
Tak banyak yang di lakukan oleh rombongan Jaya di kota Bukit Emas, selain adanya beberapa informasi yang di dapatkan perihal berita dunia persilatan, tak ada lagi yang di dapat oleh rombongan tersebut.
Kini rombongan tersebut sudah bersiap meninggalkan kota Bukit Emas.
Kota yang ternyata sangat ramai di siang hari tersebut terlihat padat oleh lalu lalang para pelintas.
Tampak serombongan pasukan kerajaan tertentu terlihat melintas di hadapan rombongan Jaya, sebuah rombongan yang cukup besar dengan satu kereta kuda cukup mewah dan beberapa puluh prajurit pengawalnya.
"Pasukan darimana itu?, kenapa bisa ke kota ini?," tanya Jaya pelan penuh keheranan, melihat pakaian dan atribut nya berbeda dengan para penjaga di sana.
"Mungkin kunjungan kenegaraan Kakang"
"Mungkin Dinda," sahut Jaya lagi.
"Atau kalau tidak, mereka ada urusan dengan seorang empu di sini," kata Narimo menjelaskan.
"Empu..?, maksud paman seorang pembuat senjata?" Jaya bertanya makin tertarik dengan kota tersebut.
"Benar Nakmas, di sini memang ada seorang empu yang sangat terkenal dengan sebutan Empu Cipta guna."
"Sudah pernah kan saya bercerita bahwa di rentetan kota kota ini adalah penghasil senjata dan hasil tambang, salah satunya emas dan biji besi." Kata Narimo sambil menatap Jaya Sanjaya.
"Apakah memang sehebat itu senjata buatannya, Paman?"
"Benar Nakmas, beliau memang sangat hebat di bidangnya, bahkan konon senjata inilah salah satu karya beliau," potong Pitu Geni, menunjuk ke arah senjatanya yaitu Golok Wiso Geni.
"Itu sebelum Empu Cipta guna bermukim di kota ini," sahut Pitu Geni lagi, sedikit menerangkan.
"Eh..benarkah paman?" Jaya sedikit tak percaya.
"Benar Nakmas"
Jaya makin mengangguk mendengar penuturan dari Pitu Geni yang menceritakan senjatanya, yaitu Golok Wiso Geni.
"Hmm, seorang Empu yang di beri anugerah" puji Jaya dengan gumaman. "Aku jadi tertarik ingin bertemu dengan Empu tersebut."
**
Serombongan pasukan dari kerajaan yang ada di wilayah timur tepatnya di bawah naungan Kerajaan Agung Pati Sruni, bernama kerajaan koro wedana tengah menuju ke arah hunian Empu Cipta guna.
Pasukan yang terdiri dari ratusan orang tersebut berencana akan memesan senjata dalam jumlah banyak kepada sang Empu.
Begitu sampai di depan gapura rombongan itu di terima oleh anak murid sang Empu yang menjaga hunian tersebut.
"Maaf tuan tuan ini darimana? ada keperluan apa datang kemari?" Sapa sopan anak murid Empu Cipta guna.
"Kami dari kerajaan Koro Wedana, bersama Yang Mulia pangeran Ronggo ingin bertemu dengan Empu Cipta guna." balas salah satu prajurit yang mengawal petinggi yang ada di dalam kereta tersebut.
"Ada keperluan apa? sang Pangeran ingin bertemu dengan Empu Cipta guna?, jika urusan pembuatan senjata, saat ini tidak bisa sebab beliau masih bersemedi, mencari pencerahan dari sang pencipta."
"Masalah keperluan apa, biar nanti Yang Mulia yang akan menjelaskannya, yang penting bertemu sang Empu dulu kisanak," sahut prajurit itu, yang rupanya kepala pengawal di rombongan itu.
__ADS_1
"Maaf tuan, bukankah tadi sudah saya sampaikan jika saat ini, ndoro Empu masih semedi mencari pencerahan dan tak bisa di ganggu, jika mau memesan senjata silahkan ke pengrajin senjata yang lain dulu, kan banyak bertebaran di kota ini." balas penjaga gerbang anak buah Empu Cipta guna.
Perbincangan makin alot, bahkan menjurus ke perdebatan yang lebih sengit, karena para prajurit itu mulai memaksa sedangkan anak murid Empu Cipta guna menolak dan tak berani mengusik semedi sang Empu.
"Kalian berani sama utusan kerajaan Koro Wedana..!?!," bentak prajurit itu dengan wajah mulai merah padam.
"Kami tidak bermaksud tak sopan, namun kalianlah yang bersikap kurang ajar, masuk ke tempat orang malah membuat keributan, tak punya adab sopan santun," balas anak buah sang Empu yang kini sudah merapat mendekat.
Para prajurit itu pun langsung mengurung tempat itu, mencoba mengintimidasi lawannya atas perintah sang pangeran yang tiba tiba saja muncul keluar dari dalam kereta.
"Kita paksa masuk..!, dan culik saja sang Empu jika menolak bekerjasama dengan kita..!," teriak sang Pangeran Ronggo memberikan perintah.
Puluhan orang tersebut langsung maju mencoba mendobrak masuk ke dalam gerbang hunian rumah Empu Cipta guna yang cukup tebal tersebut.
"Gempur gerbang itu...!," teriak pangeran Ronggo memerintahkan para prajurit membobol gerbang yang langsung di coba mau di tutup kembali oleh para penjaga.
Jduuaaaarrt...!!
JDUAARRT....!!
