Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Kelompok Sang Mayat


__ADS_3

Beberapa puing puing bangunan nampak berserakan dimana-mana.


Sekelompok orang terlihat masih berdiri di sana, menatap sisa sisa bangunan yang kini hanya tinggal beberapa yang terlihat masih utuh berdiri.


"Cari yang masih hidup dan bunuh.., jangan ada saksi mata jika sudah begini," teriak salah satu orang dengan wajah datarnya.


Pandangan tanpa ekspresi dan terkesan dingin dari pria tersebut terbukti sangat menakutkan.


Semua segera bergerak menuruti perintah nya, kembali mencari sisa sisa para penghuni tempat tersebut yang mungkin bersembunyi di sela sela reruntuhan.


"Sisir sebelah sana, jangan ada yang terlewat...!," teriak pria dengan muka merah, memberikan perintah kepada anak buahnya, menyambung perkataan dari pria pucat tanpa ekspresi tadi.


Pria tanpa ekspresi dengan wajah pucat itu mengedarkan pandangannya begitu menangkap sebuah bayangan, menatap sekelebat sosok dari jarak jauh, seketika bersiap ingin mengejarnya untuk menyambut jika itu dari pihak lain, namun di urungkan nya setelah mengetahui itu adalah salah satu anak buahnya yaitu Burgundi.


Pria pucat tanpa ekspresi yang bernama asli Rakumba dan lebih di kenal dengan sebutan Sang Mayat adalah tetua kelompok penyerbuan yang di kirim oleh Jiwa Abadi.


Bersama Burgundi dan pria berwajah merah yang bernama Jalak Wiguna ketiganya mendapatkan tugas mengajak perguruan Cemoro Sewu menjadi bawahannya, namun ternyata terjadi hal yang tak diinginkan yaitu malah terjadi peperangan, maka untuk menutup semuanya mereka harus membasmi kelompok Cemoro Sewu tersebut hingga seakar akarnya.


"Bagaimana?," tanya Rakumba sang Mayat dengan wajah tanpa ekspresi, menatap Burgundi yang kini sudah didekatnya dengan nafas tersengal.


"Maaf tetua semua sudah aku bereskan, hanya tinggal satu orang tapi tak berhasil aku musnahkan karena ada campur tangan sekelompok orang," sahut Burgundi dengan tertunduk, sedikit ketakutan wajahnya.


Plaaaakkk...!


"Bodoh..!," bentak Rakumba sang Mayat, tanpa di ketahui gerakannya oleh Burgundi, tangannya sudah menampar wajah pria botak tersebut.


Burgundi hanya makin menunduk, mempertahankan badannya yang oleng karena tamparan itu hingga mampu dia kuasai kembali.


"Sekelompok orang katamu..!" bentak Rakumba sang Mayat.


"Benar Tetua.."


"Mereka terdiri dari orang orang dengan keahlian berbeda."


"Maksudmu??"


"Dari kelompok tersebut ada yang memiliki kemampuan element Api tapi mereka bukan kelompok Api Suci." sahut Burgundi dengan masih tertunduk.


"Keparaat.." gumam Rakumba sang Mayat mendesis pelan, "Berani mencampuri urusan Jiwa Abadi."


Jalak Wiguna yang sudah menghampiri dua orang tersebut untuk melaporkan jika sudah tak ada sisa anggota Cemoro Sewu sedikit terkejut, mendengar cerita rekannya tersebut.

__ADS_1


"Apa perlu kita buru kelompok itu tetua?." usul Jalak Wiguna.


Rakumba terdiam sejenak, berfikir, "Tidak perlu, kita tak ada waktu untuk hal itu, setelah kita melaporkan kejadian di sini, mungkin kita akan mendapatkan misi baru lagi," kata Rakumba akhirnya mengambil keputusan.


Burgundi dan Jalak Wiguna kemudian mengangguk, lalu mengumpulkan anak buahnya untuk meninggalkan tempat tersebut kembali ke markas Jiwa Abadi yang tersembunyi.


**


Semua sudah duduk di pendopo yang ada di kediaman Randu Sembrani, setelah istirahat sejenak semenjak kedatangan mereka dini hari tadi.


Tokoh sepuh tersebut tengah menjamu para tamu yang datang bersama Jaya Sanjaya itu.


Semua saling memperkenalkan diri, yang tentu saja di mulai dari sang tuan rumah.


"Namaku Randu Sembrani dan ini istriku Nyai Nilam Sari, kami pemilik padepokan Sedulur Tunggal Nasib, karena terdiri dari orang orang yang bernasib sama dan tinggal bersama di hunian yang aku bangun ini."


"Kami bukan perkumpulan ilmu bela diri, meskipun ada murid yang ku ajarkan ilmu Kanuragan yang ku miliki, namun kami belum pantas di sebut kelompok perguruan atau sebuah perguruan, jadi dalam dunia persilatan kami belum di perhitungkan bahkan untuk di golongkan dalam kelompok pemula sekalipun." kata Randu Sembrani.


Memang secara terbuka kelompok Mata Dewa belum banyak di ketahui orang, meskipun begitu para tokoh persilatan banyak yang mengetahui keberadaan kelompok ini, apalagi semenjak pencuri bertopeng berkelana dan sering memamerkan jurus Mata Dewa.


