
Setelah kepergian dua kelompok partai Es Abadi dan Api Suci tersebut, rombongan Jaya kembali melanjutkan perjalanan.
Semua terlihat menyingkir, ketika rombongan tersebut mulai bergerak kembali, tak ada yang berani lagi mengusiknya.
Para perusuh dan pembuat onar yang biasa lalu lalang seperti copet dan bandit langsung menepi tak menampakkan diri lagi.
"Lihatlah Nakmas pendekar, efek dari tindakan yang kau lakukan membuat alam menjadi terkendali," seloroh saudagar Suryadi sambil melihat jalanan yang biasanya terlihat muka muka bengis dan culas kini hanya diisi oleh pedagang dan pembeli, serta orang yang bepergian.
"Syukurlah paman jika memang semua kejadian tadi bisa membuat keadaan menjadi lebih baik lagi " Jaya menyahut perkataan Suryadi.
"Nakmas memang sebuah anugerah bagi alam ini," kata sang saudagar lagi, pelan tapi mampu di tangkap oleh pendengaran Jaya.
Jaya hanya tersenyum, mendengar perkataan tersebut.
Mendekati sore hari rombongan tersebut sudah benar benar keluar dari wilayah Kerajaan Agung di selatan tersebut.
"Nakmas kita sudah memasuki wilayah Karang Kadempel, didepan sudah terlihat hutan Kebon ijo, salah satu hutan di lereng gunung Pancawarna.
Gunung Pancawarna atau ada juga yang menyebut gunung Pancarupa adalah gunung besar yang ada di selatan wilayah kerajaan kecil Ngarsopuro.
Selain karena keanehan dari puncak gunung yang seakan memiliki lima warna atau lima penampilan yang berbeda dalam tiap sisi nya, gunung tersebut juga terkenal karena keindahan nya.
"Ya, kita lanjutkan perjalanan dan nanti istirahat saja di perjalanan, bukan begitu paman?," kata Jaya sambil menoleh kepada Suryadi yang terlihat mengangguk angguk saja.
"Benar Nakmas pendekar, kami ikut apa kata panjenengan saja."
**
Kehebatan kelompok Awan Putih kini menjadi telah buah bibir.
Peristiwa kejadian di kerajaan besar Karang Pandan tersebut cukup menyita perhatian dunia persilatan.
Namun baik dari kelompok Api suci maupun partai Es Abadi tak lagi berniat memburu nya, mereka mulai jengah untuk mengusiknya setelah mempertimbangkan berbagai hal, apalagi kini semakin mendekati pertemuan Akbar Serikat Pendekar.
Semua kelompok sekaan ingin memiliki relasi yang baik dengan sesama nya, meskipun di dalamnya terjadi kobaran dendam.
"Apakah benar bahwa Pitu Geni berada di kelompok itu tetua Juraimo?," tanya Pemimpin Agung atau Tetua Agung, yang biasa di sebut Dewa Api, tokoh tertinggi di pucuk pimpinan kelompok Api Suci.
"Benar Tetua Agung," jawab Juraimo sambil menunduk takzim, ketika melaporkan peristiwa kejadian di kabupaten Jagalan.
"Jadi merekalah kelompok yang pernah menghancurkan misi Tapak Setan, saat itu."
"Benar Tetua Agung."
"Hmm, meskipun aku penasaran namun harus bisa ku tahan, karena kini tinggal beberapa bulan lagi pertemuan akbar Serikat Pendekar."
"Aku tak ingin memberi kesan buruk bagi kelompok kita."
Semua hanya mengangguk mendengar keputusan tersebut, meskipun mereka masih penasaran walau sudah tahu kehebatan nya karena pernah menghancurkan misi Tapak Setan, dan kini mendengar cerita Juraimo.
"Kami setuju apa yang Tetua Agung katakan, nanti kita bisa balas saja mereka, saat menghadiri Serikat Pendekar," kata salah satu tetua yang hadir di sana.
"Hmm, benar sekali apa katamu, bahkan saat itu kita bisa menjebak nya agar seluruh kelompok memusuhi mereka," balas Dewa Api sambil tersenyum miring.
**
Kedatangan anak buah Marto Mantingan yang membawa tetuanya dalam keadaan luka parah menjadi sesuatu yang menggemparkan di markas utama kelompok partai Es Abadi.
Semua tercengang dengan luka yang di timbulkan nya.
