
Para pendekar dari berbagai golongan sudah nampak mengawasi hutan yang mulai gelap tersebut.
Tak adanya pencahayaan di malam hari membuat sinar aura pusaka tersebut makin jelas terlihat.
Wuuusss...!!
Sebuah bayangan seorang pendekar berkelebat menuju arah pendar sinar pusaka itu berasal, namun belum sampai dia di tempat yang di tuju sinar tersebut sudah melesat menghindar dari kejaran nya, membuat para pemburu pusaka lainnya terperangah.
"Sialaaan...!!."
Umpat pendekar tersebut melihat buruannya nampak melesat menjauh.
"Pusaka apakah itu..??," seru pemburu pusaka lainnya makin penasaran dengan pergerakan aura pusaka tersebut.
"Kurasa bukan sebuah senjata perang," sahut yang lainnya lagi, sambil menatap dan mengira ngira, jenis apa pusaka tersebut.
"Tapi jika melihat aura nya pasti pusaka itu pusaka tingkat Langit setidaknya, atau bahkan tingkat Dewa," kata yang lainnya lagi.
Semua masih mengira ngira pusaka disana sambil menatap jauh ke hutan yang ada di hadapan mereka.
**
Rombongan Jaya sudah meninggalkan tempat Gagak Hitam, mereka bahkan sudah meninggalkan kawasan hutan yang menjadi wilayah kekuasaan mereka.
Jalur yang di tempuh kali ini berbeda dengan saat bersama Kakek Randu Sembrani, mereka langsung menyisir pinggiran kerajaan kecil Jogonolo yang berbatasan dengan kerajaan Pandaegalang yang ada di bawah Naungan Kerajaan Agung Karang Pandan.
"Apakah jalur ini lebih cepat paman..?," tanya Jaya kepada Narimo yang paling hafal jalur tersebut.
"Tentu saja Nakmas, lebih cepat dan nyaman."
"Lebih nyaman..?," tanya Kumala sambil memandang Narimo.
"Iya, Ndoro Ayu, karena sebentar lagi akan melewati beberapa wilayah kota perbatasan yang cukup ramai."
"Kota perbatasan..?."
Narimo mengangguk, "Kota perbatasan antara kerajaan Pandaegalang dan kerajaan Jogonolo."
"Aneh...kota perbatasan kok malah ramai paman..?." potong Jaya Sanjaya dengan keheranan.
"Ya..karena kota ini pada dasarnya milik Kerajaan Karang Pandan dan di bawah kelola Kerajaan Agung tersebut."
"Memangnya ada apa di jalur ini..?, kenapa bisa di bawah kuasa langsung Kerajaan Agung..? bukankah secara tata letak ada di wilayah kerajaan naungan..?."
"Justru itu Nakmas, karena di tempat ini ada yang berharga dan terletak di wilayah kerajaan kecil yang di naunginya maka akhirnya di ambil alih oleh Kerajaan Agung yang memiliki kekuatan lebih."
"Apa itu yang berharga di jalur ini..?." tanya Baroto Sarkawi penasaran karena wilayah tersebut jauh dari tempat tinggal nya terdahulu.
"Hasil pertambangan, lebih tepatnya penempaan senjata bukan begitu saudara Narimo..?," potong Pitu Geni yang memang sering mendengar asal senjata banyak dari wilayah ini.
"Ya.. perkataan tuan Pitu Geni benar adanya, namun ada yang lebih menghasilkan lagi yaitu pertambangan emas yang menjadikan bahan perhiasan," kata Narimo lagi.
Semua mengangguk mendengar penjelasan dari Narimo.
"Tapi Nakmas jangan kaget jika nanti kita melewati wilayah itu, kita di pungut biaya, alasan nya untuk uang keamanan, karena nanti di wilayah tersebut akan ada banyak penjaga yang di pekerjakan untuk menjaga tempat tersebut."
__ADS_1
Jaya yang merasa menanggung biaya semua orang orangnya hanya mengangguk saja.
**
Sebuah wilayah yang terlihat mewah dan hampir setara dengan ibu kota Kerajaan Agung tampak terpampang.
Total ada tiga wilayah kota yang memiliki suasana hampir setara di sepanjang jalur tersebut.
Kota Lembah Emas, kota Bukit Emas dan kota Gunung Emas.
Masing masing kota tersebut di pimpin oleh pemimpin kota, yang di pilih Langsung oleh pihak kerajaan Karang Pandan.
Jadi Pertanggung jawaban para pemimpin kota dan segala upeti langsung mengalir ke Kerajaan Agung Karang Pandan.
Dari ketiga kota tersebut yang paling berpenghasilan banyak adakah kota Gunung Emas, wilayah tersebut paling banyak menghasilkan senjata dan juga perhiasan Emas yang nantinya di akan di jual dan di edarkan seantero wilayah.
Namun dua kota lainnya juga tetap menghasilkan banyak uang dan harta benda dari hasil pertambangan itu.
"Kita sudah memasuki kota Lembah Emas Nakmas," kata Narimo kepada Jaya sambil menunjuk lampu lampu yang terlihat menerangi sebuah wilayah.
Rombongan itu tiba di tempat tersebut bertepatan dengan matahari tenggelam di ufuk barat.
"Ya kita cari penginapan yang ada tempat makannya sekalian beristirahat," sahut Jaya kepada seluruh rombongan nya.
