Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Kediaman Jambumangli..


__ADS_3

Rakumba berhenti di sebuah tempat yang tersembunyi.


Merapalkan sesuatu, kemudian menjejak ke tanah sebagi ritual terakhir, seakan memberikan tanda sebagai pemancar.


Dengan nafas tersengal Rakumba duduk bersila melakukan pengaturan nafas memulihkan tenaga nya, bohong jika dirinya tak kewalahan menghadapi anggota Awan Putih.


Beruntung dirinya di jaga oleh Kiwo dan Tengen yang selalu membentengi dari serangan lawan, meredam dan memberikan balasan untuk melindungi sosok Rakumba.


Jika bukan karena dua sosok yang menjadi perisai dan senjata baginya itu, saat ini Rakumba pasti sudah tinggal nama.


"Keparat...., kelompok itu benar benar hebat."


"Selama ini tak pernah ada yang mampu menandingi Layon Pitu jika sudah di keluarkan dari tempat asalnya oleh Tetua Agung."


Di tengah rencana meditasinya, Rakumba bergumam pelan.


"Hmm, siapa anak muda yang sangat hebat itu..??."


**


"Kita lanjutkan perjalanan, Dinda Kumala kau yang akan menunjukkan dimana tempat tinggal orang tua mu." kata Jaya kepada Kumala yang ada di tengah rombongan bersama Pelangi.


Semua anggota Awan Putih masih terdiam, masih memikirkan lawan yang baru saja mereka hadapi.


Sekelompok lawan yang sangat menakutkan, karena tak bisa dihentikan dengan tebasan pedang dan pukulan.


"Benar benar kekuatan yang menakutkan," gumam empu Cipta guna, namun mampu di tangkap oleh Jaya.


"Apakah empu tau sosok sosok tadi."


"Ya..mereka adalah para legenda yang telah ratusan tahun lalu mati, dan anehnya kini mereka di bangkitkan lagi, entah siapa pelaku utama yang sanggup melakukan perbuatan mustahil ini."


Sekilas empu Cipta guna menceritakan empat sosok yang menyerang Jaya, namun tidak tahu dua sosok Kiwo dan Tengen.


"Hmm, aku makin penasaran dengan pemimpin Jiwa Abadi ini?, siapa sebenarnya? kenapa bisa melakukan sesuatu yang mustahil disini?."


Rombongan itu kembali membelah hutan yang tak terlalu luas tersebut, menuju ke markas Jambumangli ayah dari Kumala.


**


Selama sekitar satu tahun Kumala meninggalkan kediaman Jambumangli sudah banyak terjadi perubahan di kediaman rumah utama keluarga itu.


Semakin banyak saja anak buah yang ada disana dibanding saat Kumala masih tinggal di sana.


"Kita harus meningkatkan penjagaan, keadaan semaki gawat." kata kepala penjaga hunian Jambumangli, memberi perintah kepada seluruh anak buahnya.


Dengan semakin dekatnya pertemuan Serikat Pendekar, maka suasana dirasa semakin tak tentu.


Sewaktu waktu keadaan bisa berubah dengan cepat, hal kecil bisa memicu terjadinya perseteruan yang berujung pertarungan dan adu jiwa.


"Baik kepala penjaga." sahut anak buah yang menjaga hunian Jambumangli.


Markas utama salah satu tetua Ring lingkaran Kelompok Mata Iblis itu memang selalu dijaga karena rapatnya pertahanan di kelompok cabang menggambarkan akan kekuatan dari pusat kelompok tersebut.


Di dalam hunian Jambumangli masih berbincang dan berdiskusi dengan orang orang kepercayaan nya, membahas tentang perkembangan dunia persilatan dan kelompok mereka menjelang pertemuan Serikat Pendekar.


"Banyak kelompok baru yang bermunculan akhir akhir ini."

__ADS_1


"Selain Mata Dewa yang ternyata masih ada, banyak juga yang kini menampakan diri."


"Benar apa yang di katakan Tetua." sahut anak buah Jambumangli membenarkan.


"Bahkan saya juga sudah mendengar tentang kelompok Awan Putih yang kini menyita perhatian dunia persilatan,"sahut anak buah Jambumangli kembali.


"Ya..kelompok ini bahkan sudah cukup di kenal di negri Selatan (Kerajaan Agung Karang Pandan tempat bernaungnya kerajaan Jogonolo, Sirih Putih, dll kerajaan kecil di selatan)."


"Apalagi setelah kiprahnya membantu Ngarsopuro di negri tengah ini, nama Awan Putih makin moncer," balas Jambumangli.


**


"TAHAAANN..!." bentak suara, menghentikan orang orang Jaya yang akan memasuki wilayah menuju hunian Jambumangli.


