
"Apa katamu..!, menyerahkan benda pusaka yang dengan susah payah kami rebut dan dapatkan..?," bentak Anjar Gumelar dengan sangat marah, karena dengan berani nya pria bertopeng yang menghadang seorang diri berkata begitu.
"Kau tau bagaimana kami menghabisi kelompok pembawa Zirah ini tadi sebelum merebut nya..?, menghajarnya hingga tak tersisa, sungguh mengenaskan." kata Anjar Gumelar lagi dengan nada mengancam, menceritakan nasib kelompok Api Suci, untuk mengintimidasi orang yang berdiri di tengah jalan tersebut.
"Heum..."
Pria bertopeng itu hanya mendengus, terlihat tak takut mendengar ocehan dari Senopati Wukir Asri tersebut.
"Sekali lagi aku katakan kepada kalian.., tinggalkan Zirah pusaka itu di sini, maka kepala kalian akan selamat dan masih menempel di badan kalian..!," ancam pria dengan baju hitam dan bertopeng tersebut, dengan dingin.
Mendengar ancaman hanya dari satu orang itu, pasukan Wukir Asri bukannya takut, malah pada tertawa terbahak-bahak, meremehkan.
"Hua.ha..ha..ha....!"
"Hua.ha..ha...ha....!."
Semua nya tertawa tergelak, hingga perut terasa kaku, hanya satu orang mengancam lima ratus pasukan khusus Wukir Asri, aneh dan nekat.
Pria berpakaian serba hitam dan bertopeng itu memperbaiki posisi berdirinya, mulai memasang kuda kuda nya.
"Aku sudah memperingatkan kalian..!, jangan anggap aku kejam jika kepala kalian semua aku pisahkan dari raga mu..!!," teriak pria bertopeng itu dengan tajam, mengancam.
"Seraaang.....!!!."
Sebuah komando perintah penyerangan di teriakkan oleh sang Senopati.
Ratusan pasukan itu langsung mengepung dan mengurung pria bertopeng yang berdiri di kelokan jalan sempit tersebut.
Ratusan orang itu sudah menghunuskan senjatanya berniat merajam, membantai sang pria bertopeng.
CLAAAAPP...!
Sebuah cahaya transparan tercipta keluar dari matanya yang tertutup topeng, membentuk bulatan tipis lalu melingkupi para prajurit itu, dan sesuatu pun terjadi, kemudian gerakan mereka menjadi melambat...seakan slow motion.
Craaaasshh...! craaaasssh...!!
Dengan ganas dan tanpa ampun pria bertopeng itu menebas kan pedangnya, memenggal kepala semua prajurit yang terkena imbas dari jurus Mata Dewa tersebut.
"Aaarcchhh...!!," lengkingan prajurit yang masih mampu berteriak terdengar mengerikan, sebelum badan badan mereka berguguran ke tanah layaknya sebuah daun di musim gugur.
Meskipun kekuatan lingkaran dari bulatan cahaya tipis tersebut tidaklah luas, menandakan tingkat penguasaan jurus itu masih belum sesempurna sang Legenda, namun efeknya sudah terlihat... luar biasa.
Hanya dalam waktu kurang dari beberapa tarikan nafas saja ratusan prajurit sudah bergelimpangan menjadi mayat, akibat tebasan senjata pria bertopeng saat para prajurit itu terkena jurus Mata Dewa.
Anjar Gumelar terbelalak matanya, dia yang berada di luar lingkaran bulatan cahaya hanya melihat pasukannya seperti orang bodoh, saat pedang pria bertopeng menebas kepala nya satu persatu.
"K..k.kekuatan..j.jurus...D..Dewa...!!." teriak Anjar Gumelar parau dan tergagap, wajahnya pias seketika seakan tak berdarah, namun semua sudah terlambat.
CLAAAAPP....!!
__ADS_1
Pria bertopeng itu sudah melesat, mendekat secepat kilat menuju ke arahnya, lalu tercipta lah bulatan Cahaya tipis terbentuk bulatan di sekitar Anjar Gumelar dan pasukannya.
Craaaasshh...! craaaasshh...!!
Semua prajurit yang terkena jurus Mata Dewa di tebas tanpa ampun.
Prajurit yang belum terkena jurus itu langsung kabur, melarikan diri terbirit-birit, menyelamatkan diri.
Craaassh...! craaaasssh..!!
Kembali pedang di tangan pria bertopeng menebas semua yang ada di sana termasuk Anjar Gumelar yang hanya bisa melotot saat perutnya di koyak pedang Pria bertopeng, hingga usus nya terburai.
"Aaarcchhh..." teriakan Anjar Gumelar dengan usus terburai dan darah mengucur deras, sebelum ambruk kejang dan berkelojotan.... lalu mati.
Pria bertopeng lalu menghampiri kereta kuda yang sudah di tinggalkan para prajurit, karena mati atau kabur.
"Hmm..rupanya seperti toh, wujud zirah pusaka ini..," kata pria tersebut, meniling dan memeriksa Zirah baju perang itu sambil tersenyum, lalu memakainya.
"Hua..ha..ha..aku semakin gagah dengan baju ini," teriak Pria bertopeng sambil tertawa terbahak bahak.
