Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Dua Bidadari


__ADS_3

Rombongan Pelangi sudah memasuki kota Gunung Emas.


Kota yang sangat megah untuk ukuran sebuah kota yang berada di luar Kotaraja.


Kota itu makin ramai karena memang terletak di perbatasan tiga Kerajaan Agung yaitu Pati Sruni, Karang Kadempel dan Karang Pandan itu sendiri sebagai penguasa wilayah tersebut.


Gadis muda yang belum genap dua puluh tahun usianya itu terlihat sangat terpesona, melihat kemegahan kota tersebut.


Meskipun selama beberapa bulan ini wawasan nya meningkat cepat tentang segala seluk beluk kehidupan, namun memang kota ini adalah kota terbesar pertama yang di kunjungi Pelangi.


Dirinya belum pernah ke Kotaraja Kerajaan Agung, hanya kota kota kecil yang di singgahi nya, paling hebat Kotaraja kerajaan kecil seperti kotaraja kerajaan Ngarsopuro dan Kotaraja Sirih Putih, itupun jarang bisa santai menikmati keindahannya seperti saat sekarang.


"Wah...luar biasa sekali kota ini ya Bi Satinem," seru Pelangi memandang ke kanan dan kiri, melihat keindahan kota besar tersebut.


Semenjak dari gerbang kota, sudah nampak berbagai usaha di gelar di jalanan kota tersebut.


"Lihat Den ayu...penjual makanan itu," tunjuk Satinem, yang melihat sebuah penjual sedang beraksi memperagakan pembuatan jajanan dengan atraksi yang cantik.


"Waaah.. hebat, dia bisa menarik para pembeli dengan gaya berjualan nya," seru Pelangi sambil memandang penjual yang masih melakukan atraksi tersebut, ingin rasanya menghentikan kereta yang di kusiri oleh Margono dan Sukarjo, untuk berjalan ke arah penjual yang di kerubuti pelanggan itu namun rasa malu kepada para abdi itu mencegahnya.


"Ayo kita ke pasar dulu, membeli kebutuhan padepokan perguruan," seru Satimen kepada Sukarjo dan Margono selaku kusir kereta tersebut.


**


"Hiaaaa...!!"


Ratu Mata Iblis meloncat menyerang kembali kearah Broto dento, menebaskan pedangnya menyasar kepala lawan.


Broto dento si Singa Emas sedikit mundur, menyilangkan kedua goloknya menangkis sambaran pedang itu.


CTAANG..!


Kedua senjata dari dua orang itu bertemu.


DUAAAR...!!


Gelegar suara benturan dua gelombang kekuatan yang bertemu itu terdengar cukup keras.


Keduanya sedikit mundur, menyiapkan serangan kembali untuk menggempur lawannya.


"Hiaaa...!!."


Kali ini Broto dento yang gantian meloncat menyambarkan golok di tangan kanannya.


Golok itu bergerak cepat, menyambar badan Ratu Dewi Mata Iblis.


Traaang...!!


Sang Ratu menangkis hantaman tersebut, dan saat Broto dento makin mendekat.


CLAAAAPP...!


Sebuah sinar melesat dari mata sang Dewi Mata Iblis, menerjang kearah Broto dento yang tak menyadari salah satu kekuatan dari lawannya tersebut.


BLAAAAAR...!!


Sinar itu menghantam badan Broto dento, meskipun dengan cepat Broto dento melindungi badannya dengan tenaga dalam yang di kerahkan nya namun hantaman sinar tersebut membuat tokoh sakti itu terlempar mencelat jauh.


"Aaarch..!!," teriak Broto dento yang terlempar berjumpalitan, untung saja dirinya bukan pendekar kacangan yang pastinya langsung mati dengan tulang remuk jika terhantam jurus tersebut.


Broto dento yang sudah melindungi tubuhnya dengan jurus Singa Baja Emas, tetap saja merasakan dahsyat nya jurus Mata Iblis ( dahsyat nya tingkatan jurus Mata Iblis bisa di lihat di chapter Kehebatan Mata Iblis).

