Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Pertarungan di Selayang Pandang ll


__ADS_3

Kalingsing mewakili bawahannya meneriakkan kata menyerah, dirinya menyatakan mengaku kalah setelah hampir semua anggotanya terbukti tak mampu mengatasi lawan lawannya.


"Kami menyerah tuan..," kata Pria paruh baya tersebut dengan nafas tersengal dan dada terasa mau pecah terkena hantaman Selaksa Ombak Menerjang.


Kini Tetua Agung Pedang Cahaya itu bersimpuh di depan Jaya, menanti keputusan Jaya menghentikan pertempuran di sana.


"BERHENTIII...!, Lawan sudah menyerah...!!." teriak Jaya kepada anggotanya yang masih menghajar lawan di depannya.


Begitu mendengar teriakan Jaya, anggota yang lain langsung menghentikan serangannya.


Dengan tertatih tatih orang orang Pedang Cahaya berkumpul lalu menjura menghormat sebagai sesama pendekar, "Terima kasih pendekar..!, kami Pedang Cahaya mengaku kalah..," Kalingsing kembali berkata sambil menjura mewakili seluruh anggotanya.


Sebuah keputusan yang tepat dan bijaksana bagi seorang Tetua, tak menurutkan hawa nafsu dan ego pribadi, tak malu mengakui keunggulan lawan sebelum kelompoknya benar benar di binasakan lawan.


Orang orang Awan Putih juga membalas menjura, "Tetua sangat bijaksana, melindungi anak buahnya dengan baik," puji Jaya kepada Kalingsing yang tersenyum kecut, memang kenyataanya seperti itu, jika sang Tetua ngeyel dan ambisius maka akan timbul korban di kelompoknya.


Kelompok Pedang Cahaya menyingkir ke arah para penonton bergabung dengan kelompoknya kembali, sedangkan Kelompok Awan Putih menuju ke arah tempat yang di sediakan menanti lawan yang akan mereka hadapi nanti.


**


Tengah bertarung dua kelompok yaitu kelompok Badai Perkasa dengan kelompok dari timur bernama kelompok Bambu Gila, sebuah kelompok yang bersenjata semacam pedang dari bambu.


Sebenarnya bukan bambu sungguhan, hanya saja pedang tersebut di buat seperti sebatang bambu dan jika di cabut dari sarungnya terdapat sebuah pedang.


Pertarungan yang terlihat sangat imbang.


Sepuluh pasang pendekar dari dua kelompok itu saling menyerang dengan ganasnya.


Mereka bertukar serangan saling gempur menunjukkan kemampuan terbaiknya.


"Hanya seperti ini kekuatan dari kelompok Badai Perkasa..?," ledek Tetua Agung Bambu Gila yang bernama Satoma.


"Huh, itu belum seberapa..!, kau kira jurusku hanya itu..!!." sahut Tetua Agung Badai Perkasa bernama Jumadi.


Jumadi melompat mundur memainkan tombak senjatanya, gelombang kekuatan mulai terbentuk lagi.


"Hiaaaa...!!."


Tetua Badai Perkasa itu melesat maju, menusukkan senjata andalanya.


Wwwuuuuss....


Tusukan di sertai kekuatan gelombang serangan mengarah ke arah Satoma, lelaki paruh baya itu sudah melakukan gerakan yang membentuk benteng tak kasat mata dengan di silangkannya pedang dan sarung dari senjatanya.


BLAAARR....!!


Ledakan terdengar saat ujung tombak menyentuh benteng tenaga dalam yang di ciptakan Satoma.


Keduanya terpental mundur saat tubrukan dua gelombang kekuatan itu buyar dan menyebar, lalu mementalkan keduanya.


"Aarch..!."


"Arrch...!!."


Seru dua orang itu, sambil menarik nafas untuk meningkatkan tenaga yang di alirkan seluruh tubuh melindungi raga nya.


Keduanya saling tatap dengan tajam sebelum kembali bertarung.


Sementara itu seluruh anak buah kedua kelompok tersebut masih saling gempur untuk memenangkan kelompoknya.


**


Sama seperti Awan Putih, kelompok Api Suci juga sudah memenangkan pertarungan perdananya.


Kini kelompok tersebut tengah berkumpul di tempat yang sama dengan kelompok Jaya.


Nambi Tosa sang Dewa Api nampak menatap ke arah Jaya, rasa penasarannya akan Tetua Agung dari kelompok Awan Putih begitu membuncah.