"Apakah ini ulah kelompok Api Suci?"
"Bukan Tetua Agung."
"Jika bukan, kenapa ada luka bakar di tubuhnya?." teriaknya marah.
Anak buah tersebut menunduk ketakutan melihat sang Tetua Agung yang terlihat murka tersebut.
"Me..m.mereka dari kelompok Awan Putih."
"Awan Putih??."
"Benar Tetua Agung."
Lalu salah satu anak buah dari Marto Mantingan menceritakan seluruh kejadian yang mereka alami.
"Jadi kelompok itu juga turut menghancurkan Akar Jiwa..?."
"Menurut berita begitu Tetua Agung."
Tetua Agung yang juga di sebut Dewa Es itu terdiam, terlihat memikirkan sesuatu.
"Sekuat itukah kelompok ini...??."
Dewa Es, nampak duduk di kursi kebesaran nya, "Bawa tetua Marto Mantingan di bilik pengobatan, biar dilakukan perawatan oleh pendekar penyembuh."
"Baik Tetua Agung," sahut beberapa orang tersebut, lalu berlalu dari sana dengan membopong tubuh Marto Mantingan meninggalkan ruang tersebut.
Dewa Es masih tercenung dengan berita yang di dapat.
"Awan Putih??." gumamnya pelan.
Semua tetua terlihat saling menatap, lalu menggeleng pelan.
"Baru kali ini Tetua Agung."
"Hmm, apa kelompok ini ada kaitannya dengan Jiwa Abadi, mengapa begitu hebat."
Semua menatap ke arah sang pemimpin tertinggi tersebut.
"Mungkin kelompok ini bagian dari Jiwa Abadi, tak di kenal namun sangat hebat, atau jangan jangan ini juga strategi kelompok tersebut (Jiwa Abadi) untuk melakukan teror sebelum pertemuan Serikat Pendekar?."
Semua yang hadir mengangguk angguk, "Bisa jadi, apa yang di katakan Tetua Agung ada benarnya.".
**
Tujuh orang dengan menaiki kuda tampak sedang dalam perjalanan.
Kepala yang di tutupi selendang membelit dan menutupi wajahnya, hingga yang tampak hanya matanya saja.
Sorot mata yang terkesan dingin dan sangat menakutkan.
Selama perjalanan tak ada percakapan apapun layaknya serombongan orang yang saling bercengkrama, saling bercerita atau mengobrol.
Hanya pandangan kaku dari kelompok tersebut, mengikuti orang di depannya tanpa berkomunikasi apapun, cukup gerakan atau isyarat tertentu.
Tiba tiba orang yang berada di depan menaikan tangan, menandakan kelompok itu harus berhenti.
Sang pemimpin rombongan turun dari kuda, mengendus lalu melihat sekeliling seakan mencari jejak sesuatu.
__ADS_1
Tangannya menunjuk kearah tertentu sebelum menaiki kudanya kembali dan bergerak menuju arah yang tadi di tunjuk nya.
**
Hari sudah gelap saat rombongan Jaya tiba di tengah alas Kebon Ijo.
Sebuah hutan yang ada di kaki gunung Pancawarna atau Pancarupa sebelah selatan.
Mereka memiliki dua jalur memutari gunung tersebut untuk bisa sampai di pusat pemerintahan Ngarsopuro yang berada di sisi Utara gunung tersebut.
Lewat sisi timur, seperti saat dahulu Jaya dan Pelangi bersama Randu Sembrani dan Nyai Nilam Sari atau lewat sisi barat jalur baru yang belum pernah Jaya lalui.
"Kita istirahat dulu di depan jika ada tempat yang memungkinkan, Bagaimana Nakmas?"
"Saya setuju saja paman, lagian hari sudah malam, kasian hewan tunggangan kita jika memaksa tetap bergerak."
Saudagar Suryadi mengangguk lalu memerintahkan anak buahnya mencari tempat yang memungkinkan rombongan tersebut beristirahat dan bermalam.
Dalam sekejap saja tenda darurat sudah di dirikan, semua anak buah saudagar Suryadi dengan cekatan bekerja sesuai bidangnya masing masing.
Di bagian dapur dalam sekejap saja sudah membuat perapian.
Kumala menyerah kan daging kering, bekal dari kerjaan Jogonolo yang ada di punggung kuda nya.
