Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Menghadapi Pengeroyokan lll


__ADS_3

Jaya masih bertarung dengan sengit melawan para pengeroyoknya.


Pertempuran seru yang sudah berlangsung sejak dini hari tadi hingga kini menjelang malam terbukti membuat semua terkuras tenaganya, termasuk para Iblis.


Untung saja Jaya memiliki Zirah Tameng Jiwo, zirah ajaib yang mampu mengalirkan tenaga murni hingga kekuatan dan tenaga nya serasa tak ada habisnya.


Sebuah zirah yang berfungsi menyegarkan dan memurnikan tenaga dalamnya, selayaknya sebuah jantung pada sistem peredaran darah manusia, menyaring darah miskin udara menjadi darah kaya akan udara dan mengedarkan ke seluruh tubuh.


Begitulah peran zirah Tameng Jiwo bukan hanya melindungi tubuhnya dari tajamnya senjata lawan, namun juga menjaga tenaganya selalu segar dan penuh dengan hawa murni.


Dari sekian pengeroyoknya dapat dilihat jika kini Rakumba lah yang paling nampak lemah, kecepatan gerakannya sudah jauh berkurang, kekuatan gempurannya juga sudah tak seperti di awal pertarungan.


Semua itu tentu tak lepas dari pengamatan seorang Jaya Sanjaya.


Merasa tuan-nya selalu di awasi Kiwo dan Tengen kini tak lagi jauh dari sosok Rakumba, dua sosok dari Layon terakhir itu selalu mengitari dan melindungi sang Mayat, julukan dari Rakumba.


"Hmm, pria pucat itu terlihat sudah kepayahan, aku hanya perlu bersabar. sebentar lagi agar benar benar habis tenaganya."


Jaya menatap tajam semua lawannya, sambil mencari celah lainnya untuk menyerang lawan secara bergantian.


"HIAAAAA....!!."


Jaya berteriak keras, melesat menerjang ke arah Rakumba begitu di lihatnya ada kesempatan dari lawan yang paling lemah.


Begitu Jaya melesat menyasar sosok Rakumba, Kiwo dan Tengen langsung merapat memberi perlindungan.


Jaya menghantamkan Pukulan Badai Matahari yang di salurkan ke ujung mata Tombaknya.


Seluruh lengan hingga ujung mata tombak sudah berpendar, menandakan jurus Badai Matahari sudah di kerahkan.


BLEGAAARTT...!!


Hantaman keras dengan hawa luar biasa panas meledak begitu menyentuh badan lawan.


Kiwo dan Tengen langsung melebur, separuh bagian tubuhnya yang di tumbuhkan oleh Dua iblis itu kini melumer membentuk semacam perisai dan melindungi Rakumba.


Itulah keistimewaan dari separuh bagian dari tubuh Kiwo dan Tengen yang di bentuk oleh iblis, bisa berubah bentuk sesuai yang di inginkan makhluk tersebut.


Selain melindungi tuan nya dengan perisai bentukannya, nampaknya Kiwo dan Tengen juga melepaskan senjata jangkar tiga mata kailnya, berusaha menjerat dan mengikat Jaya, hingga akhirnya menempel ke arah dua sosok yang melindungi Rakumba tersebut.


Sekilas empat orang terlihat saling menempel, dan hal tersebut tak di sia siakan oleh tiga iblis yang tersisa itu.


Iblis Wora dan iblis Wari langsung melesat dari dua arah yang berbeda menghantamkan senjata pedang lengkung besarnya.


SRIIIING...


SRIIIIING....


Sambaran dua senjata yang mengandung kekuatan dahsyat melesat ke arah badan Jaya.


Sementara Dwarakolo juga menghantamkan senjatanya kearah badan Jaya yang tengah terbelit dua jangkar berantai dari Kiwo dan Tengen.

__ADS_1


WUUUNGG...


BLEGAAAARRRTT....!!!


Tiga sambaran senjata dari tiga iblis sukses mendarat di badan Jaya, jika itu orang biasa pasti sudah hancur lebur raga tersebut, terhantam tiga kekuatan yang tak mampu di bayangkan kedahsyatannya oleh umat manusia.


Ledakan itu membuat gempa lokal yang gelombang kekuatannya mampu melemparkan apapun yang ada di sekitarnya.


Orang orang yang berada jauh dari lokasi tersebut pun terlempar, terdorong mundur beberapa langkah ke belakang.


"Jagat Dewa Bathara...!, apa yang terjadi...??!."


"Apakah Tetua bisa selamat? ledakannya demikian dahsyat.??."


"Bagaimana jika tetua tak selamat??."