"Apakah pemuda itu Tetua Awan Putih..? Sesepuh?," bisik Nambi Tosa, sambil menunjuk dengan dagunya, bertanya kepada Moncong Putih yang ada di sebelahnya.


"Hmm, benar sekali, semoga kita nanti tak bertemu dengannya, sungguh kekuatan yang menakutkan," kata Moncong Putih yang pernah merasakan kehebatan dari Jaya Sanjaya.


Nambi Tosa tak menyahut, menatap sosok pria yang masih terlihat sangat muda, ada rasa tak percaya menyadari hal itu, menyadari seorang pemuda dengan kekuatan hebat bisa lepas dari jangkauan Api Suci, apalagi sama sama pemilik kekuatan panas.


"Berasal dari perguruan mana? Siapa gurunya? mengapa aku tak menemukannya saat dia masih anak anak? padahal Api Suci selalu menyebar orang nya mencari talenta muda untuk di didik menjadi pengguna element api untuk menjadi pemimpin masa depan."


Nambi Tosa masih bergelut dengan pikirannya, memikirkan ada sosok muda dengan kekuatan panas yang lebih hebat dari Api Suci.


**


Kini di tempat menunggu sudah di penuhi oleh kelompok kelompok yang sudah memenangkan pertarungan pertamanya.


Selain Awan Putih dan Api Suci, seluruh Dewan Agung juga sudah memenangkan pertempurannya.


"Nakmas nampaknya lawan kita nanti adalah kelompok Bambu Gila..," kata Baroto pelan, menatap ke arah orang orang dari Bambu Gila yang mulai berdatangan di tempat peristirahatan dan menunggu tersebut.


Malam kian larut, namun pancaran rembulan yang tengah berada di pucaknya itu membuat malam itu sangat terang benderang.


Bulan Purnama yang terlihat utuh tanpa adanya awan yang menutupi itu membuat malam itu seterang pagi hari apalagi banyaknya lampu lampu yang berkobar membuat malam itu kian benderang.


"Bukankah mereka dari negeri Timur paman?." tanya Jaya kepada Baroto, menanggapi tentang kelompok Bambu Gila.


"Benar, mereka dari negeri Timur, mereka mungkin juga sudah tahu tentang kita Nakmas."


"Hmm," Jaya hanya mengangguk saja.


**


Portal Dimensi sudah terbentuk sempurna, keluarlah para sosok Iblis dari alam nya.


Nampak sesosok iblis yang tingginya sama dengan Wora dan Wari berdiri di depan dua Iblis kembar tersebut.


"Aku Dwarakolo, panglima Iblis yang di utus oleh Raja Sarma Pala untuk membantu kalian."


Iblis Wora dan Iblis Wari mengangguk, "Selamat datang di alam manusia, alam yang penuh dengan makanan bagi ras kalian.." sambut Iblis Wora.


Perlu di ketahui jika di Alam Iblis juga ada beberapa ras, ibarat hewan ada carnivora, herbivora dan percampuran dari keduanya atau Omnivora.


Dan Dwarakolo adalah Iblis yang berasal dari ras Carnivora, dia pemakan daging dan peminum darah.

__ADS_1


Dari ribuan Iblis yang di kirim oleh raja Sarma Pala, ada sekitar limaratusan iblis dengan ras Carnivora, seribu ras herbivora dan sisanya pemakan segalanya.


"Ha..ha..ha...!, benarkah?, kalian tak akan mencegah kami kan?." seru Dwarakolo dengan tertawa terbahak, memperlihatkan gigi taring yang mencuat panjang tersebut.


Ya, jika di alam Iblis para iblis di atur sedemikian rupa agar tak menjadi makhluk kanibal, memakan sesama karena akan mengurangi jumlah iblis, maka ada peraturan tegas di sana.


Tapi di alam ini hal tersebut pasti tak akan terjadi.


"Ha..ha..ha...semakin kalian memangsa banyak umat manusia maka semakin cepat kita menguasai alam ini..!," balas Iblis Wari, menimpali perkataan panglima Iblis tersebut.


Makin lama Iblis yang melintasi portal dimensi tersebut makin banyak.


Portal yang semula stabil sedikit sedikit bergoyang, cahayanya berkedap kedip menandakan portal itu mulai goyang.


Jaya yang melihat adanya sinar aneh dari arah perkemahan Jiwa Abadi sedikit kaget dan terkejut.


"Apa aku tak salah lihat? bukankah itu cahaya dari terbentuknya Portal Dimensi?."


