


Jaya bersama Kumala dan Pelangi terlihat berkeliling mengawasi keadaan sekitar dari hal hal yang menggangu.


Kesempatan tersebut di gunakan oleh dua gadis itu untuk melihat lihat suasana yang sudah mulai ramai oleh para pedagang.


Banyaknya pedagang bahkan hingga berdatangan dari wilayah tempat lain.


Tiga anak muda yang tengah mengelilingi tempat tersebut terlihat hanya seperti pengunjung yang sedang bersenang-senang saja.


"Kaka..lihatlah penjual pernak pernik itu," tunjuk Pelangi kearah penjual yang di kerubuti para pelanggan.


Kumala menoleh ke arah yang di tunjuk Pelangi, "Iya... kita lihat ke sana yuk."


"Mari ..mari..silahkan di pilih ..silahkan di pilih perhiasan dan pernak perniknya," salah satu pelayan yang menjadi penjaga di tenda itu tampak menawarkan dagangan nya, menarik para pembeli untuk berdatangan di lapak dagangan tersebut.


Banyak orang berkumpul di sana entah sekedar melihat atau memang benar benar membeli dagangan itu.


"Mari silahkan..," begitu Kumala dan Pelangi mendekat dan memilah memilih salah satu pelayan yang menawarkan dagangan itu mendekat.


"Apakah nona pendatang disini?," tanya salah satu pedagang tersebut.


"Benar paman," sahut Kumala sambil melihat lihat barang dagangan disana.


"Sayang.... kerajaan yang subur ini, di pimpin oleh Raja yang tak layak." sahut pedagang itu lagi


"Tak layak?." sahut Pelangi yang berdiri di samping Kumala.


"Ya...karena tak mampu melindungi rakyat nya."


"Apakah paman penduduk asli sini?."


"Oh.. tidak, kami hanya pedagang keliling yang kebetulan mampir di sini karena ada keramaian," kilahnya dengan sedikit tergagap.

__ADS_1


"Kalau hanya pedagang keliling kenapa bisa menyimpulkan tentang Raja di sini," kali ini Jaya yang berdiri di belakang Kumala dan Pelangi menyahut.


"Itu yang aku dengar, karena menurut desas desus esok pagi akan ada pemberontakan dari para rakyat negri ini," sahut salah satu pedagang yang lebih tua dengan suara pelan.


Jaya mengerutkan keningnya, mendengar perkataan dari pedagang tersebut.


"Benarkah paman?."


Orang tua itu mengangguk.


"Bagaimana berita sepenting itu bisa tersebar dengan gampang??." Jaya kembali bertanya karena kaget dengan apa yang di dengarnya barusan.


"He..he...he... anak buah Akar Jiwa yang menyebarkan sendiri berita itu."


"Akar Jiwa..?" gumam Jaya, Kumala dan Pelangi hampir berbarengan.


"Ya kelompok terkuat, dan terhebat di negeri ini, mereka sengaja mengatakan itu agar para pendatang seperti kami tak ikut campur urusan mereka."


"Ooh....begitu rupanya."


"Benar...sebaiknya kalian besok segera menyingkir, menjauh dari pusat keramaian, agar tak terkena imbas nya."


Ketiga anak muda itu kembali mengangguk, setelah dua gadis itu memilih beberapa gelang gelang cantik dan membayarnya ketiganya langsung meninggalkan tempat tersebut.


**


"Bagaimana menurut kakang?, kenapa Akar Jiwa sampai berani sekali membeberkan rencana mereka." Kumala bertanya keheranan.


"Benar, aku juga heran Kaka," sahut Pelangi.


"Mungkin mereka merasa paling hebat, dan rencana ini tak mungkin ada yang bisa menghentikan nya." Jaya berkata menjawab keheranan dua gadis nya.


"Aku jadi geram, sekuat apakah mereka? berani sekali berlagak begitu."


Jaya hanya tertawa melihat Kumala yang masih mudah terpancing amarahnya, nampak kesal dengan kelompok pencoleng tersebut.


"Dinda harus tenang jangan mudah tersulut seperti ini, kita lihat saja esok hari bagaimana."


"Benar Kaka."


Ketiganya kembali berkeliling mengawasi situasi dengan berpura pura bertindak sebagai pengunjung keramaian itu.


"Sebaiknya kita bergabung dengan yang lain dulu, sebelum nanti malam kita kembali mengawasi keadaan," kata Jaya mengajak dua gadis di sebelah nya.


"Baik Kakang .."

__ADS_1


_________________


Jangan lupa tinggalkan jejak nya....


__ADS_2