
Rombongan itu makin memasuki wilayah tersebut, nampak sekali kesenjangan di sana.
Terlihat pemandangan yang timpang saat melewati beberapa tempat, yang kaya terlihat mewah bak istana yang miskin terpampang sangat mengenaskan.
"Apakah kita waktu kemarin tidak melewati tempat ini paman..?," tanya Jaya kepada Narimo, karena saking keheranan dan waktu mereka ke Alas Lirboyo seingatnya tak menemui situasi seperti ini.
"Tidak Nakmas, waktu itu kita dari jurang Kedungpuru langsung memotong ke utara kemudian sedikit ke timur laut, sedangkan kini kita berbeda sedikit jalurnya." Kata Narimo menerangkan rute perjalanan nya, yang di respon dengan anggukan kepala Jaya.
"Tempat apakah ini paman..?," tanya Jaya sambil memandang gambar tata letak yang sudah di petakan nya di selembar kain di tangan nya.
"Kalau tak salah ini perbatasan dua kerajaan, yaitu Kerajaan Agung Karang Kadempel dan kerajaan Agung Pati Sruni, tepatnya perbatasan wilayah kerajaan kecil Doha yang ada di bawah naungan Karang Kadempel dan kerajaan kecil Wirosari yang ada di bawah naungan Pati Sruni," kata Baroto sambil menatap ke kanan dan ke kiri, seakan memastikan perkiraan nya.
Mereka terus berkuda membelah pemukiman tersebut, matahari mulai redup namun belum juga ada tempat makan yang bisa di tuju.
"Maaf kisanak apakah di sini ada warung makan dan tempat penginapan..?." tanya Narimo yang mencoba bertanya kepada seseorang yang di temuinya.
Orang yang di tanya hanya menunjuk satu arah, tanpa banyak bicara lalu pergi begitu saja.
"Sebentar kisanak..kami mau bertanya dulu..," Baroto mencegah orang tersebut yang akan terus berlalu.
Orang tersebut sejenak berhenti menatap ketiga penunggang kuda di depannya, seakan menilai lawan bicara nya.
"Kenapa dengan wilayah ini..?, ada apa dengan para rakyat di sini..?."
Begitu Jaya bertanya seperti itu orang tersebut langsung pucat berniat meninggalkan tempat tersebut.
"M..m.maaf ...k.kkisanak.." kata orang tersebut sebelum pergi.
"Hmm aneh..., ayo paman kita menuju ke arah sana, karena katanya tadi ada warung makan disana."
"Mari.. Nakmas."
**
"Ini sudah lebih dari empat bulan dan aku rasa kau sudah mengalami kemajuan pesat Kumala." Kata Koloireng kepada Kumala muridnya, petang itu.
"Sudah waktunya kau kembali ke kehidupan mu yang sesungguhnya."
Keduanya berbincang sambil menghadap api unggun yang mereka buat untuk penerangan.
"Iya Kakek Guru.., sebenarnya aku juga sudah rindu dengan keluarga ku."
"Jika memang kakek guru mengijinkan aku ingin kembali kepada mereka." jawab Kumala dengan perasaan campur aduk.
Sesaat bahagia menghampiri wajahnya namun sebentar kemudian raut wajahnya terlihat sedih.
"Tapi sebenarnya aku juga tak ingin meninggalkan kakek guru di sini, karena bagiku kakek guru juga keluarga ku." kata Kumala akhirnya.
"He..he..he..kau tak usah menghawatirkan guru mu ini, jika merindukan ku kau bisa berkunjung kemari."
Kumala mengangguk, benar juga apa yang di katakan sang guru, jika merindukan nya nanti dia akan berkunjung ke tempat ini.
"Baik Kakek guru aku akan pertimbangan untuk meninggalkan tempat ini dalam waktu dekat ini."
"Jangan lupa kau gunakan ilmu mu untuk membela kebenaran, terutama melindungi orang orang dari Mata Iblis yang menyimpang," kata Kolo Ireng mengingatkan muridnya tersebut.
"Akan aku ingat selalu semua pesan Kakek guru, akan ku berantas kejahatan sekuat tenaga ku..!."
**
Ketiganya kini sudah berada di warung makan sesuai arah yang di tunjukkan seseorang tadi.
Warung makan yang tak sesuai dengan harapan mereka, karena yang di depan mereka adalah warung makan dan tempat maksiat.
Memang benar ada tempat makan dan penginapan nya namun itu semua untuk keperluan kegiatan tersebut.
__ADS_1
"Bagaimana Nakmas..?, apa kita tetap masuk ke sana..?," tanya Baroto si Tinju Baja.
"Tak masalah bagi kita, yang kita butuhkan makanan daripada kita kelaparan," sahut Jaya pelan, sambil terus menuju tempat tersebut, menambatkan kudanya lalu memasuki tempat itu.
Hari sudah makin gelap, mereka bertiga kini berada di tempat maksiat itu.
Tempat yang sedikit remang remang dengan para penjudi dan wanita malam berkeliaran.
"Apakah ada makanan di sini..?." tanya Jaya kepada pelayan disana.
"Pilihlah meja judi di sana tuan..nanti kami akan mengantar pesanan mu..," kata pria paruh baya pelayan di sana.
Ketiga nya menatap meja meja yang semuanya sudah berdiri seorang bandar judi disana.
"Tidak adakah meja biasa saja..?, karena kami hanya butuh makanan." kata Jaya lagi.
Pelayan itu menatap Jaya sedikit mengerutkan keningnya, aneh saja orang masuk rumah perjudian dan pelacuran tapi tidak melakukan itu.