"Waah...enak sekali aku ikut kakang Jaya, apa apa selalu terpenuhi, tak harus mengeluarkan uang pribadi," kata Kumala pelan di dekat jaya, karena kuda keduanya jalan saling berjajar.
"Kan Dinda rombongan ku, jadi wajar jika aku menanggung beban biaya perjalanan, bukankah susah senang kita tanggung bersama." sahut Jaya membuat Kumala tersenyum lebar.
"Kakang memang bertanggung jawab," sahutnya dengan pipi memerah.
Rombongan tersebut kini mendekati gerbang masuk kota itu, dimana terlihat banyak penjaga keamanan disana.
Tampak para penjaga menghentikan rombongan Jaya yang berniat masuk ke kota tersebut.
Narimo langsung maju untuk mengurus perijinan melewati tempat tersebut, serta mengurus pembayaran di gerbang pemeriksaan tersebut.
"Waah.. ternyata lumayan mahal ya untuk melewati kota ini," gumam Kumala pelan, namun mampu di dengar Jaya yang kini sudah berjalan menuntun kuda melihat keindahan kota tersebut.
"Memangnya berapa tadi paman Narimo membayar untuk melintasi kota ini..?."
"Satu orang dua puluh keping koin perak bukankah itu harga yang keterlaluan..total kita berlima satu keping koin emas." Sungut Kumala, sedikit jengkel.
Jaya hanya tersenyum, melihat Kumala jengkel dan sayang melihat uang terbuang cuma cuma menurutnya.
Kota yang terlihat lain daripada yang lain karena kemewahannya, membuat semua nampak terpana, rupanya teknologi bahan bakar gas alam sudah ada di wilayah ini terbukti dari pencahayaan lampu lampu yang hasilkan dari gas alam tersebut.
"Luar biasa indahnya..," seru Kumala tak bisa menutupi kekagumannya.
Bangunan bangunan nampak menjulang, dengan pencahayaan yang terang benderang.
"Kita cari tempat makan paman." kata Jaya menyadarkan orang orang atas kekaguman terhadap kota tersebut.
"Oh..iya Nakmas," sahut Narimo lalu berjalan lebih dulu sebagai penunjuk jalan.
Meskipun malam hari namun kota tersebut masih terlihat ramai dan terang benderang, karena di mana mana terdapat pencahayaan yang cukup terang.
__ADS_1
**
Beberapa bayangan sudah melesat mendekat ke arah sumber cahaya yang di sinyalir pusaka tersebut.
Namun begitu mendekat langsung benda tersebut melesat menjauh.
Para pendekar tersebut bergerak lebih cepat, mencoba menangkap sebuah benda yang terlihat seperti semacam zirah namun biasanya untuk melindungi bagian belakang punggung dari pemakai nya.
Rupanya pusaka yang selama ini bersinar adalah zirah sayap Garuda, sebuah pusaka legendaris yang membuat pemakainya bisa terbang sebagaimana seekor burung.
Zirah sayap Garuda bukan hal yang aneh buat para pendekar, karena banyak juga tokoh sakti yang memiliki benda tersebut, perbedaanya hanya pada penyebutan nama dan pada daya tahan kemampuan yang di miliki oleh benda tersebut untuk membuat si pemakai melayang terbang di udara.
Kembali para pemburu pusaka berlomba menangkap benda pusaka tersebut.
"Aku dapat..!!," teriak seorang pendekar sambil menangkap zirah sayap Garuda.
Brauugh...!!
"Aaarch...!!."
Sebuah hantaman mengenai badan nya, membuat pendekar tersebut terpelanting dan terlempar.
"Keparaat...!!, kau berani mengganggu Ki Balungan..pendekar pedang kilat..," teriaknya kepada penyerangnya.
Tampak orang yang berjuluk pedang kilat dan bernama Ki Balungan sudah mencabut pedang nya.
Sementara zirah sayap Garuda sudah terlepas dari tangannya.
"Kau harus membayar untuk kerugian yang aku alami...!!," bentak Ki Balungan.
Sementara orang yang telah menghantam Ki Balungan sudah memutar celurit senjatanya.
"Sebutkan nama mu..! dan dari mana asalmu bangsat..!, jika nanti ada mencari biar aku kasih tau..!."
"Aku Jumarno orang memanggilku celurit sakti..yang nantinya akan memiliki Sayap Garuda itu..!," balas lawan dari Ki Balungan tersebut.
Keduanya kini tengah bersiap bertarung padahal zirah sayap Garuda sudah terlepas dan menjauh entah ke arah mana.
"Hiaaaa...!!."
Pedang kilat Ki Balungan sudah meloncat maju menebaskan pedangnya mencoba memotong badan Jumarno Clurit sakti.
Traaaang...!!
Sambaran pedang itu di tangkis oleh celurit Jumarno, bahkan Jumarno memutar pergelangan nya mencoba mengait pergelangan lawan dengan ujung celurit nya.
"Bajingaan...!!, kau pikir aku bodoh..!!," teriak Ki Balungan dengan menarik tangan dan pedang nya.
Lalu kembali Ki Balungan meloncat sengan zig-zag menebaskan pedangnya.
Gerakan yang tak terduga tersebut membuat Jumarno sedikit kalang kabut, namun akhirnya berhasil juga menangkis hantaman pedang dari lawannya tersebut.
CTAAANG..!!
Suara benturan terdengar makin keras saat kedua senjata itu beradu dengan hebat.
__ADS_1
____________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya....