Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Perang Kembali Pecah lV


__ADS_3

Dwarakolo tertawa terbahak bahak, "Gggrrhhh..ha..ha..ha...," Saat melihat ketiga lawannya terlempar dan terkena ledakan jurus andalannya 'Pedhut Ambyar'.


Sebuah jurus yang sangat mengerikan bagi lawan, dengan daya ledak kuat (sekuat Bom ), dan uniknya lagi jika gelombang asap hitam itu di tangkis atau di tepis saat itulah terjadi ledakan, padahal selama ini dalam pertarungan akan selalu terjadi tangkis menagkis serangan, itulah kehebatan jurus tersebut, meledak saat di tangkis sehingga makin berbahaya karena dekat dengan tubuh lawan.


"Gggrrhhhh, mati kau...!." teriak panglima iblis itu, setelah melihat ketiga lawan nya terlempar dan terkena ledakan jurus andalannya.


Bayu Geni terlempar akibat terkena ledakan, namun melindungi dirinya dengan putaran angin yang bercampur dengan api, meski demikian akibat ledakan itu juga membuatnya luka dalam lumayan parah.


Demikian pula dengan Bayu Banyu, dirinya bertahan dari ledakan dengan gelombang angin ciptaanya yang bercampur dengan element air yang membungkus dirinya sedemikian rupa agar selamat dari hebatnya ledakan.


Sedangkan Koloireng melawan jurus ledakan lawan dengan jurus Mata Iblis yang di lesatkan berkali kali dalam waktu yang sangat singkat, sebuah tindakan yang tak pernah dilakukan karena otomatis itu akan menguras hampir seluruh tenaga dalamnya.


"Aaarchh..!, sontoloyo...!," teriak sang Betorokolo sambil menjatuhkan dirinya bergulingan menghindari efek dari ledakan tersebut.


Beruntung Koloireng jatuh terlempar di lokasi yang banyak anggota Awan Putih berada, dirinya langsung bangkit menyusup di antara orang orang tersebut, untuk kembali memulihkan dirinya.


**


Sembilan Sesepuh dan Tetua Agung yang mengurung dua Iblis masih terlibat dalam pertarungan yang sengit.


Meski di keroyok namun tak terlihat sedikitpun Iblis Wora dan Iblis Wari terdesak.


Apalagi daya regenerasi jaringan tubuh nya yang begitu hebat, saat terkena serangan membuat dua iblis itu betul betul mengerikan.


Semua lawannya tak menyangka jika musuh yang di hadapi memiliki tubuh yang bisa memulihkan diri begitu cepat seakan makhluk tersebut Abadi.


"Jangan menyerah..!, tetap serang...!, karena meski pulih mereka juga terlihat menderita saat terhantam senjata dan pukulan kita..!." teriak Lindu Bajra tokoh sesepuh Mata Iblis, mencoba menguatkan rekan rekan seperjuangannya.


"Benar..!, kita gempur terus hingga dua iblis itu berkurang kekuatan sihirnya..!," balas Wirabhumi, menyahut ucapan tokoh Mata Iblis itu.


KRAATAAK...!


Begitu selesai berkata, Wirabhumi langsung melakukan beberapa gerakan yang membuat tanah terbelah, lalu tanah tersebut langsung mencoba mencepit dua sosok iblis tersebut.


BRAAAKK...!


Iblis Wora menghantam tanah yang mencoba menjepitnya, ledakan keras terdengar, tanah itu sesaat menganga dan berhenti bergerak menjepitnya.


"Keparaat...!, kalian semua harus mati..!." teriak sang Iblis dengan geramnya.


Belum juga benar benar bebas dari tanah yang akan menjepitnya, sebuah pukulan yang sangat dingin menghantamnya.


BLEGAAR....!


DUAAR....!!


Nampak Joko Baron si dewa salju dan Dewi Racun Salju sudah menghantamnya dengan suara dentuman yang terdengar keras.


"Grrraaahhh....!"

__ADS_1


Iblis Wora menjerit dengan lengkingan yang cukup keras, badannya hancur sesaat terhantam dua serangan dahsyat, namun perlahan lahan kembali terbentuk dengan sempurna.


Sebuah pemandangan yang terlihat menakutkan bagi lawan lawannya.


"Jagat Dewa Batara...!, pancen iblis tenan iki., ora iso modaar..!."


Sementara iblis Wari yang terjebak, terjepit di himpitan tanah karena terlambat bereaksi tadi, tengah menjadi bulan bulanan pengeroyoknya.


Hantaman Bayu Sastra, yang di susul Rogo Sakti dan Sumanjaya berkali kali menghantam badannya.


DUAAR...!


BLAAARR...!


JDUAAR...!


Iblis itu hanya menjerit, pulih, menjerit lagi dan pulih lagi, sebelum akhirnya bisa meloncat keluar dari himpitan tanah yang melingkupinya.


"Hiaaa...!!."


