Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Bertemu sang Ratu Mata Iblis


__ADS_3

Pertempuran kedua orang itu makin seru terjadi, masing masing mulai memainkan jurus jurus dengan tingkat yang lebih tinggi serta di iringi oleh peningkatan tenaga dalam yang lebih tinggi lagi.


Sriing... !


Celurit ber-rantai itu melesat, memutari pemilik nya sebelum mengarah ke badan pengguna element Air itu, yang sedikit kecolongan.


Craaass...!!


Senjata itu menerabas benteng Es yang coba di bentuk oleh lawannya.


Jleeeebb...!!


"Aaarcchhh...!!," jeritan pengguna element Air itu menggema saat benteng Es yang di bangun pecah di terabas oleh Celurit ber-rantai yang menghujam kuat lalu menembus perutnya.


Dua puluh sembilan sisa anggota Partai Es Abadi langsung melesat maju menghambur mengurung lima anggota Iblis Pemusnah tersebut.


Anggota partai Es Abadi yang terkena senjata lawan sudah mundur dan mulai mengobati lukanya dengan membeku kan daerah luka.


Kini dua kelompok dengan penuh amarah tersebut sudah saling berhadapan.


"He..he..he..Pasti makin seru tontonan ini ..!!," teriak kakek tua dengan baju compang camping, yang pernah meminta makanan kepada kelompok Partai Es Abadi, duduk di salah satu dahan dan bertepuk tangan dengan riang gembira.


Suara nya yang terdengar melengking tinggi menandakan bahwa suara tersebut di lambari dengan tenaga dalam yang cukup kuat.


Semua menoleh ke arah Kakek tua yang nampak santai duduk di dahan pohon, menonton pertarungan itu.


"Looh ..kok malah pada menatap ku ....ayo cepat kalian bertarung...!!," teriak sang kakek dengan gaya jenaka, namun nampak menyebalkan bagi orang orang di sana.


Semua masih berusaha menahan serangan, apalagi kini ada sang kakek gembel yang seolah menyindir kedua kelompok tersebut untuk bertarung, membuat kedua kelompok hanya terpaku saja.


"Aku akan menganggap kejadian ini tak pernah terjadi..!!," kata Pria dengan satu garis di dahinya mulai meninggalkan tempat tersebut setelah anggota partai Es Abadi tak juga melakukan serangan.


Ki Brengos hanya mendengus tanpa memberikan perintah apapun kepada anggotanya yang menandakan bahwa dia membiarkan lawannya pergi.


"Ealaah...semprul... semprul..mau nonton pertunjukan..malah gagal..!!," teriak sang kakek gembel nampak kecewa wajahnya.


Semua orang nampak jengkel dengan sang kakek, merasa di adu dan di panas panasi.


Bahkan orang orang Iblis Pemusnah sempat melempar kan senjata rahasia nya ke arah sang kakek yang hanya tertawa menghindar.


Siing...! siiing...!


Jeeeb... jeeeebbb..!!


Senjata senjata itu menancap di dahan pohon tersebut setelah di tinggalkan oleh Sang kakek dengan cara meloncat ke dahan sebelah nya.


Orang orang partai Es Abadi hanya menatap tanpa berkata apa-apa, lalu meninggalkan tempat tersebut.


**

__ADS_1


"Nakmas di depan nanti kita akan memasuki salah satu kota kecil dari kerajaan Bumi Asih.." Kata Narimo menerangkan kepada Jaya Sanjaya.


"Mekipun kecil tapi cukup ramai seperti kota Bintang kemarin," kata Narimo lagi.


"Hmm apa ada penjual makanan enak paman..?," kata Jaya karena sudah seharian tak makan enak, tadi istirahat hanya makan ubi bakar.


"Tentu saja ada Nakmas.." sahut Narimo dengan tertawa.


Keduanya makin memacu kuda tunggangan menuju ke arah kota kecil tersebut.


Kota yang berada di wilayah paling luar dari kerajaan Bumi Asih tersebut ternyata lumayan ramai.


Apalagi kini dengan adanya banyak pelintas yang melewati tempat tersebut.


**


Sementara itu di arah yang sedikit berbeda nampak sebuah rombongan yang di pimpin oleh seorang wanita dewasa cukup cantik dengan dandanan mencolok.


Dialah sang Dewi Mata Iblis, yang mendapat kan tugas dari Pemimpin Agung untuk mendapatkan pusaka kitab tersebut.


Wanita Cantik yang terlihat kejam itu menatap ke arah dua penunggang kuda yang juga baru datang dari arah yang sedikit berbeda.


Pandangan wanita matang itu tertuju kepada pemuda tampan yang berkuda bersama seorang pria paruh baya.


Siapa lagi pemuda itu jika bukan jagoan kita Jaya Sanjaya.


Badannya yang kekar dan gagah serta wajah yang sangat tampan, dengan aura yang menggoda wanita sejak dari Alam Dewa itu, sangat menarik hati sang permaisuri Pemimpin Agung.


