
Rombongan Jaya sudah meninggalkan kota Gunung Emas, mereka berangkat semenjak pagi pagi sekali, setelah menginap semalam di kota tersebut.
Rombongan yang kian membengkak karena bergabung dengan rombongan Pelangi tersebut, kini beriringan menuju ke kerajaan Sirih Putih dimana letak markas Mata Dewa pimpinan Randu Sembrani.
Kumala dan Pelangi nampak bercanda sudah terlihat akur selama di perjalanan, dua gadis itu sudah mulai terbiasa dan mulai dekat, meskipun sebelumnya mereka juga sempat bersitegang tadi nya.
Dua gadis tersebut semalam sempat saling bermusuhan, terutama Pelangi yang terlihat marah dan merasa jengkel dengan Jaya, karena merasa di duakan.
Namun entah bagaimana caranya Jaya berhasil menyatukan keduanya, hingga pagi ini mereka terlihat sudah berbeda, keduanya sudah nampak berkelakar dan bercanda.
Jaya hanya tersenyum menatap kedua gadis yang berada di dalam kereta di depannya, saling bercerita dan bercanda dengan riang.
Kereta yang jendelanya bisa di tutup dan di buka itu kini nampak terbuka kain penutup nya, sehingga ketiga perempuan yang ada di dalamnya bisa menikmati keindahan selama di perjalanan.
Terlihat jika Kumala yang lebih dewasa seperti "Ngemong" terhadap Pelangi yang memang lebih muda, sementara Sutinem nampak melayani keduanya semenjak tadi dengan baik.
"Waah...enak sekali kak," kata Pelangi ketika mendapat kan gula gula dengan warna warni yang indah, hadiah dari Kumala ketika melihat lihat kota.
" Itu namanya kembang gula, warna nya indah seperti namamu adik." kata Kumala yang juga mencicipi kembang gula di tangannya.
"Bibi juga boleh coba kok," kata Kumala lagi kepada Sutinem yang duduk di samping nya, lalu mengangsurkan bungkusan kembang gula tersebut.
Sutinem mengangguk dan tersenyum menyambut makanan yang di bentuk lingkaran dengan warna warna yang indah.
**
Meskipun rencana pertemuan untuk pemilihan Pemimpin Agung Serikat Pendekar masih beberapa purnama namun nampaknya semua kelompok dan golongan sudah mulai bersiap siap.
Semua nampak memperkuat kelompok masing masing, mencari sekutu yang sekira mampu mengangkat golongan nya.
Jagat persilatan seakan bergolak, meskipun beberapa pihak mencoba meredam seperti pihak pihak dari Kerajaan Agung, namun tak menyurutkan para pelaku persilatan untuk tetap bergerak memperkuat diri nya.
"Bagaimana dengan dunia persilatan?," tanya seorang Maharaja Agung yang duduk di singgasana agungnya.
"Ampun Yang Mulia...semua sudah di luar kendali dari pemerintahan," sahut sang Mahapatih yang ditanya.
Keduanya adakah pemimpin tertinggi di Kerajaan Agung Karang Pandan.
Kerajaan besar yang menaungi lima kerajaan dibawahnya.
Lima kerajaan itu adalah kerajaan Bumi Asih, kerajaan Pandae Galang, kerajaan Jogonolo, kerajaan Kertomojo dan kerajaan Sirih Putih di mana tempat Randu Sembrani bermukim.
Maharaja Agung yang bernama Klewang Pikatan itu tengah berbincang dengan Mahapatih nya yang bernama Mahesa Suwito.
Dua tokoh besar yang juga memiliki olah Kanuragan tinggi tersebut tengah berbincang mengenai pergolakan Jagat Raya, dimana para pelaku nya yaitu para pendekar yang tergabung dalam Serikat Pendekar menunjukan tanda tanda kian memanas.
"Mereka kini semakin kuat dengan golongan nya masing masing, hingga mustahil kita untuk mengaturnya," kata Mahapatih Mahesa Suwito memberikan laporan.
