
Rombongan Jaya meninggalkan istana Karang Daplong setelah berbincang beberapa saat.
"Kami mohon pamit Yang Mulia," kata Jaya berpamitan pelan.
"Eyang Prabu mohon Pamit," sahut Pelangi mencium tangan kakeknya, menyusul sebelum yang lainnya juga menjura penuh hormat.
"Harusnya kalian menginap beberapa hari di sini." Prabu Wiramerta, membalas dengan sedikit keberatan.
Ajakan menginap beberapa hari di istana itu oleh Yang Mulia prabu Wiramerta, di tolak halus Jaya dengan alasan tertentu.
"Nanti saja jika kami benar benar longgar pasti akan kembali kemari Yang Mulia."
"Aku nantikan itu Nakmas." sahut prabu Wiramerta, tetap tersenyum meski merasa berat.
"Kamu harus sering kemari cah ayu, cucuku," Prabu Wiramerta kembali mengusap rambut pelangi dengan sayang.
**
Nampak dari pusat Kerajaan Agung Pati Sruni terlihat serombongan orang sudah siap bergerak menuju ke arah barat.
Rombongan yang terdiri dari dua ratusan orang itu ternyata adalah pasukan khusus Jrabang Geni.
Di pimpin langsung oleh Agni Mahesa suro, rombongan itu berniat melakukan patroli di seluruh wilayah Kerajaan Agung Pati Sruni.
Dengan menaiki kuda yang besar terlihat sang pemimpin duduk dengan gagah di sana.
Di belakang nya ada tetua lainnya yaitu Lima Kipas Dewa, jabatan satu kursi tetua yang di duduki oleh sebuah kelompok yang terdiri dari lima orang.
"Bisa kita berangkat sekarang?." tanya Agni Mahesa Suro sambil menatap seluruh pasukan yang di bawanya.
Di lihatnya semua sudah bersiap di atas kuda masing masing.
"Bisa Tetua Utama," sahut pemimpin pasukan, setelah menjawab pria itu melambaikan tanganya memerintahkan pasukan terdepan segera melangkah.
"Berangkaaat...!!."
Iring iringan tersebut mulai meninggalkan Kerajaan Agung Pati Sruni, tepatnya meninggalkan markas utama Jrabang Geni yang ada di pusat kotaraja Kerajaan Agung tersebut.
Semua menaiki kuda tanpa kereta, dengan harapan pergerakan lebih cepat dan ringkas.
Semua bekal dibawa di atas punggung kuda kuda itu, jadi tetap membawa bekal namun tak mengganggu pergerakan.
Derap kaki kuda mulai terdengar bersahutan saat duaratusan kuda itu berlari menuju ke arah Barat sebagai tugas pertama kelompok itu berpatroli.
**
"Kakang...menurut cerita di kerajaan Karang doplang ada sebuah kota yang cukup ramai karena berbatasan dengan Kerajaan Agung Pati Sruni."
Kumala berkata kepada Jaya, berharap mereka akan singgah di kota itu.
"Memang itu kota besar Kaka?." sahut Pelangi.
"Hmm," Kumala menganggukan kepalanya.
Jaya menoleh ke arah dua gadis yang duduk di belakang, "Kalian mau kita kesana?."
"Mau Kakang..!," seru dua gadis itu berbarengan, sambil berbinar senang.
__ADS_1
"Sekalian kita berbelanja kebutuhan harian Awan Putih."
Jaya mengangguk lalu memanggil Narimo, menceritakan tentang keinginan Kumala dan Pelangi.
"Bagaimana paman?."
"Tentu saja bisa Nakmas, itu malah lebih baik, karena kita seperti memutari Karang Doplang."
"Kemarin kita lewat jalur selatan, pulangnya lewat jalur utara." sahut Narimo sambil tersenyum.
"Baik kalau begitu kita lewat kota itu."
"Baik Nakmas." sahut Narimo memimpin rombongan itu, melewati jalur yang berbeda.
Kelompok Awan Putih mulai meninggalkan kotaraja Karang Doplang, bergerak sedikit memutar ke utara menuju kota yang di maksud sebelum berbelok ke barat.
**
Kota Batu Intan, adalah kabupaten yang ada di sebelah utara kotaraja Karang Doplang.
Masih di bawah kekuasaan Kerajaan Karang doplang, berbatasan dengan wilayah Kerajaan Agung Pati Sruni sebagai penguasa wilayah timur.
Kota yang di pimpin oleh sepupu prabu Wiramerta bergelar prabu Anom Mertoyono.
Prabu Anom Mertoyono memiliki jabatan setingkat gubernur di wilayah tersebut.