Orang orang langsung kasak kusuk, penuh harap harap cemas, akan keselamatan sang tetua Awan Putih.


Semua memucat wajahnya, karena menyadari jika Jaya kalah pasti umat manusia akan binasa.


Akibat hantaman tersebut sungguh dahsyat, serangan itu ternyata tak hanya mengenai Jaya saja, ledakan kekuatan yang di hasilkan oleh tiga hantaman itu juga merusak apapun yang ada di dekatnya termasuk Kiwo, Tengen dan tentu saja Rakumba.


Ceruk besar terbentuk oleh karena hantaman yang berturut turut tersebut, yang pertama hantaman Jaya dengan Badai Matahari, yang kedua hantaman gabungan tiga Iblis hingga membentuk seperti kawah kecil yang ada di sisi selatan padang Selayang Pandang.


Badan Kiwo dan Tengen terlempar cukup jauh, demikian juga dengan Rakumba.


Si mayat bahkan terlempar berguling gulingan sangat jauh hingga menerabas hutan yang ada di sisi selatan padang Selayang Pandang.


Seperti buah simalakama bagi para iblis tersebut, menyerang salah tak menyerang juga salah, jika tak menyerang saat itu maka kesempatan menghantam lawan dengan telak tak akan mungkin terjadi, namun jika melakukan serangan dengan posisi empat orang saling berdempetan maka di pastikan semua akan terkena imbasnya, seperti saat ini.


Kiwo, Tengen dan Rakumba yang baru saja terhantam pukulan Jaya, lalu terkena muntahan pukulan tiga iblis maka akibatnya sangat fatal.


Jaya juga terlempar, hantaman tiga sosok petinggi iblis tersebut terbukti mampu merontokkan beberapa lapis Raga Abadi yang di miliki nya.


"Aaarrgh..., Sialan...aku terjebak hingga iblis iblis itu mampu menyerangku dengan telak."


Jaya sesaat terbaring di tanah setelah terlempar dan berguling gulingan, menarik nafas mencoba menghimpun kekuatannya kembali.


Namun Nampaknya tiga iblis itu tak membiarkan Jaya bernafas lega, mereka langsung memburu dimana Jaya terlempar dan melakukan serangan lagi.


SRIIING....!


SRIIINGGG...!


WUUUUNGGG....!


Ketiganya langsung menghantamkan serangan nya, menggunakan senjata andalannya masing masing.


JDUUAAAAAAARRTT......!!


Jaya kembali terlempar, namun belum juga tubuh Jaya mendarat di tanah sudah kembali di hantam oleh ketiga lawannya.

__ADS_1


BLEEGAAAAARRTTTT....!!


Badan Jaya kini terlempar ke udara karena di hantam oleh ketiga lawan tersebut.


Kini ketiga Iblis sudah terbang menyusul badan Jaya yang terlempar ke selatan, mereka terus melakukan serangan bertubi tubi tak membiarkan Jaya meski sesaat.


Ribuan Raga Abadi yang di miliki Jaya langsung berguguran akibat serangan yang bertubi tersebut.


**


"Gila...!, benar benar gila manusia itu, bagaimana dia masih bisa bernafas setelah di hajar sedemikian rupa."


"Benar apa katamu...!, baru kali ini ingsun lihat ada manusia sedemikian kuat."


"Mungkinkah dia separuh Dewa?."


"Atau benar benar Dewa...?."


"Tapi jika Dewa kenapa tak ada aura itu? atau hanya ingsun saja yang tak merasakannya?"


"Ingsun juga tak merasa aura tersebut."


"Berarti yakin..!, dia hanya manusia biasa yang punya linuwih?."


Ketiga pengintai tersebut kembali saling berbantahan, bingung dengan apa yang di lihatnya.


"Sudahlah.. kita lihat saja akhir dari pertarungan ini."


"Ya ..ingsun setuju..!."


Ketiganya hanya mengangguk, membuntuti dari jarak yang terjaga, sehingga ketiga iblis tak menyadari jika ada pengintai yang selama ini menonton dan mengawasi nya.


**


"Aaarrggh...!."


Jaya mengerang, badannya terlempar cukup jauh dari padang Selayang Pandang setelah berkali kali di hajar dan di hantam pukulan oleh ketiga Iblis.


BRUUUUKKK...!!


BOUUUUMMMM...!!


Badan Jaya terjatuh dari angkasa, kini mendarat di sebuah hutan yang berada di ketinggian sebuah gunung.


Dentuman keras terdengar, membentuk sebuah kawah di atas gunung tersebut.


Ya, Jaya terjatuh di puncak gunung Pancawarna atau juga di sebut gunung Pancarupa.


_____________


Jejaknya......

__ADS_1


__ADS_2