Jaya masih terpaku menatap semua itu.


"Ada apa Nakmas?." Prono Condro bertanya begitu melihat kegundahan di wajah Jaya.


"Ada sesuatu yang tak beres pada markas Jiwa Abadi."


Semua menoleh ke arah perkemahan Jiwa Abadi yang terlihat dari kejauhan.


"Jagat Dewa Batara...!," seru Sumanjaya, menutup mulutnya yang terbuka.


"Ada Apa..?," tanya Randu Sembrani dan Betoro Koloireng hampir bersamaan.


"Aku melihat bayangan penerawangan yang mengerikan..," sahut sang Mata Malaikat tersebut, dengan wajah memucat.


Ruwandu yang juga merasakan perbawa aneh juga mengangguk, "Benar apa kata sesepuh, aku menangkap hawa mengerikan masuk ke wilayah ini.."


Pitu Geni, Baroto, Anuso Birowo dan Respati hanya melongo, tak mengerti dengan perbawa tersebut.


"Aku pergi dulu...!," teriak Jaya, lalu melesat meninggalkan kelompoknya, melesat dengan kecepatan yang tak pernah di tunjukannya pada siapapun di alam ini.


Sebuah kecepatan gerak yang tak mampu di tangkap orang sembarangan, bahkan setingkat Respati si Raja Pengemis pun tak mampu mengikuti kecepatan gerak tersebut.


Setelah melesat sangat cepat Jaya terbang naik tinggi ke angkasa, membentuk semacam kabut dari jurus Gelombang Awan Menerjang.


Gumpalan kabut yang terbentuk itu menutupi seluruh tubuh Jaya yang sedang melakukan pengamatan pada tenda Jiwa Abadi.


Dari ketinggian yang bahkan tak membuat para iblis itu curiga Jaya mampu melihat dan mendengar apa yang di perbincangkan iblis tersebut meski menggunakan bahasa iblis.


"Kurang ajar...!, nampaknya dua iblis itu menyeberangkan para Iblis ke alam ini."


Jaya keget dengan apa yang di lihat dan di dengar nya, jika akan ada pembantaian masal.


"Aku harus menghentikan ini semua..!."


_____________


Jangan lupa jejaknya kaka...biar cerita ini tetap eksis....


Kalingsing mewakili bawahannya meneriakkan kata menyerah, dirinya menyatakan mengaku kalah setelah hampir semua anggotanya terbukti tak mampu mengatasi lawan lawannya.


"Kami menyerah tuan..," kata Pria paruh baya tersebut dengan nafas tersengal dan dada terasa mau pecah terkena hantaman Selaksa Ombak Menerjang.


Kini Tetua Agung Pedang Cahaya itu bersimpuh di depan Jaya, menanti keputusan Jaya menghentikan pertempuran di sana.


"BERHENTIII...!, Lawan sudah menyerah...!!." teriak Jaya kepada anggotanya yang masih menghajar lawan di depannya.


Begitu mendengar teriakan Jaya, anggota yang lain langsung menghentikan serangannya.


Dengan tertatih tatih orang orang Pedang Cahaya berkumpul lalu menjura menghormat sebagai sesama pendekar, "Terima kasih pendekar..!, kami Pedang Cahaya mengaku kalah..," Kalingsing kembali berkata sambil menjura mewakili seluruh anggotanya.


Sebuah keputusan yang tepat dan bijaksana bagi seorang Tetua, tak menurutkan hawa nafsu dan ego pribadi, tak malu mengakui keunggulan lawan sebelum kelompoknya benar benar di binasakan lawan.


Orang orang Awan Putih juga membalas menjura, "Tetua sangat bijaksana, melindungi anak buahnya dengan baik," puji Jaya kepada Kalingsing yang tersenyum kecut, memang kenyataanya seperti itu, jika sang Tetua ngeyel dan ambisius maka akan timbul korban di kelompoknya.


Kelompok Pedang Cahaya menyingkir ke arah para penonton bergabung dengan kelompoknya kembali, sedangkan Kelompok Awan Putih menuju ke arah tempat yang di sediakan menanti lawan yang akan mereka hadapi nanti.


**


Tengah bertarung dua kelompok yaitu kelompok Badai Perkasa dengan kelompok dari timur bernama kelompok Bambu Gila, sebuah kelompok yang bersenjata semacam pedang dari bambu.


Sebenarnya bukan bambu sungguhan, hanya saja pedang tersebut di buat seperti sebatang bambu dan jika di cabut dari sarungnya terdapat sebuah pedang.


