Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Bertarung dengan Raja Pengemis


__ADS_3

Jaya sedikit kecewa karena tak mendapat kan tempat menginap di warung makan yang di singgahi nya, penginapan tersebut telah penuh terisi, karena banyaknya pelintas yang mampir di kota tersebut dan nampaknya Narimo terlambat memesan kamar penginapan.


"Jangan khawatir Nakmas pasti ada tempat lain kita untuk menginap." kata Narimo menghibur Jaya Sanjaya.


Sebenarnya bagi Jaya tidur dimana pun tak masalah, bukan sesuatu yang sulit untuk laki laki seperti nya tidur di alam bebas.


"Tak apa paman..kita cari saja tempat yang nyaman untuk istirahat, tak harus di penginapan, yang penting bisa istirahat tanpa gangguan."


Narimo mengangguk saja, sambil menggebrak tali kekang kuda, bertanda kuda harus segera berjalan.


"Kebetulan aku membungkus beberapa makanan kita tadi dan sedikit membeli jajanan, jadi bisa buat kita makan sebelum istirahat tidur nanti," kata Narimo tersenyum, sambil mengarahkan kuda nya menuju tempat yang di rasa nyaman untuk istirahat.


Kedua kuda terus berjalan melewati keramaian, sebelum sampai di suatu tempat.


"Nakmas ada rumah suwong (Kosong)..!," seru Narimo tiba tiba sambil menunjuk sebuah bangunan.


Dua kuda tersebut sesaat berhenti, penunggangnya menatap bangunan di depan nya, lalu melangkahkan sang kuda dengan pelan menuju sebuah bangunan yang nampak nya sudah di tinggal penghuninya itu.


"Ya...malam ini kita bermalam di sini..," kata Narimo dengan senang karena mendapat kan tempat istirahat, meskipun hanya hunian kosong dan tak terawat.


Jaya hanya mengangguk saja, mengikuti kuda Narimo dan mulai memasuki halaman pekarangan rumah tua tersebut, yang ternyata luas dan di tumbuhi rerumputan yang lebat.


Keduanya sudah bersiap ingin menurunkan tikar sebagai alas tidur dari punggung kuda ketika sebuah suara nampak menghentikan aksi tersebut.


"Heii mau apa kalian...!!, ..enak saja mau tidur di sini..!," teriak seorang kakek dengan baju compang camping nampak sudah tiduran terlebih dahulu dengan seenaknya di pojokan.


"Maaf orang tua ...kurasa tempat ini sangat luas, kita bisa berbagi," kata Narimo mencoba bertegur sapa.


"Apa..??!, berbagi...???!!, enak sekali kau berkata..!, memangnya ini tempat mu, bisa kau bagi bagi seenaknya..!," cerocos kakek itu dengan marah marah, namun masih meringkuk di pojokan.


"Lah memang tempat ini punya kakek, kenapa melarang kami beristirahat di sini..!," sahut Jaya mulai jengkel juga.


"Eeh...bocah.. mulut mu lancang sekali ya..!, kau tak tau berbicara dengan siapa memangnya..!," teriak sang Kakek makin meradang.


"Memangnya kau siapa kek?, kenapa aku harus mengenal mu..?."


Kakek tersebut mengangkat tangannya sambil masih berbaring, menunjukkan Tongkat kebanggaan nya yang di genggam di tangan kanannya, sebuah tongkat warna hijau giok miliknya.


Narimo yang melihat itu langsung gemetaran, sedangkan Jaya Sanjaya yang tak tau apapun hanya diam saja.


"Hhaaaah..?!!!?"


"Kau ketakutan sekarang melihat ku..?," ledek sang kakek kepada Jaya yang hanya terdiam.


"Memangnya kenapa aku harus takut..?." kata Jaya.


Pertanyaan bodoh dari Jaya itu, membuat sang kakek bangkit dari tiduran nya.


