
Anak buah partai Es Abadi itu terlempar hingga menabrak meja dan kursi yang ada di belakang nya akibat tamparan Kumala.
Kejadian itu membuat semua anggota kelompok tersebut langsung menatap ke arah Kumala.
"Keparat..!, siapa berani melawan kami.. partai Es Abadi..!," bentak Sugioprano dengan marah, dirinya tak ingin untuk yang kedua kalinya di permalukan orang lagi.
"A..a..ampun... t.tuan, jangan membuat kericuhan dan kerusakan di Warung Makan kami.." Seorang pelayan langsung bersimpuh di hadapan Sugioprano yang tengah berdiri mendekat ke arah Kumala.
"Katakan...!, kepada wanita itu..!," teriak Sugioprano mendelik menatap pelayan dan menuding ke arah Kumala yang masih melanjutkan makannya.
"Tak salah anda berkata demikian tuan...?," sahut Kumala dengan senyuman miring, "Bukankah anda tidak tuli dan tidak buta..?," sindir nya, mengingatkan bagaimana semua itu bisa terjadi.
Mendengar perkataan Kumala membuat Kertasoma meradang, kemarahan yang sudah membakarnya semenjak tadi seakan ingin di lepaskan nya dengan menghajar seseorang.
"Sudah jangan banyak omong, bereskan saja wanita itu..!," seru Kertasoma dengan pandangan dingin kedepan.
"Cuiih..!, ngakunya kelompok kebaikan tingkah lakunya tak ubahnya seperti bandit.." Kumala berdiri, membalas semua sikap dan ucapan dari kelompok di depan.
Dua petinggi lingkaran Ring dari kelompok partai Es Abadi itu makin mendidih di bakar amarah.
Bahkan Sugioprano sudah meloncat melesat menyerang tak menghiraukan apapun, jika saat ini masih berada di dalam warung makan.
"Hiaaaaa....!!."
Teriakan Sugioprano diiringi dengan lesatan saat menghantamkan pukulannya.
Wuuuuusss...!!
Hantaman itu diiringi dengan aura hawa dingin melesak menerjang ke arah Kumala.
DUAAAR....!!
Kumala menangkis hantaman tersebut membuat suara ledakan.
Sugioprano yang hanya mengeluarkan separuh tenaga nya karena tak menyangka lawannya akan menyongsong dengan tenaga sekuat itu, terlempar kebelakang hingga memporak porandakan meja dan kursi, bahkan baru berhenti ketika menabrak tiang kokoh di pojokan.
"Aaarch..," Sugioprano meringis menahan nyeri di lengan dan dada nya.
Semua orang partai Es Abadi sejenak ternganga melihat pemandangan tersebut.
"Seraaang...!!, kepung wanita itu jangan sampai lolos...!," teriak Kertasoma tanpa memiliki rasa malu.
Sudah dua kali hari ini kelompok nya di permalukan oleh seorang wanita, membuatnya kali ini ingin segera memusnahkan nya agar nama baik kelompok partai Es Abadi tak tercemar.
Laaapp...!!
Kumala meloncat melesat, tak ingin merusak isi warung tersebut akibat pertarungan di dalamnya.
"Kejaaaar...!!, jangan biarkan lolos..!!."
Kini semua anak buah partai Es Abadi yang berjumlah seratusan orang itu langsung mengepung halaman warung makan tersebut.
Sriiing...!
Sriiing....!!
Sambaran sambaran senjata langsung melesat ke arah Kumala yang kini terjebak dalam kepungan orang orang partai Es Abadi.
Taang..!
Traaang...!!
Sambaran senjata anak buah tersebut di tangkis senjata Kumala.
Sugioprano dan Kertasoma lalu meloncat ke tengah lingkaran untuk membereskan Kumala lebih cepat.
"Mati kau bangsaaat...!."
Bentak Sugioprano melesat menghantam lawnanya.
__ADS_1
"Cuih...tak ku sangka kelompok sebesar ini berani nya hanya keroyokan..!." ledek Kumala sembari menahan sambaran tongkat Sugioprano.
Taaaang...!!
Tongkat dengan aura dingin itu tertangkis dengan baik, namun sambaran tombak Kertasoma hampir saja mengenai badannya jika saja Kumala tak berkelit kesamping.
CLAAAAPP...!!
Sebuah sinar melesat menerjang ke arah dua lawan di depannya.
JDUAAAARRT...!!
Kertasoma yang kembali terkejut dengan kekuatan wanita di depannya kembali membelalak kan matanya, setelah berhasil menangkis-kan Tombaknya yang di putar membentuk benteng Lapisan es tebal.
Akibat ledakan itu anak buah partai Es Abadi yang semula mengepung rapat sedikit terdorong beberapa langkah kebelakang, karena hawa dari ledakan tersebut.
"Heii...apa hubungan mu dengan perempuan tadi..??," teriak Kertasoma dengan masih terkejut, karena melihat jurus serangan yang sama.
"Kamu mau bertarung atau cuma ngobrol..!." Kumala berkata sembari melesat balas menyerang kembali.
"Hiaaaa...!!."
Kali ini serangan Kumala menyasar ke arah Sugioprano yang lebih lemah dari Kertasoma.
Wuuuss...!
CRAAAAKKK..!!
Sebelum pukulan Kumala mengenai Sugioprano, dia melempar kan sebatang pohon yang langsung di tebas dengan senjata pedang Kumala.
Pertarungan kian lama kian sengit, namun lama lama terasa tak imbang karena keroyokan tersebut membuat Kumala yang sebenarnya sudah hebat kini tetap juga terpojok.
"Hiiiaaa...!."
Kertasoma meloncat menusukkan tombaknya yang kini sudah putih warnanya, karena hawa dingin yang kuat menyelimuti nya.