"Kakang Mahapatih yakin akan hal itu?"
Mahesa Suwito mengangguk, membenarkan perkataan nya.
"Kini para pendekar memiliki kelompok yang lebih kuat di bandingkan sepuluh tahun yang lalu, jadi mustahil bagi kita untuk mengendalikan nya."
"Sekuat itukah?"
__ADS_1
"Benar Yang Mulia., bahkan untuk kelompok tingkatan madya saja sekarang sudah sangat kuat."
(kelompok perguruan, sekte atau perkumpulan partai di dunia persilatan di bagi tiga, yaitu kelompok tingkat pemula, kelompok tingkat Madya dan kelompok tingkat Utama)
(Kelompok tingkat Utama seperti partai Es Abadi, kelompok Api Suci, dan yang lainnya.)
Maharaja Agung Klewang Pikatan nampak mengangguk angguk kan kepalanya, mendengar penjelasan Mahapatih nya.
Nampak sang Maharaja menarik nafasnya dalam dalam, memikirkan semesta yang serasa carut marut.
"Aku khawatir jika semua menjadi kuat maka tak akan ada yang mengatur dan dituruti, akibatnya akan mudah terjadi perseteruan dan peperangan." kata Maharaja Agung Klewang Pikatan, menatap jauh dengan pikiran menerawang.
"Benar apa yang dikatakan Yang Mulia, saat inipun kita para petinggi kerajaan kesulitan untuk menertibkan mereka."
"Mereka hanya akan patuh kepada para Pemimpin Agung nya masing masing, padahal pemimpin agung tersebut tak seluruhnya mau tunduk kepada pihak kerajaan manapun."
"Hmm, jagat ini sebentar lagi akan mengalami kehancuran cepat atau lambat," sahut Maharaja Agung Klewang Pikatan lagi.
Keduanya kembali terdiam sesaat, dengan pikiran yang entah kemana.
"Apakah sudah ada tokoh yang kira kira memiliki anugerah mengatur alam ini?"
"Maksud Yang Mulia? semacam Satrio piningit? atau lelananging jagat?." tanya Mahapatih Mahesa Suwito dengan tatapan tajam ke arah sang Maharaja.
"Ya semacam itulah"
Mahesa Suwito menggeleng, "Ramalan itu belum menampakkan tanda tanda tersebut Yang Mulia."
"Jagat Dewa Batara..semoga masalah ini segera terpecahkan tanpa adanya kehancuran terlebih dahulu." kata Klewang Pikatan sang Maharaja dengan pelan.
"Aku ingin kita bertemu dengan para Raja dan Raja muda untuk membahas permasalahan ini, agar wilayah Kerajaan Agung Karang Pandan tak mengalami kehancuran yang hebat."
Maharaja Agung Klewang Pikatan mengangguk sebelum meninggalkan singgasana nya menuju ke dalam istana pribadi nya.
**
"Nakmas Bendoro sebaiknya kita istirahat, sudah setengah hari kuda kuda kita di pacu," usul Narimo yang berkuda di sebelah Jaya Sanjaya, mengingatkan junjungannya.
Jaya mengangguk, "Baik paman, kita akan berhenti jika ada tempat yang sekira cocok untuk beristirahat."
Rombongan tersebut terus bergerak membelah hutan yang memanjang sebelum tiba di perbatasan kerajaan kecil Sirih Putih tempat Pelangi bermukim bersama Randu Sembrani dan Nyai Nilam Sari.
"Nampaknya di depan ada tempat yang biasa di jadikan persinggahan Nakmas," seru Narimo sambil menunjuk sebuah gubuk yang sengaja di jadikan tempat istirahat para pelintas.
"Benar Nakmas, disana kita bisa berhenti untuk istirahat," sahut Sukarjo yang menjadi kusir kereta yang kini juga membawa aneka perbekalan dan kebutuhan pokok tersebut.
Rombongan Jaya pun menepi dari jalanan dan menuju gubuk bambu yang lumayan luas tersebut.
