
Jambumangli menatap markas Awan Putih yang ada di depan matanya dengan penuh kekaguman.
Jika di bandingkan dengan markas Mata Iblis sangat jauh berbeda, karena tempat ini terlihat megah dan mewah, apalagi di bandingkan dengan hunian kelompok Jambumangli, bagai langit dan bumi.
"Tak percaya aku, jika tak melihat sendiri markas ini." tetua itu bergumam sambil menatap bangunan di depan.
"Keindahannya setara dengan Istana Agung dengan bangunan yang megah megah." katanya lagi sambil masih mengagumi markas tersebut.
"Benar Tetua.., tak ku sangka markas sebuah kelompok yang katanya baru terbentuk, bisa semegah dan seindah ini."
Jambumangli masih terus mengagumi kemegahan markas Awan Putih, sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
"Lihatlah bahkan di sebelah sana masih juga ada pembangunan," Jambumangli nampak menunjuk sebuah gedung yang tengah di bangun, yang bisa terlihat dari luar gerbang tersebut, meski temaram karena mulai malam.
"Benar Tetua," Semua mengedarkan pandangan matanya, " Nampaknya para penduduk juga makin banyak berdatangan dan membangun hunian di sini."
"Coba tetua lihat di samping kanan kiri dari tembok ini banyak sekali bangunan baru di dirikan."
"Terlihat jelas jika masyarakat cocok bermukim di sekitar perkumpulan ini."
Mereka masih melihat sekitarnya meskipun hari sudah mulai menggelap.
"AYAAAHH...!!."
Teriakan keras Kumala membuyarkan pandangan orang orang itu dari keindahan dan kemegahan markas Awan Putih.
Jambumangli tersenyum, melihat kedatangan putrinya beserta petinggi Awan Putih lainnya, lalu berlari memeluk anaknya tersebut.
"Anakku Kumala..!."
Setelah itu semua saling menjura sesama pendekar saling menghormat.
**
"Besok pagi kalian persiapkan perjalanan untuk kita," kata Iblis Wora yang di angguki oleh Iblis Wari, memerintahkan kepada Rakumba, Sumantri si Mata Malaikat, serta yang lainnya termasuk Karsh Krash dan Pyong Karund, agar segera mulai menyiapkan pasukannya.
Semua para Tetua itu mengangguk, mendengar perintah dari Pemimpin Agung tersebut, terutama Rakumba si Mayat, dirinya harus menyiapkan kelompok Layon Pitu yang saat ini belum di bangunkan, karena butuh persiapan lebih lama bagi kelompok Layon Pitu agar bisa di aktifkan kembali.
Kelompok Jiwa Abadi nampaknya juga akan bersiap, mulai menuju ke padang Selayang Pandang.
Setelah mendengar perintah dari Pemimpin Agung, seluruh para Tetua itu undur diri, mulai menyiapkan pasukan dari Jiwa Abadi tersebut.
"Kami mohon diri Pemimpin yang Agung, untuk menyiapkan pasukan kita."
Dua Iblis itu mengangguk, mengibaskan tanganya sebagai tanda mempersilahkan semua untuk pergi.
__ADS_1
Kini hanya tersisa Iblis Wora dan Iblis Wari di ruangan tersebut.
"Bagaimana Saudara ku?."
Nampaknya mereka mulai berkomunikasi dengan mata batin, untuk menutupi apa yang di bicarakanya.
"Aku sudah menyiapkan semua nya." sahut Iblis Wora.
"Sesuai rencana kita, hari itu akan kita musnahkan ras manusia dan akan kita ganti alam ini dengan ras Iblis yang akan kita datangkan saat itu."
Kedua Iblis itu duduk tenang seakan sedang bermeditasi, tapi nyatanya mereka tengah berkomunikasi, membahas rencana jahatnya terhadap semua kehidupan di alam ini.
"Bagaimana dengan bantuan pasukan Iblis yang di janjikan Yang Mulia Raja Sarma Pala..?."
"Nanti saat pertemuan itu kita buka portalnya, agar pasukan kiriman dari Raja Sarma Pala bisa menembus kemari."
"Dan saat itu tiba kita bisa memusnahkan semua manusia yang ada di Padang Selayang Pandang."
"Mengganti kehidupan di sini dengan pasukan Iblis."
Keduanya nampak mengangguk anggukan kepalanya.
