
"Benarkah..?."
Jaya berkata seakan menantang sang Senopati yang bernama Jagal Birowo itu.
"Kau akan mencincang ku..?!?!."
"Apa kau perlu bukti...!," teriak Jagal Birowo sudah berdiri dari tempat duduknya.
Para prajurit yang di pimpinnya bahkan sudah bersiaga dengan berdiri dengan posisi tangan di genggaman pedang.
Jagal Birowo kini bahkan sudah melesat mendekat ke arah Jaya.
Keduanya kini sudah berhadapan dengan jarak beberapa tombak saja.
"Katakan..!, kenapa kau tak mau menyingkir dari hadapanku..?, kau ingin merampok..?," seru Jagal Birowo dengan pandangan menelisik.
Jaya melotot, melebarkan matanya, "Memangnya apa yang bisa aku rampok dari sebuah pasukan kerajaan..?, tuduhan mu tak berdasar..!," balas Jaya terlihat geram.
"Hua..ha.. ha..kami punya banyak perhiasan dan upeti dari kerajaan kecil serta wilayah yang kami naungi..!."
Dengan sombongnya Jagal Birowo malah bercerita barang apa saja yang di bawanya.
"Ini pamer apa bodoh..semua yang orang lain tak tahu malah di umbar."
"Cuiih..!, tak semua tertarik dengan apa yang kau miliki..!," kata Jaya dengan santai, karena bagi Jaya harta nya sudah cukup melimpah.
"He.he..he..lagi pula kau tak akan mampu mengambil nya dari kami," ledek Jagal Birowo dengan pandangan merendahkan, mengangkat kedua tangannya yang terselubung oleh semacam selongsong baja yang merupakan pusaka senjata Langit.
"Jangan terlalu sombong..!," balas Jaya makin gerah dengan sikap arogan dari sang Senopati yang selalu memandang orang lain rendah.
Mentang mentang di negerinya di takuti oleh banyak orang di tambah dengan dua pusaka tingkat Langit yang melingkupi kedua lengannya dia merasa paling hebat.
"Bukan sombong tapi kenyataan aku memang hebat ...ha..ha..ha..!."
Jaya yang semula tak tertarik, kini malah berniat ingin menjahili dengan merebut semua harta yang di miliki kerjaan Pati Sruni tersebut.
"Sehebat apakah seorang Senopati Pati Sruni..??," kata Jaya dengan nada balas mengejek.
Jagal Birowo yang mendengar perkataan kurang ajar pemuda itu makin mendekat.
"Baik jika itu mau mu..!, aku akan menghajar mu..!!." teriak sang Senopati sudah menyilangkan kedua tangannya.
Kini dua tangan yang terlingkupi selongsong baja itu makin berpendar menunjukakan kekuatan Pusaka tersebut.
"Bersiaplah bocah...!." teriak Jagal Birowo.
Dalam sekejap Jagal Birowo sudah melesat menghantamkan serangan nya.
Wuuss...!
Sebuah pukulan yang mengandung kekuatan dahsyat menyasar mengarah ke dada Jaya.
Dengan cepat Jaya menghindar sedikit bergeser dengan sedikit menangkis hantaman itu.
Deeeess...!!
Jaya sedikit terkejut saat kedua lengan itu beradu seakan ada sengatan di tangannya.
Memang senjata mulai setingkat Langit pasti memiliki keistimewaan, dan keistimewaan senjata Jagal Birowo adalah mampu meredam pukulan lawan juga mampu menambah daya gempur pukulan pengguna selain sengatan tentu saja.
__ADS_1
Wuuuss...!
Wuuusss..!!
Kembali Jagal Birowo meloncat menyerang kearah Jaya.
DUAAAAR...!!
Jaya menyongsong pukulan dari lawannya dengan Selaksa Ombak Menerjang.
BLAAAAAAARRRR...!!
Meski terdengar ledakan kuat namun sesungguhnya itu sudah banyak berkurang, karena terredam oleh pusaka di tangan Jagal Birowo.
Jaya sedikit terjengit kaget, begitu juga dengan Jagal Birowo yang juga kaget karena biasanya lawannya langsung tersedot tenaga nya saat beradu lengan dengannya.
"uuggh..ternyata senjata ini mampu mengurangi kuatnya pukulan ku.."
Jaya mulai menyadari setelah beberapa kali pukulan mereka bertemu.
"Ha.ha..ha..kau kaget dengan kehebatan ku..?? teriak Jagal Birowo, meskipun dirinya juga kaget dengan kemampuan pemuda di depannya.
Jaya hanya mendengus, mendengar kesombongan sang lawan.
Jaya mundur sesaat, lalu mulai memainkan dan mengeluarkan jurus Badai Matahari.
"Hiaaaaa..!!!."
Jaya meloncat menghantamkan pukulan Badai Matahari.
BLEGAAAARRT...!!
Jagal Birowo yang merasa kuatnya hantaman lawan mulai menggerakkan tangan nya, memainkan jurus dan mencoba menyerap gelombang pukulan panas dengan pusaka yang melingkupi kedua lengannya.