Hantaman hantaman dahsyat langsung di lakukan oleh para prajurit pasukan dari Koro Wedana.
Hanya dalam sesaat saja pintu gerbang yang menjadi benteng hunian Empu Cipta guna langsung jebol.
BRAAAAAKK...!!
"Aaaaa..!"
Anak buah Empu Cipta guna langsung terlempar begitu gerbang yang mereka jaga jebol terhantam oleh pukulan pasukan lawan.
"Cari Orang tua itu, dan kita bawa ke kerajaan Koro Wedana, untuk membuat senjata di sana..!" seru pangeran Ronggo.
**
Tertangkapnya pusaka zirah sayap Garuda, dan kini di kuasai oleh Sumantri si Mata Malaikat belum di sadari oleh orang orang di sana.
Masih banyak para pendekar yang berkeliaran di wilayah tersebut untuk mengintai keberadaan pusaka tersebut termasuk kelompok sang Ratu Dewi Mata Iblis.
"Malam ini kita harus siaga lagi untuk mengejar Pusaka itu."
"Baik Ratu."
"Aku tak ingin kelolosan lagi kali ini, hancurkan siapa pun yang menghalangi kita nanti."
"Baik Ratu."
Kelompok yang di pimpin oleh Dewi Mata Iblis itu masih bertahan di hutan tersebut menunggu malam tiba untuk kembali mengintai pusaka tersebut berada.
Sementara itu sedikit jauh, tepatnya beberapa ratus tombak dari kelompok Mata Iblis yang di pimpin oleh sang Ratu nampak sebuah pasukan Jongka Lengkong yang di pimpin oleh guru Tohjaya dan Broto dento.
Pasukan kerajaan itu juga bertahan di hutan tersebut untuk menunggu malam tiba guna mengintai keberadaan pusaka itu berada.
__ADS_1
"Kita tunggu di sini saja, jangan jauh jauh meninggalkan tempat ini karena petunjuk terakhir pusaka itu ada di daerah sini," kata guru Tohjaya kepada seluruh pasukan.
"Baik guru."
Pasukan kerajaan itupun berdiam di tempat mereka kini berada, menunggu malam untuk kembali mengintai pusaka itu berada.
**
JDUAARRT....!!
Suara ledakan keras terdengar kembali saat pangeran Ronggo menghantam jebol pintu pendopo yang ada di wilayah hunian Empu Cipta guna.
Empu Cipta guna yang masih semedi terusik oleh keributan yang terjadi di kediaman nya tersebut.
Meskipun dirinya semedi di salah satu pondok yang ada di ujung belakang, namun suara pertarungan yang terdengar ramai itu sudah cukup menggangunya.
"Hmm, ada apa ini ribut ribut?" gumam sang Empu sambil membuka matanya, terlihat sekali kekhawatiran dari raut wajah nya.
Selama ini memang banyak pihak pihak yang menghendaki agar dirinya mau menjadi pembuat senjata untuk kelompok tertentu, namun tak ada satupun yang di sanggupi nya.
Ada yang meminta dengan sopan dan ada yang meminta dengan sedikit paksaan, hingga dirinya akhirnya mengungsi dan menjadi penduduk di kota Bukit Emas.
Sudah bertahun tahun keberadaanya di sana di rasa nyaman dan aman, penuh ketenangan hingga hari ini terjadi lagi keributan.
Sang Empu berdiri dari duduknya setelah untuk beberapa saat matanya tadi terbuka.
Di kerahkan nya tenaga dalam mengalir ke seluruh tubuh nya agar seluruh peredaran tenaga kembali menyebar lancar di badannya.
Dirinya kemudian melesat menuju sumber kegaduhan yang berada di arah depan dari huniannya.
"Kuraang ajaar..!!, siapa kalian...!! membuat keributan dan keonaran di tempat ini..!!," bentak sang Empu begitu tiba di halaman pendopo depan yang kini sudah porak poranda keadaan nya.
Sesaat pertarungan berhenti, semua menarik diri ke arah kelompok nya masing masing.
Korban sudah banyak berjatuhan, mayat mayat nampak sudah ada beberapa yang bergelimpangan di sana.
"Akhirnya kau muncul juga Empu..," sahut Kepala prajurit tersebut.
Empu Cipta guna menatap tajam orang orang yang ada di kediamannya tersebut, "Siapa kalian..!, dan perlu apa kemari..!".
"Kami dari kerajaan di wilayah timur, tepatnya kerajaan Koro Wedana, datang kemari bersama pangeran kami Yang Agung pangeran Ronggo, mau membawa Empu Cipta guna ke negeri kami menjadikanmu sebagai Empu istana," sahut Kepala prajurit tersebut.
"Apakah kalian tak punya adab sopan santun, hingga membuat sebuah keributan guna memaksa diriku mengikuti kemauan kalian?"
"He.he..he.., kami sudah berusaha datang dengan baik baik saja malah di halangi," sahut pangeran Ronggo dengan tertawa tanpa merasa bersalah.
"Cuih..datang baik baik apa?, sudah kami katakan jika ndoro Empu masih semedi tapi kalian memaksa tetap masuk, apa itu yang di katakan baik baik?" sahut anak buah Empu Cipta guna mendebat orang orang tersebut.
"Kami tak terima penolakan, jika tak bisa dengan cara damai membawa Empu maka cara kekerasan adalah jawaban nya," kata pangeran Ronggo lagi menyahut.
__________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak nya....