Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Saling Mencerahkan


__ADS_3

Sumpah Janji Langit kurang tiga hari lagi, rombongan dari istana Ngarsopuro dan Jambumangli sudah tiba di sana.


Semua terlihat gembira, saling melepas rindu karena lama tak bertemu, terutama sang Prabu Danar Kencono raja Ngarsopuro, Permaisuri serta Pelangi.


Begitu juga dengan Jambumangli, ibunda Kumala dan Kumala, meski sebelum peristiwa Purnama Berdarah mereka juga bertemu, tapi tetap saja rasa kangen terasa membuncah.


Namun saat kedua gadis itu sendiri, rasa khawatir, takut dan cemas tetap saja tak bisa di hilangkan dari hati nya. Mereka berdua menutupi rasa ketakutan tersebut dengan senyuman di bibirnya, tak ingin pihak keluarga dan anggota Awan Putih lainnya menjadi tahu inti permasalahan nya, karena tak sembarang orang boleh tahu jati diri sang "calon Suami".


Pendopo depan sudah di pasang tenda yang cukup besar dan panjang, karena tamu undangan yang akan hadir sangatlah banyak, maka harus di sediakan itu. Awan Putih saat ini adalah kelompok terbesar dan sudah menjadi poros dari semua kelompok di jagat persilatan maka tak heran jika banyak yang ingin menghadiri acara tersebut. Belum lagi dari pihak istana yang ada di Panca Buana.


"Ayo sarapan dulu..!," teriak Narimo kepada para anak buah yang sang bekerja.


"Percil..!, bawa anak buahmu sarapan, habis itu bersihkan gerumbulan rumput yang ada di pojokan sana..!," teriak Narimo lagi kepada salah satu Lurah pasukan.


"Injih ndoro.." sahut Percil bergegas menggiring anak buahnya ke dapur umum.


Narimo adalah orang yang paling sibuk di acara ini, dia adalah kepala urusan rumah tangga yang mengatur segala kebutuhan kelompok, kepintarannya dalam mengatur keuangan dan urusan kerumah tanggaan di uji kali ini dengan hajatan perkawinan sang Tetua Agung.


Jika biasanya perkawinan di langsungkan di kediaman sang perempuan tapi kali ini di langsungkan di pihak laki laki, karena memang jika di ibaratkan kelompok Awan Putih setingkat dengan Kerajaan Agung, lebih tinggi tingkatannya di banding kerajaan biasa.


Narimo menatap hasil pekerjaan para anak buah, meski hari H masih tiga hari lagi namun tenda tenda sudah berdiri kokoh di beberapa tempat, seluruh bagian dari tempat di Awan Putih juga sudah di hias dengan aneka umbul umbul dan hiasan dedauanan termasuk janur janur untuk menambah keindahan.


"Semoga kebahagiaan ini tak berakhir," gumam Narimo sedih, saat mengingat sebentar lagi malah sang Tetua akan meninggalkan mereka.


**


Di alam lain, sebuah alam yang langitnya selalu terselimuti kabut hingga membuat suasana alam terlihat remang berdiri sesosok tinggi besar dengan gagah menatap kejauhan.


Tatapannya yang tajam penuh dengan kemarahan dan dendam yang membara jelas terlihat dari raut wajahnya, semua itu menyiratkan bara yang berkobar di dadanya, ya..kemarahan yang sudah tak terbendung lagi.


Tak jauh di dekatnya berdiri, duduk bersila beberapa sosok dengan perwujutan yang sama, mereka tampak menunduk penuh penghormatan kepada sosok yang tengah berdiri tersebut.


"Ggggrrhh aku sudah mendengar semua kegagalan itu."

__ADS_1


"Kita persiapkan diri, aku sendiri yang nanti akan memimpin pasukan ku menyerang mereka, karena aku yakin pasti ini ulah mereka yang ikut campur masalah ini...gggrrrhhhhh."


"Ggrhhh..benar Yang Mulia, kita langsung serang mereka seperti ribuan tahun lalu, karena hamba dengar kekuatan utama mereka sudah tak ada di sana..!."


"Terus susupkan pasukan kita kesana, beri perintah untuk tetap bersembunyi di kegelapan hutan dan jurang jurang sampai kita datang nanti."