__ADS_1


Tubuhnya yang sudah di lindungi ilmu kebal menurut kelompok nya tersebut tetap saja serasa remuk redam terhantam jurus Mata Iblis, meskipun sebenarnya kemampuan Ratu Dewi Mata Iblis juga belum sesempurna tokoh legenda dari Mata Iblis, salah satunya adalah Koloireng Betorokolo Mata Iblis.


"Aaarch...keparat aku kecolongan..," teriak pelan Broto dento sambil duduk di tempat jatuhnya, menghirup udara sebanyak banyaknya menghimpun untuk menjadi kekuatannya menolak hawa pengaruh jurus Mata Iblis.


Sementara itu di sebelah yang lain sang pendamping Ratu Mata Iblis masih bertarung dengan guru Tohjaya.


Kedua tokoh yang bersenjata pedang tersebut, masih saling serang dan saling hantam.


Sambaran sambaran pedang keduanya makin cepat, mencoba menghancurkan pertahanan lawan di hadapannya.


"Yeaaaa...!!"


Guru Tohjaya meloncat, memutar pedangnya mencoba menguliti lawannya.


Sang Pendamping sedkit mundur, menekuk kakinya dan sedikit membungkuk.


Traaang....!


CLAAAAPP...!


Sang pendamping menangkis sambaran pedang guru Tohjaya yang membuat pola putaran lingkaran untuk mencabik nya, di saat yang tepat sang pendamping mengeluarkan jurus Mata Iblis menghajar balik lawannya.


Selarik sinar melesat dari mata sang pendamping menghantam badan guru dari Kerajaan Agung Jongka Lengkong tersebut.


JDUAARRT....!!


Ledakan terjadi saat selarik sinar menghantam badan guru Tohjaya yang dengan cepat melindungi tubuhnya dengan jurus pertahanan diri, namun sedikit terlambat.


"Aaarch...!." Teriakan guru Tohjaya terdengar menggelegar.


Badannya terlempar kebelakang, berguling gulingan sedikit jauh.


Namun berkat jurus perlindungan tersebut tubuhnya tak mengalami cidera serius padahal terhantam telak jurus Mata Iblis.


"Hmm, rupanya kalian kelompok itu," seru guru Tohjaya dengan sedikit terhuyung mencoba bangun kembali.


Berita adanya kelompok kelompok baru yang bermunculan memang dengan cepat menyebar di dunia persilatan.


"Ya..kami kelompok Mata Iblis," sahut sang pendamping dengan nafas juga tersengal karena setiap mengeluarkan jurus Mata tersebut juga membutuhkan energi besar.


**


Rombongan Jaya sudah memasuki kota Gunung Emas dari arah yang berlawanan dengan rombongan Pelangi.


Matahari sudah condong ke barat, meskipun hari belum beranjak terlalu sore karena saat itu sinar nya masih terasa menyengat.


"Apakah kita akan bermalam di kota ini Kakang?" tanya Kumala yang terlihat begitu antusias melihat keindahan kota.


"Hmm, nampak begitu Dinda, kita istirahat dan bermalam disini."


Kumala terlihat bersorak gembira, gadis cantik itu nampak tersenyum senyum kesenangan.


"Aku nanti akan keliling kota melihat pemandangan," seru nya kegirangan.


"Boleh saja setelah kita menemukan penginapan nanti," balas Jaya Sanjaya dengan terus mengikuti kuda Narimo yang menuju ke arah sebuah penginapan.


Dan tak terlalu lama mereka berkuda sampailah mereka di sebuah penginapan yang terlihat cukup besar dan mewah, karena memang Jaya selalu memilih penginapan yang bagus jika ingin menginap, kecuali dalam keadaan terpaksa tak ada penginapan bagus baru dia akan menginap di sembarang tempat.


Rombongan itu pun memasuki tempat tersebut, setelah memesan kamar yang bersebelahan mereka terlihat menikmati makanan yang di sajikan oleh penginapan itu karena memang paketnya sekalian makan di sana.


"Kakang aku mau jalan jalan apa boleh?" kata Kumala merajuk kepada Jaya di tengah tengah mereka menikmati makanan di sana.

__ADS_1


Jaya berpikir sejenak, "Ajaklah paman Narimo agar tak tersesat," sahut Jaya.


