
"Keparaatt..!, ada penyusup...!!"
Sebuah teriakan sedikit membuyarkan Ruwandaru yang tengah berkonsentrasi untuk menarik dan mengangkat pusaka Paku Jagat.
Terlihat serombongan orang berdatangan ke arah dimana Jaya dan ketiga rekannya berada.
"Apa yang kalian lakukan di sini hah..!!," teriak seorang laki laki dengan baju sedikit aneh, di belakang orang tersebut terdapat puluhan orang yang mengikutinya.
"Teruskan usaha Paman, biar kami atasi mereka...!," seru Jaya kepada Ruwandaru yang terlihat menghentikan gerakannya, karena kedatangan orang orang tersebut,
Pemuda itu lalu meloncat, mendahului Prono Condro dan Lodaya, menghadang serombongan orang tersebut.
Nampaknya tetua Kalong Setan yang kini berdiri di depan Jaya bersama puluhan anak buahnya.
"Siapa kalian...?!!." bentak Suji Meniran, tetua Kalong Setan, menatap galak ke arah Jaya dan rombongan.
"Kalian siapa..?!," balas Jaya menatap orang orang di depannya, sambil mengulur waktu agar Ruwandaru berhasil menarik pusaka yang terpendam.
"Keparaat..!, ditanya malah balik bertanya, seraang...!!," Suji Meniran langsung memerintahkan anak buahnya menyerang para penyusup tersebut.
Wuuusss...
Anak buah Kalong Setan langsung menyerbu ke arah tiga orang yang masih menjaga Ruwandaru.
Prono Condro dan Lodaya langsung melesat maju, kedua tokoh Gagak Hitam itu menghadang para anak buah Kalong Setan yang sudah menyebar dan melancarkan serangan.
Wuuss...
wuuuss....
Sriing...! Sriiing....!!
Sambaran sambaran senjata langsung berdesingan menebas ke arah dua orang itu.
Traaang...!
Taaaaang...!!
Craaassh.... craash...
Dua tokoh tersebut langsung menangkis dan menebas membalas serangan anak buah Kalong Setan.
"Aaarch..!!, aaarrcrh....!."
Jerit dan lengkingan terdengar bersahut sahutan, saat badan anak buah Suji Meniran tertebas senjata Prono Condro maupun Lodaya.
"Matii...kau..!," seru Tokoh Gagak Hitam tersebut.
Sedangkan Jaya langsung melompat, melesat ke arah Suji Meniran dengan menghantamkan tongkat Wesi Kuning.
"HIAAAA....!.''
Wuuuuung...!
Jaya tak mau main main kali ini, hantaman tongkat Wesi kuning langsung di sokong oleh kekuatan pukulan Badai Matahari agar lebih cepat memusnahkan lawannya.
Melihat hebatnya hawa kekuatan lawan Suji Meniran langsung begidik ngeri, dia sedikit menghindar sambil menangkis gelombang serangan tersebut.
BLAAANG....!!
Tetua itu menangkis kuatnya gelombang hantaman Jaya yang mengandung hawa panas Badai Matahari, sambil menepi menghindar.
"Setan Keparaat...!, apa ini ..! gelombang panas mengejarku...!.''
__ADS_1
Mata Suji Meniran melotot saat menyadari hawa panas lawan yang menjilat badannya, untung saja sejak awal dia tak ingin beradu pukulan, malah terkesan menghindar sambil menepisnya hawa pukulan tersebut.
Suji Meniran langsung meloncat lari tunggang langgang, tak menghiraukan anak buahnya tak tengah di bantai lawannya.
**
KRATAAAKK..!!
Antareja mengendalikan tanah menyergap sesosok iblis yang menyerangnya.
BRAAAAKKK...!!
Iblis tersebut langsung menghantam tanah yang berubah menjadi sesosok menyerupai ular.
BYaaaarr...!!
"Ggrrhhh....!." Iblis itu mendengus, seakan mengatakan bahwa dia mampu mengatasi serangan tersebut dengan mudah.
"AAARRGGHH..."
Sang Iblis berteriak, meloncat mengayunkan senjata yang berupa semacam cangkul namun dengan ujung seperti garpu itu.
BLAAARRR...!
Antareja menangkis serangan tersebut dengan susah payah, karena begitu kuatnya tenaga Iblis yang kini makin bertambah besar badannya.
Tetua Bumi Langit itu terlempar dan berjumpalitan.
Sementara itu Wirabhumi sang sesepuh kelompok Bumi Langit tengah menghadapi Dua Layon yang nampak mengerubutinya.
Mati matian sesepuh tersebut melawan dua Layon yang merupakan bekas tokoh hebat di jamannya.
SRAAAAKKK...!
BYAAAARR...!
Bongkahan tanah tersebut sekses menghajar satu Layon, hingga terkubur.
