
Perang makin terlihat lebih dahsyat kali ini, kedua belah pihak tak ada yang mau mengalah, semua nampak ngotot ingin memenangkan pertempuran itu, semua berfikir tidak ada lagi kata mundur selain memenangkan perang tersebut.
Menurut para pendekar, jika tak memenangkan pertempuran kali ini maka sama saja dengan mencari mati, begitu juga dengan para iblis jika tak memenangkan perang tersebut maka mereka juga tak akan bisa kembali ke alam iblis karena pasti kesulitan dengan tak adanya portal yang setabil.
Setelah mendapat pencerahan dari Jaya, terbukti kini para pendekar tersebut sudah tak menuruti egonya lagi dalam pertempuran.
Saling bahu membahu, saling membantu menutup celah kekurangan yang ada.
Sukat Jaladri( Dewa Es) dan Nambi Tosa (Dewa Api) bahkan terlihat saling bekerjasama melawan gempuran para Iblis dan Layon yang menyerang keduanya.
Mereka yang selama ini melakukan perang dingin, saling bermusuhan, tapi kini tak lagi menampakkan permusuhan yang selama ini menghinggapi keduanya, mereka terlihat bekerja sama.
"Awaas dari bekakang...!!," Nambi Tosa berteriak, saat sesosok Layon mencoba melukai Sukat Jaladri.
BOUUMMM..!
Nambi Tosa menghantam lawan yang mencoba membokong Sukat Jaladri.
"Gggrrhhh...!.''
Iblis tersebut mencelat dengan dada terbakar oleh api yang di ciptakan oleh sang Dewa Api.
"Terimakasih...!." seru Sukat Jaladri, dengan tulus Dewa Es itu mengucapkan rasa terima kasihnya.
"Sama sama..!." balas Nambi Tosa si Dewa Api, kini keduanya kembali bertarung bersama sama membasmi para Iblis dan Layon.
**
Di sisi lain terlihat sang Pemimpin Mata Iblis, Lembu Klewang tengah menghadapi Sosok iblis dan Layon.
Pertarungan yang terlihat berat sebelah tersebut membuat Lembu Klewang terdesak hebat.
Pemimpin Mata Iblis itu di serang habis habisan oleh gabungan Iblis dan Layon.
CLAAAPP...!!
Tiba tiba sebuah sinar melesat ke arah lawan dari Lembu Klewang, yang hampir saja menghantamkan senjatanya ke arah ke arah pemimpin Mata Iblis tersebut.
DUAAARRR...
Lesatan jurus Mata Iblis yang di lepas oleh Koloireng berhasil menghajar Layon dan Iblis hingga mereka terpental dan selamatlah Lembu Klewang.
Sedikit terkejut Lembu Klewang begitu menyadari Betorokolo Koloireng yang bersedia membantunya.
"Terima kasih Sesepuh," dengan sedikit tak enak hanti, sang Pemimpin Mata Iblis itu mengucapkan rasa terima kasihnya.
Lembu Klewang masih merasa bersalah hingga saat ini, atas semua kejahatannya terhadap sang sesepuh, hingga membuat sang Betorokolo itu tersingkir dari markas Mata Iblis.
"Tak usah di pikirkan..!, terus bertarung saja..!," Koloireng dengan wajah datar berkata, sambil terus bertarung melawan para pasukan lawan yang mengerubuti mereka.
**
Jaya masih menajamkan matanya, mengitari semua wilayah di padang Selayang Pandang tersebut, niatnya mencari dua sosok iblis yang menjadi lawannya, namun wujut semua iblis yang hampir sama membuatnya kesulitan.
"Dimana biang kerok masalah ini..!!." gumam Jaya pelan, memutar kedua matanya.
Disaat Jaya masih terfokus mencari Iblis Wora dan iblis Wari, tiba tiba datang beberapa Layon langsung mengurungnya.
"Kita bertemu lagi kisanak..!,"seru Rakumba, sambil membawa beberapa Layon Utamanya.
__ADS_1
Selain Layon Pitu yang pernah bertarung dengan Jaya kini ada beberapa Layon lagi yang terlihat ikut mengerubungi Jaya.
"Huh..!, gedibal iblis akhirnya muncul juga..!." balas Jaya
Rakumba menatap Jaya dengan sorot mata sangat marah.
"Aku membawa pasukan yang lebih hebat, tak akan ku lepas kau kali ini..!," ancam sang Mayat sambil menatap tajam ke arah Jaya.
"Tak salah ucapanmu? harusnya aku yang berkata demikian..!?, aku yang kali ini tak akan melepasmu...!, dasar manusia iblis..!," balas Jaya dengan geram.
Rakumba menggerakan tanganya, hingga para Layon langsung bergerak mengurung Jaya.
KRATAAAAAK...!
Seorang Layon yang ada di sisi kanan langsung menggerakkan tangannya, sebongkah tanah langsung melesat menghantam ke arah Jaya.