Kota Batu Intan merupakan kota terbesar kedua setelah kotaraja Karang Doplang, kemeriahan kota itu menjadi daya tarik bagi siapapun untuk melakukan bisnis di sana.
Semua merasa memiliki kepentingan ekonomi di sana.
"Waah...besar juga Kaka kota itu..!," seru Pelangi kegirangan, melihat dari kejauhan kota Batu Intan.
"Kemeriahannya tak kalah dengan kota Gunung Emas di Kerajaan Agung Karang Pandan." kata Kumala menyebut nama kota wilayah selatan tersebut.
Pelangi malah cemberut, "Aku jadi ingat kakek guru Randu dan guru Nilamsari." kata Pelangi dengan wajah sendu.
Kumala merangkul Pelangi, " Sudah.. sudah, adik jangan bersedih, suatu saat kita pasti kesana lagi, atau bahkan kakek Randu dan Nyai Nilamsari ke Awan Putih."
Pelangi mengangguk balas memeluk Kumala.
Narimo berkuda mendekat, kearah Jaya, "Nakmas.., nampaknya kita sampai di kota Batu Intan mendekati sore atau bahkan malam."
"Apakah kita akan bermalam disana?."
"Ya...kita bermalam di kota itu, besok pagi kita belanja kebutuhan kelompok Awan Putih, malam nanti kita bisa melihat keindahan kota."
Kumala dan Pelangi tersenyum mendengar perkataaan Jaya, keduanya saling pandang dengan senang.
**
Rombongan Jrabang Geni hampir meninggalkan wilayah Kotaraja Pati Sruni.
Sepanjang perjalanan mereka mengundang decak kagum, merasa pasukan khusus itu begitu gagahnya.
"Tuan Pemimpin Agung, sebentar lagi kita meninggalkan Kotaraja."
"Ya, kita lanjutkan perjalanan, kita istirahat di perjalanan." kata Agni Mahesa Suro merespon perkataan anak buahnya tersebut.
__ADS_1
"Sendiko dawuh Pemimpin Agung."
Rombongan terus melajukan kuda tunggangan masing masing, membelah hari yang mulai sore menuju ke arah kota Batu Intan.
**
Hari mulai gelap, rombongan Jaya tiba di Kota Batu Intan.
Kemeriahan kota masih terasa meskipun hari sudah mulai malam.
"Kita mencari tempat menginap Paman." perintah Jaya kepada Narimo, agar menuntun mereka ke tempat penginapan.
"Baik Nakmas."
Narimo kembali ke barisan depan, memimpin rombongan itu menuju ke arah penginapan.
Ramainya kota tersebut ternyata masih terus berlangsung, rombongan itu membelah keramaian menuju sebuah bangunan yang sudah terlihat lebih menjulang.
Narimo kembali mendekati kereta Jaya, " Bagimana jika kita menginap di sana, Nakmas?."
"Apapun, yang penting nyaman, untuk harga bukan masalah."
Narimo mengangguk, kembali ke depan untuk mengarahkan semua rombongan.
Berjalan beberapa saat akhirnya rombongan itu tiba di penginapan yang di tuju.
Sebuah penginapan berlantai dua, dengan puluhan kamar di sana.
Begitu terlihat sebuah rombongan, dengan sedikit terburu buru beberapa pelayan menghampiri.
"Selamat datang tuan tuan di penginapan Bunga Mawar." sambut pelayan itu dengan membungkukkan badannya.
"Kami akan menginap semalam saja." kata Jaya.
"Baik tuan, mari silahkan masuk."
**
Meskipun hari makin gelap namun rombongan Jrabang Geni tetap melajukan kuda tunggangannya.
Arak arakan itu memasuki hutan dengan mengurangi sedikit kecepatan laju hewan tunggangan.
"Kita lanjutkan perjalanan, beruntung malam ini bulan bersinar terang, jadi tak perlu penerangan obor." kata salah satu dari Lima Kipas Dewa.
"Benar apa katamu saudara ku." sahut anggota Lima Kipas Dewa lainnya.
"Ya kita sungguh beruntung malam ini." Agni Mahesa Suro menjawab.
Kuda kuda itu kini berlari sedikit pelan, memasuki hutan dengan bantuan sinar rembulan yang menerabas lebatnya dedaunan.
Hari makin larut, saat rombongan itu tiba di sebuah tempat yang sedikit luas semacam tanah lapang yang berada di tengah hutan tersebut.
"Kita istitahat...!," teriak Agni Mahesa Suro, memerintahkan untuk menghentikan perjalanan.
"Baik Pemimpin Agung..''
____________
__ADS_1
Jejaknya....