"Kampreeet...!!." seru sang Kakek setelah bangkit dari tiduranya.


Narimo yang mengetahui sosok tersebut, mencoba mengingatkan Jaya Sanjaya.


"N.. N-Nakmas..hati hati kalau bicara..," kata Narimo dengan suara bergetar ketakutan.


"Memangnya kenapa paman..?." Jaya bertanya dengan raut wajah kebingungan.


"D..d- dia...Raja Pengemis.."


"Ooh..raja pengemis.....," gumam Jaya Sanjaya dengan sedikit terkejut.

__ADS_1


"Pengemis saja punya raja..? cck..cck..??" kembali Jaya bergumam sambil geleng-geleng kepala dan berdecak.


"Setaan alaass..!!, kau meremehkan ku..., membuatku murka anak muda..!!," teriaknya kasar meloncat berdiri dengan tatapan garang.


Jaya balas menatap pria tua tersebut tanpa rasa takut.


"Kau sudah meremeh ku..!, maka kau harus menerima akibatnya..!!." kakek itu sudah terlihat sangat murka.


Narimo langsung maju bersimpuh menghormat, memohon pengampunan kepada Raja Pengemis tersebut.


"A... A-ampun..tuan pendekar..!, ampuni juragan ku yang tak tahu kehebatan tuan Raja Pengemis," kata Narimo berniat menyelamatkan Jaya dari amukan kakek tersebut.


"Huh kau saja tau kehebatan ku....!, suruh anak itu berlutut untuk menyembahku baru ku maafkan...!," kata Pria tua tersebut menunjukkan sikap arogan nya.


"A...A.ayo Nakmas berlutut bersama ku..," kata Narimo.


"Aku..??, berlutut..??, padahal tak salah apapun..?...Maaf aku tak mau..!." kata Jaya dengan tegas, membuat kakek Raja Pengemis yang mendengar langsung melesat maju.


"Anak kuraaang ajaaar...!!," teriak Raja pengemis, langsung maju melesat menyerang, menghantamkan tongkat nya.


Wwwuuuung....!!


Tak mau celaka, Jaya menepis dengan senjata pedang biasa, yang sengaja dia simpan di pinggang nya.


Traaang...!!


Hantaman yang cukup kuat itu membuat Jaya sedikit terdorong kebelakang, begitupun dengan Raja Pengemis yang sedikit terkesiap, karena daya pantul dari tangkisan Jaya menggambarkan pemuda tersebut bukan orang lemah.


"Heh..rupanya kau punya kemampuan anak muda..!."


Raja Pengemis menatap Jaya yang juga sudah bersiap menyambut serangan berikutnya.


"Huh..," dengus Jaya dengan marah.


Dia mulai memutar tongkat hijau senjata pusaka nya.


Angin menderu keluar dari gerakan putaran tongkat tersebut, menyibakkan dedaunan yang ada di sana.


JURUS TONGKAT PENGHANCUR..!!


Teriak Raja Pengemis mulai memainkan salah satu ilmu andalannya, sebuah seni beladiri senjata tongkat yang sangat di kenal oleh kalangan Pengemis.


Wuuung...!! wuuuung....!!


Tongkatnya menyambar kearah kepala Jaya dengan kekuatan hantaman yang mampu meremukkan sebongkah batu.


"Matiii ....kaaauuuu..!!."


Angin sambarannya saja mampu merobek kulit orang biasa, jika terkena.


Jaya menyambut serangan itu dengan jurus Manggar Pecah yang di ajarkan oleh kakek Jayeng Rono yang sudah sedikit di kembangkan oleh nya.


Duaaaar....!!


Sambaran tongkat itu di tepis pedang Jaya, lalu dari tangan kiri Jaya mengeluarkan gelombang pukulan dari jurus Manggar Pecah, menerjang ke arah Raja Pengemis yang langsung memutar Tongkat nya menghalau sambaran hawa pukulan lawan.


Wuusss....!


Duaaaar....!!