"Semoga semua berjalan lancar." kata Iblis Wora yang di angguki oleh Iblis Wari kembali.
**
Pasukan Gagak Hitam juga mulai bergerak menuju ke utara, mereka akan singgah ke markas Awan Putih terlebih dahulu, sebelum nanti bersama sama menuju ke Padang itu.
Pasukan yang langsung di pimpin oleh sang Sesepuh Prono Condro dan Tetua Agung Lodaya itu mulai terlihat membelah lebatnya hutan, meski hari sudah larut.
Para anggota yang semula ragu ragu saat dahulu mau bergabung dengan Awan Putih, kini terlihat bersemangat setelah mendengar cerita sesepuh Prono Condro dan meyakinkan anggota Gagak Hitam jika Jiwa Abadi pasti akan memusnahkan mereka, dan satu satunya yang bisa melindungi kelompok itu hanya Awan Putih, tepatnya Tetua Awan Putih.
Kepada anggotanya Prono Condro membuka cerita lama yang selama ini di simpan rapat olehnya, membuat anggota Gagak Hitam begidik ngeri setelah tahu darimana asal kekuatan yang mereka miliki, dan mulai timbul kecemasan akan keberadaan dan ancaman kelompok Jiwa Abadi.
Maka kini mereka sangat berharap agar kelompok Awan Putih yang juga mampu mematikan kehebatan mereka, mau untuk melindungi mereka, anggota Gagak Hitam.
"Kenapa kita mesti bergerak saat malam begini? kenapa Tetua tak memerintahkan besok pagi saja ya..?." keluh salah satu anak buah dari kelompok Gagak Hitam, berbincang dengan temannya sambil terus bergerak.
"Agar tak menarik perhatian, dan juga malam memudahkan kita untuk terus bergerak," sahut Temannya.
"Memangnya siapa yang berani menganggu kita?, hingga kita harus sembunyi sembunyi seperti ini," kata anggota Gagak Hitam itu, masih saja berkata dengan jumawa.
Plaaakkk..!
Orang itu memukul kepala temannya yang terlihat konyol itu.
__ADS_1
"Auuw..!, kenapa kau memukulku ..!," sungut orang itu.
"Dasar bodoh..!, apa kau tak mendengarkan apa yang sesepuh sampaikan kemarin?, dasar tukang molor, saat ada info penting malah tertidur ya begini ini akibatnya, tolol..!." gerutu lawan bicaranya.
Kemudian orang itu menghampiri temannya, lalu berbisik, "Ada yang mau memusnahkan kita..kelompok Jiwa Abadi..," bisiknya pelan membuat temannya tersebut terkejut, kaget.
"Aah, benarkah??.''
"Sudah..kamu diam dulu, nanti kalau longgar aku cerita lagi."
"Ya...ya.." sahut orang itu, lalu terdiam dan terus bergerak.
Rombongan itu terus bergerak membelah lebatnya hutan, meski malam kian larut.
**
Setelah makan dan menikmati jamuan semua berkumpul dan berbincang.
"Aku tak menyangka markas Awan Putih sehebat ini Nakmas."
"Kami sampai tercengang dan sempat ragu tadi saat mau mendekat."
Jambumangli masih saja mengungkapkan kekagumannya di depan Jaya.
"Ahh, semua itu atas kerja keras para Sesepuh dan Tetua di sini, untuk menciptakan bangunan yang megah ini paman."
Jaya menjawab tanpa mengurangi peran serta para sesepuh dan tetua lainnya.
"Ya...semua memang hebat di sini."
Mereka lalu bercerita tentang banyak hal termasuk rencana keberangkatan ke padang Selayang Pandang.
"Kita masih menunggu beberapa anggota lainnya, setelah itu sama sama menuju ke Selayang Pandang.''
"Paman dan saudara saudara yang lain silahkan istirahat di tempat yang sudah kami sediakan, nanti dinda Kumala akan mengantarkannya."
Kumala mengangguk, tersenyum ke arah ayah dan keluarga serta anggota kelompok nya.
"Ayok..Ayah.., kita ke tempat istirahat, kasihan ibu dan yang lain, pasti sangat lelah," ajak Kumala kepada keluarganya.
"Iya Paman, istirahatlah kalian pasti lelah," kata Pelangi.
____________
Jejaknya kaka.....
__ADS_1