Gubuk yang di bangun dari bahan utama bambu dan beratap dedaunan semacam ilalang yang di anyam itu dibuat dengan alas tanah yang di ratakan.
Di bangunan sederhana yang lumayan besar itu ternyata sudah ada beberapa orang yang nampak istirahat berteduh disana.
Nampaknya orang orang itu adalah sekelompok orang orang dari biro pengawalan barang.
"Mereka adakah biro pengawalan dan pengiriman barang," sahut Baroto dan Pitu Geni hampir bersamaan.
__ADS_1
Jaya mengangguk melihat simbul burung elang Jawa yang di gambarkan dengan warna putih.
"Mereka biro Elang Putih...Nakmas," kata Margono adik dari Satinem.
"Benar ," sahut Narimo.
Jaya sesaat terdiam, mengingat sesuatu, namun akhirnya tak dirasanya karena tak mengingat apapun.
Orang orang dari biro tersebut juga melihat kearah Jaya dan rombongan, ada sedikit ketegangan di wajah mereka, menatap dan menelisik ke arah rombongan Jaya.
"Pendekar Jaya...!!," sebuah teriakan memecah keheningan dua kelompok tersebut.
Jaya menoleh dan menatap seseorang yang tadi memanggil namanya.
Seorang pria paruh baya mendekat dengan senyuman di bibirnya.
Jaya termenung sesaat, lalu tersenyum, "Paman Basuki bukan?"
"Benar sekali pendekar.., saya Basuki"
Basuki adalah salah satu pemimpin biro pengawalan dan pengiriman barang dari Elang Putih, kelompok tersebut pernah di tolong oleh Jaya beberapa waktu yang lalu.
"Apa kabar paman?" sapa Jaya begitu Basuki mendekat.
"Baik baik pendekar, apakah pendekar juga mau mengikuti pertemuan para pendekar di Karang Pandan?"
"Karena saya membawa beberapa pesanan dari beberapa kelompok di wilayah ini, dalam rangka pertemuan kecil sebelum pertemuan Serikat Pendekar," sahut Basuki sambil menunjukkan beberapa gerobak yang sarat muatan.
"Oh..tidak paman, aku ada keperluan pribadi di Sirih Putih ini," balas Jaya sambil menebar senyum.
"Oh aku kira pendekar Jaya mau ikut di pertemuan itu."
Jaya menggeleng, kemudian mereka sudah sudah terlibat dalam beberapa percakapan, yang pada inti nya membicarakan segala permasalah dunia persilatan yang kian lama kian mengkhawatirkan.
Dari Basuki lah Jaya akhirnya mendapatkan banyak berita, salah satunya yaitu kemunculan kelompok Jiwa Abadi yang kian sering, karena mendekati Pertemuan Akbar Serikat Pendekar.
"Apakah kelompok tersebut muncul untuk mengganggu?"
Basuki menggeleng, " Mereka tak mengganggu, namun kemunculan tersebut sudah menjadi bukti jika mereka mulai menebar ancaman bagi kelompok lainnya."
"Menebar ancaman?, maksudnya apa Paman?"
"Kelompok ini biasanya memunculkan salah satu jagoannya, menantang sang tuan rumah, menunjukkan hanya sebagain kecil saja sudah cukup hebat."
"Menantang? maksud nya bertarung?"
"Benar...pendekar, mereka mengirim salah satu jagoannya untuk melawan pemimpin salah satu kelompok yang di sasar, dengan mengalahkan tetuanya itu berarti menunjukan bahwa mereka (Jiwa Abadi) adalah kelompok yang kuat."
"Ooh..begitu," sahut Jaya mulai paham dengan cara lawan melemahkan mental lawannya.
"Bagaimana jika tetua itu memenangkan pertandingan tersebut?"
"Maka akan di kirim yang lebih kuat lagi hingga tetua kelompok itu kalah"
Jaya mengangguk angguk kan kepalanya.
__ADS_1
______________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya...ya... terimakasih readers...