"Kalian mau kemana? dan ada perlu apa?," tanya Penjaga hunian Jambumangli.


Kumala maju kedepan, menatap para penjaga, namun tak ada satupun yang dia kenali nya.


"Aku mau ketemu tetua Jambumangli, masihkah beliau tinggal disini?." sahut Kumala, menatap orang orang tersebut sedikit ragu, masihkan orang tuanya pemilik hunian disini?.


"Kalian siapa? dalam rangka apa menemui Tetua Jambumangli?."


Kumala tersenyum, mendengar penjaga menyebut nama orang tuanya, menandakan jika hunian ini masih milik keluarga nya.


"Aku anaknya, mau ketemu dengan ayah Jambumangli," sahut Kumala dengan cepat dan tersenyum.


Para penjaga saling berpandangan, kemudian menatap rombongan Jaya sekali lagi.


Sring...!


Sring...!!


"Jangan membual...!, kau mau menyusup dan mengacau di tempat tetua Jambumangli..ya...!!." teriak Penjaga yang berdiri di ujung, sudah mencabut senjatanya.


"Ndoro Putri memang sudah lama menghilang, dan sudah meninggal..!," teriak penjaga lainnya dengan senjata terhunus.


"Tangkap para penyusup ...!!," teriak sebuah suara dari balik pos jaga, rupanya dia pemimpin para penjaga disana.


Para penjaga langsung mengurung rapat rombongan Jaya.


"Hiaaaa...!!."


Seorang penjaga melesat menebaskan pedangnya menyambar Kumala.


Sriiing....!


Kumala sedikit bergeser, begitu tebasan tersebut lewat, tangan Kumala bergerak menghantam tengkuk penjaga tersebut.


Pruuukkk..!!


Begitu tengkukanya terpukul penjaga itu langsung jatuh tersluruk...pingsan.


Penjaga lain juga mulai menyerang menebaskan pedangnya.


Plaaak...!!


Plaaakk...!!

__ADS_1


Pukulan tangan kosong kembali menghantam para penjaga tersebut.


"Aarch.."


"Aarch.."


Kericuhan segera terjadi disana, para penjaga langsung heboh.


"Ada serangan..!!." teriak beberapa penjaga.


**


Jambumangli terkejut mendengar sayup sayup di gerbang depan terdengar kericuhan.


"Ada apa itu?." gumam salah satu tetua Ring lingkaran Mata Iblis itu, menatap tajam kearah luar.


"Keparat..!, siapa berani berulah di sini..!," gumam sang tangan kanan, salah satu orang kepercayaan Jambumangli, mendengus dan bangkit dari duduknya mencoba berjalan ke arah gerbang depan


Jambumangli bergerak menuju ke gerbang depan dengan diiringi oleh para petinggi kelompok disana.


Dilihatnya serombongan orang tengah dikepung, namun bisa dilihat jika malah anak buahnya yang terlempar kesana sini akibat hantaman kelompok lawan.


"Hentikan...!!," teriak Jambumangli, menggertak orang orang disana.


"Ayaaah...!!." sebuah teriakan mengagetkan Jambumangli.


Jambumangli menatap mencari sumber suara berasal, mengucek matanya seakan tak percaya dengan pandangan nya.


"K..ku.kumala anakku..!." teriaknya tercekat


Kembali Jambumangli mengucek matanya, menepuk pelan pipinya sendiri, memastikan dirinya tak bermimpi.


Kumala menghambur mendekati ayahnya.


"Iya..ayah..ini aku Kumala," sahut Kumala dengan derai air matanya.


Jambumangli langsung menangkap anak gadis nya yang sudah menghambur memeluknya sambil menangis.


Keduanya bertangisan melepas kerinduan yang selama ini tertahan.


Para penjaga langsung menunduk, merasa bersalah dengan sikap kurang sopan nya.


**


Rombongan Jaya sudah berada di ruang khusus, disambut selayaknya tamu penting.


"Maaf kan kesalahan pahaman tadi paman," kata Jaya mewakili kelompok nya.


"Kami yang harusnya meminta maaf kepada Nakmas dan seluruh rombongan, telah salah menilai."


"Padahal kalian sudah mengantar anakku dengan selamat hingga di kediamanku." balas Jambumangli sambil tersenyum, mengusap rambut Kumala dengan sayang.


"Ayaah..," kata Kumala pelan.


"Aku tak diantar kemari oleh Kakang Jaya, aku akan ikut kakang Jaya, kami hanya mampir, berkunjung sebelum menuju ke markas kami." kata Kumala lagi, membuat Jambumangli terkesiap sedikit bingung.


"Apa maksud mu anakku?."

__ADS_1


___________


Jangan lupa tinggalkan jejak nya....


__ADS_2