Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Sosok Sesungguhnya Wicaksono


__ADS_3

Wicaksono tersenyum dalam terpejamnya, saat berhasil menghantam balik lawan nya yang hebat tersebut.


Serangan lawan yang semula merepotkan dan membuatnya menjerit kesakitan akibat tubuhnya terhantam dan hancur kini itu tak terjadi lagi.


Dengan jurus ilmu Sasmitha Tanding sebuah ilmu yang mampu melihat dan menduga arah serangan lawan, sebuah pengetahuan yang mampu menerawang akan kejadian masa depan, dirinya kini mampu memgimbangi semua gerakan lawan yang sangat cepat, kuat dan dahsyat tersebut.


Seumur umur tak pernah ada yang mampu menandingi kehebatannya dalam bertarung. Hanya bisa di hitung Jari siapa saja yang mampu menandinginya, paling paling Lima Dewa Pilar, yaitu para dewa yang paling kuat di alam dewa karena di beri kelebihan dari yang lebih oleh SANG PENCIPTA. pertarungan itupun sudah lama terjadi, karena kini semua Dewa sudah tau kedudukan masing masing, jadi tak pernah terjadi perselisihan dan bertarung.


Bahkan Kaisar Dewa pun jika harus bertarung satu lawan satu dengannya tak akan mampu karena kehebatannya, tapi kini ada sosok yang katanya "Manusia" yang mampu menandinginya bertarung sedemikian rupa membuatnya terbelalak.


Dengan terpaksa dia harus mengerahkan jurus rahasia nya yang memang di anugerahkan kepadanya yaitu ilmu Sasmitha tanding .


Wicaksono makin menjadi, semua seranganya membuat lawan terhantam berkali kali, namun seperti para Dewa lainnya lawan tak bisa mati dan itu pasti berkat Raga Abadinya.


Bagi Jaya kehebatannya, bukan hanya karena anugerah Raga Abadi, tapi juga karena Zirah Dewa Perang yang di anugerahkan kepadanya, zirah itu berfungsi menjaga fisiknya meredam semua serangan lawan, hingga jika dewa lainnya di hantam telak sekali langsung rontok Raga Abadinya karena sesungguhnya raga nya hancur, namun tidak bagi Jaya.


Zirah Tameng Jiwo membuat tubuhnya kebal, tak mudah di lukai, hingga butuh sekitar lima hingga sepuluh kali hantaman telak baru merontokkan satu lapisan Raga Abadinya. Padahal setingkat Dewa Perang dan sepantarannya mereka memiliki ribuan lapisan Raga Abadi.


Zirah ini bukan hanya sebagai pelindung diri alias kebal, namun juga memiliki peran penting dalam menjaga kestabilan tenaga, dia akan menyerap tenaga Jaya setiap saat sewaktu tak di gunakan, namun saat dalam posisi pertempuran zirah ini akan menjadi pemasok tenaga yang utama, menyerap tenaga dan mengantinya dengan tenaga murni, jika di ibaratkan organ dalam tubuh manusia, zirah ini seperti jantung yang menerima darah kotor kurang oksigen dari pembuluh vena di seluruh tubuh, lalu masuk ke jantung kemudian di dalam jantung mencampur darah kotor kurang oksigen tersebut dengan darah segar kaya oksigen untuk kemudian di sebar lagi ke seluruh tubuh melalui pembuluh arteri hingga seluruh organ tubuh tersebut menjadi tercukupi akan kebutuhan darah kaya oksigen, dan manusia itu sehat. seperti itulah mungkin analogi fungsi zirah Tameng Jiwo melindungi dan mencukupi akan tenaga hawa murni bagi Jaya sanjaya atau Dewa Cakra Tirta Sanjaya.


"Ha..ha..ha...Bagaimana? seranganmu kini tak lagi berguna, bahkan aku berkali kali menghajarmu bukan..!," seru Wicaksono.


Jaya hanya terdiam, karena dia sudah menyusun rencana dengan ruh pusaka kyai Seto Ludiro.


"Jangan senang dahulu, aku masih sanggup menghadapimu meski kau mengerahkan jurus Sasmitha Tanding sehebat pemiliknya."


Semua ilmu di alam ini memang awalnya di anugerahkan kepada beberapa sosok saja, namun karena sudah ribuan tahun akhirnya ilmu tersebut juga tersebar kepada para pengikutnya, bahkan kemudian tersebar lagi lebih jauh menjadi beberapa ilmu turunan dari ilmu sasmitha tanding tersebut, seperti jurus Mata Malaikat milik Sumanjaya dan Sumantri yang sudah mati.

__ADS_1


Wicaksono tercekat, mesti dia tutupi, lawan yang mampu menebak jurus Sasmitha Tanding berarti bukan lawan sembarangan.