"Haaah...??, pengendali tanah..??!!."
"Hiiaa..!.'' Jaya melenting menghindari serangan tersebut.
WUUUNGG...!
Sebuah sambaran angin cukup keras menerjang ke arah Jaya yang masih melenting di susul oleh sebuah bayangan melesat menerjang Jaya.
BLAAARRT...!!
Jaya menepis hantaman Layon lainya tersebut, dan terjadi ledakan yang membuat Layon tersebut terpental.
"Hmm, rupanya kau membawa para legenda Bumi Langit dan Kuda Terbang."
Rupanya Layon pertama yang mengendalikan tanah adalah Leluhur dari Bumi Langit yaitu Jagat Mandhala Bawono.
Wuuuss...!
Wuuuusss...!!
Layon Layon lainnya langsung melesat berhamburan menyerang ke arah Jaya.
Hawa Panas dari RaJa Neraka menyeruak menerjang ke arah Jaya.
Begitu Juga dengan hawa dingin yang sangat kuat menghadang dari sisi yang lain, Iblis Salju juga sudah mengurung Jaya.
Puluhan Layon yang merupakan Layon Utama tersebut kembali mengurung Jaya, nampaknya Rakumba benar benar ingin memusnahkan sang Jagoan kita tersebut.
**
Dwarakolo masih bertarung dengan dua Legenda dari Kuda Terbang tersebut.
Meskipun di gempur dengan hebat oleh dua tokoh sesepuh Kuda Terbang itu namun panglima Iblis itu terlihat mampu mengimbangi bahkan terlihat masih sangat unggul.
CLAAAAPP...!!
Sebuah sinar melesat menerjang ke arah Panglima Iblis itu, namun dengan gesit Dwarakolo menghindar, meloncat terbang ke udara.
Laaapp...!!
Serangan Randu Sembrani yang akan membantu dua Legenda Kuda Terbang kandas, saat iblis itu mampu menghindar.
Bayu Geni menyusul melesat terbang kembali menghantamkan pukulannya.
__ADS_1
Wuuungg....!!
Sebuah gelombang angin kuat dengan hawa panas menyambar sang Panglima.
BLAAARR..!
Hantaman itu kembali di tepis Dwarakolo, sambil meloncat kembali.
CLAAAPP....!!
Lesatan cahaya Mata Dewa kembali mencoba memerangkap sang Iblis.
Namun kembali sang iblis berhasil menghindar, meliuk sambil menghantamkan serangannya.
WROOOORR...
Gelombang hantaman menyembur dari kedua tangan sang Iblis.
Sebuah pukulan yang terlihat aneh karena gelombang tersebut bergumpal gumpal, membentuk asap hitam mengurung ketiga lawannya.
BAAAMM...! BAAMMM...!!
Gumpalan gumpalan tersebut meledak begitu berhasil menjebak ketiga sosok Legenda tersebut.
**
Jaya masih di kurung oleh belasan Layon Utama tersebut.
Seluruh lengan Jaya yang memegang perisai Wojo Digdoyo sudah di selimuti gumpalan asap, menandakan jurus Gelombang Awan Menerjang sudah di kerahkannya.
Sedangkan tangan kanan yang memegang tombak kyai Seto Ludiro sudah membara sebatas lengan yang berarti jurus Badai Matahari pun sudah di kerahkannya.
KRAATAAAKK...!
KRATAAAAAAKKK...!!
Sebuah pergerakan berasal dari tanah mengagetkan Jaya, apalagi saat sesosok naga berbentuk tanah yang hampir sempurna wujutnya dengan besar melebihi lima batang pohon kelapa yang di gabung muncul dari dalam tanah langsung menyerang Jaya.
SRAAAAKK...!!
Naga raksasa itu langsung menerjang Jaya, mulutnya yang selebar gua terbuka mencoba memangsa sang penegak keadilan tersebut.
"HIIAAAAA....!."
Jaya menghantamkan tombak di tangan kanannya, memukul kepala naga jadi jadian tersebut.
DUAAARR....!!
Kepala naga tanah itu buyar bersama hampir separuh badannya terhantam tombak kyai Seto Ludiro.
Namun tak seperti serangan tokohy kelompok Bumi Langit yang jika di hancurkan naga ciptaanya akan langsung luruh, kali ini naga tanah itu langsung terbentuk kembali seperti semula, ini menandakan kekuatan dari penciptanya memiliki tenaga yang tak ada habisnya.
"Hmm, hebat juga naga cipataan ini, Layon itu pastinya bekas tokoh hebat sebelumnya." batin Jaya sembari bergerak menghindari sambaran para Layon lainnya.
Jaya melesat maju mencoba menerabas lapisan Layon untuk mencari Layon pengendali tanah yang menurutnya harus di hentikan terlebih dahulu.
_________
Jejaknya....
__ADS_1