__ADS_1


Kembali benturan tenaga dalam terjadi, membuat keduanya orang itu terdorong kebelakang.


Raja pengemis makin penasaran, lawan yang hanya seorang anak muda mampu menahan beberapa kali serangannya.


''Siapa sesungguhnya bocah ini..?, belum pernah aku bertemu di jagat persilatan, namun cukup hebat."


Keduanya masih bertarung dengan gencar, saling serang saling tangkis, bertukar pukulan hingga beberapa saat.


"CUKUUUP..!!."


Teriak Raja Pengemis tiba-tiba menghentikan pertarungan, setelah beberapa puluh jurus berlalu dan dirinya mulai keteteran jika terus di langsungkan.


"Kenapa berhenti pria tua..!!," seru Jaya Sanjaya masih dalam keadaan jengkel.


"He.he..he..., aku sudah selesai..!," katanya sambil meloncat mundur tanpa punya rasa malu.


"Dasar kakek sinting..!," geram Jaya yang sudah akan mengeluarkan senjata andalannya dari ruang dimensi, jika harus terus bertarung seperti tadi.


Raja Pengemis yang kini tau kekuatan Jaya tak menanggapi umpatan anak muda tersebut.


"Kau memang hebat, jadi kita tak usah bertarung, aku bisa berbagi tempat untuk istirahat denganmu...," sahut Raja Pengemis enteng, tak memperdulikan raut wajah Jaya yang masih terlihat marah, dia berbalik dan kembali tiduran seenaknya di pojokan.


Jaya hanya menggeram saja, sedangkan Narimo makin ternganga dengan kehebatan Jaya Sanjaya, yang secara tidak langsung berhasil menaklukkan tokoh partai Pengemis tersebut.


Dirinya makin yakin dan senang bisa menghabiskan waktu mengembara bersama anak muda di samping nya.


Rasa penasaran akan Jagat Raya semenjak masih anak anak makin membuncah kini, dengan adanya teman seperjalanan yang cukup cakap.


**


Jaya Sanjaya sudah berkuda dengan Narimo, meninggalkan rumah yang semalam mereka singgahi.


Namun nampaknya kakek tua yang katanya Raja Pengemis itu membuntuti dari belakang.


"Waah gawat..!!, Raja Pengemis mengikuti kita Nakmas..!!," seru Narimo dengan wajah cemas.


Jaya hanya diam saja, tak menanggapi perkataan Narimo.


"Biarkan saja paman, jika nanti dia menyusahkan kita, aku sendiri yang akan menindak nya." sahut Jaya membuat Narimo lega hatinya.


Narimo kini yakin Juragannya pasti orang hebat, dengan usia begitu muda berani mengembara sendirian.


membuatnya bangga bisa mendampingi nya.


"Nakmas kita sudah sampai di bukit Meniran, sebentar lagi kita akan sampai di lokasi yang kita tuju."


"Hmm."


"Bukit ini memanjang sampai di kaki gunung di sana, dan kemungkinan siang nanti kita sudah sampai jika tak ada aral melintang," kata Narimo lagi menerangkan.


Jaya mengangguk, semakin kagum dengan wawasan tata letak seorang Narimo.


"Paman hebat sekali bisa tau banyak wilayah..," puji Jaya dengan jujur.


"He.he..itu semua berkat keluarga ku yang sejak dahulu kala menjadi pengantar barang dari biro pengiriman barang yang cukup di kenal Nakmas," kata Narimo dengan tersenyum, pikirannya melayang mungkin teringat tentang keluarga nya.


"Jadi sejak kecil aku sudah berkeliling di Panca Buana dan semua kerajaan yang di naungi nya."


Keduanya masih berbincang sambil berkuda, dan entah sejak kapan Raja Pengemis sudah mendekat seakan satu rombongan dengan mereka.

__ADS_1


____________


Jangan lupa tinggalkan jejak nya...


__ADS_2