Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Kejahatan tetap Merajalela


__ADS_3

Kelompok Jubah Perak, adalah kelompok yang berasal dari Wilayah Barat atau Kerajaan Agung Wukir Asri.


Sebuah kelompok golongan Hitam yang selama ini tak pernah menampakkan diri di jagat persilatan, atau mungkin kalah pamor dari kelompok lain yang lebih hebat.


Di pimpin oleh seorang Tetua Agung bernama Sonosumar, dan dibantu oleh empat Tetua yang langsung membawahi beberapa panji bendera kekuasaan.


Ada bendera Kuning, Putih, Hijau dan Merah, keempat bendera inilah yang menunjukkan seseorang tersebut memiliki peran apa di kelompok tersebut.


Kelompok yang sebenarnya sudah besar sebelum terjadinya Purnama Berdarah, kini makin terlihat besar dan berkuasa setelah kehancuran kelompok kelompok lain.


"Apa rencana Tetua Agung setelah ini?," tanya Tetua bendera Kuning, Pario Jatri.


Bendera Kuning bertugas mengumpulkan harta benda, baik dengan jalan lurus atau kekerasan.


Saat ini mereka tengah merencanakan untuk melakukan pemungutan pajak di wilayah tersebut dengan dalih uang keamanan.


"Kita datangi kembali mereka, jika tak bisa di ajak bicara baik baik, maka Bendera Merah yang akan bertindak."


Bendera Merah bagi kelompok Jubah Perak adalah pasukan Perang khusus yang bertugas membumi hanguskan lawan lawannya, mereka di ketuai oleh seorang Tetua bernama Jeliteng.


"Baik, besok akan kita datangi mereka kembali, Tetua Agung."


Sonosumar mengangguk anggukan kepalanya, mendengar rencana tersebut.


**


Jaya membuka matanya, limpahan tenaga sudah terasa di tubuhnya.


Semua kekuatan kini sudah dirasakannya sangat padu padan, saling terkait dengan limpahan tenaga yang terasa luar biasa.


"Hmm, kekuatanku sudah pulih kembali, tinggal memperkuat lapisan Raga Abadi yang kini makin menipis."


"Tapi itu bukan masalah dengan kekuatanku saat ini."


Jaya berdiri, kemudian dengan pelan keluar dari gua yang selama ini di huni nya.


Ingatannya kembali kepada ketiga pengintainya.


"Siapa mereka? Dewa dari mana?kenapa ada di alam ini? dan kenapa tak melakukan apapun saat ada serangan iblis?"


"Aneh dan mencurigakan."


Pandangannya memutar ke alam sekitarnya, melihat ke segala penjuru, mencoba menerka dimana sekarang dirinya berada.


"Akan ku lihat alam ini, bagaimana kondisinya setelah musnahnya dua iblis." gumam Jaya melangkahkan kakinya makin meninggalkan gua tersebut.


Sengaja Jaya tak terbang karena ingin melihat kondisi yang sesungguhnya dari alam ini.


Jaya turun dari puncak gunung Pancawarna atau Pancarupa yang kini sudah kehilangan keindahan cahaya di puncaknya, rupanya selama ini yang membuat puncak gunung tersebut serasa berkilauan karena adanya aura kyai Rojo Molo.


Berjalan turun dari puncak menuju ke arah barat melangkah sekehendak kakinya, toh jika dia mau bisa terbang.


**

__ADS_1


"Serahkan sedikit harta mu untuk upeti keamanan, jika tak ingin daganganmu aku obrak abrik di sini..!," bentak seorang prajurit kepada segerombolan pedagang.


"Ampun tuan prajurit, semenjak kami memasuki wilayah ini sudah berkali kali kami membayar uang keamanan."


"Apakah kami harus membayar lagi kepada pihak kerajaan?."


Nampak para pedagang keberatan dengan permintaan upeti dari pihak kerajaan yang di lewati para pedagang tersebut.


"Lancang mulutmu..!, kau tak tahu jika kamilah yang wajib menarik upeti?.'' hardik prajurit itu lagi.


"M.m.maaf tuan prajurit...jika demikian kenapa di biarkan para begundal itu memalak kami?, apa fungsinya keamanan di sini?.''


Terlihat salah satu pedagang masih ngeyel, dengan berat hati tak mau membayar uang upeti, dia mencoba membela diri dengan kata katanya.


Plaaakk..!!


"Berani kurang ajar dengan prajurit pemerintah ya?.'' seru sang prajurit sambil menampar pipi sang pedagang.


"Kau ingin di gantung di alun alun kerajaan Bhumi Cempaka,hah..!.''


Prajurit itu kembali membentak sang pedagang yang kini makin tertunduk setelah tadi di gampar wajahnya.


Mereka adalah pedagang kecil yang tergabung dalam kelompok pedagang keliling untuk mengais rejeki, jadi mereka tak memiliki pengawalan karena tentu saja tak sanggup untuk membayarnya.


"Cepat serahkan, jika tak ingin salah satu nyawa kalian melayang di sini..!."


