Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Ancaman Kelompok Orong Orong.


__ADS_3

Dua Iblis itu terlihat murka, semua itu bisa dilihat dari matanya yang makin mencorong, seakan menyala.


Dengusan nafasnya menderu mengeluarkan asap mengepul.


Badan tinggi besar itu makin menakutkan, terlihat dari penutup kepala nya saat sedikit melorot memperlihatkan sebagian raut wajahnya.


"Keparaaat..!, siapa yang berani mengusik Jiwa Abadi..!.'' Terdengar suara serak dan berat dari Iblis Wora, bibirnya menyeringai menampakkan taring tajam di miliki nya.


"Aku cincang jika aku berhasil menangkap bedebah ini...!," balas Iblis Wari yang ada disisi saudaranya itu, dengan raut yang sama sama menakutkan.


Semua terlihat menunduk ketakutan, termasuk Pyong Karund yang duduk di deretan depan.


"Di sebelah mana? kalian menemukan penerobos saat itu?."


"Menurut laporan di sebelah kanan gerbang Utara tuan Tetua, tepat nya di alas Daruwono yang ada di depan markas kita."


Dua iblis itu terlihat mengepalkan tangannya, rahang nya mengeras merasa markas yang selama ini di sembunyikan dari dunia luar ada yang berani menerobos nya.


"Perketat penjagaan, radius seribu tombak jangan ada yang berani melintas di dekat markas kita lagi..."


"Baik Tetua...!"


**


Rombongan Jaya sudah meninggalkan markas Awan Putih, berniat "Sowan" ke istana Karang Doplang.


Selain Pitu Geni, Baroto, Anuso Birowo, serta Narimo kini rombongan itu bertambah dengan Koloireng yang memaksa ikut, sedangkan petinggi yang lain di tinggal di markas utama, menjaga markas dari orang orang yang tak diinginkan.


Iring iringan yang terdiri dari dua kereta dan beberapa ekor kuda itu berjalan menuju ke pusat kerajaan Karang Doplang.


"Jadi genduk Pelangi ini cucu dari prabu Wiramerta?." tanya Koloireng yang saat ini berada di sebelah Jaya sebagai kusir kereta kuda tersebut.


"Benar kek, Apakah kakek Koloireng mengenal nya?."


Sosok tua itu menggeleng, "Tidak, aku tak mengenalnya, aku orang persilatan yang sudah melanglang buana sebelum mengasingkan diri, namun sedikit tahu tentang pemerintahan."


Kereta yang di naiki Jaya, Pelangi, Kumala serta Koloireng adalah jenis kereta kuda kecil, hanya muat beberapa orang saja, dengan atap tapi tanpa dinding jadi para penumpang bisa langsung melihat sekitar nya.


Sedangkan kereta berikutnya di naiki Pitu Geni, Baroto, Anuso Birowo dan Narimo, terlihat lebih besar dengan barang bawaan yang banyak, barang barang itulah yang nanti akan di jadikan seserahan kerajaan Karang Doplang, kereta itu di tarik oleh empat ekor kuda yang gagah gagah.


Selain itu ada sekitar sepuluh orang menaiki kuda mengiringi rombongan tersebut sambil membawa umbul umbul bendera kelompok Awan Putih, karena mereka menganggap perjalanan itu sebagai urusan resmi.


"Dahulu aku melihat kerajaan Karang Doplang sangat kuat, semasa di perintah kakek buyutmu, tepatnya ayah dari prabu Wiramerta yaitu prabu Danukusuma."


"Saat itu kerajaan ini bisa dibilang terhebat di wilayah Kerajaan Agung Pati Sruni."


Semua menyimak cerita Koloireng sambil menikmati perjalanan.


"Kehebatan kerajaan Karang Doplang saat itu tak lepas dari peran serta sang Patih yang bernama Kebo Anabrang, salah satu tokoh yang awalnya seorang pendekar sakti berjuluk Pedang Seribu."


"Kehebatan pedang sosok itu sangat di takuti dan di segani, baik kawan maupun lawan, hingga akhirnya dirinya wafat dan mulailah istana Karang Doplang meredup." kata Koloireng.


"Berarti usia kakek lebih tua dari prabu Wiramerta?," tanya Pelangi


Koloireng terkekeh, "Kita orang persilatan banyak yang berusia tua, dan kalian pasti tahu akan hal itu.''


"Bahkan ada yang berusia ribuan tahun, karena ilmu saktinya selalu menjaga tubuhnya tak pernah sakit apalagi jika tenaga dalam nya sempurna, dia bisa awet muda."


Jaya mengangguk, dalam hatinya tersenyum karena dirinya sendiri juga berusia ribuan tahun, tanpa terasa bibirnya menyunggingkan senyum.

__ADS_1


"Kenapa Kakang malah senyam senyum?," Pelangi yang menangkap hal itu bertanya.


"Kakang senang saja, berarti nanti kita bisa panjang umur bertiga Dinda."


"Kakang sedang berpikir apa yang paling enak kita lakukan? jika kita panjang umur, dengan badan selalu bugar dan awet muda seperti ini ya?."


Kumala dan Pelangi hanya saling pandang tak tahu apa yang di maksud Jaya.


"Berkebun dan beternak mungkin?."


"Iya...bercocok tanam kali...!"


Dua gadis itu sahut menyahut, atas pertanyaan yang Jaya ajukan.


