Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Menghentikan Bayangan Kegelapan


__ADS_3

Junara kaget dengan kemampuan lawan yang bisa melakukan sihir, mendatangkan sejata di dua tangannya, senjata yang terlihat tiba tiba sudah berada di sana.


Bukan hanya itu, lawan yang masih terlihat sangat muda tersebut juga sangat percaya diri dan tak terlihat takut melihat dua pengawalnya, yang nampak menyeramkan.


"Dasar bocah sombong..!," hardik Junara, melihat sosok muda yang terlihat penuh percaya diri.


Jaya hanya terdiam, dua senjata sudah di tanganya, perisai dan tombak pusaka, tatapan nya tertuju kepada sosok dua Layon yang ada di depannya.


"Sepertinya aku mengenal dua sosok ini?, apa hubungannya dengan pasukan iblis?."


"Apa hubunganmu dengan pasukan Iblis?."


Junara yang tak paham apa yang lawan tanyakan hanya mengerutkan alis, "Pasukan Iblis?, dasar bocah edan..!, memang ada pasukan Iblis?."


Jaya menganggukan kepalanya, menyadari lawan tak tahu menahu tentang siapa sebenarnya dua sosok yang mengikuti nya, namun juga sedikit tanda tanya dengan kemampuan lawan mengendalikan dua Layon tersebut.


"Sudah jangan banyak cakap..!, hadapi dua pengawalku...!!." Junara berteriak kecil, sambil mengusap mustika di tangannya yang mampu membuat dirinya bisa mengendalikan dua Layon.


**


Koloireng langsung menjauh, begitu mendapat perintah untuk menolong yang lain setelah kedatangan Jaya sang Tetua Awan Putih.


Koloireng langsung melesat menyerang ke arah pasukan Bayangan Kegelapan.


Baroto yang masih bertarung, sedikit menoleh ke arah Koloireng, "Apakah Sesepuh berhasil mengalahkan lawan aneh itu?." seru nya, sambil menahan serangan lawan.


Koloireng menggeleng, tersenyum, "Nakmas Junjungan sudah datang, aku di perintah membantu kalian.''


Baroto terkejut dengan perkataan Koloireng, matanya langgsung jelalatan memutar ke arah di mana pertarungan lainnya, dan senyumnya langsung terkembang.


"Aha..!, Tetua Jaya telah kembali..!," teriak Baroto dengan sedikit keras, sengaja dia mengatakan itu untuk membangkitkan semangat orang orang Awan Putih.


Dan benar saja, begitu orang orang Awan Putih menyadari itu, semangat bertarung mereka makin menggila, apalagi kini di bantu oleh Koloireng yang sudah ada di sana.


**


Kiwo dan Tengen langsung melesat maju, sambil melempar senjatanya.


SREETT...!


SREEETT..!!


Jangkar itu di lempar lalu di putar, membuat senjata itu makin bertenaga, saat meluncur menyerang.


TAANG...TAANG...!


Dua senjata ganas itu berhasil di hadang dengan perisai Wojo Digdoyo, membuat serangan itu tak ada artinya.


Dua Layon yang separuh berujut manusia dan separuh entah bahan apa itu bergerak makin cepat, mencoba mengurung Jaya.


Separuh badan mereka yang berasal dari bahan buatan itu melumer, menyatu membentuk sebuah bentuk yang akan membungkus menjebak Jaya dalam pertarungan Jarak Pendek.


Namun semua itu adalah tindakan yang salah, jika menghadapi orang lain mungkin bisa terperangkap lalu berhasil di musnahkan, namun ini Jaya sang Dewa Perang yang memiliki senjata Illahi yang mengandung racun Dasalaksa dan mampu menembus apapun.


"Ciih, dasar mayat tak punya ingatan, siapa yang menghajarmu waktu itu..!!." Jaya sedikit mundur saat dua sosok Layon itu sudah menyatu menggabungkan organ tubuh buatan mereka yang mampu membentuk apapun untuk membungkus dan menjebak badan lawan.


Jaya bergerak cepat, memutar menghindari sergapan dua Layon dan begitu berhasil lepas langsung menghujamkan tombak kyai Seto Ludiro.

__ADS_1


Jleeeb...!


Craaash...! craaash...!!


Jaya menusuk dan mencabik badan Kiwo dan Tengen hingga badan dua Layon itu terkoyak koyak.


Junara terbeliak, pasalnya selama ini tak ada yang melakukan itu terhadap dua sosok pengawalnya itu.


"Heh..?, apa yang terjadi? kenapa dua pengawal begitu mudah terluka olehnya? selama ini tak ada yang mampu melakukan itu."


Junara melesat maju, mencoba membantu menyerang Jaya, kini terlihat tiga sosok yang mengerubuti Jaya berniat menumbangkannya.


Jaya makin mempercepat gerakannya, tombaknya di putar makin cepat membuat gelombang kekuatannya makin meningkat.


Bahkan kini Tetua Awan Putih tersebut sudah mengerahkan Badai Matahari, berniat memusnahkan ketiganya.


Lengannya sudah berpendar, meski hanya tingkat dasar dari Badai Matahari yang di kerahkannya.


