Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Ancaman Belum Berakhir


__ADS_3

Kedua gadis itu lantas mengingat semua kehebatan pemuda tampan yang ada di depannya, yang ternyata seorang Dewa.


Mulai dari kehebatan Jaya dalam bertarung, terutama kehebatan dalam memulihkan diri yang tak selayaknya manusia, serta kemampuan lain yang memang di luar nalar bagi seorang manusia.


Keduanya masih menunduk menyembah Jaya sebagaimana selama ini manusia menyembah Dewa Dewa yang di puja nya, tak berani mengangkat muka apalagi menatap wajah Jaya.


Jaya kini terdiam, bingung dengan reaksi kedua gadisnya, dirinya kini malah terpaku sejak tadi, tak menyangka dan mengira dua gadisnya akan bersikap seperti ini.


"Heii..apa yang kalian lakukan?, aku masih Kakang Jaya Sanjaya meski sebenarnya nama asliku Tirta Cakra Sanjaya.'' Jaya bingung mesti harus berkata apa, dia berniat berkata jujur siapa sesungguhnya dirinya, agar kedua gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu tahu akan jati dirinya, tak malah seperti ini.


Selain itu Jaya juga ingin berkata bahwa dia sudah punya wanita di Alam Dewa yaitu Dewi Krystal Nurmala, jadi Jaya tak mau di katakan pria tak jujur.


"Ampuni kami yang tak menyadari keberadaan, dan kekuatan Dewa Yang Mulia." Kumala masih tetap berkata dengan suara yang bergetar, hatinya benar benar kacau, takut, kecewa dan juga sedih.


Takut karena selama ini telah salah tak juga menyadari dan mengetahui keberadaan sang Dewa, kecewa kenapa bisa sebodoh itu tak menyadari kekuatan seorang Dewa bahkan dengan berani berharap dan menjatuhkan hatinya kepada sosok yang sangat mulia tersebut, namun juga sedih karena pasti akan kehilangan sosok yang selama ini di dambakannya untuk menjadi suami, pemimpin dalam keluarganya nanti.


Demikian juga dengan Pelangi, dirinya bahkan tak mampu berkata apa apa, karena kurang lebih apa yang di rasakan sama dengan Kumala.


"Ada apa dengan kalian berdua?, mengapa bersikap seperti ini kepadaku? seakan kalian tak mengenal Kakang?.'' Jaya mendekat, bahkan berjongkok lalu bertumpu kepada satu lututnya meraih bahu Pelangi dan Kumala.


"Bangunlah kalian berdua, apakah kalian sudah tak mau menatap wajah Kakang?."


"Kalian sudah tak mencintai Kakang lagi?."


Mendengar perkataan Jaya, dua gadis itu dengan ragu ragu mengangkat wajahnya, menatap Jaya seakan memastikan kesungguhan dari ucapan Jaya.


"Kalian sudah tak mau menjadi istri Kakang lagi?." kata Jaya sedih, begitu dua gadis itu sudah mengangkat wajahnya dan menatap matanya.


Keduanya menggeleng.


"Tak mau..?.'' Jaya sedikit menautkan alis tebalnya, melihat gelengan keduanya.


"M..mau." sahut Pelangi pelan.


Jaya menatap Kumala yang masih terdiam, tak memberikan jawaban.


"M..m.mau," Kumala berkata tak kalah pelan dari Pelangi.


Jaya menghela nafasnya, merasa lega, lalu memeluk dan merengkuh dua gadis tersebut, yang masih saja kaku badannya, tak berani membalas pelukan Jaya.

__ADS_1


"Aku berkata jujur, bukan untuk kalian sembah, apalagi membuat kalian takut dan di agung agungkan.''


"Kalian calon istriku, sudah sepantasnya kalian tahu jati diriku yang sesungguhnya, bukan malah menjauhi ku."


"Kami para Dewa juga ciptaan SANG PENCIPTA, hanya makhluk biasa yang juga penuh kekurangan."


"Kakang harap kalian tak akan berlaku seperti itu lagi," kata Jaya makin mengeratkan pelukannya.


Mendengar perkataan Jaya, dua gadis itu dengan pelan membalas pelukan Jaya sebagaimana biasanya mereka memeluk dan bermanja kepada Jaya.


"B..b.berarti kami tak harus menjaga sikap kepada Kakang? tak harus menyembah dan melakukan puja kepada Kakang?." Kumala berkata.


