
"Kita Lanjutkan perjalanan..!," seru Jaya pelan kepada Baroto.
Perintah tersebut dia berikan setelah melihat sekeliling dimana semua sudah selesai makan dan minum juga sudah terlihat segar kembali.
Baroto berdiri lalu menghampiri para kepala kelompok untuk menyampaikan perintah dari Tetua Jaya Sanjaya.
Rombongan tersebut kembali bergerak ke arah padang Selayang Pandang.
**
Di tempat lain, tampak juga serombongan orang yang tengah bergerak menuju padang Selayang Pandang.
Mereka adalah kelompok Jiwa Abadi, sebuah kelompok yang di pimpin oleh dua sosok Iblis Wora dan Iblis Wari.
Sebenarnya mereka sudah bergerak terlebih dahulu di banding Awan Putih , namun jarak yang lebih jauh membuat kelompok tersebut juga belum tiba di Selayang Pandang.
Dengan jumlah anggota yang hampir lima ribu membuat kelompok ini mungkin yang terbanyak jumlah anggotanya.
Tampak beberapa kereta yang selalu tertutup, diantara beberapa kereta kuda lainnya, di kereta itulah dua Iblis dan beberpa anggota Layon berada.
Sengaja para anggota Layon di simpan di sana agar menghemat kekuatannya untuk nanti di aktifkan.
Jika melihat banyaknya kereta yang tertutup, nampaknya jumlah layon lebih dari tujuh sosok, artinya ada beberapa layon lagi yang di bangkitkan dan kini sebutannya bukan Layon Pitu, tapi 99 Layon.
Jika melihat seperti ini bisa di bayangkan apa yang akan terjadi nanti di padang Selayang Pandang, pasti pertempuran yang dahsyat.
Selama ini memang tak pernah terjadi apapun di Selayang Pandang pada pertemuan pertemuan terdahulu, semua membawa anggotanya hanya untuk menunjukkan kebesaran kelompoknya.
Dengan kelompok yang besar dan anggota yang banyak membuat kelompok di anggap hebat dan kuat namun bukan untuk saling membunuh, tapi nampak nya kali ini tidak begitu, meski hanya beberapa kelompok yang mamapu menyadari itu, termaduk Awan Putih dan aliansi nya.
Sebagian kelompok yang menyadari jika akan terjadi peperangan hebat di padang Selayang Pandang tersebut kebanyakan sudah menyiapkan anggotanya sebaik baiknya.
Membekali kelompoknya dengan perlengkapan perang yang memadai.
"Apakah kita perlu beristirahat Tuan Pemimpin Agung..?." tanya Rumbaka kepada dua Iblis yang berada di dalam kereta tertutup.
Dua Iblis tersebut berada di dalam sebuah kereta dengan tirai yang menghalangi pandangan orang luar, namun bisa melihat jelas dari dalam ke arah luar.
__ADS_1
"Hmm, dasar para makhluk lemah..!," gumam Iblis Wora, tak menjawab Rumbaka malah mengumpat pelan, begitu melihat para anak buah sedikit terseok dalam berjalan.
"ISTIRAHAT DULU...!," teriak Iblis Wari, menyahut dan memerintahkan.
Begitu mendapat perintah tersebut, segera Rumbaka sampaikan kepada para kepala kelompok dan mereka beristirahat di tempat itu juga.
**
Dari berbagai arah memang terlihat beberapa rombongan dan kelompok sudah mengular menuju ke arah negeri Tengah bagian utara.
Negeri tengah yang di maksud adalah Karang Kadempel, dan di Benua tengah bagian utara itulah letak dari padang Selayang Pandang, tepatnya di kerajaan kecil Bulak Sumur.
Kerajaan Bulak Sumur terletak di bagian utara dari wilayah tengah tersebut, berbatasan dengan kerajaan kecil Muara Padas yang sudah masuk bagian negeri Utara, Kerajaan Agung Jongka Lengkong.
Bulak Sumur di pimpin seorang Raja bernama Raja Anom Rohpati Nara, kerajaan yang berada di bawah naungan Karang Kadempel tersebut sebenarnya adalah kerajaan yang miskin karena tanahnya terbilang tandus.
Namun dengan adanya pertemuan Serikat Pendekar di sana menjadikan kerajaan tersebut seakan terkenal seantero Panca Buana, karena wilayahnya selalu di sebut orang.
"Apakah sudah terlihat ada pergerakan yang memasuki wilayah kita kakang Patih..?."
