
Pulihnya badan Jaya dalam sekejap yang tadi sempat terluka parah membuat Randu Sembrani dan Nyai Nilam Sari terbelalak matanya dan menganga mulutnya.
"Haah??" Tak percaya dengan apa yang ada di depan matanya.
Dalam hidup keduanya selama ini, tak ada yang bisa pulih dari hantaman dahsyat secepat itu, bahkan tak sampai beberapa kedipan mata badan Jaya yang semula penuh luka dengan tulang belulang terlihat hancur bisa pulih kembali sempurna seperti sedia kala.
"Ya..Jagat Dewa Batara..." gumam keduanya lirih, dengan pandangan masih tak percaya.
Sedangkan Kumala dan Pelangi langsung memeluk Jaya tanpa malu malu lagi di depan dua tokoh sakti itu.
Keduanya terisak menangis tak bisa menutupi kekhawatiran nya tadi meski sekarang Jaya sudah pulih kembali.
"Kakang maafkan kami" seru dua gadis itu sambil masih memeluk Jaya," Kami terbawa emosi tadi hingga tak berpikir apapun."
Jaya yang sudah duduk balas memeluk keduanya, "Jangan ulangi lagi, bertindak seperti tadi sesama kalian." Sedikit keras Jaya berkata kepada keduanya.
Gadis gadis itu mengangguk, lega karena tak terjadi sesuatu terhadap Jaya yang membuat keduanya panik sesaat tadi.
"Aku tak ingin kalian saling menyakiti, kontrol diri itu perlu, saling menjaga dan melindungi.'
Kembali dua gadis itu mengangguk dalam dekapan Jaya.
**
Maharaja Agung Klewang Pikatan tengah berada di sebuah ruangan bersama para Raja dan Raja muda.
Mereka tengah melakukan perbincangan mengenai situasi yang terjadi di wilayah Kerajaan Agung tersebut.
"Aku mengundang para Raja dan Raja muda di perjamuan luar biasa ini karena ada sesuatu yang ingin aku bicarakan."
Semua Raja dan Raja muda di seluruh wilayah selatan tersebut terlihat serius mendengarkan apa yang akan di perbincangkan kali ini.
Tak biasanya Maharaja Agung Karang Pandan yang berada di wilayah kekaisaran selatan itu mengundang mereka di luar Jadwal temu musyawarah jika tak ada sesuatu yang penting.
"Mungkin kalian para Raja dan Raja muda sedikit banyak bertanya tanya kenapa aku melakukan perjamuan di luar Temu Musyawarah yang telah kita sepakati."
"Benar Yang Mulia, terus terang kami bertanya tanya ada apa ini?." sahut salah satu Raja yang bernaung di bawah Kerajaan Agung Karang Pandan tersebut.
__ADS_1
"Begini para Raja dan Raja muda saudara ku semua, sekarang alam ini sudah memperlihatkan akan adanya bahaya yang mengintai kita."
"Pergolakan di dunia persilatan makin berbahaya dan mengkhawatir kan, dan kita semakin lama semakin tak bisa mengontrol mereka para pelaku Olah Kanuragan tersebut."
"Karena kekuatan mereka sudah semakin merebak, bahkan kekuatan mereka mungkin melebihi kerajaan kecil setingkat kerajaan Jogonolo bahkan kerajaan Sirih Putih."
Kata Maharaja Agung Klewang Pikatan, pernyataan tersebut bukan isapan jempol belaka, semua menyadari itu bahwa kekuatan perguruan atau kelompok tertentu cukup menakutkan.
Mereka kini tak takut lagi dengan pihak kerajaan, hal itu bisa di buktikan saat kejadian Ndaru Kolocokro di Kerajaan Agung tetangga, yaitu Kerajaan Agung Karang Kadempel tepatnya kerajaan Ngarsopuro yang di naunginya di mana saat itu kerajaan malah di acak acak tokoh persilatan.
"Sudah lebih dari puluhan tahun ini kita para Raja tak lagi di hormati sebagaimana layaknya seorang Raja." kata Klewang Pikatan lagi.
"Terus apa yang harus kita lakukan Yang Mulia?," sahut Raja Darma Seto, Raja dari kerajaan Sirih Putih tempat dimana padepokan Randu Sembrani berada.
"Kita harus bersatu padu memperkuat pasukan kita kembali kakang prabu." jawab Prabu Klewang Pikatan kepada Raja Darma Seto yang memang berusia lebih tua dari nya.
"Kita bangun kembali angkatan perang untuk menjadi pelindung wilayah kita ini , agar kewibawaan kita tak di remehkan mereka..!."