Pertarungan yang terlihat sangat imbang.


Sepuluh pasang pendekar dari dua kelompok itu saling menyerang dengan ganasnya.


Mereka bertukar serangan saling gempur menunjukkan kemampuan terbaiknya.


"Hanya seperti ini kekuatan dari kelompok Badai Perkasa..?," ledek Tetua Agung Bambu Gila yang bernama Satoma.


"Huh, itu belum seberapa..!, kau kira jurusku hanya itu..!!." sahut Tetua Agung Badai Perkasa bernama Jumadi.


Jumadi melompat mundur memainkan tombak senjatanya, gelombang kekuatan mulai terbentuk lagi.


"Hiaaaa...!!."


Tetua Badai Perkasa itu melesat maju, menusukkan senjata andalanya.


Wwwuuuuss....


Tusukan di sertai kekuatan gelombang serangan mengarah ke arah Satoma, lelaki paruh baya itu sudah melakukan gerakan yang membentuk benteng tak kasat mata dengan di silangkannya pedang dan sarung dari senjatanya.


BLAAARR....!!


Ledakan terdengar saat ujung tombak menyentuh benteng tenaga dalam yang di ciptakan Satoma.


Keduanya terpental mundur saat tubrukan dua gelombang kekuatan itu buyar dan menyebar, lalu mementalkan keduanya.


"Aarch..!."


"Arrch...!!."

__ADS_1


Seru dua orang itu, sambil menarik nafas untuk meningkatkan tenaga yang di alirkan seluruh tubuh melindungi raga nya.


Keduanya saling tatap dengan tajam sebelum kembali bertarung.


Sementara itu seluruh anak buah kedua kelompok tersebut masih saling gempur untuk memenangkan kelompoknya.


**


Sama seperti Awan Putih, kelompok Api Suci juga sudah memenangkan pertarungan perdananya.


Kini kelompok tersebut tengah berkumpul di tempat yang sama dengan kelompok Jaya.


Nambi Tosa sang Dewa Api nampak menatap ke arah Jaya, rasa penasarannya akan Tetua Agung dari kelompok Awan Putih begitu membuncah.


"Apakah pemuda itu Tetua Awan Putih..? Sesepuh?," bisik Nambi Tosa, sambil menunjuk dengan dagunya, bertanya kepada Moncong Putih yang ada di sebelahnya.


"Hmm, benar sekali, semoga kita nanti tak bertemu dengannya, sungguh kekuatan yang menakutkan," kata Moncong Putih yang pernah merasakan kehebatan dari Jaya Sanjaya.


Nambi Tosa tak menyahut, menatap sosok pria yang masih terlihat sangat muda, ada rasa tak percaya menyadari hal itu, menyadari seorang pemuda dengan kekuatan hebat bisa lepas dari jangkauan Api Suci, apalagi sama sama pemilik kekuatan panas.


"Berasal dari perguruan mana? Siapa gurunya? mengapa aku tak menemukannya saat dia masih anak anak? padahal Api Suci selalu menyebar orang nya mencari talenta muda untuk di didik menjadi pengguna element api untuk menjadi pemimpin masa depan."


Nambi Tosa masih bergelut dengan pikirannya, memikirkan ada sosok muda dengan kekuatan panas yang lebih hebat dari Api Suci.


**


Kini di tempat menunggu sudah di penuhi oleh kelompok kelompok yang sudah memenangkan pertarungan pertamanya.


Selain Awan Putih dan Api Suci, seluruh Dewan Agung juga sudah memenangkan pertempurannya.


"Nakmas nampaknya lawan kita nanti adalah kelompok Bambu Gila..," kata Baroto pelan, menatap ke arah orang orang dari Bambu Gila yang mulai berdatangan di tempat peristirahatan dan menunggu tersebut.


Malam kian larut, namun pancaran rembulan yang tengah berada di pucaknya itu membuat malam itu sangat terang benderang.


Bulan Purnama yang terlihat utuh tanpa adanya awan yang menutupi itu membuat malam itu seterang pagi hari apalagi banyaknya lampu lampu yang berkobar membuat malam itu kian benderang.


"Bukankah mereka dari negeri Timur paman?." tanya Jaya kepada Baroto, menanggapi tentang kelompok Bambu Gila.


"Benar, mereka dari negeri Timur, mereka mungkin juga sudah tahu tentang kita Nakmas."


"Hmm," Jaya hanya mengangguk saja.