Dengan gemetaran para pedagang itu mengumpulkan iuran untuk selanjutnya nanti di serahkan kepada prajurit itu.


"Bagus sekali ulah para prajurit ini."


Sebuah tepuk tangan dan kata kata sindiran tiba tiba mengagetkan orang orang yang tengah bersitegang tersebut.


Para prajurit yang berjumlah belasan orang tersebut langsung menoleh dan mendapati seorang pemuda yang tengah menantap kegiatan mereka dengan tatapan merendahkan.


"Jangan ikut campur anak muda, jika kau tak ingin celaka..!," bentak salah satu prajurit.


Pemuda yang ternyata Jaya tersebut hanya tertawa saja, "Beginikah sikap seorang prajurit? yang harusnya menjadi pengayom malah sebaliknya?" Jaya meledek para prajurit tersebut.


"Tutup mulutmu..kau tak tahu apapun, jadi jangan sembarangan ngomong..!''


Jaya melangkah maju, makin mendekati dua kubu yang tengah berseteru tersebut.


"Aku hanya berkata berdasar apa yang aku lihat, dan yang aku lihat kalian sebagai prajurit melakukan pemaksaan pembayaran upeti tanpa ada dasar dasar nya."


"Kuraang ajaar..! carii matiii kau kisanak..!." seorang prajurit sudah melesat menebaskan pedangnya.


Jaya geleng geleng kepala, merasa jagat kian semrawut.


Plaaaak...!


Dengan kecepatan yang tak di sadari sang prajurit, Jaya sudah menampar wajah penyerangnya tersebut sebelum tebasannya mengayun ke arah nya.


"Aarggh." jeritan kesakitan sang prajurit terdengar, padahal Jaya hanya mengayun sangat pelan, tak ingin mencelakai.

__ADS_1


Begitu salah satu prajurit yang merupakan pemimpin regu tersebut dengan mudah tergampar, semua prajurit langsung gemetaran.


"A..a.ampun t.tuan pendekar, k.kami hanya menjalankan tugas, karena kami juga di tekan."


"Apa maksudmu di tekan? Rajamu memerintahkan semua ini?, menarik upeti dari pedagang kecil seperti ini?, tidak salah?.''


Para prajurit saling berpandangan, seakan ingin banyak berbicara tapi tak berani.


"M..maaf...t.tuan...pendekar, apakah tuan bersedia bertemu pimpinan kami?."


Dengan ragu dan masih ketakutan pemimpin regu berkata tergagap.


"Selama ini kami mencari pendekar seperti tuan ini."


"Apa maksudmu?.'' Jaya bertanya makin keheranan.


Para prajurit hanya menunduk, "Mari tuan kami antar bertemu dengan pimpinan kami."


"Baik, antar aku bertemu pimpinan mu."


**


Di sinilah kini Jaya berada, di rumah salah satu Wedono, pemimpin sebuah wilayah setingkat kecamatan, bernama Wedono Bunaran.


Keduanya tengah bercakap cakap, berbincang tentang keadaan yang terjadi selama ini di temani oleh pemimpin regu yang tadi sempat di tampar Jaya.


"Maaf Pendekar, kami terpaksa melakukan itu semua karena kami juga di ancam."


"Harus menyerahkan sejumlah pajak bagi pemerintahan Bhumi Cempaka yang bagi wilayah ini sangat berat sekali."


"Wilayah ini adalah Kawedanan ( kecamatan) yang miskin, jadi jujur saja sangat berat jika harus membayar pajak sebanyak itu, belum lagi tekanan dari kelompok Jubah Perak yang mengancam kami jika tak membayar kan sejumlah upeti."


"Jubah Perak?" Jaya bertanya sedikit kaget, karena belum sekalipun mendengar nama kelompok ini selama ini.


"Benar Pendekar, kelompok Jubah Perak yang saat ini menguasai dunia persilatan semenjak Purnama Berdarah."


"Purnama Berdarah?.'' Jaya makin kebingungan dengan keterangan Wedono Bunaran.


"Apakah maksud tuan Wedono Purnama Berdarah adalah peristiwa di padang Selayang Pandang?." Jaya mencoba mengaitkan peristiwa tersebut.


"Benar tuan Pendekar, kami menyebut peristiwa tersebut Purnama Berdarah, karena banyaknya korban yang mati di sana yang menurut kabar di lakukan oleh para iblis, entah itu benar apa tidak," kata Bunaran kembali.


"Hmm, jadi akibat peritiwa itu banyak pendekar yang mati serta kelompok kuat hancur lebur, dan kini Jubah Perak menjadi salah satu kelompok yang berjaya?.''


"Benar, apa yang tuan Pendekar katakan, kelompok itu kini yang terkuat dan menguasai dunia selain kelompok Bayangan Kegelapan tentu saja."


"Bayangan Kegelapan?," Jaya mengulang nama kelompok tersebut.


Wedono Bunaran mengangguk demikian juga dengan lurah prajurit pemimpin regu kecil prajurit Kawedanan.


___________


Jejakanya.....

__ADS_1


__ADS_2