
"Bocah kurang ajar..!, tak ada sopan santun nya..!," kata Moncong Putih menimpali umpatan Raja Api dari Utara.
"Justru kalian tua Bangka tak ada akhlak..datang datang ketempat orang tak ada sopan sopannya...!," balas Sumanjaya yang tiba tiba sudah berada di dekat Jaya Sanjaya.
Moncong Putih dan Raja Api dari Utara menatap para petinggi Awan Putih yang kini sudah berdatangan di gerbang tersebut.
"Cuiih...!, keluar kalian semua..!, kami berdua tak akan gentar dengan kelompok ini..!." seru Moncong Putih menantang, begitu melihat orang orang berdatangan di tempat tersebut.
"Sekalian semua datang kemari..!, biar kami mudah memanggang kalian disini..!," teriak Raja Api dari Utara menimpali nya.
Semua petinggi Awan Putih, sudah mau maju menyerang sepasang kakek tua dengan mulut bocor tersebut, namun Jaya menahannya.
"Tahan...!, paman dan kakek ..!, biar aku hadapi dua orang ini." kata Jaya menahan semua yang ada disana, dengan merentangkan kedua tangannya.
"Katakan siapa kalian? dan apa peran kalian di Api suci..?." kata Jaya lagi, dengan melangkah maju kedepan.
Pitu Geni sedikit terkesiap, dia yang pernah berada di Api Suci belum mengenal sosok tersebut, tapi dua kakek tersebut menyebut mereka anggota Api Suci.
"Perkenalkan aku legenda Api Suci namaku Moncong Putih..!." sahut sang Kakek dengan berkacak pinggang, terlihat sangat sombong.
"Dan Aku Raja Api dari Utara..," seru tokoh legenda dari Utara tersebut menyambung perkataan Moncong Putih.
Pitu Geni terbelalak matanya, dia sedikit gemetaran mengingat dua nama tersebut adalah tokoh hebat di jamannya, dan menjadi legenda di Api Suci.
Jaya hanya mengangguk saja mendengar nama tersebut, masih tetap tenang.
"Bagaimana? kami takut? lutut mu gemetaran..heum??," sindir Moncong Putih tersenyum miring.
"Buat apa aku gemetaran, aku masih muda, masih segar bugar belum buyutan, seperti kalian.. he..he..he..." Jaya menjawab sambil mengejek, lalu makin maju ke depan.
"Sontoloyo..bocah edan..!," bentak Raja Api dari Utara meradang mendengar balasan Jaya Sanjaya.
Jaya terkekeh, "Kalian mau bertarung sekarang apa mau perang mulut? dari tadi hanya ngobrol saja."
Nampak dua kakek itu saling pandang, mereka tiba tiba melakukan suit, batu-gunting-kertas menentukan siapa yang akan bertarung duluan.
"Tak usah berebut, kalian maju langsung..!, berdua berbarengan..!."
Moncong Putih menatap Jaya, "Kami bukan orang tak tahu aturan..!, main keroyok...!, memalukan saja..!."
Raja Api dari Utara sudah maju kedepan berhadapan dengan Jaya, nampaknya dia yang memenangkan suit batu-gunting-kertas tadi.
"Ayo mulai anak muda...!." seru pria tua tersebut, mulai memainkan jurus jurus tangan Kosong nya.
Nampaknya sosok tua itu ingin bertarung tangan kosong dahulu, mencoba menjajaki sekuat apa lawannya.
"Hati hati anak muda..!," teriak Raja Api dari Utara, melesat maju menghantamkan pukulannya.
Wuuusss...!!
Sebuah serangan tangan kosong melesat menyasar badan Jaya.
Hantaman dengan gelombang panas itu mengarah ke dada Jaya.
Laaapp..!
__ADS_1
Jaya menghindar dengan sedikit melesat menjauh dari gerbang Awan Putih, tak ingin merusak tempat itu.
Merasa pukulannya tak berhasil, Raja Api dari Utara mengejar menendang perut Jaya.
Wuuuung...!!
Plaaakk..!!
Tendangan itu di tepis dengan tangan Jaya, sedikit kaget Raja Api dari Utara mendapatkan tangkisan itu.
Biasanya yang menangkis serangan tersebut tangannya akan kepanasan, namun anak muda lawannya itu masih terlihat santai seakan tak merasa panas sedikit pun.
Jaya makin melesat menjauh hingga jarak mencapai ratusan tombak dari markas Awan Putih, dia memang sengaja menjauh dari sana.
"Jangan lari kau bocah..!," teriak Raja Api dari Utara makin meradang dan mengejar, serangannya masih tak berhasil mengenai sasaran.
Jaya yang merasa di kejar sosok itu masih terus berlari menghindar, makin menjauh dari markas Awan Putih.
Namun tiba tiba Jaya berbalik, dan menyerang Raja Api dari Utara, begitu dirasa jaraknya sudah aman dari markas nya.
"Hiaaaa...!!."
Sedikit terkejut sang kakek, karena tiba tiba lawannya berbalik dan melakukan serangan mendadak ke arah dadanya.
BLAAAAAARR...!!
Pukulan Jaya yang mengarah ke dada nya di tangkis sang Kakek, terjadi ledakan saat dua pukulan itu bertemu.