"Paman masak saja daging ini, untuk makan kita bersama." kata Kumala kepada juru masak disana.
"Ndoro ayu ingin di masak apa..?."
"Tumis saja dengan cabai yang pedas, aku rasa semua pasti suka, untuk sayurannya terserah paman."
"Oh. baik ndoro ayu, siap laksanakan." sahut juru masak yang langsung dibantu oleh tenaga bagian masak lainnya merebus daging yang telah kering tersebut.
Setelah dirasa empuk, daging di angkat dan mulai di iris tipis, lalu dengan puluhan cabai yang sudah diiris daging tersebut ditumis hingga harum dan menggugah selera.
**
"Ini kakang makanannya," seru Kumala, memangil Jaya untuk mendekat, karena saat itu Jaya masih berbincang dengan kelompok lainya.
Kumala dan Pelangi hanya melayani Jaya, sedang kelompok Awan Putih yang lainnya mengambilnya langsung sendiri sendiri.
Kumala meletakkan nasi beserta lauknya di sebuah potongan pohon yang terlihat rata seperti meja, sedangkan Pelangi membawa minuman untuk mereka bertiga.
Ketiga nya kini tengah mengelilingi potongan pohon layaknya meja, menikmati makanan yang terasa lesat tersebut, campuran garam dan gula yang begitu pas serta lemak dari binatang membaut rasa gurih yang keluar dari masakan itu terasa pas di lidah.
"Enak banget ya Kak," puji Pelangi terhadap masalah para juru masak.
"Iya Adik, memang masakan paman juru masak sangat pas."
"Enak karena dagingnya juga daging pilihan Dinda, di keringkan dan di asapi dengan benar." sahut Jaya kepada dua gadis nya.
"Benar Kakang, tak sia sia kita membantu raja Jogonolo akhirnya mendapatkan imbalan harta dan benda."
"Iya kecuali wanita, karena kakang tak butuh itu." sahut Jaya membuat dua gadis cantik itu merekah senyumnya.
"Kan sudah ada kami," sahut keduanya sambil tersenyum sangat manis.
____________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya...
Dukung juga karya lainku kak...genre romantis SESUNGGUHNYA CINTA.. makasih Kaka...
Setelah kepergian dua kelompok partai Es Abadi dan Api Suci tersebut, rombongan Jaya kembali melanjutkan perjalanan.
Semua terlihat menyingkir, ketika rombongan tersebut mulai bergerak kembali, tak ada yang berani lagi mengusiknya.
Para perusuh dan pembuat onar yang biasa lalu lalang seperti copet dan bandit langsung menepi tak menampakkan diri lagi.
"Lihatlah Nakmas pendekar, efek dari tindakan yang kau lakukan membuat alam menjadi terkendali," seloroh saudagar Suryadi sambil melihat jalanan yang biasanya terlihat muka muka bengis dan culas kini hanya diisi oleh pedagang dan pembeli, serta orang yang bepergian.
"Syukurlah paman jika memang semua kejadian tadi bisa membuat keadaan menjadi lebih baik lagi " Jaya menyahut perkataan Suryadi.
"Nakmas memang sebuah anugerah bagi alam ini," kata sang saudagar lagi, pelan tapi mampu di tangkap oleh pendengaran Jaya.
Jaya hanya tersenyum, mendengar perkataan tersebut.
Mendekati sore hari rombongan tersebut sudah benar benar keluar dari wilayah Kerajaan Agung di selatan tersebut.
"Nakmas kita sudah memasuki wilayah Karang Kadempel, didepan sudah terlihat hutan Kebon ijo, salah satu hutan di lereng gunung Pancawarna.
Gunung Pancawarna atau ada juga yang menyebut gunung Pancarupa adalah gunung besar yang ada di selatan wilayah kerajaan kecil Ngarsopuro.
Selain karena keanehan dari puncak gunung yang seakan memiliki lima warna atau lima penampilan yang berbeda dalam tiap sisi nya, gunung tersebut juga terkenal karena keindahan nya.
"Ya, kita lanjutkan perjalanan dan nanti istirahat saja di perjalanan, bukan begitu paman?," kata Jaya sambil menoleh kepada Suryadi yang terlihat mengangguk angguk saja.
"Benar Nakmas pendekar, kami ikut apa kata panjenengan saja."
**
Kehebatan kelompok Awan Putih kini menjadi telah buah bibir.