"Aku tak bisa menemani karena ada beberapa hal yang harus aku bicarakan dengan empu Cipta guna juga paman Baroto Sarkawi dan paman Pitu Geni," sahutnya lagi.


Kumala mengangguk, tersenyum senang, begitu juga dengan Narimo yang mendapat kan perintah tersebut.


**


Kumala sengaja meninggalkan kuda di penginapan, mereka hanya berjalan kaki melihat lihat pemandangan kota tersebut.


"Hati hati Den ayu, jika menyimpan uang karena di sini terkenal akan kejahatan sindikat copetnya." kata Narimo memperingatkan Kumala.


"Oh, begitu ya paman?" sahut Kumala lalu menyimpan buntalan uang emas di balik bajunya yang rangkap tersebut, dan hanya mengeluarkan beberapa di saku luarnya jika ingin membeli sesuatu.


Keduanya makin menjauh dari penginapan, berjalan kaki menuju ke berbagai keramaian yang makin meriah karena hari menjelang malam.


"Lihat paman, ada keramaian disana, apakah itu juga pertunjukan disini," seru Kumala menunjuk ke sebuah arah dimana terdapat banyak orang mengerumuni sesuatu.


Dilihat oleh Kumala beberapa orang nampak sedang di keroyok oleh beberapa pria dengan tampilan yang terlihat garang.


"Cuiih, kalian mencoba mencuri uang kami tapi masih juga mengelak..!," teriak Sukarjo kepada sekelompok orang yang kini tengah mengurungnya.


"Kau jangan asal bicara, kelompok Tupai Terbang tak akan melakukan itu..!," bentak salah satu dari pengepung tersebut.


Sesaat terdengar suara "Huuu" dengan riuh, namun tak ada seorang pun yang berniat maju membela rombongan Pelangi tersebut.


Mereka meneriakkan "Huuuu..." karena tahu jika kelompok Tupai Terbang adalah kelompok pencopet dan Pencoleng hanya saja Kelompok ini juga dekat dengan penguasa keamanan wilayah tersebut, jadi mereka merasa aman dan seakan terlindungi aksinya, entah mengapa bisa seperti ini.


"Kami tak asal menuduh, aku lihat dengan kepala sendiri kalian mencoba melakukan pencurian hingga aku laporkan kepada paman dan bibi ku..!," teriak Pelangi yang memang memergoki beberapa orang tersebut mencoba mencuri beberapa barang dari kereta mereka.


"Tutup mulut mu gadis kencur..jika tak ingin menyesal nantinya..!," balas salah satu anggota Tupai Terbang menghardik dengan keras.


Akhirnya keributan pun terjadi, dengan sebuah serangan yang dilakukan oleh anak buah Tupai Terbang ke arah Sukarjo, Margono dan Pelangi.


Sedangkan Sutinem yang tak bisa bertarung hanya menggigil ketakutan dilindungi oleh ketiga orang lainnya.


Banyaknya jumlah pengeroyok dan adanya seseorang yang harus di lindungi membuat Pelangi, Sukarjo dan Margono sedikit berkurang konsentrasi nya, apalagi adanya pesan sang guru yang melarang menggunakan jurus Mata Dewa di sembarang tempat membuat gadis itu tak bisa leluasa bertarung.


"Awaas adik..!!," sebuah teriakan seseorang menyadarkan Pelangi dari sambaran pedang dari arah belakang.


Traaang...!!


Pelangi menangkis serangan itu membuat nya sedikit terdorong Karena kuatnya hantaman lawan.


Disaat pelangi mau di serang kembali tiba tiba seorang gadis yang tak lain adalah Kumala sudah menghadang serangan lawan.


Traaang...!!


Pedang lawan di tangkis Kumala yang kini berdiri bersisihan dengan Pelangi.


Dua gadis yang sama sama cantik itu saling bersitatap dan melempar senyum.


"Terimakasih kakak cantik," kata Pelangi sambil tersenyum.


"Sama sama adik manis," balas Kumala tersenyum pula.


Kedua gadis yang cantiknya seperti bidadari itu saling tersenyum di sela sela mengahadapi gempuran lawan.


_____________


Jangan lupa tinggalkan jejak nya....

__ADS_1


__ADS_2