"Kampreeet..!." seru Raja Api dari Utara begitu lengannya terasa kebas, dan badannya terpental mundur.
Legenda Api Suci dari Utara itu menarik nafasnya, makin meningkatkan kekuatannya meski masih akan bertarung dengan tangan kosong.
Kini asap tipis mulai mengepul dari badannya, menandakan kekuatannya sudah makin meningkat.
Jaya pun tak lagi menghindar, kini tetua Awan Putih itu sudah mulai memainkan Jurus baru nya, dari kedua telapak tangannya keluar asap tipis yang makin lama makin tebal hampir menyelimuti dua telapak tangan dan kaki Jaya, sekarang keduanya sudah saling berhadapan.
"Hiaaaa...!."
Raja Api dari Utara meloncat kembali menyerang dengan pukulan bertubi tubi, kecepatan nya makin meningkat dengan hawa panas yang makin terasa menguar di udara.
Wuuuss....!
Wuuuuusss..!!
Jaya memapag dengan pukulan dari jurus baru yang di kembangkan nya yaitu Gelombang Awan Menerjang tingkat V tersebut.
BLEGAAAART...!!
Dua pukulan kembali beradu, hawa panas yang di hantamkan oleh Raja Api dari Utara itu terserap begitu saja oleh sebuah asap yang tercipta dari kedua telapak tangan Jaya, membuat Raja Api dari Utara makin pias wajahnya.
"Setaan Berandalan ...!," racau tokoh tua itu, kembali meloncat menyerang, namun kali ini sambil menarik dua pedang yang sudah terlihat membara.
Makin lama bara dua pedang tersebut makin terasa panas oleh orang orang yang ada disana.
"Hheeaa...!.''
__ADS_1
Dua pedang tersebut mulai melontarkan Api dari permukaannya meloncat loncat menyambar nyambar kearah badan Jaya.
Jaya juga sudah mencabut pedang Angin Puyuh, membuat angin berdesiran menepis sambaran api dari pedang lawannya.
Kabut asap tersebut kini juga menggumpal mengitari pedang Angin Puyuh yang menangkis hantaman lompatan api dari senjata musuh.
TAAAANG...!!
Jaya menepis pedang lawan tersebut dengan keras, membuat sedikit celah terbuka, saat Raja Api dari Utara mencoba mempertahankan pedang yang hampir terlepas dari genggaman nya, akibat tepisan yang kuat.
BOUUUGH...!!
Kaki Jaya menjejak dada lawan begitu ada celah kosong, dan anehnya kabut asap dari kaki Jaya langsung menempel di dada Raja Api dari Utara begitu kaki Jaya menendang bagian tubuh lawannya itu, sesaat kabut asap tersebut menyerap energi sang lawan, membuat kakek itu gemetaran sekejap, karena kekuatannya buyar sesaat.
"Aaaaarrcchh...," jeritnya lirih.
Raja Api dari Utara terpental kebelakang, selain karena kuatnya tendangan juga karena energi nya terasa berkurang sesaat, terserap kabut asap yang menempel di dada nya.
Moncong Putih yang menyaksikan pertarungan itu langsung meloncat maju untuk membantu Raja Api dari Utara yang terlihat terdesak.
Rasa gengsi sudah hilang tak berbekas, menyadari kehebatan lawan yang terlihat dominan menyerang rekannya.
WOOOZZZZ....
Moncong Putih langsung mengeluarkan jurus andalannya, api memancar dari mulut sang legenda menyambar badan Jaya.
Jaya yang tak mengira akan diserang hanya melempar badannya menghindari semburan panas yang di ciptakan dari jurus andalan Moncong Putih.
Semburan itu mengenai batang pohon yang langsung terbakar.
"Cuuiih..!, katanya tahu aturan tak main keroyok..!, dasar tua tua pikun.''
Ledek Jaya, sambil meningkatkan kekuatannya, menaikan tingkatan jurus Gelombang Awan Menerjang, begitu lawan makin mengganas.
Asap ciptaan Jaya makin tebal dan banyak hingga dua lengan dan kakinya seperti terselimuti kapas putih.
Dua lawannya tersebut terpana dengan jurus yang Jaya keluarkan, mereka belum pernah bertemu dengan lawan yang seperti ini.
"Rupanya bocah iblis ini benar benar merepotkan..!," seru Raja Api dari Utara yang sudah kembali mengepung Jaya.
"Benar.., kita tak boleh main main lagi ..," balas Moncong Putih yang kini sudah mengeluarkan senjatanya, sebuah tongkat yang aneh, dengan ukuran lebih besar dan tengahnya berlubang, lebih mirip selongsong baja.
Hawa panas makin menyebar, membuat rumput dan tanaman disana layu, akibat kuatnya kekuatan lawan yang menguar.
Jaya sudah mengeluarkan tongkat Wesi Kuning, yang di pegang di tangan kirinya sedangkan tangan kanan tetap memegang pedang Angin Puyuh.
"Bisa kita lanjutkan...!," Jaya berkata sambil meledek lawannya, yang kini juga sudah bersiap.
"Hiaaaa...!!."
"Hiaaaaa...!!."
Kembali dua legenda itu meloncat maju menyerang Jaya dengan kekuatan penuh, tak lagi di tahan tahannya.
____________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak nya.....