DUAAAAR..!!
Ledakan terjadi kembali saat gelombang pukulan itu menerjang dan tertangkis dua selongsong senjata pusaka tingkat Langit yang ada di dua lengan Jagal Birowo.
Namun demikian Jagal Birowo tetap terlempar kebelakang hingga mendekati anak buahnya dan kereta barangnya. meskipun kuatnya hantaman itu sudah sedikit terredam.
"Aaarcchhh..!!."
Beruntung adanya dua selongsong pusaka itu meredam gelombang hawa panas, dan kuatnya daya gempur jurus itu, jika tidak pasti Senopati itu sudah pasti mati.
Jagal Birowo pucat wajahnya, karena kini menyadari kekuatan dari lawannya, dengan masih sedikit terbungkuk dia memerintahkan para anak buah menyerang Jaya Sanjaya.
"Seraaang...!!."
Belum juga para prajurit itu bergerak.
CLAAAAPP...!!
Sebuah sinar membentuk bulatan yang mencakup semua orang yang ada disana keluar dari mata Jaya Sanjaya.
Matanya memancarkan Jurus Mata Dewa membuat semua lawannya sesaat terhenti, gerakannya melambat.
Kesempatan itu di manfaatkan oleh Jaya untuk masuk ke kereta barang rombongan tersebut, dan dengan sekali kibasan lengannya semua barang disana lenyap terhisap ke dalam Gelang dimensi nya.
Setelah itu Jaya melesat meninggalkan tempat tersebut, lalu melesat meloncat meninggalkan pasukan Pati Sruni yang dipimpin Senopati Jagal Birowo.
__ADS_1
**
"Untung Nakmas segera muncul, aku baru saja mau balik menyusul," kata Baroto dan di benarkan oleh Narimo.
"Benar Nakmas kami sangat khawatir disini.."
Jaya hanya tertawa mendengar kedua pengikut nya mencemaskan nya.
"Aku hanya sedang memberi pelajaran kepada mereka paman."
"Nakmas memusnahkan mereka..?," tanya Narimo.
"Tidaklah paman..aku tak sekejam itu, hanya sedikit pelajaran saja," sahut Jaya lalu menaiki kuda yang sudah di tuntun oleh Narimo.
"Sudah kita lanjutkan perjalanan, kita tinggalkan tempat ini sebelum mereka datang kemari."
Ajak Jaya kepada kedua pengikut nya, meski dia yakin rombongan senopati itu tak akan berani mengejar, di kasih hidup saja sudah beruntung.
**
"Haah..apa yang terjadi..??."
Jagal Birowo tersadar kini lawannya tak ada disana, dia hanya merasa pemuda itu melesat begitu cepat hingga tak terlihat, dan kini sudah raib entah kemana.
"T...t.tuan... S.Senopati.. harta upeti semua hilang..," lapor salah satu prajurit yang menyadari pintu kereta sudah terbuka, menampakkan ruang dalam kereta yang kini kosong melompong.
Jagal Birowo memeriksa isi kereta dan kaget dengan kenyataan yang terjadi, namun tak ada guna nya mengejar lawan yang sudah mengampuni nyawa semua orang itu.
Tak di penggal kepala nya saat tadi setengah sadar saja sudah sebuah anugerah.
"Yaah..kita tak bisa mengambilnya kembali." sahut Jagal Birowo dengan nada lemah.
"Tak kukira dia akan sehebat itu, siapa dia sebenarnya..?." kata senopati itu sedikit penasaran dengan kehebatan anak muda tadi.
Kekuatan Jaya makin membuka matanya akan kekuatan orang orang hebat di dunia persilatan ini.
**
Ketiga orang itu masih berkuda dengan kecepatan sedang, kembali melewati hutan namun sudah tak selebat tadi.
Makin lama hutan tersebut makin tipis dan mulai di ganti dengan tanaman perkebunan warga seperti pisang dan pohon ketela.
Sedikit jauh di depan bahkan ada sawah warga yang nampak dengan padinya yang mulai menguning.
"Sebentar lagi kita melewati pemukiman warga Nakmas, apakah kita akan beristirahat atau melanjutkan perjalanan..?."
"Kita istirahat saja paman sambil mencari tempat makan." sahut Jaya Sanjaya yang juga merasa ingin istirahat.
Mereka makin mendekati perkampungan warga, dimana mana mulai terlihat kemiskinan yang menimpa warga di sana.
"Mengapa warga di sini terlihat sangat miskin..?, padahal tanahnya terlihat subur." gumam Jaya yang keheranan.
"Mungkin penduduk nya malas." sahut Baroto dengan sekenanya.
"Atau mungkin ada sesuatu yang terjadi di sini." kata Narimo melihat kekanan dan ke kiri, dimana terlihat rumah rumah warga yang hanya berdinding anyaman bambu dan beratap daun daunan.
_____________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya...
__ADS_1