Setelah sang tuan rumah memperkenalkan diri, berturut turut para pengikut Jaya memperkenalkan dirinya, di mulai dari Kumala.


"Nama saya Kumala, dari sebuah kelompok yang bahkan sekarang sudah tak mengetahui keberadaan ku karena bagi mereka aku sudah mati setelah di racun oleh mereka, dan di buang di sebuah jurang."


Semua menatap Kumala termasuk sepasang suami istri tuan rumah.


"Kalau boleh tau, dahulu anak Kumala ini dari kelompok apa?." tanya Nyai Nilam Sari penuh selidik.


"Maaf Nyai, sebenarnya kita pernah bertemu sekali saat kita sama sama dalam perjalanan, saya dulu dari kelompok Mata Iblis," kata Kumala dengan lemah.


Randu Sembrani dan Nyai Nilam Sari sedikit terkejut, begitupun Pelangi yang tak mengira akan hal itu.


Sedikit banyak Randu Sembrani dan Nyai Nilam Sari pernah bercerita tentang kekuatan kekuatan yang berasal dari jurus mata, termasuk jurus mata Malaikat yang tak pernah di cerita kan kepada siapapun, kecuali pada Pelangi karena murid kesayangan, yang sudah dianggap anak oleh mereka berdua.


"Kamu pengguna jurus itu?"


"Benar sesepuh"


Randu Sembrani tersenyum simpul, entah apa yang di fikirkan nya.


Setelah Kumala selesai memperkenalkan diri disambung oleh Baroto Sarkawi yang memperkenalkan diri berasal dari kelompok Tinju Baja, lalu Pitu Geni yang memperkenalkan diri dari kelompok Api Suci khususnya trah Darah Api, lalu Narimo yang mengatakan bekas telik sandi atau mata mata bayaran.

__ADS_1


"Saya Cipta guna, salah satu pengikut Nakmas Jaya, tak memiliki kelompok perguruan karena kemampuan saya tidak di bidang itu."


Randu Sembrani menatap pria yang mungkin seumur dengan nya tersebut.


"Maaf...siapa tadi nama kisanak?, apakah kita pernah bertemu? dan apa keahlian kisanak ini?" tanya Randu Sembrani.


"Aku hanya seorang pembuat senjata," sahut empu Cipta guna pelan, membuat Randu Sembrani dan Nyai Nilam Sari terbelalak.


"Jagat Dewa Batara..! kau pembuat pedang kilat-petir milik kami..!," teriak Nyai Nilam Sari dengan terkejut.


Empu Cipta guna pun tak kalah terkejut dengan berita itu, dahulu kala dia pernah membuat sepasang pedang dengan kekuatan kilat dan petir yang menjadi perebutan di jagat persilatan, sebuah senjata yang berhasil di ciptakan nya atas wangsit dari Sang Pencipta.


Hingga beberapa dekade akhirnya sepasang pedang tersebut di miliki oleh sepasang pendekar sakti tapi sang empu tak tau siapa sepasang pendekar tersebut.


"J..j.jadi ..ttuan dan nyonya pendekar ini sepasang pendekar itu?." seru empu Cipta guna, melebarkan matanya.


Randu Sembrani dan Nyai Nilam Sari mengangguk, ketiga tokoh tua itu kemudian terkekeh senang menyadari hal tersebut.


Setelah Sugara dari Cemoro Sewu memperkenalkan diri, ketiga tokoh tua itu terlihat menyingkir, duduk di sudut tersendiri untuk berbincang bertiga.


"Tak menyangka kami akan bisa bertemu dengan Empu Cipta guna di rumah kita ya kakang," kata Nyai Nilam Sari sambil tersenyum sopan menatap tamunya.


"Benar Dinda, sebuah keberkahan bisa bertemu dengan pencipta pedang Kilat-petir," sahut Randu Sembrani tersenyum senang.


"Saya juga sangat bersyukur, senjata buatan ku di gunakan oleh sepasang pendekar Budiman seperti anda berdua," kata Empu Cipta guna tak kalah sopan nya.


Mereka bercerita panjang lebar, menceritakan berbagai peristiwa dan berbagai kejadian yang terjadi selama hidup nya, hingga bagaimana mereka bisa mendapatkan sepasang pedang tersebut.


Mereka kembali terkekeh dan perbincangan beralih ke masalah Jaya yang tengah membangun kekuatan.


"Sebuah keberuntungan kami memiliki Jaya dan Pelangi dalam hidup kami," sahut Nyai Nilam Sari.


"Ya kami beruntung di pertemukan dengan mereka, sepasang pemuda yang bersedia membela kebenaran dan keadilan." Randu Sembrani menimpali perkataan istrinya.


"Benar apa kata tuan dan nyonya, saya juga sangat beruntung bisa menjadi bagian dari kelompok nya, setelah saya di tolong nya."


"Saya dapat merasakan sebuah aura kemuliaan dan pemimpin ada pada Nakmas Jaya." kata Empu Cipta guna.


"Ya.. anak itu sedang berjuang mewujudkan dunia persilatan yang lebih baik lagi di bawah kendali nya," Randu Sembrani berkata sambil menatap Jaya yang masih bergurau dengan Pelangi dan Kumala sedikit jauh dari ke-tiga nya.


___________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak nya...dukungan kalian membuat karya ini bisa terus eksis... terimakasih Kaka Kaka semua...


__ADS_2