Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Menyingkap Tabir


__ADS_3

Jaya kembali ke markasnya menjelang tengah malam, beruntung mereka tadi segera berpindah ke Alam Ruang Hampa untuk bertarung dan berbincang di sana.


Jika tak pindah ke sana pasti sudah habis waktu untuk bertarung hingga ribuan jurus dan berbincang dengan Dewa Kebijaksanaan.


Jika di hitung dengan waktu di alam manusia, sebenarnya mereka telah bertarung selama tiga bulan lamanya, luar biasa bukan?.


Hal itu karena keduanya sama sama sangat hebat dan tak terkalahkan.


"Kakang kemana saja? kami sangat khawatir." sapa Pelangi begitu mendapati Jaya mendarat di beranda lantai tiga tersebut.


Jaya kaget, di lihatnya dua gadisnya masih duduk meringkuk di kursi yang ada di lantai tiga tersebut. Keduanya duduk di kursi panjang meringkuk dengan berselimutkan kain tebal.


"Kenapa kalian tak istirahat, ini sudah tengah malam," jaya balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Pelangi.


"Memangnya kami bisa tidur, jika tahu Kakang tak pulang." Kumala bergumam namun cukup jelas bisa di dengar Jaya.


"Maaf." kata Jaya lemah.


"Kami sudah trauma saat di tinggal Kakang, sehabis Purnama Berdarah (kejadian di padang Selayang Pandang) jadi kami belum lega jika Kakang belum pulang," Pelangi berkata sambil berdiri.


Kini dua gadis itu sudah berdiri dan berjalan mendekat ke arah Jaya, selimutnya sudah di tinggal di kursi panjang itu.


"Kemarilah," kata Jaya merentangkan kedua tangannya untuk memeluk kedua gadisnya.


Kumala dan Pelangi langsung masuk ke dalam pelukan Jaya, dan di balas dengan dekapan erat sang Jagoan, "Maafkan Kakang ya membuat kalian khawatir, nanti Kakang akan ceritakan semuanya."


Dua gadis itu mengangguk memeluk erat Kakang Jaya nya.


**


Hari sudah berganti pagi, kini mereka bertiga masih menikmati makan pagi di salah satu ruang yang ada di lantai tiga tersebut.


"Sekarang coba Kakang cerita kepada kami, mengapa semalam pergi begitu saja tanpa memberitahu kami mau kemana dan ada urusan apa?." Kumala bertanya sambil menyendok makanan, mengambilkan nasi untuk Jaya.


Pelangi mengambilkan pepes ikan gurame kesukaan Jaya, membuka bungkus daunnya lalu menaruh di piring yang terbuat dari tanah.


"Kalian makan saja dahulu, nanti cerita Kakang malah membuat kalian tak nafsu makan," goda Jaya sambil tersenyum jahil.


"Beneran Kakang."


"Ya."


Ketiganya makan pagi dengan lahap, olahan juru masak Awan Putih memang tak di ragukan kelezatan nya.


"Kakang mau tumis genjer?."


"Boleh Dinda."


Pelangi mengangsurkan mangkuk tumis genjer yang ada di dekatnya. ketiganya melanjutkan makan dengan lahap.

__ADS_1


**


"Sebenarnya Kakang kemarin bertemu dengan salah satu Dewa." kata Jaya mengawali ceritanya.


Dua gadisnya langsung memucat wajahnya, karena biasanya pasti terjadi pertarungan.


Dewa juga bisa mati dan celaka, makanya Kumala dan Pelangi juga sangat cemas.


"Apa yang terjadi?."


Jaya lalu menceritakan saat merasa kehadiran sosok dewa ke alam ini, lalu saat auranya makin kuat yang menandakan sosok tersebut berada dekat dari nya dia memutuskan menemuinya.


"Kami bertarung di padang Selayang Pandang." kata Jaya kembali melanjutkan ceritanya.


Lalu Jaya melanjutkan lagi ceritanya hingga akhir dari pertarungan dan perbincangan mereka.


"Kenapa Kaisar Dewa begitu jahat Kakang?, mau mengirim Dewa Pemusnah?." Kumala sedikit kaget dan cemas mendengarnya.


Jaya menarik nafasnya, tak menjawab apapun.


"Terus bagaimana dengan Dewi Krystal Nurmala sekarang?." Pelangi bertanya.


"Dinda Krystal ada di istana Ungu."


Jaya menerangkan apa itu istana Ungu, membuat kedua gadis itu berkaca kaca, seakan merasakan kesedihan dan penderitaan sang Dewi.