"HIAAA....!!."


Jaya melesat menerjang lawannya kembali, kekuatan tenaga yang meluap luap membuat Wicaksono begidik ngeri. Namun dia masih percaya dengan Sasmitha Tanding pasti dia mampu mengatasi semua serangan lawan.


Jaya menghantamkan perisai Wojo Digdoyo, lalu melempar tombak kyai Seto Ludiro.


Tombak itu membelah udara yang ada di ruang hampa menerjang ke arah Wicaksono. bersama dengan itu hantaman perisai lawan juga mengancam kepala sang dewa.


Dengan sigap Wicaksono, menghadang semua serangan tersebut, namun tiba tiba serangan susulan dari Jaya berupa hantaman Badai Matahari menyusul, membuat sosok tersebut semakin kewalahan.


Kecepatan serangan yang sangat hebat, dengan kekuatan yang tiada tara serta arah yang tak terduga duga cukup merepotkan Wicaksono.


Bahkan lama lama serangan tombak dan pukulan lawan tak mampu di duganya, membuat jurus Sasmitha Tanding yang di kerahkannya menjadi kacau balau.


Hantaman keras mulai kembali bersarang di badan Wicaksono, pria tersebut mulai kalang kabut kembali, jurus rahasia nya tak lagi ampuh meredam kehebatan lawan.


BLEEEGAAAARRTTTTT...


BLLEEEEGGGAAAAAAARATTT....


Berturut turut Jaya menghajar dengan jurus Badai Matahari yang melempar sosok Wicaksono terlempar jauh dengan kondisi terbakar.


Alam yang tak berujung dan bertepi, tak ada atas dan bawah, serta tak ada hitungan waktu itu menjadi saksi sebuah pertarungan yang mampu menghancurkan sebuah tatanan kehidupan (planet).


Hebat dan kuatnya pukulan, dahsyatnya hawa serangan dari keduanya yang mampu membunuh kehidupan tercipta di alam yang hampa tersebut.

__ADS_1


"Aku akan terus menghajarmu hingga kau mengaku kalah, mau mengakui kekurang ajaranmu mengusik keluargaku Awan Putih..!," bentak Jaya makin beringas menghajar sosok tersebut.


Entah sudah berapa ribu atau bahkan ratusan ribu kali Jaya menghajar, menghantam dan menyarangkan pukulannya ke raga Wicaksono membuat sosok tersebut terlihat kacau, nafasnya sudah tersengal sengal dan mulai terlihat sangat kewalahan.


Pertarungan seru dan lama yang jika di ukur di tempat yang ada kerangka waktunya, seperti siang dan malam mungkin sudah berlangsung dalam beberapa bulan lamanya, hanya sayangnya di alam Ruang Hampa tak ada waktu, tak ada awal dan tak ada akhir, padahal pertempuran itu sudah berlangsung berbulan bulan lamanya.


"BERHENTIII...."


Wicaksono berteriak, nafasnya tersengal sengal, penampakannya sudah kacau balau, lapisan Raga Abadinya sudah makin memudar, meski itu masih banyak..sangat banyak.


"Aku mengaku kalah," kata Wicaksono dengan lemas.


Jaya berhenti menyerang, menatap tajam lawannya.


"Siapa sebenarnya kisanak?, aku yakin anda pasti seorang Dewa hebat," tanya Wicaksono masih dengan nafas tersengal.


"Aku juga yakin Anda bukan Dewa utusan seperti yang biasa menyerangku, karen Anda begitu welas asih memikirkan akibat dari pertarungan kita terhadap yang lain hingga mengajakku bertarung di sini." balas Jaya.


Wicaksono lalu tersenyum kemudian merapalkan sesuatu membuat tubuhnya berpendar dan mengalami malih rupa ke wujud sesungguhnya yaitu Dewa Kebijaksanaan.


Begitupun Jaya merapalkan sesuatu kemudian tubuhnya juga malih rupa ke wujut asli Jaya sebagai Dewa Perang Dewa Cakra Tirta Sanjaya.


Keduanya sama sama terkejut, terutama Dewa Kebijaksanaan yang langsung menjura sangat lama, menghormat kepada sosok yang sudah begitu lama pergi dari Alam Dewa.


Begitupun Jaya menghormat balik ke arah Dewa Kebijaksanaan, seorang dewa yang terkenal karena kebaikan budinya, kehebatan cara pandang dan berpikirnya, serta tentu saja tentang kebijakan dalam menentukan segala sesuatu, hingga oleh SANG PENCIPTA memberinya anugerah ilmu Sasmitha Tanding.


____________

__ADS_1


Jangan lupa jejaknya....


__ADS_2