
Dwarakolo meningkatkan lagi kekuatannya, menarik nafasnya dalam dalam menghimpun kekuatan lalu berteriak keras.
"GROOAAARRGG...''
Serangan pertama yang gagal setelah membentur perisai lawan kini menyadarkannya, siapa sesungguhnya lawan, bukan sosok yang mudah di kalahkan dengan sembarangan.
Pedang model S dengan pegangan di tengah, yang ada di tangan kanannya sudah di putar putar sedemikian rupa.
"ROOAAAARRR...!."
Iblis tersebut meloncat maju menyerang kembali, namun sebelum itu dia melemparkan senjata pusaka nya.
Wung.wung.wung.wung.....!
Senjata tersebut melesat berputar membelah udara menyasar ke arah pemimpin Awan Putih itu.
Sebuah gelombang kekuatan yang kuat mendekat ke arah Jaya.
BLAAANG....!
Dengan perisai di tangan kiri Jaya menangkis serangan senjata itu.
Badan Dwarakolo sudah mendekat, menghantam ke arah dada Jaya, jarak yang begitu dekat membuat sang pemimpin Awan Putih tersebut hanya menahan serangan tangan lawan dengan badan tombaknya.
TRAAAKK...!!
Serangan tersebut meleset, hanya mengenai tempat kosong.
Pedang dua mata pisau lawan yang tadi sempat terpental kini kembali menyerang ke arah Jaya.
Wung.wung.wung.wung....!
Melihat ada sambaran pedang terbang tersebut, Jaya memutar tombaknya menepis pedang S tersebut.
TAAANG...!!
Pedang dengan bentuk S tersebut kembali terlempar, bahkan kini lebih jauh lagi karena Jaya memukulnya dengan keras.
Dwarakolo mendengus kesal setelah serangannya buyar, senjata yang biasanya sukses membokong lawan kini malah terlempar seperti di buang jauh.
"Ggrrhhh, keparat...!," racau sang Iblis, lalu kembali melesat maju menyerang.
**
Pertarungan bisa di bilang hampir selesai, ribuan korban sudah bergelimpangan di sembarang tempat.
Darah dan anggota tubuh berceceran tak beraturan di padang yang luas tersebut.
Bau busuk sudah menyeruak di mana mana, di beberapa tempat bahkan sudah terlihat burung burung pemakan bangkai mulai mengerubuti makanannya.
Binatang buas juga mulai terlihat di pinggiran padang, menunggu kesempatan untuk menyantap mayat mayat yang ada di tempat tersebut.
__ADS_1
Iblis iblis dan Layon sudah benar benar tak ada yang tersisa, begitu juga para manusia sudah banyak yang mati, dari total puluhan ribu pendekar yang datang ke padang tersebut kini hanya tinggal beberpa ratus saja, itupun dalam keadaan tak lagi bugar.
Begitu juga dengan para Sesepuh dan Tetua yang berhasil selamat, kini mereka menuju ke pinggiran padang tersebut dengan tertatih tatih.
Beruntung mereka masih hidup setekah berhasil lolos dari serangan para pemimpin iblis.
"Kita menyingkir di pinggiran, bergabung dengan anggota kelompok Awan Putih yang lain," seru Randu Sembrani.
"Benar, kita menyingkir ke sana ," sahut Prono Condro yang masih hidup setelah hampir delapan puluh persen anggotanya tewas oleh para Iblis yang ternyata juga memiliki penangkal keabadian Gagak Hitam.
"Ya, akan sangat berbahaya jika berpencar dalam keadaan lemah, melihat banyaknya binatang buas yang terlihat makin banyak berdatangan." Koloireng berkata.
Memang bintang buas kini makin banyak mengurung tempat tersebut, singa, harimau dan ribuan binatang buas pemakan bangkai lainnya.
**
Jauh di tengah padang kini hanya ada Jaya yang tengah bertarung dengan Dwarakolo.
Pertarungan makin terlihat tak imbang dengan kemenangan ada di pihak Jaya.
Pukulan andalan Dwarakolo jurus Pedhut Ambyar terbukti tak mempan untuk menghadapi sang lawan.
Saat iblis tersebut menghantamkan pukulan Pedhut Ambyar dan gumpalan asap hitam memancar begumpal gumpal menabrak badan Jaya, saat itulah gelombang kabut dari jurus Gelombang Awan Menerjang menyerap kekuatan ledakan tersebut.
Gelombang asap hitam yang biasanya meledak dahsyat bagai sebuah Bom, kini hanya tak lebih dari suara ledakan petasan kecil tanpa daya ledak yang kuat.
