Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Koloireng mengembara


__ADS_3

"Ampun Yang Mulia, kami belum sempat ke istana Karang Doplang untuk "sowan" ke hadapan Yang Mulia," kata Jaya dengan penuh sopan santun.


"Mohon maaf juga keadaan seperti ini, kami tak bisa menyambut kedatangan Yang Mulia sebagaimana mestinya Karena tak ada pemberitahuan sebelumnya."


Prabu Wiramerta yang sudah duduk di ruang tamu di markas utama tersebut tersenyum, "Apakah kau sudah tahu siapa aku?selain sebagai Raja Karang Doplang tentu saja.''


Semua anggota Awan Putih yang ada disana bingung apa maksud Raja Sepuh tersebut, Karang Doplang adalah kerajaan kecil yang hampir dilupakan dunia meski secara wilayah tetap memiliki kekuasaan namun keberadaan nya seperti dianggap hilang.


"Apakah kau juga tidak tahu apa yang ku maksud, putri Pelangi?," tanya prabu Wiramerta, menatap Pelangi yang masih terdiam.


Pelangi kaget, bagaimana Raja Karang Doplang bisa mengenalinya, diantara dirinya dan Kumala, meski dia sadar jika raja tersebut adalah kakeknya.


"He.he..he..., tak usah bingung kau sedikit mirip dengan Arumi ibu mu." sahut sang prabu kembali membuat Pelangi dan Jaya langsung tanggap arah pembicaraan tersebut.


"Apakah maksud Yang Mulia, anda adalah kakek Pelangi?." pancing Jaya sambil menatap prabu Wiramerta yang masih tersenyum senang.


"He.he..he...tepat sekali anak muda, rupanya kau cukup pintar."


Perbincangan yang semula kaku lambat laun melebur menjadi perbincangan yang penuh kekeluargaan, setelah prabu Wiramerta secara resmi memperkenalkan diri sebagai kakek putri Pelangi dari garis keturunan ibunya, khususnya kepada para Anggota Awan Putih.


**


Jiwa Abadi mulai berbenah, membangun kembali kekuatannya lewat anak buah yang sempat di kalahkan oleh rombongan Jaya, yang kini mulai membaik.


Krash Karsh kini mulai pulih, demikian juga dengan Sumantri si Mata Malaikat dan pyong Karund mulai terlihat sudah aktif kembali.


Rakumba si Mayat juga masih menyiapkan kelompok nya Layon Pitu, menjadi lebih hebat lagi.


"Apakah pasukan yang kau bentuk sudah mulai aktif?." tanya Iblis Wari kepada Krash Karsh.


"Sudah Tetua.., bantuan pasukan yang tetua ciptakan bahkan sudah mulai ikut bergabung." sahut Krash Karsh, memang dua iblis menciptakan pasukan yang lebih banyak dan kuat untuk di pimpin Krash Karsh, pasukan yang bisa menjadi manusia separuh Srigala.


Selain itu juga masih banyak anggota Jiwa Abadi lainnya yang kini makin bermunculan, mendekati pertemuan Serikat Pendekar nantinya, seperti Kalong Setan beserta kelompok nya, terus ada satu lagi yaitu pasukan perusak yang bernama Semut Rangrang yang terdiri dari sekelompok anggota Jiwa Abadi yang bertugas bertarung di garis terdepan.


**


Raja Karang Doplang makin terlihat senang begitu mendapati jika ternyata tetua Awan Putih adalah calon cucu menantu nya.


"Aku turut sedih saat mendengar peristiwa itu, tapi melawan dunia persilatan dengan jumlah ribuan orang yang sudah dibutakan oleh nafsu serakah juga bukan hal mudah."


"Selain itu, kedatangan pasukan ku juga terlambat, dirimu yang saat itu masih bayi ternyata sudah di amankan berkat kesetiaan para Kawulo Romo mu," kata Prabu Wiramerta, pikiran nya menerawang jauh ke masa silam.


"Aku turut senang akhirnya kau bisa selamat, mendapatkan keluarga baru yang saling melindungi," kata Prabu Wiramerta kembali.


"Benar apa yang di katakan kakek Prabu, saya merasa terlindungi disini bersama kakang Jaya dan semua yang ada disini." sahut Pelangi dengan mata berkaca kaca, sedih mengingat perjalanan hidupnya.

__ADS_1


Kumala mengusap pelan bahu Pelangi, seakan ikut juga merasakan penderitaannya.


Sesaat hening sekejap, seluruh orang ingatannya kembali mengenang masa masa menyedihkan kala itu.


"Syukurlah kini semua berlalu, aku berjanji akan melindungi keluarga dan anggota kelompok ini," kata Jaya memecah keheningan dengan janjinya.


Prabu Wiramerta kembali tersenyum, mengangguk angguk kan kepalanya, begitu mendengar janji pemimpin Agung Awan Putih tersebut.


**


Betorokolo Koloireng sudah berada di sebuah wilayah yang dekat dengan perkampungan.


Guru dari Kumala tersebut tengah mengembara mencari tahu keberadaan dari muridnya tersebut.


Cerita dari muridnya jika dia anak dari salah satu tetua Ring lingkaran Mata Iblis membuat kakek itu menuju ke markas hunian tetua ring tersebut.