**


"Hiaaa...!!," kembali Pitu Geni melesat, menebaskan golok Wisogeni ke arah Harjo junad.


Tokoh pengguna api itu menebaskan senjatanya yang membara layaknya besi yang di panaskan.


Hawa panas langsung menguar begitu Pitu Geni mengerahkan kekuatannya.


Taang...!


Harjo Junad menangkis sabetan golok lawan dengan pedang yang makin memutih karena mengandung hawa dingin.


Pitu Geni makin mengganas, kekuatan yang lebih unggul membuatnya makin di atas angin.


"Kau pasti menyesal pernah menjadi anggota kelompok golongan hitam..!.''


"Apalagi kali ini kau akan aku kalahkan, jika perlu aku musnahkan ilmu kanuraganmu, agar tak lagi keblinger pikiranmu..!," teriak Pitu Geni di sela sela ganasnya serangan yang di lakukannya.


Harjo Junad makin pucat wajahnya, sesaat sempat mencuri lihat ke arah kelompoknya yang masih bertarung tapi kini dalam keadaan kocar kacir tertekan.


"Terima seranganku..!," teriak Pitu Geni lagi, meloncat menebaskan goloknya dengan sekuat tenaga.


DUAARR...!


Harjo Junad yang mencoba menangkis serangan itu terpental saat terjadi ledakan yang melemparnya.


"Aarggh...!," tetua Bayangan Kegelapan itu menjerit, tenaganya yang memang kalah satu tingkat dan sudah terkuras membuatnya tak mampu menahan panas gelombang serangan Pitu Geni.


Badan Harjo Junad terguling, senjatanya sudah terlepas dan kini entah kemana.


Nafasnya tersengal dengan sebagian dada nya terbakar panas api ciptaan Pitu Geni.


"Aku akan memusnahkan ilmu Kanuraganmu., agar kau tak menggunakan untuk jalan sesat."


Pitu Geni meloncat lalu sekuat tenaga menghantam dada dan perut lawan, dimana di sana pusat tenaga dalam dan salurannya berada.


"Aaarrggh..!," Harjo junad menjerit, saat terjadi kehancuran pusat tenaga dalam beserta salurannya.


Tetua Bayangan Kegelapan itu tersungkur dan pingsan.

__ADS_1


**


JLEEEBB...!


Jaya kembali menusuk badan salah satu Layon tersebut, lalu tanpa membuang waktu menghantam sosok itu dengan Badai Matahari.


BLEGAARRTT...!!


Sosok Kiwo yang terpanggang, tanpa bisa di tolong oleh Tengen membuat Junara tercekat.


Kekhawatiran makin jelas terlihat di wajahnya, apalagi kini lawan sudah menatap nya dengan tajam, menandakan sasaran berikutnya pasti dirinya.


Jaya meloncat lagi dengan sangat cepat menyerang kearah sosok pengawal, yang kini hanya tersisa satu, yaitu Tengen.


Tanpa ada tandemnya, sosok Tengen terlihat sangat lemah, bahkan dengan sekali loncat saja Jaya berhasil menusuk dan mengenai dada dari Layon tersebut.


Tak membuang waktu lama, Jaya langsung menghantam dan membakar sosok Tengen yang masih menggeliat di ujung tombaknya.


BLEGAAARTT...!


Kehilangan dua sosok pengawal yang selama ini di andalkannya, membuat nyali Junara langsung musnah, melirik kanan kiri lalu meloncat melarikan diri.


Sosok Tetua Agung dari Bayangan Kegelapan itu berlari sekuat tenaga tanpa menoleh lagi ke belakang.


Dengan sisa sisa tenaga Junara melesat, meninggalkan perguruan Tiga Batu Jajar yang kini sudah sedikit porak poranda.


Hari sudah semakin siang, alam yang kini sudah terang benderang memudahkan Junara melesat memasuki hutan mencoba mengecoh dengan memasuki hutan lebat.


"Uugh..untung, aku berhasil lolos," gumam pelan Junara sambil bersandar di sebatang pohon, nafasnya tersengal dengan tenaga yang benar benar terkuras.


"Kau pikir bisa lolos dariku..!.''


Tiba tiba sebuah suara mengagetkan Junara, tetua dari Bayangan Kegelapan itu terperanjat, pasalnya dirinya tak mendengar langkah apapun mendekat kearahnya.


Jaya turun dari angkasa dengan pelan, membuat Junara bisa melihat dengan jelas bahwa ada seorang manusia bisa terbang.


"A..aaa...."


Junara hanya ternganga dengan suara terbata bata.


"Kau tak akan bisa lolos dengan keadaan utuh dari hadapanku..!."


"Kejahatan yang sudah kau lakukan terlalu berbahaya bagi umat manusia..!."


"A..a.aa.."


Masih tak percaya Junara menatap Jaya yang masih melayang dengan aura menakutkan.


"Akan aku musnahkan kekuatanmu.., agar tak lagi kau salah gunakan." Jaya bergerak laksana kilat menghantam area dada dan perut dimana pusat tenaga dalam dan salurannya berada.


DUAAAARRRT....


"Aaaarrgghh.."


___________


Jejaknya....

__ADS_1


__ADS_2