"Grrraoaoah....raaaooir..raaaachh.."
"Raaaooircu...richuiikkkro..!."
Jaya mengumpat balik kearah Dwarakolo dengan bahasa iblis, membuat sang panglima tersebut terbelalak.
"S.ssiapa kau sebenarnya? mengapa bisa bahasa kaum kami?." dengan tergagap sang iblis bertanya penasaran.
"Tanyakan itu nanti saat kau di Neraka..!," balas Jaya dengan seringai, membuat Dwarakolo sedikit gemetaran.
Sudah terbukti jika serangan serangannya bisa di mentahkan oleh sang lawan, membuat panglima iblis itu kini sedikit jerih.
"Aku akan kirim kau ke neraka sekarang...!," teriak Jaya sudah mengambil ancang ancang bersiap dengan tombak teracung dan perisai di depan dada.
Dengan berat hati Dwarakolo juga menyilangkan pedang dua mata pisaunya, mencoba menghadang serangan yang akan Jaya lancarkan.
Namun belum juga pertarungan itu kembali berlanjut, dua iblis serta Rumbaka serta Kiwo dan Tengen sudah datang ke arena tersebut.
"Hua..ha..ha...sekarang aku yang akan mengirimmu ke Neraka..!," seru sang Panglima Iblis dengan senang karena bala bantuan sudah datang.
Iblis Wora menatap tajam Jaya, "Kaukah manusia yang mengacau semua rencana ku..?."
Iblis Wari juga menatap Jaya, menelisik seakan mencari sesuatu. "Hmm, kau tak memilik aura dari seseorang yang ku ingat, tapi kenapa kau bisa melakukan semua ini..?."
Dua iblis itu terlihat kaget, karena Jaya tak memiliki Aura Dewa, tapi mengapa bisa memiliki kemampuan seperti dewa.
__ADS_1
"Aku hanya manusia biasa yang ingin membasmi makhluk keji seperti kalian." balas Jaya menatap berputar ke arah enam sosok yang kini mengelilingi nya.
"Cuiih, jangan jumawa kau..!," seru Rakumba, melihat sang lawan tak terlihat takut menghadapi kepungan mereka. "Nyawa sudah di ujung tenggorokan tapi masih saja sombong."
Kini Jaya sudah di kurung oleh keenam sosok tersebut, masing masing sudah mencabut senjatanya.
Kiwo dan Tengen malah sudah memegang senjata yang terlihat sangat aneh, di pegang oleh lengan yang merupakan kloning dari bagian tubuhnya yang hilang.
"Pengecut...!, beraninya main keroyok..!," Jaya berkata sambil menatap Rakumba.
"Tutup mulutmu...!," sambar Iblis Wora sambil meloncat menebaskan pedang lengkungnya.
SRIIING...!
Sambaran yang sangat kuat menerjang ke arah dada Jaya.
Di sisi yang lain Iblis Wari juga melesatkan senjatanya, menebas ke arah punggung Jaya, mencoba menyerang dari titik buta dari pemuda tersebut.
SRIIING...!!
TAAANG...!
TAAANG...!!
Dengan mengangkat perisai di lengan kirinya Jaya menangkis serangan iblis Wora yang menyasar dadanya, lalu tanpa melihat ke belakang Jaya menyilangkan tombaknya dengan tangan kanan terangkat melindungi punggungnya.
Dua serangan kuat dan ganas itu buyar seketika.
SREEETT...!
SREEEETT...!!
Tiba tiba dua lesatan senjata Kiwo dan Tengen menerjang ke arah Jaya, senjata yang berujut semacam jangkar dengan tiga mata kail tersebut melesat dengan rantai mencoba membelit Jaya.
Tak mau terjebak, apalagi terbelenggu rantai tersebut Jaya meloncat menghindar dengan menepis Jangkar tiga mata kail tersebut.
Traaang..!
taaang...!!
Belum juga bebas dari serangan itu, pedang bentuk S dari Dwarakolo sudah melayang dan menyerangnya.
Wung.wung.wung.wung....
"Uugh...hampir saja...!," gumam Jaya sambil merunduk mengindari sambaran senjata tersebut.
Dalam waktu yang singkat saja kini telah terjadi pertarungan yang dahsyat di tengah padang Selayang Pandang.
Dengan sedikit kesulitan Jaya menghadapi pengeroyokan tersebut, apalagi kini serangan lawan bukan serangan biasa, bobotnya jauh di atas serangan manusia sekuat para legenda.
__________
__ADS_1
Jejaknya.....