Sriiiiing...!
Traaang...!!
Makin lama tenaga dalam dari Kumala makin terkuras, serangan dahsyat dua petinggi partai Es Abadi itu cukup menguras tenaga nya, belum lagi anak buah dari partai Es Abadi yang sewaktu waktu melesat menyerang di celah celah pertahannya.
"Mau sampai kapan kau bertahan..he..he..!," ledek Kertasoma sambil merangsek menyerang .
"Lebih baik kau menyerah, buka topeng mu dan menjadi pelayan kami..!," sahut Sugioprano makin merendahkan.
Kumala tak menanggapi ocehan para penyerangnya, dirinya masih begitu kerepotan menepis dan menangkis juga menghindari serangan serangan itu.
Wuuuss..
Wuuusss...
Tebasan tebasan senjata tersebut makin menjadi, dengan makin lemahnya kekuatan Kumala.
Srriiing...!!
Sebuah tusukan Kertasoma menghujam ke dada Kumala dengan deras disertai gelombang hawa dingin yang begitu kuat.
DDENTAAAANG...!!
Satu tangkisan sebuah tombak yang begitu kuat menghadang tusukan tombak Kertasoma, membuatnya terpental.
Semua nampak kaget tak terkecuali Kumala.
Tanpa disadari nya kini telah berdiri seseorang yang menghadang serangan dari lawannya.
"Hhuh..jika saja kalian lelaki sejati tak main keroyok seperti ini, apalagi terhadap seorang wanita..!."
Kata Jaya yang ternyata tadi menghadang tusukan tombak Kertasoma tersebut, dan kini sudah berdiri kokoh menatap Kertasoma.
__ADS_1
Kertasoma yang terdorong kebelakang dengan wajah masih pias kini menatap tajam ke arah Jaya yang masih balik menatap nya, dengan membelakangi Kumala.
"Jangan ikut campur kau jika tak ingin terkena masalah..!, tidak tahu siapa kami..!." seru Kertasoma menggertak Jaya Sanjaya.
"Siapa pun kalian, aku tak perduli karena sudah bertindak seperti pengecut..!.''
"Rasanya tak percaya melihat sekelompok orang anggota kelompok Serikat Pendekar tingkat Utama berlaku pengecut dan curang seperti ini," kata Jaya dengan lugas membawa nama serikat pendekar, membuat telinga telinga para anggota partai Es Abadi memerah.
"Tutup mulut lancang mu..!, kami bertindak karena ada alasannya..!."
"Cuiih...!, apapun alasan nya.. tetap lah itu kelakuan pengecut di dunia persilatan..!." ejek Jaya dengan tatapan sinis.
Semua terdiam tak lagi melakukan perdebatan, termasuk Kertasoma yang merasa tertampar dengan perkataan Jaya, lalu memberi isyarat kepada Sugioprano dan seluruh anak buahnya untuk meninggalkan tempat tersebut.
"Ayo kita tinggalkan tempat ini..!." seru Sugioprano kepada anak buahnya lalu mengikuti Kertasoma meninggalkan tempat tersebut.
**
Kini warung makan tersebut nampak tenang setelah tak ada lagi kelompok partai Es Abadi, semua pembeli kembali duduk menikmati makanan nya.
Kumala yang menyadari siapa penolong nya langsung sumringah wajahnya.
Pemuda yang beberapa kali pernah di jumpai nya dan berhasil menarik perhatian nya kini ada di depannya.
Semua terasa bagai mimpi.
Jika selama ini mereka bertemu dalam keadaan berseberangan, kini rasanya mereka berada dalam satu kubu.
Bahkan kini mereka duduk bersama di meja makan warung tersebut.
"Terima kasih kakang pendekar.., karena sudah Sudi menolongku." kata Kumala dengan senyum cerah di balik topeng yang menutupi sebagian wajah nya.
"Sudah kewajiban kita sebagai orang yang di berikan kekuatan untuk saling tolong menolong menegakkan kebenaran dan keadilan.."
"Nona tak perlu sungkan..," sahut Jaya dengan senyumannya.
"Panggil aku Kumala, itu namaku.." kata Kumala.
"Namaku Jaya, Jaya Sanjaya.."
Keduanya saling mengenal kan diri, berbincang dan menikmati makanan, sementara di meja sebelahnya Narimo dan Baroto juga tengah menyantap makanan nya.
"Apakah kita pernah bertemu..?," tanya Jaya karena merasa Kumala bertingkah mereka sudah akrab, bahkan sesekali bercerita tentang Kotaraja Ngarsopuro.
"Aku beberapa kali bertemu kakang Jaya," sahut Kumala tersenyum manis.
"Benarkah..?, kenapa aku tak tahu..?."
"Iya ..tapi aku tak memakai topeng ini."
"Memangnya kenapa harus memakai topeng..?."
"Aku masih ingin menyembunyikan keberadaan ku terhadap orang orang tertentu," kata Kumala.
"Apakah juga kepada ku wajahmu harus di tutupi..? aku boleh melihat wajah aslimu..?," tanya Jaya.
Kumala tertawa kembali, karena sebenarnya wajahnya tak harus di tutupi.
Perlahan di buka penutup wajah nya, membuat Jaya sesaat terpesona, wajah Kumala sebelas dua belas sama cantiknya dengan Pelangi.
"Apakah kakang masih ingat dengan ku..?."
Sesaat Jaya mengangguk namun dengan ragu.
"Aku lupa..," cengir Jaya mencoba mengingat ingat namun tak berhasil.
Sementara Kumala masih enggan menceritakan kisah pertemuan mereka karena saat itu dirinya tengah mengacau bersama kelompok nya.
____________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak nya....