"Kakang akan ke Alam Dewa, selain menjemput dinda Krystal juga mau menemui Kaisar Dewa, karena jika sampai Dewa Pemusnah kemari bisa di pastikan alam ini akan hancur menjadi ajang pertarungan kami."


Kedua gadis itu terdiam, tak berkata apapun, cemas..? jelas di rasa dua gadis itu, namun semua kembali kepada Jaya, mereka percaya Kakang Jaya-nya pasti akan melakukan yang terbaik untuk semuanya.


"Kapan Kakang akan ke Alam dewa? apakah kita akan menunda Sumpah Janji Langit?." Pelangi berkata akhirnya setelah terjadi keheningan di sana.


Jaya tersenyum, "Setelah kita melakukan Sumpah Janji Langi, dan Kakang janji akan kembali kepada kalian tanpa kurang apapun."


Kumala dan Pelangi hanya mengangguk dalam diam.


**


Bukan masalah yang sepele apa yang sudah di ceritakan Jaya kepada dua gadis tersebut.


Kedatangan sosok yang katanya Dewa saja sudah membuat keduanya kalang kabut, terus kedatangan Dewa Kebijaksanaan membuat takut mesti menurut Jaya mereka malah berbincang banyak, kini berita tentang Kaisar Dewa dan pasukannya yang mengancam membuat mereka berdua makin khawatir dan cemas.


Kemurungan kedua gadis tersebut sontak membuat semua pihak bertanya tanya. Ada apa dengan calon pengantin perempuan? kenapa mendekati hari hari Sumpah Janji Langit malah banyak bermuram durja.


"Emm, ada apa dengan Den Ayu berdua? kenapa akhir akhir ini malah sering muram?."


"Benar apa katamu saudara Baroto," sahut Pitu Geni.


"Mo..apa kamu tahu ada apa?," tanya Baroto kepada Narimo.

__ADS_1


"Saya juga tidak tahu tetua, saya sendiri juga bingung, meski Den Ayu berdua mencoba menutupinya."


"Sebaiknya kita bicarakan ini kepada Nakmas Junjungan, jangan jangan mereka malah bertengkar dan sedang marahan."


"Benar, ujian nya orang mau mengikat janji memang banyak ragam nya."


**


"Maaf Nakmas," Pitu Geni sedikit ragu untuk memulai perbincangan, itu terlihat dari gestur dan gerak geriknya yang terlihat gelisah.


"Ada apa paman?." Jaya menautkan kedua alisnya, tak biasanya para bawahannya bersikap seperti ini.


"Apakah Nakmas percaya kepada kami?." kali ini Baroto yang menyela pembicaraan dengan memotongnya.


"Tentu saja aku percaya kalian," sahut Jaya menatap ketiga bawahannya tersebut.


"Katakan ada apa Paman? tak usah berbelit belit."


"Mm, apakah Nakmas ada suatu masalah?."


"Maksud Paman?."


"Jika Nakmas ada masalah bisa berbagi dengan kami, kami akan mencoba memecahkannya dan menjaga rahasia seperti nyawa kami." sahut Pitu Geni.


Jaya malah terpaku, "Bagaimana paman bisa mengatakan demikian?."


"Soalnya Ndoro Ayu Kumala dan Ndoro Ayu Pelangi sering terlihat muram akhir akhir ini."


"Pasti ada masalah dengan Nakmas bukan?."


Jaya menarik nafasnya panjang, memejamkan matanya.


"Apa saat ini sudah waktunya aku membuka siapa sesungguhnya diriku, terutama kepada para pengikutku?."


"Memang ada masalah Paman."


Ketiganya mendekat, bersila di depan Jaya yang juga bersila.


"Paman Narimo, tolong panggil Kakek Sumanjaya dan kakek Koloireng, kita akan berbicara." perintah Jaya kepada Narimo.


"Baik Nakmas," sahut Narimo lalu bangkit dan berdiri berniat mencari dua tokoh yang di sebutkan tadi, tapi belum juga melangkah terlihat Sumanjaya, Koloireng bersama empu Cipta Guna dan Sugara berjalan ke arah pendopo tersebut.


"Nah kebetulan Sesepuh dan tuan tuan kemari, Nakmas Junjungan ingin berbincang serius," kata Narimo.


Keempat orang tersebut terlihat kaget, ada kejadian apa? hingga terlihat begitu menegangkan.


___________


Jejaknya....

__ADS_1


__ADS_2