"Perintahkan untuk tenang, diam dan jangan membuat ulah yang bisa menimbulkan kecurigaan."


"Sendiko dawuh Yang Mulia."


**


Jika yang lain menutupi kecemasan dan kekalutan hatinya dengan pura pura bahagia tak demikian dengan Sumanjaya.


Sosok tua itu lebih banyak termenung dan kelihatan bersedih.


Kehebatan dari jurus Mata Malaikat yang terkadang memberikan gambaran dalam pikirannya membuat pria tua itu sangat bersedih.


Di sisi lain kelaparan hebat melanda semua tempat karena alam nya sudah rusak parah, bahkan tak bisa


di tanami lagi oleh tumbuhan.


Dalam penampakan yang di lihatnya tersebut, hampir tak ada kedamaian apapun, semua saling serang dan saling bunuh.


Yang membuat ngeri lagi, mereka saling serang hanya untuk memakan mayat dari lawannya, benar benar alam yang sungguh kacau balau, sifat penghuninya tak lebih baik dari hewan rendahan.


"Kenapa Kakek terlihat sangat tak bersemangat? ada apa?." Jaya mendekat ke arah Sumanjaya yang masih duduk termenung di bawah pohon jauh di belakang bangunan.


Jaya yang ingin bertukar pikiran dengan Sumanjaya memang tadi mencari nya di kediaman sang kakek tersebut. namun bawahan Sumanjaya mengatakan jika kakek tersebut sedang mencari angin di hutan belakang kelompok, maka Jaya bergegas menyusulnya.


Sumanjaya tersenyum, "Memang aku tak bisa menyembunyikan apapun dari mu Nakmas Junjungan." kekehnya.


Jaya mendekat ikut duduk di batu yang ada di bawah pohon tersebut, membuat Sumanjaya bergeser ingin duduk di bawahnya, namun di cegah Jaya. Meski masih memanggil Jaya dengan sebutan Nakmas Junjungan tapi Sumanjaya tahu pria di sampingnya tersebut adalah sosok Dewa Perang alias Dewa Cakra Tirta.

__ADS_1


"Tak usah menjauh, ceritakan padaku apa yang membuat galau kakek Suman?."


Sumanjaya menarik nafasnya, tak ada memang suatu hal yang bisa di sembunyikan dari pandangan sang Tetua.


"Saya mendapat penerawangan yang sangat mengerikan Nakmas."


"Tentang kehancuran dunia?."


"Kehancuran Jagat Raya." sahut Sumanjaya.


Jaya terdiam, merenungi ucapan Sumanjaya.


"Semua Jahat Raya dan seisinya adalah milik SANG PENCIPTA."


"Jika Yang Maha Kuasa tersebut ingin menghancurkannya pasti akan sangat mudah karena semua ini ciptaan-Nya."


"Namun jika SANG PENCIPTA ingin menjaga nya pasti ada saja jalan nya."


"Kita hanya makhluk yang harus berlaku sesuai dengan 'titah' kita, menjauhi larangannya dan melaksanakan kebaikan sesuai perintahnya."


"Jika memang SANG PENCIPTA menginginkan Jagat Raya akan hancur, sekuat apapun kita menjaganya maka akan hancur, tapi jika Sang Pemilik Semesta menginginkan Jagat Raya ini utuh maka bantuan dari-Nya pasti akan tiba."


Sumanjaya mengangguk mendengar perkataan Jaya, benar apa yang di katakannya, sekuat apapun makhluk ciptaan SANG PENCIPTA akan dengan mudah di hancurkannya jika memang Sang Pemilik Kehiduoan itu sudah ingin mengambilnya kembali.


"Kita lakukan apa yang bisa kita lakukan sekuat tenaga kita, kita cegah apa yang bisa kita cegah semampu kita, selanjutnya kita serahkan kepada SANG PENCIPTA."


Sumanjaya mengangguk angguk, terkadang kita memang membutuhkan orang lain untuk menguatkan apa yang kita yakini menjadi lebih yakin lagi, seperti saat kita bercermin melihat penampilan kita disana, terkadang kita masih bertanya kepada orang lain bagaimana penampilan kita, padahal kita sudah melihat sendiri bagaimana rupa kita, aneh bukan?


___________


Jejaknya....dukung juga karya baruku bergenre romantis


__ADS_1


__ADS_2