Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Kejutan untuk Junara


__ADS_3

"HIAAAA....!!.''


CLAAAPP....!!


Koloireng meloncat melesat sambil melepaskan pukulan Badai Mamba Hitam, diiringin dengan lesatan Jurus Mata Iblis yang memancar dari matanya.


Pancaran gelombang yang membentuk lapisan tipis dari mata sang tokoh legenda melesat bersama asap hitam yang keluar dari kedua lengan nya.


Blegaaarttth...!!


Ledakan terjadi saat pukulan Koloireng membentur badan Kiwo dan Tengen yang kini di kendalikan oleh Junara.


Dua sosok itu terpental kebelakang beberapa langkah, badannya terluka bahkan tulang tulangnya banyak yang patah, dengan pakaian sedikit tercabik dan robek, tapi itu tak lama, perlahan namun pasti tubuh dua sosok itu kembali pulih seperti sedia kala.


"Semprool..!, aku benar benar nyerah kalau begini terus..!, mayat mayat kampreeet...!!" Koloireng mulai mengeluh kecil, bagaimanapun juga melawan sosok yang tak mampu di matikan akan membuat frustasi juga.


**


Pitu Geni masih menari nari dengan golok Wisogeni yang sudah membara dan berkobar kobar.


Sambaran senjatanya banyak membuat pasukan Bayangan Kegelapan berguguran.


"Ayo...maju jika kalian ingin terpanggang...!."


Pitu Geni kembali melesat menyambar beberapa anggota Bayangan Kegelapan yang akhitnya tak berani seagresif semula.


TAAANG..!


"Aku lawan mu...!.'' sebuah teriakan tiba tiba menggelegar sembari menangkis sambaran golok Pitu Geni yang menyala.


Selama pertarungan ini tak ada yang berani menghadang dengan menangkis senjata Pitu Geni yang berkobar.


Hawa dingin terasa menyeruak begitu senjata lawan menangkis golok Pitu Geni.


"Hmm, pengendali Es yang berhianat..!." seru Pitu Geni menatap lawan yang menangkis goloknya.


"Kayak situ bukan penghianat saja..!, kau juga pengguna api tapi melenceng di kelompok lain..!," balas si penghadang serangan Pitu Geni, yang merupakan seorang tetua di Bayangan Kegelapan bernama Harjo Junad.


Harjo Junad adalah seorang pengguna air/es yang sejak lama terusir dari partai Es Abadi karena suatu sebab. Setelah meninggalkan kelompok asalnya dirinya bergabung dengan kelompok golongan hitam yang saat itu tak banyak di ketahui publik, Bayangan Kegelapan.


"Baik tak usah banyak cakap..!, aku akan hadapi kau..!," teriak Pitu Geni, kini sedikit merubah pola permainannya, dirinya yang berasal dari kelompok Darah Api sudah sering berhadapan dengan pengguna kelompok partai Es Abadi.


Golok Wiso Geni kini tak menyala selayaknya obor, tapi hanya membara saja, tapi jangan salah justru golok yang hanya terlihat membara inilah yang mengandung titik panas api yang lebih tinggi.


"Hiaaaa...!!.''


Harjo Junad meloncat menebaskan pedangnya yang sudah memutih, dahulu di partai Es Abadi dia belum menjabat sebagi tetua Ring Lingkaran apapun, dan sebenarnya kekuatannya masih di bawah Pitu Geni.


DUAAAR...!


Benturan terjadi dari dua senjata yang berbeda suhu tersebut, gelombang panas membakar dan dingin membekukan, langsung menyebar saat dua kekuatan itu bertubrukan.

__ADS_1


Dua tokoh tersebut langsung terpental mundur, dengan Harjo Junad terpental beberapa langkah lebih jauh.


"Huh, cuma segitu..?." Pitu Geni mencoba meledek lawan, membakar emosi dari lawannya.


"Aku belum mengeluarkan seluruh kekuatan ku..!." Harjo Junad meradang, merasa di sepelekan lawan.


"Kau pikir aku sudah mengeluarkan seluruh kemampuan ku..?." balas Pitu Geni.


**


Sementara itu Baroto dan anak buah Awan Putih membantu tetua Sarino memimpin anak buah Tiga Batu Jajar menghadapi anggota Bayangan Kegelapan yang lainnya.


Seandainya tak ada bantuan dari kelompok Awan Putih, pasti sudah semenjak tadi perguruan Tiga Batu Jajar di musnahkan. Saat ini saja dengan bantuan Awan Putih mereka masih berimbang.


Taang...! Taangg...!!


Baroto menangkis setiap sambaran senjata lawan dengan dua lengan yang kini sudah menghitam.


Jurus Tinju Baja yang di kerahkan oleh Baroto terbukti mampu meredam setiap serangan yang menghampiri nya.


"Jangan patah semangat..!, ayo hadapi para penyerang..!," teriak Baroto, membangkitkan semangat seluruh anggota disana.


Pertarungan makin seru, kedua belah pihak ngotot ingin memenangkan pertempuran itu.


**


Koloireng makin terdesak, serangan serangannya memang masih menyengat, namun itu tak berarti apapun.