"Tak harus menjaga jarak untuk Kewibawaan Kakang?." sahut Pelangi.


"Ha...ha...ha...!," Jaya tertawa terbahak bahak, lalu mengangkat dua gadis yang ada di pelukannya tersebut sekaligus, dua gadis yang hanya setinggi dada Jaya yang berbadan tinggi kekar itu.


"Kalian tak perlu melakukan semua itu, kalian akan jadi istriku bukan bawahanku." Jaya mencium kedua pipi dua gadis itu bergantian, membuat suasana langsung mencair, tak lagi kaku dan tegang seperti tadi.


"Aaauuw..!," jerit dua gadis itu, ketika tiba tiba Jaya meloncat, menjejakkan kakinya melesat keluar dari teras lantai tiga dan terbang ke angkasa.


Suasana malam yang tenang dengan taburan bintang bintang di langit, angin yang berhembus sepoi sepoi membuat malam itu sungguh indah.


Jaya mendekap keduanya, menciumi pucuk kepala dua gadis itu bergantian.


"Masih ada satu hal lagi yang akan Kakang katakan."


"Apa itu Kakang?." hampir berbarengan dua gadis itu bertanya, mendongak memandang wajah Jaya yang tengah terbang menggendong keduanya.


"Di alam Dewa Kakang mempunyai kekasih, jadi nanti istri Kakang ada tiga."


Dua gadis itu mengeratkan pelukanya, "Tiga saja ya Kakang jangan lebih," sahut Kumala, sedikit bercanda, karena masa itu seorang raja saja permaisuri, selir maupun dayang dayangnya saja tak terhitung.


"Hmm, Kakang janji hanya kalian bertiga yang akan menjadi istri Kakang."


Malam yang tenang dengan di hiasi jutaan bintang itu menjadi saksi kejujuran Jaya kepada wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya baik di alam manusia atau nanti di alam Dewa.


**


"Maaf Tetua ada surat undangan dari kerajaan MulyaBhumi untuk menghadiri Pesta Panen Bumi." kata salah satu penjaga kepada Baroto yang tengah ada di pendopo depan.

__ADS_1


"MulyaBhumi..?."


"Benar Tetua, dari kerajaan MulyaBhumi yang ada di utara kerajaan Karang Doplang."


"Pesta Panen Bumi ya, semacam pesta perayaan tahunan merayakan berbagai keberhasilan kerajaan itu?.''


"Benar Tetua."


"Baiklah mana surat itu nanti aku sampaikan kepada Tetua Agung."


**


Sebuah sinar portal tampak terbentuk jauh di atas angkasa.


Sinar yang terbentuk hanya sesaat itu cukup untuk meloloskan tiga bayangan yang bergerak sangat cepat, melesat dari himpitan liang portal cahaya yang juga menutup dengan cepat.


"Hmm, seperti ini rupanya Alam Manusia."


"Ya..ingsun juga baru kali ini memiliki kesempatan berkunjung kemari..he..he..he..."


"Alam yang terlihat indah dan kayaknya cukup tenang."


"Tapi tak ku sangka ada sosok yang menyusup kesini."


Menurut apa yang di perintahkan oleh Kaisar Dewa, tiga Dewa tersebut di tugaskan mencari keberadaan Dewa yang menyusup ke Alam Manusia dan membuat kekacauan.


Maka mereka bertiga sangat geram dengan Dewa penyusup tersebut, ingin menghajar, menangkap lalu membawa ke Alam Dewa untuk di adili.


"Benar, alam yang tenang ini di recoki oleh seorang Dewa yang bersifat Iblis."


"Ingsun tak sabar untuk menghajarnya, jika perlu ingsun habiskan Raga Abadi nya, agar tak berumur panjang lagi."


"Ya, ingsun setuju dengan apa kata pukulun, ingsun ingin segera menghajar dan menginjak injak si pengecut itu."


"Sudah, sekarang kita sudah ada di sini, kita tinggal mencari aura yang di pancarkan si pengecut itu untuk kita datangi."


"Benar, ayo kita putari alam ini, kita cari aura dari si Pengecut, jangan sampai dirinya tahu kita mencarinya, nanti malah sembunyi kayak binatang pengerat..ha..ha...ha."


___________

__ADS_1


Jejaknya....


__ADS_2