"Hingga kini baru terhitung ada dua puluhan yang sudah masuk Yang Mulia, itu semua dari kelompok kecil atau kelompok tingkat pemula seperti kelompok Duri Landak, kelompok Kawah Welirang dan lainnya." jawab patih kerajaan Bulak Sumur melaporkan.
"Bagaimana dengan biaya masuk yang kita tetapkan?, apakah mereka pada keberatan?."
"Selama ini tidak ada yang keberatan Yang Mulia, selain karena biaya itu masih di anggap murah, mereka mungkin malu jika tak membayar, bukankah mereka mengaku sebagai pendekar..?, masak pendekar mau ngemplang tak membayar." kata Patih kerajaan Bulak Sumur tersebut.
"Hmm, baguslah," sahut sang Raja sambil tersenyum.
"Jangan lupa di siapkan warga kita untuk berperan aktif sesuai dengan kamampuannya."
"Baik Yang Mulia."
Umbul umbul dan bendera kerajaan Bulak Sumur sudah di siapkan sepanjang jalan dan jalur jalur yang menuju ke padang Selayang Pandang.
Nampaknya pemerintahan kerajaan itu tak menyadari bahaya apa yang akan menimpa di pertemuan itu kali ini, karena mereka menyambut acara tersebut selayaknya tahun tahun lalu, penuh dengan kemeriahan dan kegembiraan.
Padang Selayang Pandang kini terlihat makin meriah, di beberapa tempat di hias umbul umbul, apalagi di bagian titik titik masuk ke padang tersebut.
__ADS_1
Semua itu di lakukan oleh pemerintahan Bulak Sumur untuk makin membuat pertemuan Serikat Pendekar makin meriah.
**
Beberapa kelompok sudah terlihat berada di bagian tertentu dari padang Selayang Pandang itu.
Mereka adalah sebagian kelompok kecil yang pernah di laporkan patih kerajaan Bulak Sumur kepada rajanya, bahwa ada kelompok yang sudah tiba di sana.
Salah satu dari kelompok itu adalah kelompok Kawah Welirang, sebuah kelompok kecil yang sebenarnya sudah lama berada di dunia persilatan.
Kelompok yang terdiri dari dua ratus lima puluh orang tersebut di pimpin oleh seorang Tetua bernama Ruwandaru.
Sesungguhnya kelompok Kawah Welirang adalah kelompok yang di dirikan oleh tokoh kuno bernama Resi Makaryo Jagat ( sekilas tentang resi Makaryo Jagat ada di chapter Bertarung dengan Layon Pitu ll)
Setelah kelompok tersebut kehilangan sang tokoh utama, mereka menjauh dari markas awal dan berpindah tempat, dan kini kelompok itu bermarkas di puncak gunung Pancawarna atau gunung Pancarupa.
Sebenarnya mereka berpindah pindah tempat seperti masyarakat nomaden atau masyarakat pengembara, namun semenjak belasan tahun menetap di puncak gunung tersebut.
Entah apa yang mendasari kelompok tersebut hingga memutuskan menetap di puncak Gunung Pancawarna/ Pancarupa.
"Kita berkemah di sana..!," teriak Ruwandaru, sambil menunjuk ke sebuah arah yang menurutnya cocok untuk beristirahat, menunggu pertemuan Serikat Pendekar.
"Saya setuju Tetua, di tempat itu kami merasakan ada hawa yang beda." sahut salah satu anak buah Kawah Welirang.
Anggota rombongan Kawah Welirang kemudian bergerak ke sebuah tempat yang di anggapnya cocok istirahat dan menunggu hingga pertemuan Serikat Pendekar berlangsung.
Ruwandaru memutar bola matanya, merasai hawa yang berbeda dan aura yang tak biasa di tempat yang di pilihnya tersebut.
"Hmm, Aku merasakan hawa yang berbeda di sini."
"Ada apa dengan tempat ini..?."
Tokoh paruh baya itu mengedarkan pandangan matanya, menatap sekitarnya, seakan mencari sesuatu yang membuat tempat tersebut terasa berbeda.
"Hmm, aneh..."
Ruwandaru lalu duduk di sana diikuti oleh hampir seluruh anggotanya, lalu sebagian ada yang menegakkan dan menaikkan tongkat tongkat kayu kemudian menutupinya dengan kain sebagai atap mengurangi panas yang mulai terik.
__ADS_1
___________
Jejaknya.......