Dengan tatapan tajam yang tak sedetikpun berpindah, sang permaisuri Pemimpin Agung tersenyum kecil, entah kenapa ada gejolak yang mulai bangkit di tubuhnya kala menatap sang pemuda.


"Ratu...!!," kata sang pendamping mengagetkan sang Dewi Mata Iblis.


"Ada apa ..!!," teriaknya sedikit keras, merasa aktivitas nya di ganggu.


"Di depan ada penginapan dan tempat makan, apakah kita akan menginap di sana..?," tanya sang pendamping dengan menunduk sopan.


Sang Ratu mendengus kecil, pandangannya mencari sosok pemuda yang kini entah hilang kemana, di telan keramaian orang orang yang lalu lalang.


"Begitu saja tak becus, terang saja kita akan menginap di sana..!!," bentak sang Ratu yang sedikit kecewa, karena kehilangan sosoh pemuda tampan yang menarik perhatiannya.


Rombongan itu pun kembali bergerak menuju tempat yang sudah di katakan sang pendamping.


Ratu Dewi Mata Iblis, memang memiliki orang orang kepercayaan tersendiri yang kekuatannya juga tak kalah hebat dari kelompok lingkaran Ring yang melingkupi Pemimpin Agung, karena bagaimana pun juga dirinya adalah orang terkuat kedua setelah sang Pemimpin Agung.


Menjadi seorang Ratu Dewi Mata Iblis, bukan perkara main main, penuh seleksi dan pemilihan yang ketat.


Ratu Dewi Mata Iblis yang bernama Cempaka itu, dulunya adalah anak gadis dari seorang tokoh di kelompok Mata Iblis.


Karena bakat yang hebat, oleh ayahnya dia di paksa menjadi seorang selir di kelompok itu, dan terbukti berhasil menajdi permaisuri akhirnya.

__ADS_1


Seiring berjalannya waktu membuat rasa ingin berkuasa di hatinya kian membuncah, hingga dirinya selalu ingin berkuasa dan menjadi permaisuri yang abadi, meskipun sebenarnya tak pernah mencintai sang Pemimpin Agung.


Wanita yang penuh trik dan intrik itu hingga kini masih bertahan sebagai sang Ratu Dewi Mata Iblis.


Rombongan Ratu Dewi Mata Iblis yang berjumlah lima puluh orang tersebut sudah memasuki penginapan yang juga ada tempat makannya.


Ratu Dewi Mata Iblis keluar dari kereta kuda mewahnya, berjalan anggun menuju ke tempat makan, sedangkan sebagian anak buahnya menunggu di kereta dan sebagian lagi memesankan makanan dan kamar penginapan.


**


Jaya yang sudah kelaparan berjalan cepat menuju ke warung makan yang cukup ramai tersebut.


"Pesankan makanan paman..," seru Jaya Sanjaya kepada Narimo yang langsung mengangguk, dan berkata pelan "Siap juragan..!."


Sedangkan Jaya Sanjaya tolah toleh mencari meja yang kosong untuk dirinya dan Narimo.


Bruuk..!!


"Aauuwww..!!"


Sebuah suara merdu perempuan dewasa terdengar di samping nya, saat bersenggolan dengan Jaya yang sedikit pecicilan ..karena kelaparan.


"Aah.. m-mmaaf Nyai...," seru Jaya Sanjaya, menangkap tubuh wanita tersebut yang entah sengaja atau tidak seakan mau terjungkal.


Sang wanita cantik itu hanya tersenyum berada di pelukan Jaya Sanjaya yang juga terpaku dengan kecantikan wanita dewasa itu.


Keduanya bertatapan dengan badan masih menempel sedikit lama.


"Kuraang ajaar...!!," sebuah hardikan keras anak buah Dewi Mata Iblis, mengagetkan keduanya yang masih menempel erat.


Jaya melepaskan wanita tersebut, membungkuk sopan," Maaf Nyai..aku tak sengaja." katanya dengan senyuman tampannya.


Para pengawal yang marah dan akan menggertak kembali, terdiam saat sang Ratu mengangkat tangan nya.


"Tak apa ...aku juga salah..," kata wanita itu dengan lembut, membuat para bawahannya menganga, tak pernah Sang Ratu Dewi Mata Iblis bicara selembut itu, bahkan dengan Pemimpin Agung sekalipun.


"Aku tergesa-gesa mencari meja yang kosong," kata Jaya Sanjaya sedikit tersenyum kecut, namun di mata sang Ratu Dewi Mata Iblis terlihat amat tampan.


"Bagaimana jika kau bergabung di meja ku..?," tawar perempuan cantik itu dengan senyum di manis manis kan.


Jaya hanya ternganga, sebelum sebuah suara meneriakkan nama nya.


"Makanan kita disini..!!," teriak Narimo sambil tersenyum di sebuah meja yang penuh dengan hidangan.


Jaya tersenyum mengangguk, lalu pamit kepada Cempaka sang Ratu Dewi Mata Iblis.


Cempaka hanya membalas anggukan sang pemuda dengan raut wajah kecewa, meski di tutupi dengan senyumannya.


___________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak nya ya...


__ADS_2