Sebelum dua iblis itu benar benar keluar dari himpitan tanah, Agni Maheso suro dan Bayu Bajra menghantam keduanya dengan pukulan jurus andalannya.


WOOOOSSS..!


BLAARR..!


Wajah sang Iblis makin mengelam, terlihat sekali mereka berdua sangat murka.


"Gggrrhhh...sekarang giliran kami..!," teriak dua iblis itu secara bersamaan, lalu melesat menerjang ke arah kerumunan lawannya.


**


Delapan Layon yang medekati Jaya dengan di pimpin Rakumba sesaat mematung, melihat sosok lawannya yang tersengal mau mati sebelum sebuah ledakan dahsyat menyambar badan semuanya.


Rakumba yang selalu di lindungi sosok Kiwo dan Tengen langsung di lingkupi oleh dua sosok makhluk tersebut.


Kiwo dan Tengen yang badannya separuh manusia dan separuh entah dari badan apa itu namanya, langsung melumer membentuk semacam perisai pelindung menutupi badan Rakumba.


Hingga Ledakan keras dari hasil hantaman Badai Matahari itu merusak perisai pelindung bentukan dari sisi badan Kiwo dan Tengen yang berujut aneh, namun Rakumba berhasil selamat meski Kiwo dan Tengen terlihat rusak parah di sisi badannya yang aneh dan bisa melumer tersebut.


Layon Layon yang lain juga mengalami rusak parah, akibat hantaman Badai Matahari tersebut.


Jaya meloncat bangkit dari terkaparnya, terlihat sehat tanpa kekurangan apapun, membuat Rakumba membelalak tak percaya, pasalnya yang selama ini bisa pulih dan tak mengalami kehancuran raga hanya dua iblis Pemimpinnya.


"Apakah kau kaget..?."


"K-k..kkau Iblis...??." dengan terbata bata Rakumba berkata.


"Sembarangan saja..!, muka tampan gini di bilang Iblis.." balas Jaya, tersenyum mengejek lawannya, sambil bergerak cepat menyambar ke arah para Layon.

__ADS_1


Pertama Jaya melesat kearah Jagat Mandala Birowo, sosok Layon pengendali tanah yang cukup merepotkan karena bisa mengacaukan semua rencana Jaya karena menyerang dengan media tanah dari jarak jauh.


BLEGAAAARRT...!!


Jaya menghantam sosok Layon itu dengan jurus Badai Matahari yang langsung di alirkan ke ujung mata tombak Seto Ludiro.


CRAAASSH... JLEEB...!


Tombak itu menusuk badan Jagat Mandala Birowo yang masih limbung belum pulih sempurna dari ledakan Badai Matahari yang pertama tadi.


Kini terkena Badai Matahari kedua dan disusul tusukan tombak yang mengandung racun Dasalaksa.


Sosok Layon Jagat Mandala Birowo terhempas, terlempar dengan dada terkoyak jebol dengan jantung tercerabut dari tempatnya, dan kini jantung itu ada di ujung tombak kyai Seto Ludiro.


Sosok Layon itu menggelepar sesaat sebelum akhirnya berhenti dan benar benar mati.


Setelah menghabisi sosok legenda Bumi Langit tersebut, Jaya kembali melesat menyerang Layon lainnya.


CRAAASH...!


CRAAAASH...!!


Berturut turut tombak Jaya menebas, menyambar dan menusuk para Layon yang masih belum pulih tersebut.


Kali ini dengan tak adanya gangguan dari Layon sang Sesepuh Bumi Langit, Jaya bisa dengan mudah mendekat dan melakukan serangan langsung jarak dekat.


Rakumba memucat wajahnya melihat pasukannya di hancurkan oleh lawannya.


Layon Layon para Legenda itu bertumbangan dengan badan rusak, setelah terkena racun Dasalaksa yang membunuh cacing Sarma pala, cacing yang selama ini membuat raga para Layon terjaga, pulih dari kerusakan dan bisa di kendalikan Rakumba.


"Jangan mencoba lari lagi..!, karena kali ini tak ada ampunan untuk antek Iblis seperti mu...!." seru Jaya melihat lawannya makin pucat padahal selama ini wajahnya sudah sepucat mayat.


**


Pertarungan makin mendekati puncaknya.


Banyak para Iblis dan Layon yang sudah bertumbangan, begitu juga dengan para pendekar.


Baroto, Anuso Birowo, Mata Elang dan yang lainnya masih memimpin para anak buah melenyapkan pasukan Iblis.


Pun dengan Pelangi dan Kumala serta nyai Nilamsari yang bahu membahu saling menjaga sambil melawan Iblis dan Layon.


Sementara di sebelahnya Pitu Geni, Suroloyo dan Jayeng rono juga ikut menyerang dan bertahan.


Sepasang Raja Pedang Karpo dipolo dan Singo dimejo juga memimpin anggota Awan Putih lainnya memerangi para Iblis dan Layon.


____________


Jejaknya....

__ADS_1


__ADS_2