Peristiwa kejadian di kerajaan besar Karang Pandan tersebut cukup menyita perhatian dunia persilatan.
Namun baik dari kelompok Api suci maupun partai Es Abadi tak lagi berniat memburu nya, mereka mulai jengah untuk mengusiknya setelah mempertimbangkan berbagai hal, apalagi kini semakin mendekati pertemuan Akbar Serikat Pendekar.
Semua kelompok sekaan ingin memiliki relasi yang baik dengan sesama nya, meskipun di dalamnya terjadi kobaran dendam.
"Apakah benar bahwa Pitu Geni berada di kelompok itu tetua Juraimo?," tanya Pemimpin Agung atau Tetua Agung, yang biasa di sebut Dewa Api, tokoh tertinggi di pucuk pimpinan kelompok Api Suci.
"Benar Tetua Agung," jawab Juraimo sambil menunduk takzim, ketika melaporkan peristiwa kejadian di kabupaten Jagalan.
"Jadi merekalah kelompok yang pernah menghancurkan misi Tapak Setan, saat itu."
"Benar Tetua Agung."
"Hmm, meskipun aku penasaran namun harus bisa ku tahan, karena kini tinggal beberapa bulan lagi pertemuan akbar Serikat Pendekar."
"Aku tak ingin memberi kesan buruk bagi kelompok kita."
Semua hanya mengangguk mendengar keputusan tersebut, meskipun mereka masih penasaran walau sudah tahu kehebatan nya karena pernah menghancurkan misi Tapak Setan, dan kini mendengar cerita Juraimo.
"Kami setuju apa yang Tetua Agung katakan, nanti kita bisa balas saja mereka, saat menghadiri Serikat Pendekar," kata salah satu tetua yang hadir di sana.
"Hmm, benar sekali apa katamu, bahkan saat itu kita bisa menjebak nya agar seluruh kelompok memusuhi mereka," balas Dewa Api sambil tersenyum miring.
**
Kedatangan anak buah Marto Mantingan yang membawa tetuanya dalam keadaan luka parah menjadi sesuatu yang menggemparkan di markas utama kelompok partai Es Abadi.
__ADS_1
Semua tercengang dengan luka yang di timbulkan nya.
"Apakah ini ulah kelompok Api Suci?"
"Bukan Tetua Agung."
"Jika bukan, kenapa ada luka bakar di tubuhnya?." teriaknya marah.
Anak buah tersebut menunduk ketakutan melihat sang Tetua Agung yang terlihat murka tersebut.
"Me..m.mereka dari kelompok Awan Putih."
"Awan Putih??."
"Benar Tetua Agung."
Lalu salah satu anak buah dari Marto Mantingan menceritakan seluruh kejadian yang mereka alami.
"Jadi kelompok itu juga turut menghancurkan Akar Jiwa..?."
"Menurut berita begitu Tetua Agung."
Tetua Agung yang juga di sebut Dewa Es itu terdiam, terlihat memikirkan sesuatu.
"Sekuat itukah kelompok ini...??."
Dewa Es, nampak duduk di kursi kebesaran nya, "Bawa tetua Marto Mantingan di bilik pengobatan, biar dilakukan perawatan oleh pendekar penyembuh."
"Baik Tetua Agung," sahut beberapa orang tersebut, lalu berlalu dari sana dengan membopong tubuh Marto Mantingan meninggalkan ruang tersebut.
Dewa Es masih tercenung dengan berita yang di dapat.
"Awan Putih??." gumamnya pelan.
Semua tetua terlihat saling menatap, lalu menggeleng pelan.
"Baru kali ini Tetua Agung."
"Hmm, apa kelompok ini ada kaitannya dengan Jiwa Abadi, mengapa begitu hebat."
Semua menatap ke arah sang pemimpin tertinggi tersebut.
"Mungkin kelompok ini bagian dari Jiwa Abadi, tak di kenal namun sangat hebat, atau jangan jangan ini juga strategi kelompok tersebut (Jiwa Abadi) untuk melakukan teror sebelum pertemuan Serikat Pendekar?."
Semua yang hadir mengangguk angguk, "Bisa jadi, apa yang di katakan Tetua Agung ada benarnya.".
**
Tujuh orang dengan menaiki kuda tampak sedang dalam perjalanan.
Kepala yang di tutupi selendang membelit dan menutupi wajahnya, hingga yang tampak hanya matanya saja.