"Bercocok tanam membuat cucu cucu untuk ku," gumam pelan Koloireng sambil tersenyum miring, namun bisa di dengar Jaya, meski dua gadis di belakang tak mendengar.


Jaya tertawa tertahan. "Kakek benar..aku jadi punya ide untuk itu."


**


"Tuan nampak nya ada serombongan orang lewat wilayah kita." seru seorang anak buah, melaporkan hasil pengintaiannya.


"Rombongan biasa atau kelompok mangsa?."


"Kelihatannya Mangsa tuan.., sebab ada dua kereta dan yang satu sarat muatan." sahut anak buah pelapor sambil tersenyum, dengan wajah penuh rasa senang mendapat kan mangsa baru.


"Tapi nampaknya seperti rombongan kelompok tertentu."


"Kelompok?.''


"Benar Tetua, mereka membawa bendera umbul umbul sebuah kelompok.


"Hmm baiklah, siapkan anak buah..., kita sergap rombongan itu di bukit Pengapit."


Kelompok tersebut bernama kelompok Orong Orong, sebuah kelompok penjahat yang sangat sulit di basmi karena kepintarannya melarikan diri setelah mendapat kan mangsa dan membuat kericuhan.


Kini kelompok itu mengintai rombongan Jaya yang akan melewati tempat wilayah mereka.


**


"Benar ini jalurnya?.''


"Nampak nya begitu Tetua..," sahut para anak buah yang menaiki kuda di depan.


"Tapi makin lama kok makin jelek dan sempit?.''


"Jangan jangan kita salah jalur saat di percabangan yang tadi..?."


Sesaat Koloireng berdiri menatap matahari, mencoba memperkirakan arahnya.


Jaya sudah akan meloncat terbang melihat situasi dari atas angkasa, namun diurungkan karena Koloireng berkata, "Kita belum keluar jalur, arahnya masih sama meski sedikit melenceng."


Jaya juga berdiri, memandang sekitarnya dan matahari yang sedikit terhalang awan.


"Baik kita lanjut saja, aku yakin nanti pasti ada jalan menuju ke istana Karang Doplang," sahut Jaya memutuskan.


Rombongan itu kembali bergerak makin maju melewati jalanan yang makin jelek dan sempit.


"Kakang perasaanku kok enggak enak," kata Pelangi.

__ADS_1


"Benar Adik, aku juga merasa begitu, kayak ada yang mengawasi kita." Kumala menimpali.


Kakek Koloireng malah tertawa mendengar perkataan dua perempuan muda yang duduk di belakang.


"Kalian ini seperti orang lemah saja nduk.. cah ayu, ada aku... juga calon suami mu yang perkasa disini, kenapa bingung?"


"Aku juga tahu ada beberapa orang di balik hutan yang selalu mengikuti kita."


"Kita ikuti saja permainan nya, itung itung hiburan di perjalanan ini." sahut Koloireng.


"He.he..he..benar juga apa kakek Koloireng." sahut Jaya sambil pura pura masih serius mengendalikan kereta kuda nya.


"Lihatlah Nakmas, di depan ada dua bukit yang mengapit jalanan ini, aku yakin mereka sudah menyiapkan sesuatu untuk kita di sana."


Jaya menatap ke depan, terlihat dua bukit yang cukup tinggi mengapit jalanan yang akan mereka lewati.


Sebuah tempat yang sangat ideal untuk menyergap dan menyerang lawan.


"Hati hati..!," mau tak mau Jaya memperingatkan anak buahnya, tak ingin ada korban di pihak nya.


Begitu dua kereta rombongan Jaya memasuki celah dari dua bukit tersebut tiba tiba ratusan anak panah langsung menghujani rombongan itu.


Ziiing...! sriiiing ..!!


Anuso Birowo meloncat langsung menebaskan golok raksasa nya.


Wuuusss....!!


Sambaran angin pukulan menerpa ratusan anak panah yang menghujani rombongan Jaya.


Traaak..! traaakkkk...!!


Hujan anak panah itu tersebar, begitu gelombang pukulan golok Naga menepis lajunya.


Tak berapa lama, kembali puluhan tombak melesat dari celah celah lubang yang ada di kanan kiri bukit di sebelah jalanan tersebut.


"Cck, rupanya disini tempat eksekusi kelompok ini, pantas kita diarahkan melewati jalanan ini." gumam Jaya meloncat menangkis lesatan tombak tersebut.


Traaang....!!


Beberapa tombak langsung rontok oleh tepisan tangan Jaya.


Semua menghambur keluar dari kereta, menangkis semua serangan yang mengarah ke badan mereka sendiri atau kuda kuda yang menjadi tunggangan atau penarik kereta.


"Panaaah...!."


Kembali sebuah teriakan perintah dari seseorang yang berada di atas tebing membahana.


Sriing...! sriiing...! sriiiiiing...!!


Hujan anak panah kembali terjadi, semua mengeluarkan kemampuan untuk menepis panah panah tersebut.


Tampak Anuso Birowo memutar golok raksasa nya hingga menyerupai payung aktif yang memayungi hujan anak panah tersebut.


Disaat semua masih terfokus dengan hujan anak panah.


SRAAAAKKK...!!


Tiba tiba dinding salah satu tebing membuka, lalu munculah beberapa orang yang menarik kereta kuda sarat muatan tersebut.

__ADS_1


_____________


Jangan lupa tinggalkan jejak nya...


__ADS_2