"Tidak ada..! anak muda..!, kamu harus bermain judi dahulu baru kami akan melayani makananmu di meja yang kau pilih..!." bentak sebuah suara memotong percakapan Jaya dan pelayan di sana.
"Kalau begitu kita tinggalkan tempat ini paman..!." kata Jaya kepada kedua pengikut nya, berencana keluar dari tempat tersebut.
Jujur semenjak di bangkitkan kembali di alam ini Jaya tak pernah melakukan semua perbuatan seperti yang di lakukan saat di Alam Dewa.
Semua pengalaman masa lalu nya di jadikan pelajaran untuk saat sekarang, bukan hanya karena dia mendapati hukuman di lempar ke alam ini dan kekuatan nya di segel, tapi juga karena memang niatnya ingin berubah.
"Jika kau ingin pergi..tinggalkan pajak untuk tempat ini dulu..!!," bentak penjaga keamanan itu lagi, membuat Baroto yang malah meradang.
"Keparaat..Bajingan...!!, kau tak tau berkata kepada siapa..?." bentak Baroto yang sudah mulai naik pitam.
"Memangnya siapa kalian..?." kata penjaga keamanan itu yang sudah memberi kode kepada pengawal yang lainnya untuk mendekat.
"Nakmas Bendoro ini tetua dari kelompok Awan Putih..pembela kebenaran dan penegak keadilan," kata Baroto sambil menyebut slogan kelompok tersebut.
"Apa..Awaan Putiiih..??." sahut mereka sambil berpandangan, meremehkan karena memang Awan Putih belum terkenal, kemudian mereka tertawa terbahak bahak.
"Kami tak takut dengan kelompok ini, dan kami belum pernah mendengar ada kelompok seperti ini..ha..ha..ha..!," mereka berkata makin mengejek.
Jaya memberikan isyarat kepada Baroto dan Narimo untuk keluar saja dari dalam ruangan itu.
Ketiganya sudah keluar dari pintu bangunan tersebut, entah sejak kapan para penjaga lainnya sudah berdiri di halaman bangunan itu seakan mengepung mereka bertiga.
Narimo yang paling rendah tingkat kependekaran nya sudah ketakutan, tangannya sudah meraba gagang pedangnya.
"Jangan harap bisa pergi dari tempat ini tanpa meninggalkan sesuatu..!," bentak kepala keamanan itu sambil menyusul keluar dari bangunan tersebut.
"Hmm...cari mati..!," sungut Baroto mulai hilang kesabaran nya.
"Cepat tinggalkan harta benda kalian jika ingin selamat..!."
Kepala Keamanan itu memerintahkan dengan seringai di bibirnya.
"Bagaimana jika kami menolak..," sahut Baroto maju ke depan, sudah memamerkan lengannya dengan menggulung lengan nya.
"Maka nyawa kalian sebagai gantinya..!!."
"Coba saja jangan banyak bacot..!!," tantang Baroto sudah memasang kuda kuda nya.
Kepala Keamanan itu seketika murka, memandang anak buahnya dan memerintahkan penyerangan.
"Seraaang...!!."
Anggota anak buah penjaga keamanan itu langsung maju serentak menyerang ketiga orang di sana.
Wuusss...!!
__ADS_1
wuusss...!!
Para penjaga itu menebaskan pedangnya menyasar ke arah Badan Baroto yang sudah menggerakkan tangan untuk menangkis senjata senjata lawan.
Taang....!
Traaang...!!
Pedang pedang lawan di tangkis tangan Baja Baroto.
Sedangkan Jaya menangkis dan melindungi Narimo dari gencarnya serangan.
Jaya langsung bergerak cepat tak ingin terlalu lama bermain main degan lawannya.
Plaaak...!!
Bouuugh..!!
Hantaman dan tendangan langsung menghampiri para anak buah Penjaga keamanan tersebut.
"Aaaaa."
"Aarh..!."
Jeritan langsung terdengar begitu hantaman hantaman itu mengenai orang orang itu yang langsung terlempar dan tumbang.
Kepala Keamanan yang semula garang kini juga sudah jadi bulan bulanan Baroto.
Pllaak..!!
Deeess...!!
Pukulan Baroto langsung bersarang di badan sang pemimpin keamanan.
"Aaaaarrcchh..!."
Wajahnya langsung pucat, kini dia sadar telah salah sasaran.
"Kemampuan kayak gini, berani petentang petenteng...memalukan..!," ledek Baroto setelah menghajar pemimpin Keamanan itu.
Kini para penjaga keamanan itu sudah bertumbangan dengan wajah penuh kesakitan.
"Masih untung kami berbaik hati tak memenggal kepala mu..!." kata Baroto meninggalkan tempat tersebut, berniat menyusul Jaya yang sudah memberikan isyarat akan pergi.
"Tak semudah itu kalian bisa pergi begitu saja...!," sebuah teriakan menghentikan mereka bertiga.
Nampak lima orang sudah berdiri di sana.
Jaya dan Baroto yang sudah berbalik menatap kelima orang itu dengan tajam.
"Mereka yang menggangu kami..!." kata Baroto dengan menunjuk para penjaga keamanan yang masih bergelimpangan itu.
Kelima orang itu hanya mendengus.
"Huh..kalian sudah mengacau tempat kami, dan tak akan kami lepaskan." kata salah satu dari mereka.
"Siapa kalian..?." tanya Baroto yang penasaran.
"Kami pelindung dari tempat ini, kami dari kelompok Gajah Alas jaringan pendukung Jiwa Abadi."
Mendengar perkataan orang tersebut membuat Baroto sedikit tercekat, mungkin Gajah Alas bukan kelompok yang terkenal tapi Jiwa Abadi adalah kelompok terhebat selama ini.
___________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya...
__ADS_1