
Jaya masih di kepung oleh belasan Layon utama tersebut.
Kekuatan Layon Layon yang sungguh luar biasa itu sedikit menyulitkan Jaya, apalagi mereka bertarung dengan pola dan perencanaan yang baik.
Setiap Jaya menginjak tanah pasti akan di serang oleh sosok Layon Jagat Mandhala Bawono dari Jarak yang cukup terjaga.
Bahkan Naga tanah ciptaan Leluhur kelompok Bumi Langit itu masih juga menyerang saat Jaya sudah melenting menghindar ke udara.
WOOOOZZ..!
Sebuah gelombang serangan yang bercampur dengan api yang menyembur di hantamkan oleh sosok Layon Raja Neraka, salah satu Leluhur dan Legenda dari Api Suci.
Jaya mengangkat tangan kirinya di mana perisai Wojo Digdoyo berada, menangkis gelombang serangan lawannya tersebut.
BLAAAAZZZ...!
Gelombang serangan dengan semburan Api tersebut tertahan oleh perisai Wojo Digdoyo, dan terserap oleh kabut tipis yang di hasilkan oleh jurus Gelombang Awan Menerjang.
KRATAAAKKKKK...!!
Naga tanah kembali muncul, dengan mulut menganga berniat menelan dan menenggelamkan Jaya ke dalam tanah.
BYAAAARRR..!!
Kembali Jaya menebaskan kyai Seto Ludiro, tombak itu memangkas kepala Naga raksasa tersebut hingga kembali menjadi tanah.
Jaya menatap tajam sosok Layon yang sedikit jauh, "Hmm, nampaknya sosok itu sang pengendali tanah."
Lalu Jaya mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, terlihat sosok Rakumba yang tengah melakukan gerakan gerakan tertentu seakan mengatur sesuatu.
"Hmm, nampaknya pengatur sosok sosok mayat ini adalah manusia pucat itu." gumam Jaya.
"Hiaaaa...!."
Jaya melesat memburu ke arah Rakumba berada, dimana sosok tersebut nampak selalu di kawal oleh Kiwo dan Tengen.
Begitu Jaya mendekat, para Layon langsung melingkupi sosok sang pengatur serangan.
KRATAAAAKK...!
Begitu Jaya mendekat, Naga tanah langsung muncul dari tanah menghadang langkah Jaya.
Selain Naga tanah yang menyerang, beberapa Pukulan jarak jauh langsung juga menerjang ke arah Jaya.
WOOOZZZ...!
WUUUUNNGG...!!
BLEGAAAARR....!!
Jaya menyambut hantaman hantaman tersebut, hingga membuat para Layon terlempar dan terbakar Badai Matahari.
Begitu ada Layon yang terjungkal Jaya langsung memburunya, menusuk dengan tombak kyai Seto Ludiro agar racun Dasalaksa merusak raga para Layon tersebut.
CRAASSH..
CRAAASH...
Dua Layon langsung di sabet dengan pusaka tombak tersebut, membuat satu Layon terbelah dadanya, sedangkan satu Layon lagi tercabik lehernya.
Meskipun sudah dalam kondisi seperti itu Layon Layon tersebut masih juga bangkit dan kembali menyerang meski kali ini sudah tak segesit dan secepat semula.
"Haah, lumayan bisa mengurangi gangguan," gumam Jaya kembali melesat melakukan serangan.
__ADS_1
**
Pertempuran masih terus berlangsung, jumlah korban sudah banyak yang berjatuhan dari kedua belah pihak.
KRAATAAAAK...
Antareja membelah tanah yang di pijaki oleh para Iblis, membuat para iblis tersebut terperosok hingga sedada, lalu bumi kembali menjepit iblis iblis tersebut, atas kuasa sang tetua Bumi Langit.
BAAMMM...!
Begitu puluhan iblis terjebak, Respati dan pasukan yang lain langsung menyerang, menebas, menusuk dan mencabik iblis yang sudah sedikit di lumpuhkan itu.
Di sisi Lain, para Iblis juga Layon mengamuk, menerjang memburu dan memangsa para pendekar, singkat kata kedua kubu saling serang dan menghancurkan.
Perang memang kejam, tak mengenal ampun akan siapapun, yang jelas lawan harus di musnahkan bagaimanapun caranya.
Yang kuat akan berkuasa atas yang lemah, bisa berlaku sesuka hatinya, memenggal, mencabik, dan menebas semua lawannya.
Dua Iblis Wora dan Wari masih bertarung sambil merasai keberadaan pusaka Paku Jagat, mereka masih mencoba mencari keberadaan pusaka tersebut, karena dengan pusaka itu pergerakan mereka melewati portal pemindah akan lebih leluasa, padahal pusaka tersebut kini telah di simpan Jaya di gelang dimensi yang tentu saja aura pusaka itu tak bisa di rasakan.
"Gggrrhhh..!, keparaat ..!, dimana pusaka itu...!," iblis Wora menggeram, mulai makin murka karena tak juga merasai keberadaan pusaka tersebut.
Begitu juga dengan Iblis Wari yang juga makin mengganas seiring tak juga di temukannya pusaka yang di cari.
Sriiing...!
Craaash...!
Craaaashhh..!!
Ayunan senjata pedang panjang dari kedua Iblis tersebut sukses memporak porandakan pasukan gabungan Awan Putih.
Melihat keganasan dua Iblis tersebut, para petinggi kelompok langsung mendekat untuk menghentikannya.