"Sekarang tak ada lagi yang bisa mengalahkan ku.. tidak juga orang orang kelompok Mata Dewa..!!." Teriaknya Kembali dengan kencang, lalu melompat pergi meninggalkan tempat tersebut, menyisakan mayat mayat yang bergelimpangan dan berserakan di jalanan.
**
Berita peristiwa perebutan Zirah pusaka yang dramatis mulai menghiasi dunia persilatan.
Berita makin kian memanas dengan adanya bumbu bumbu yang di tambahkan di sana sini.
Ada yang mengatakan kelompok ini, kelompok itu yang merebut Zirah pusaka tersebut, bahkan ada yang mengatakan pasukan Iblis yang mengambil Zirah pusaka kembali.
Semua pada geram dengan pembenaran masing masing, menurut versi-nya.
Kelompok Api Suci tentu saja geram dan marah dengan Kerajaan Agung Wukir Asri, yang menurut laporan mereka lah yang telah merebut Zirah tersebut, bahkan membantai anak buah kelompok itu dengan sadis.
Mereka kelompok Api Suci bahkan bersumpah, akan menjadi musuh abadi dari istana Agung tersebut.
Sedangkan pihak Istana Wukir Asri, setelah melakukan penyelidikan dan hasil laporan dari anak buahnya yang lolos, kini kerajaan itu mengejar Pencuri bertopeng.
Bahkan istana berani membayar mahal kepada siapapun yang berhasil membawa sang pencuri beserta Zirah pusaka tersebut ke istana Wukir Asri.
**
Randu Sembrani masih berbincang pelan dengan Nyai Nilam Sari, perihal misteri pencuri bertopeng yang kini sering di keluhkan orang orang tersebut.
"Apa mungkin itu dia..?, Dinda..?." tanya Randu Sembrani sambil menoleh menatap istrinya yang berkuda di samping nya.
"Hmm, menurut cerita orang orang aku rasa memang itu dia.., aku hafal betul bagaimana kelakuannya."
"Menyesal aku mengajarkan ilmu tersebut kepadanya jika tau akhirnya begini," sesal Randu Sembrani, dengan tatapan kosong ke depan.
__ADS_1
"Aku tak bisa menebak apa isi pikirannya dan apa rencana dia kedepannya."
"Seandainya saja ketemu dengannya, aku akan hajar dan menghentikan dia..!."
Jaya dan Pelangi yang berkuda di belakang hanya terdiam, melihat sekeliling yang sebenarnya indah panoramanya jika saja wilayah tersebut tak penuh Pencoleng dan kejahatan.
Mereka berkuda Hinga benar benar memasuki wilayah kabupaten Jagalan tersebut, setelah sempat menginap semalam di penginapan Angsa Emas.
"Jaya ..Pelangi..!, bersiaplah nampaknya di depan ada yang menghadang kita," kata pelan Randu Sembrani kepada dua anak muda di belakangnya.
Nampak di jalan depan sedikit jauh, sudah terlihat banyak orang nampak berkumpul.
Kali ini Jaya sudah mulai akan bersikap, dia benar benar akan mulai membasmi kejahatan yang ada di depan matanya.
"Aku akan coba mengatasinya kek..," sahut Jaya Sanjaya dengan antusias, karena makin lama dia tau keadaan alam ini, banyak sekali kejahatan yang meraja lela.
Dan dia mulai berfikir, jika tak mulai dari sekarang kapan lagi akan membasmi kejahatan itu.
"Berhenti...!!." teriak salah satu dari orang tersebut menghentikan rombongan Keempat orang tersebut.
Jaya segera maju kedepan sebelum Randu Sembrani membalas perkataan orang orang itu.
"Ada apa ..?, kenapa menghentikan kami..?," balas Jaya Sanjaya, masih duduk di atas kuda nya.
"Bayar upeti dulu jika ingin melewati tempat ini..!." sahut salah satu orang dari rombongan itu, sambil menatap tajam kearah mereka berempat.
"Kenapa harus bayar..?, memangnya kau petugas pajak kerajaan..?." sahut Jaya Sanjaya dengan santai.
"Kelompok kami penguasa tempat ini..!, jadi jika kau ingin selamat maka kalian harus membayar ..!."
Jaya turun dari kudanya, menyerahkan kekang kuda nya kepada Pelangi yang kini sudah di sampingnya.
"Bagaimana jika aku balik pertanyaannya..? jika kalian ingin selamat, maka kalian harus menyerahkan pundi pundi itu..!," teriak Jaya Sanjaya menatap belasan orang di depannya sambil menunjuk kereta yang terlihat ada banyak barang rampasan.
Salah satu dari belasan orang itu sudah meloncat maju ke depan.
"Keparat...!!, kau ingin bermain main dengan kami..??!!, merasa hebat ya..!!," bentak pria penuh dengan kumis dan berewok itu setelah maju cukup dekat dengan jaya Sanjaya.
Jaya Sanjaya hanya menatap nya tajam.
"Cepat serahkan upeti mu..!!."
Sebelum habis perkataan pria berkumis dan berjenggot itu, tubuhya sudah terpental di hantam Jaya Sanjaya.
BOUUUGH...!!
___________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya....
__ADS_1