Sorot mata yang terkesan dingin dan sangat menakutkan.
Selama perjalanan tak ada percakapan apapun layaknya serombongan orang yang saling bercengkrama, saling bercerita atau mengobrol.
Hanya pandangan kaku dari kelompok tersebut, mengikuti orang di depannya tanpa berkomunikasi apapun, cukup gerakan atau isyarat tertentu.
Tiba tiba orang yang berada di depan menaikan tangan, menandakan kelompok itu harus berhenti.
Sang pemimpin rombongan turun dari kuda, mengendus lalu melihat sekeliling seakan mencari jejak sesuatu.
Tangannya menunjuk kearah tertentu sebelum menaiki kudanya kembali dan bergerak menuju arah yang tadi di tunjuk nya.
**
Hari sudah gelap saat rombongan Jaya tiba di tengah alas Kebon Ijo.
Sebuah hutan yang ada di kaki gunung Pancawarna atau Pancarupa sebelah selatan.
Mereka memiliki dua jalur memutari gunung tersebut untuk bisa sampai di pusat pemerintahan Ngarsopuro yang berada di sisi Utara gunung tersebut.
Lewat sisi timur, seperti saat dahulu Jaya dan Pelangi bersama Randu Sembrani dan Nyai Nilam Sari atau lewat sisi barat jalur baru yang belum pernah Jaya lalui.
"Kita istirahat dulu di depan jika ada tempat yang memungkinkan, Bagaimana Nakmas?"
"Saya setuju saja paman, lagian hari sudah malam, kasian hewan tunggangan kita jika memaksa tetap bergerak."
Saudagar Suryadi mengangguk lalu memerintahkan anak buahnya mencari tempat yang memungkinkan rombongan tersebut beristirahat dan bermalam.
Dalam sekejap saja tenda darurat sudah di dirikan, semua anak buah saudagar Suryadi dengan cekatan bekerja sesuai bidangnya masing masing.
Di bagian dapur dalam sekejap saja sudah membuat perapian.
Kumala menyerah kan daging kering, bekal dari kerjaan Jogonolo yang ada di punggung kuda nya.
"Paman masak saja daging ini, untuk makan kita bersama." kata Kumala kepada juru masak disana.
"Ndoro ayu ingin di masak apa..?."
"Tumis saja dengan cabai yang pedas, aku rasa semua pasti suka, untuk sayurannya terserah paman."
"Oh. baik ndoro ayu, siap laksanakan." sahut juru masak yang langsung dibantu oleh tenaga bagian masak lainnya merebus daging yang telah kering tersebut.
Setelah dirasa empuk, daging di angkat dan mulai di iris tipis, lalu dengan puluhan cabai yang sudah diiris daging tersebut ditumis hingga harum dan menggugah selera.
**
"Ini kakang makanannya," seru Kumala, memangil Jaya untuk mendekat, karena saat itu Jaya masih berbincang dengan kelompok lainya.
Kumala dan Pelangi hanya melayani Jaya, sedang kelompok Awan Putih yang lainnya mengambilnya langsung sendiri sendiri.
Kumala meletakkan nasi beserta lauknya di sebuah potongan pohon yang terlihat rata seperti meja, sedangkan Pelangi membawa minuman untuk mereka bertiga.
Ketiga nya kini tengah mengelilingi potongan pohon layaknya meja, menikmati makanan yang terasa lesat tersebut, campuran garam dan gula yang begitu pas serta lemak dari binatang membaut rasa gurih yang keluar dari masakan itu terasa pas di lidah.
"Enak banget ya Kak," puji Pelangi terhadap masalah para juru masak.
"Iya Adik, memang masakan paman juru masak sangat pas."
"Enak karena dagingnya juga daging pilihan Dinda, di keringkan dan di asapi dengan benar." sahut Jaya kepada dua gadis nya.
"Benar Kakang, tak sia sia kita membantu raja Jogonolo akhirnya mendapatkan imbalan harta dan benda."
"Iya kecuali wanita, karena kakang tak butuh itu." sahut Jaya membuat dua gadis cantik itu merekah senyumnya.
"Kan sudah ada kami," sahut keduanya sambil tersenyum sangat manis.
____________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak nya...
Dukung juga karya lainku kak...genre romantis SESUNGGUHNYA CINTA.. makasih Kaka...