Selain enam orang tersebut ada juga sesepuh partai Es Abadi yang juga ikut mengurung dua Iblis tersebut, yaitu Joko Baron si Dewa Salju dan Dewi Racun Salju satu satunya sesepuh perempuan yang masih eksisi setelah nyai Nilamsari.
Kini delapan orang mengitari dua sosok iblis yang tengah menggila.
"Nampaknya dua Iblis ini lah yang menjadi biang kerok segala permasalahan di alam ini..!," tuding Sumanjaya kepada dua Iblis yang sudah terkepung itu.
"Gggrhhh, keparat..!, manusia tak tau di untung..!, bisa saja kalian kabur dan selamat, tapi malah mencari mati dengan berani datang di hadapanku." balas Iblis Wora dengan menggeram.
Suaranya yang besar seperti seekor binatang buas itu mampu mengetarkan hati siapapun yang berhati lemah.
"Cuiih..!, pantang bagi kami para pendekar lari dari masalah, apalagi kalian akan menghancurkan umat manusia..!." Wirabhumi menjawab perkataan sang Iblis.
"Untuk apa hidup, jika manusia lain mati..!," Dewi Racun Salju menimpali perkataan Wirabhumi.
"Ggrrrhh, baik jika pilihan kalian mati..!,aku kabulkan..!," teriak Iblis Wari, menyahut.
Dua Iblis itu mulai memutar pedang panjangnya, keduanya beradu punggung menghadapi para pengeroyoknya.
**
Dwarakolo yang masih di keroyok tiga sesepuh masih terlihat bertarung dengan seru.
Meski di keroyok Bayu Geni, Bayu Banyu dan Koloireng yang merupakan orang orang terhebat di kelompoknya namun tak terlihat sedikitpun kewalahan.
Apalagi setelah panglima Iblis itu mengeluarkan pukulan andalannya, sebuah pukulan yang berwujud Asap hitam bergumpal yang mampu meledak dengan hebat.
"Hati hati...!, pukulan lawan sangat hebat..!," seru Koloireng memperingatkan.
Dwarakolo terbahak, "Itu belum semua kemampuan ku kekuarkan..!," balasnya dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
Memang benar apa kata sang Panglima Iblis tersebut masih ada jurus andalan lainnya yang masih di simpannya.
Panglima Iblis itu kembali bergerak, gumpalan asap hitam di dua lengannya sudah kembali siap di hantamkan.
WROOORRR....
Gelombang asap hitam tersebut kembali memancar menyebar ke arah melingkupi ketiga lawannya.
Bayu Geni dan Bayu Banyu mencoba mengusir asap asap tersebut dengan gelombang yang di ciptakan oleh keduanya.
BYAAAARRR..
BAAAMM...!
BAAAMMM..!!
Ledakan sangat kuat terjadi saat asap hitam tersebut di tepis oleh dua gelombang angin pukulan dua sesepuh Kuda Terbang.
Namun akibat ledakan tersebut, tiga sesepuh itu terlempar cukup jauh, sedangkan Panglima Iblis itu hanya meloncat mundur saja.
"Huh, rasakan gelombang ledakan jurus Pedut Ambyar..," seru Dwarakolo, sambil kembali melepas pukukannya ke arah ketiga sesepuh yang masih berjumpalitan.
WROOORR..
WROOORRR...
WROOOORR...
Tiga lesatan Asap hitam bergumpal gumpal kembali menerjang ketiga sesepuh itu.
**
Dari belasan Layon Utama yang menyerang Jaya kini hanya tinggal sembilan saja.
Mereka adalah Jagat Mandhala Birowo, si Badai Topan sosok Legenda dari Kuda Terbang, dan tujuh sosok Layon Pitu yang masih belum berkurang.
Sembilan Sosok Layon tersebut kini menyerang Jaya dengan sangat sengit dengan mengurung dan di pimpin oleh Rakumba.
KRAATAAAAKAKK...!
Sebuah serangan Naga Tanah kembali menghampiri Jaya begitu dia akan menyerang, tanah yang berwujud seperti ular itu selalu menghalangi Jaya begitu dia berniat menyerang dan mendekati para Layon.
Seakan Naga jadi jadian itu memang khusus menahan dan menghalangi gerakan Jaya.
"Eeh, aku memang harus sedikit bersandiwara."
WOOOZZZ...
WROOOORR...
Dua serangan dari Raja Neraka dan si Badai Topan menerjang ke arah Jaya, dan Jaya sengaja tak mengelak dengan benar, sebuah strategi yang bagi orang lain tak mungkin di lakukan karena harus mengorbankan nyawa menerima hantaman lawan agar selanjutnya lawan mendekat.
BLAAAAARRRRTT...!
Dua pukulan itu menghantam badan Jaya, sebuah pukulan yang mampu merontokkan lapisan Raga Abadi, yang bagi orang biasa berarti menghilangkan nyawa itu sukses membuat Jaya terkapar.
Jaya terlempar bergulingan lalu diam sejenak, membuat Rakumba dan delapan Layon lainnya mendekat.
"Akhirnya hancur juga kau..dan akan ku buat mati..!," kata Rakumba begjtu mendekat, melihat lawannya yang terkapar dengan nafas tersengal satu satu.
BLEGAAAAARRTT.....!
___________
__ADS_1
Jejaknya kaka...maaf di beberapa chapter terkesan lambat, tapi memang seperti itu yang author tangkap, perangnya lama dan sangat ramai...ngeri pokoknya...