Wuuusss...!!
Satu Layon yang masih tersisa langsung menebaskan pedang tombaknya memotong ke arah badan Wirabhumi.
TAAANG...!!
Sesepuh Bumi Langit itu menangkis sabetan senjata lawan.
Saat Wirabhumi masih sibuk meladeni satu Layon yang bersenjata pedang tombak, Layon yang tadi terperangkap di telan tanah muncul kembali ke permukaan.
BRAAAALLK....!!
"Setan Alaas....! makhluk apa mereka?,"
Mata Wirabhumi terbelalak, lawan bisa melepaskan diri dari himpitan tanah yang di buatnya.
Dalam dua hari ini dirinya di kagetkan dengan lawan lawannya, setelah sebelumnya dirinya terkejut dengan kehebatan Prono Condro saat bertarung dengan Antareja kini sosok Layon yang membuat nya geleng geleng.
"Aaah...apa ilmu *H**impit Bumi* sudah tak hebat lagi.??."
Sesepuh Bumi Langit tersebut, kini mulai tak percaya diri.
Dua Layon tersebut kini kembali menyerang sesepuh Langit Bumi.
Sabetan senjata dari dua sosok mayat itu membuat Wirabhumi terpontang panting kewalahan.
__ADS_1
**
Perang makin berlangsung dengan sengit.
Pasukan iblis yang bergabung dengan Layon makin terlihat hebat dan tangguh.
Hampir semua kelompok kesulitan menghadapi dua jenis makhluk tersebut (Iblis dan Layon).
Dari belasan kelompok tersebut kini hanya tinggal beberapa saja.
Di sayap timur kini tinggal tiga kelompok Awan Putih, Mata Iblis dan partai Es Abadi, sedangkan kelompok Bulan Merah sudah di hancurkan oleh pasukan Iblis dan para Layon.
Sedang di tengah padang tersebut hanya tinggal kelompok Api Suci dan Naga Hijau, tiga kelompok yang lain yaitu Bangau Putih, Rajawali Sakti dan Banteng Merah sudah di musnahkan oleh gabungan kelompok Jiwa Abadi.
Di bagian Barat, juga hanya tinggal Kuda Terbang, Bumi Langit dan gabungan pasukan Khusus Panca Buana.
Delapan kelompok tersebut kini tengah berjuang menghadapi gempuran pasukan Jiwa Abadi yang tinggal Pasukan Iblis dan Layon sedangkan pasukan manusia hanya tinggal beberapa orang saja.
**
"Aku sudah berhasil menarik pusaka itu Nakmas..!," teriak Ruwandaru yang kini tengah memegang sebuah keris kecil sepanjang satu jengkal berwarna kuning keemasan.
Teriakannya mengalihkan perhatian Jaya dan kedua anggota Gagak Hitam yang tengah bertarung melawan sisa anggota Kalong Setan.
"Kita bereskan semuanya...!, sebelum yang lain datang..!," teriak Jaya, memberikan perintah agar segera menghabisi sisa anggota kelompok lawan.
Sriing...! sriiing.....!!
Craassh...! craaash...!!
Dengan cepat Prono Condro dan Lodaya mengayunkan senjatanya, menebas sisa sisa anak buah Kalong Setan.
Saat hanya tinggal beberapa orang saja, dari jauh sudah terlihat pasukan Iblis dan beberapa Layon mendekat ke arah mereka.
"Cepatlah...!," teriak Ruwandaru yang terlihat panik melihat ratusan iblis makin mendekat.
"HIAAA...!!."
Jaya meloncat menebas sisa anak buah Kalong Setan sembari menyambar kantung kain tempat untuk membawa tiga orang rekannya tersebut.
Kemudian terbang dengan cepat meninggalkan tempat tersebut.
**
"Dasar sial ..!, keparat..!, ada yang mencuri Paku Jagat..!," teriak Iblis Wari yang pertama kali menyadari perubahan hawa aura di tempat tersebut.
Iblis Wora memejamkan matanya, merasai hawa pusaka Paku Jagat sudah hilang, lalu matanya membuka dengan cepat sedikit melotot.
"Kurang ajar ada yang berani main main rupanya..!."
Dwarakolo kaget mendengar dua rekannya mengumpat, "Ada apa..?.''
"Ada yang mencuri Paku Jagat..!."
"Haah..!, Paku Jagat..?." Panglima Iblis itu terkejut, namun tak juga tahu.
Iblis Wora dan Iblis Wari menerangkan bergantian apa fungsi dari pusaka Paku Jagat, membuat Panglima Iblis itu ikut murka.
"Kurang Ajar...!, kita habisi semua..!," teriak Dwarakolo dengan wajah makin kelam.
____________
Jejaknya.....
__ADS_1