**


Portal Dimensi sudah terbentuk sempurna, keluarlah para sosok Iblis dari alam nya.


Nampak sesosok iblis yang tingginya sama dengan Wora dan Wari berdiri di depan dua Iblis kembar tersebut.


"Aku Dwarakolo, panglima Iblis yang di utus oleh Raja Sarma Pala untuk membantu kalian."


Iblis Wora dan Iblis Wari mengangguk, "Selamat datang di alam manusia, alam yang penuh dengan makanan bagi ras kalian.." sambut Iblis Wora.


Perlu di ketahui jika di Alam Iblis juga ada beberapa ras, ibarat hewan ada carnivora, herbivora dan percampuran dari keduanya atau Omnivora.


Dan Dwarakolo adalah Iblis yang berasal dari ras Carnivora, dia pemakan daging dan peminum darah.


Dari ribuan Iblis yang di kirim oleh raja Sarma Pala, ada sekitar limaratusan iblis dengan ras Carnivora, seribu ras herbivora dan sisanya pemakan segalanya.


"Ha..ha..ha...!, benarkah?, kalian tak akan mencegah kami kan?." seru Dwarakolo dengan tertawa terbahak, memperlihatkan gigi taring yang mencuat panjang tersebut.


Ya, jika di alam Iblis para iblis di atur sedemikian rupa agar tak menjadi makhluk kanibal, memakan sesama karena akan mengurangi jumlah iblis, maka ada peraturan tegas di sana.


Tapi di alam ini hal tersebut pasti tak akan terjadi.


"Ha..ha..ha...semakin kalian memangsa banyak umat manusia maka semakin cepat kita menguasai alam ini..!," balas Iblis Wari, menimpali perkataan panglima Iblis tersebut.


Makin lama Iblis yang melintasi portal dimensi tersebut makin banyak.


Portal yang semula stabil sedikit sedikit bergoyang, cahayanya berkedap kedip menandakan portal itu mulai goyang.


Jaya yang melihat adanya sinar aneh dari arah perkemahan Jiwa Abadi sedikit kaget dan terkejut.


"Apa aku tak salah lihat? bukankah itu cahaya dari terbentuknya Portal Dimensi?."


Jaya masih terpaku menatap semua itu.


"Ada apa Nakmas?." Prono Condro bertanya begitu melihat kegundahan di wajah Jaya.


"Ada sesuatu yang tak beres pada markas Jiwa Abadi."


Semua menoleh ke arah perkemahan Jiwa Abadi yang terlihat dari kejauhan.


"Jagat Dewa Batara...!," seru Sumanjaya, menutup mulutnya yang terbuka.


"Ada Apa..?," tanya Randu Sembrani dan Betoro Koloireng hampir bersamaan.


"Aku melihat bayangan penerawangan yang mengerikan..," sahut sang Mata Malaikat tersebut, dengan wajah memucat.


Ruwandu yang juga merasakan perbawa aneh juga mengangguk, "Benar apa kata sesepuh, aku menangkap hawa mengerikan masuk ke wilayah ini.."


Pitu Geni, Baroto, Anuso Birowo dan Respati hanya melongo, tak mengerti dengan perbawa tersebut.


"Aku pergi dulu...!," teriak Jaya, lalu melesat meninggalkan kelompoknya, melesat dengan kecepatan yang tak pernah di tunjukannya pada siapapun di alam ini.


Sebuah kecepatan gerak yang tak mampu di tangkap orang sembarangan, bahkan setingkat Respati si Raja Pengemis pun tak mampu mengikuti kecepatan gerak tersebut.


Setelah melesat sangat cepat Jaya terbang naik tinggi ke angkasa, membentuk semacam kabut dari jurus Gelombang Awan Menerjang.


Gumpalan kabut yang terbentuk itu menutupi seluruh tubuh Jaya yang sedang melakukan pengamatan pada tenda Jiwa Abadi.


Dari ketinggian yang bahkan tak membuat para iblis itu curiga Jaya mampu melihat dan mendengar apa yang di perbincangkan iblis tersebut meski menggunakan bahasa iblis.


"Kurang ajar...!, nampaknya dua iblis itu menyeberangkan para Iblis ke alam ini."


Jaya keget dengan apa yang di lihat dan di dengar nya, jika akan ada pembantaian masal.


"Aku harus menghentikan ini semua..!."


_____________

__ADS_1


Jangan lupa jejaknya kaka...biar cerita ini tetap eksis....


__ADS_2