Dua senjata Jangkar berantai dengan tiga mata kail itu makin menakutkan mengurung sang Legenda.


Sreeettt...!


Sreeettt...!!


Jangkar itu melesat dari dua arah mencoba mencabik badan koloireng.


"Mati kau..!," teriak Junara dari sisi samping, menyaksikan dua senjata Kiwo dan Tengen melesat mengurung lawannya.


Dengan terpontang panting Koloireng meliuk, menghindari setiap sambaran Jangkar yang seperti punya mata selalu mengejar lawan.


"Aarggh..!," Koloireng menjerit tertahan saat hampir saja tercabik senjata aneh tersebut.


Sang Legenda itu meloncat menjauh, untuk mengambil sedikit nafas nya sambil mencoba berfikir mencari cara bagaimana mengalahkan lawannya.


"HIAAA....!!."


CLAAAPPP...!! Koloireng kembali meloncat melesat melakukan serangan, namun kali ini tak mengarahkan serangan kepada dua Layon tersebut tapi ke arah Junara yang berdiri di pinggir arena pertarungan.


Begitu ada serangan mengarah ke Junara, Kiwo yang sedikit dekat dengan sang "Tuan" langsung melempar diri nya, untuk menghadang lesatan dua pukulan Mata Iblis dan Badai Mamba Hitam dari Koloireng.


BLaaaaarr...!! , Kembali dua serangan Koloireng buyar karena menghajar badan Layon tersebut, membuat sosok separuh tubuh manusia dan separuh lagi tak jelas apa materi penyusunnya itu terseluruk dan terlempar ke tanah, namun Junara selamat.

__ADS_1


Tengen langsung mendekat ke arah Junara, seakan melindungi sang tuan, mengantisipasi jika ada serangan susulan yang tak terduga seperti tadi.


"Siaal...," umpat Koloireng, begitu melihat sosok Kiwo sudah pulih dan kini bergerak mendekat.


"Lama lama aku bisa benar benar mati di sini, jika terus seperti ini."


Koloireng sudah patah semangat, melarikan diri sama saja memberikan nyawa anak buah Awan Putih bagi musuhnya, terus melawan?, semua seakan tak ada artinya, karena lawan mampu pulih kembali.


"MATIKAAN..!."


Teriak Junara kepada dua Layon, seakan memerintahkan untuk segera memusnahkan lawannya.


Koloireng sudah pasrah, akan melawan sekuat tenaga hingga jiwa melayang jika memang harus tewas dalam pertarungan itu.


Sreeett...!


Sreeettt...!


Dua senjata lawan kembali melesat ke arah badan Koloireng, kali ini lesatan serangan itu makin menakutkan dengan gelombang kekuatan yang mengiringinya.


Koloireng hanya mempu menyilangkan senjata, mencoba menangkis serangan yang mencoba mencabik raga nya.


BLUAAAARR...!!


Tiba tiba sebuah gelombang serangan menghantam, menghalau dua lesatan senjata aneh dari dua Layon itu.


Ledakan serangan yang begitu kuat itu hingga membuat Junara oleng dan terdorong ke belakang bersama dua Layon yang melingkupi seakan melindungi nya.


"Bang-saat...! Kepa-raaatt...!!, siapa lagi ikut campur...!!." teriak Junara murka dengan sosok yang di rasanya ikut campur itu.


Tubuh Junara yang di lingkupi dua Layon untuk melindunginya itu terlempar terguling, namun berhasil selamat tak ada luka sedikitpun karena di lindungi Kiwo dan Tengen.


Jaya sudah berdiri tegak, diantar Koloireng dan lawannya.


"N..Nakmas Junjungan..!!." teriak Koloireng tergagap, antara percaya dan tidak, karena sudah hampir satu purnama lebih tak ada berita apapun, kini ada di hadapannya bahkan menyelamatkan nyawa nya.


"Kakek bantu yang lain, atau mau istirahat sejenak?, biar aku bereskan sisa iblis yang masih berkeliaran ini." Jaya berkata dengan suara yang menenangkan terdengar oleh Koloireng, sambil menunjuk ke arah para Layon yang masih melingkupi tuannya.


Koloireng mengangguk saja, masih terpaku dan tak percaya dengan apa yang terjadi.


"Kepa-raaat...!!, siapa kau ikut campur..!!." Junara meradang, marah dengan kedatangan Jaya yang di rasa ikut campur.


"Aku Malaikat pencabut nyawa..!, yang akan mencabut nyawamu bersama kroni kronimu..!," balas Jaya sambil menyeringai.


Junara makin merah wajahnya, amarahnya makin memuncak.


"Kita lihat siapa yang akan mati di sini..!, kau tak tahu siapa dua pengawalku..!." seru Junara sambil bangkit di ikuti dua sosok Layon yang telah pulih kembali.


"Baik..kita lihat saja..!," balas Jaya, sudah mengeluarkan senjata tombak dan perisai dari ruang dimensi yang membuat tetua Bayangan Kegelapan itu terkejut kaget.


___________

__ADS_1


Jejaknya.....


__ADS_2