"Hmm, menurut Kumala aku harus berjalan ke arah sana untuk menemukan hunian keluarga nya." gumam Koloireng sambil menatap kearah yang ingin di tuju.


Kakek tua itu meloncat melesat mendekati perkampungan tersebut.


Sepanjang perjalanan kakek itu melihat semua kini sudah berbeda dengan sebelumnya, bahkan jauh berbeda dengan puluhan tahun yang lalu.


Tempat yang dilewati nya lebih ramai dan banyak hunian yang makin kini kian bertebaran.


"Hmm, banyak juga kelompok yang bermunculan rupanya," gumamnya sambil menatap sebuah bangunan yang terlihat masih baru dan megah, Koloireng menatap sebuah papan nama sebuah kelompok.


Koloireng berdiri di depan gerbang untuk melihat lihat, sudah puluhan tahun dirinya tak melihat dunia luar, ada rasa takjub juga melihat perkembangan dunia luar saat ini.


"Heii..!, pergi sana...!, kami tak memberi sumbangan..!." sebuah teriakan mengagetkan Koloireng yang masih toleh toleh, melihat bentuk bangunan yang terlihat lain seperti saat di zaman nya.


"Sontoloyo...memangnya siapa yang mencari sumbangan..!." balas Koloireng dengan bersungut sungut.


Tiga bayangan melesat mendekat kearahnya, "Jika tak mengemis mencari sumbangan?, terus kenapa berdiri didepan pintu..!." bentak salah satu dari tiga orang tersebut.


Koloireng terus terdiam, mau berkata kagum karena melihat bangunan megah, dirinya tak mau jika makin di remehkan.


"Pergi...!, pergi...!, jangan membuat kelompok Tiga Pedang Surgawi malu, kami akan menerima tamu penting..!," seru salah satu orang itu lagi.


"Cuiih, lagak mu sombong sekali..!," gumam Koloireng, meski begitu dirinya tetap saja menyingkir sedikit menjauh.


Tak berapa lama tokoh tua itu menyingkir terlihat serombongan orang orang berdatangan ke tempat kelompok tersebut.


Melihat Panji Panji dan umbul-umbul yang di kibarkan nampaknya yang datang adalah kelompok Naga Hijau yang berasal dari Kerajaan Agung Wukir Asri, dimana salah satu tetuanya bernama Kebo Mahesa (baca chapter Cacing Darah Dewa).


"Selamat datang saudara kami dari Naga Hijau...!," sambut para petinggi Tiga Pedang Surgawi yang berdatangan begitu tamu nya terlihat di gerbang depan.

__ADS_1


Dua kelompok itu saling menjura, memberikan penghormatan selayaknya para pendekar.


"Mari silahkan masuk tuan tuan ," sambut para petinggi dari tuan rumah.


Rombongan yang berjumlah limapuluhan orang itupun memasuki markas Tiga Pedang Surgawi, langsung menuju ke pendopo yang ada di dekat gerbang depan tersebut.


Koloireng yang sudah lama mengasingkan diri, begitu tertarik melihat banyak orang berkumpul kumpul.


Dirinya langsung meloncat kesebuah pohon tinggi yang ada di sebelah pendopo, namun ada di luar tembok pembatas kelompok tersebut, penasaran dengan apa yang akan di bicarakan dua kelompok tersebut.


Terlihat dari atas pohon para petinggi dua kelompok itu tengah berbincang, saling membanggakan kelompok nya masing masing.


Memang di pertemuan kerjasama itu sebelumnya sudah di katakan jika keduanya akan mengadakan pertandingan persahabatan dari dua jagoan masing masing, sebelum nantinya akan berkongsi menjadi satu golongan.


Koloireng nampak tersenyum, mulai menyaksikan dua wakil dari dua kelompok itu yang mulai maju ke depan mewakili kelompok masing masing.


"Hmm, rupanya kelompok kelompok ini mau menjajal kekuatannya, sebelum bergabung." Koloireng menatap dan menajamkan pendengarannya.


Dua orang sudah berdiri saling berhadapan, dari kelompok Tiga Pedang Surgawi memakai baju atas putih dan bawahan gelap.


Sementara itu dari wakil Naga Hijau memakai baju tanpa lengan dengan baju dominan hijau.


Keduanya kini sudah bersiap dengan memainkan jurus jurus pembuka.


Koloireng menatap dua orang yang bersiap bertarung tersebut.


"Ayo kisanak ...silahkan mulai..!," seru wakil dari Tiga Pedang Surgawi.


"Kisanak yang tuan rumah, aku persilahkan menyerang dahulu..," balas wakil Naga Hijau dengan penuh percaya diri.


Setelah mendapat perintah lawannya, wakil dari Tiga Pedang Surgawi langsung melesat.


"Hiaaaa...!."


Sebuah serangan berupa berupa pukulan sedikit melingkar dilayangkan kearah anggota Naga Hijau.


Wuuuss..


Taaak....!!


Pukulan itu tertangkis dengan baik saat wakil dari Naga Hijau menyilangkan tangannya.


Keduanya kini sudah saling serang dengan bergantian, Koloireng yang melihat itu hanya mendengus, pasalnya keduanya masih belum menunjukan olah Kanuragan tingkat tinggi.


"Cck, kelas petarung sayur.."

__ADS_1


__________


Jejaknya......


__ADS_2