Semua mengangguk mendengar usulan tersebut, memang mereka harus bersiap mulai sekarang jika tak ingin tertinggal jauh.
"Setuju..kami setuju apa yang diutarakan Yang Mulia Prabu Klewang Pikatan.." sahut prabu Nurmantiko raja dari Pandae Galang.
Semua pemimpin kerajaan nampak mengangguk-angguk mendengar usulan dari sang Maharaja tersebut.
Sebenarnya kekuatan kerajaan kerajaan itu sudah cukup kuat, namun untuk menanggulangi kuatnya kelompok kelompok di dunia persilatan maka perlu di adakan pasukan khusus yang akan menjadi pengaman wilayah kerajaan Agung tersebut.
**
"Sebenarnya dari mana asal muasal mu Jaya?."
"Masih banyak kekuatanmu yang tak kami ketahui?." tanya Randu Sembrani yang tak bisa menutupi rasa penasaran nya.
Pemandangan pemulihan raga seorang manusia dari cidera secepat itu baru kali ini di lihatnya.
"Ilmu apa yang kau miliki?"
Jaya hanya menggeleng mendengar pertanyaan dari Randu Sembrani, belum saatnya semua mengetahui siapa sesungguhnya dirinya.
__ADS_1
"Aku masih belum mengingatnya kek" sahut Jaya, sengaja berkata tak jujur kepada Randu Sembrani, meskipun Jaya sebenarnya sudah mulai mengingat semuanya semenjak bertemu dengan roh kitab pusaka yang membuka ingatannya.
"Aku merasakan banyak kekuatan yang masih kau sembunyikan dari kami," sahut Nyai Nilam Sari menyela pembicaraan tersebut.
Tiga orang itu masih duduk di dangau yang ada di belakang persawahan milik pribadi padepokan tersebut.
"Aku belum bisa berkata banyak tentang diriku Kakek dan Nenek, namun aku berjanji jika semua yang ku cari ketemu, mungkin baru bisa aku bercerita."
Randu Sembrani dan Nyai Nilam Sari mengangguk saja, "Ya tak apa kami tak akan mendesak mu jika memang itu keinginan mu..aku hanya berharap kau tak akan berubah menjadi sosok yang berbeda jika nanti kau memiliki kekuatanmu yang sesungguhnya."
"Tak akan kek, pelajaran hidup sudah mengajarkan kepada ku akan hal itu." jawab Jaya dengan cepat kepada kedua sosok sepuh tersebut.
"Syukurlah..semoga sang pencipta selalu membimbing mu dalam kebenaran."
Jaya Kembali mengangguk mendapat pesan dari Randu Sembrani.
**
Sekembalinya kelompok sang Ratu Dewi Mata Iblis ke markas utama kelompok Mata Iblis di sambut dengan tatapan sinis oleh Pemimpin Agung.
Kegagalan nya seakan di syukuri oleh Pemimpin Agung, meskipun jika berhasil itu akan menjadi keuntungan buatnya.
Meskipun dari luar semua melihat kedua tokoh Mata Iblis itu harmonis namun sesungguhnya tidak begitu.
"Aku sudah meyakini kau tak akan berhasil membawa pusaka tersebut ke markas ini..!," sindiran Pemimpin Agung terdengar di telinga Ratu Dewi Mata Iblis.
"Hmm, Jika saja aku berhasil menguasai pusaka tersebut, tak akan aku serahkan untuk mu." jawab ketus Ratu Mata Iblis.
"Hati hati jaga bicara mu, aku masih pemimpin Agung di sini..!," ancam sang Pemimpin Agung dengan merendahkan suara nya, karena tak ingin perseteruan itu terdengar yang lainnya.
"Ya..aku akui, kau memang pemimpin disini, yang kau peroleh dengan cara licik, jika saja tak melakukan cara itu mungkin saja sang legenda Betorokolo yang memimpin kelompok ini..," balas Ratu Mata Iblis dengan tak kalah sengit namun masih merendahkan suara nya.
Pemimpin Agung hanya menggeram mendapatkan jawaban dari wanita yang statusnya permaisurinya tersebut.
"Aku peringatkan kepada mu, jika aku terkena masalah akibat apa yang kau omongkan barusan, dan para sesepuh Kamitua mendengar bicara mu kau pun akan terkena masalah." ancamnya lagi di barengi geraman.
Dua tokoh Mata Iblis tersebut nampak menegang, saling memendam amarah di hatinya, meskipun dengan menutupi nya.
__ADS_1
___________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya...