Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Berbincang dengan Dewa Kebijaksanaan


__ADS_3

Dewa Kebijaksanaan dan Dewa Perang masih bersila, duduk di alam Ruang Hampa, mereka berbincang di sana.


Sebuah keuntungan bagi keduanya karena berada di alam tersebut, sebuah alam yang tak berpangkal dan berujung, tak ada atas dan bawah, serta tak ada kerangka waktu di sana.


Selama apapun seseorang di alam tersebut, saat dia kembali ke alam aslinya maka rasanya seperti baru saja masuk, hanya selama satu tetesan air saja (satu detik).


Alam yang tersembunyi dan tak ada yang menghuni, jadi semua hal yang mereka perbincangkan malah terjaga kerahasiaan-nya dan tersimpan, karena tak ada yang pengintai maupun penguntit, semua rahasia terjaga aman di sana.


"Demikianlah yang terjadi di alam dewa, Yang Mulia Pukulun Dewa Cakra..," kata Dewa Kebijaksanaan menjelaskan, menceritakan apa saja yang terjadi di alam dewa kepada Jaya, selama tak ada dirinya.


"Terima kasih Yang Mulia Pukulun Dewa Kebijaksanaan, selama ini ingsun tak menyadari hal ini."


Jaya kemudian mencoba mengingat ingat semua kejadian masa lampau nya.


"Kami para Dewa di alam dewa sesungguhnya tak tahu dimana sebenarnya Pukulun Dewa Perang berada, kami hanya mengira jika Pukulun Dewa Cakra moksa hilang entah kemana."


"Bahkan saat para Dewa mendatangi istana Utara (istana Dewa Kebijaksanaan) untuk bertanya kepada ingsun, ingsun tak mampu memberikan petujuk dan gambaran, karena rupanya ini rahasia pemilik kehidupan."


"Ternyata kepergian Pukulun Dewa Cakra sudah di atur oleh SANG PENCIPTA, karena ternyata di alam manusia terbukti di temukan sosok iblis yang menyaru dan memiliki niat jahat."


"Coba Pukulun Dewa Cakra bayangkan, apa jadinya jika Pukulun tak ada di alam manusia, pasti sudah tak ada lagi kehidupan manusia, semua umat manusia bakal musnah di mangsa para Iblis dan iblis akan menjadi penghuni alam manusia."


Jaya terkejut, terperanjat dengan pola pikir dan cara pandang Dewa Kebijaksanaan tersebut, jika selama ini dirinya merasa di buang ke alam manusia karena merasa penuh dosa sebab dahulu pernah bertingkah melanggar tatanan, bahkan nekat merebut kekasih hatinya Dewi Krystal Nurmala yang di paksa menjadi selir Kaisar Dewa, untuk tetap menjadi miliknya, kini perasaan "di buang" itu sirna, bahkan Jaya kini merasa mendapat kepercayaan dan mengemban tugas menyelamatkan kelangsungan hidup umat manusia.


"Terima kasih Pukulun Dewa Kebijaksanaan atas pencerahan yang Paduka berikan."


"Dengan pencerahan ini, Ingsun tak lagi merasa di buang dan di kucilkan dari alam dewa."


"Ingsun tak lagi merasa sebagai pesakitan dan sosok pecundang, yang berlumuran dengan timbunan dosa."


Dewa Kebijaksanaan tersenyum dan mengangguk angguk.

__ADS_1


"Ingsun yakin Pukulun Dewa Cakra pasti akan tercerahkan hatinya, karena selama ini Pukulun selalu penuh dengan kebajikan di hidupnya."


Keduanya terdiam sesaat.


"Hanya kini ada sedikit masalah lagi berhubungan dengan apa yang sudah Ingsun ceritakan tadi."


"Tentang desakan dari Kaisar Dewa yang akan mengirim pasukan Dewa Pemusnah untuk mengejar Pukulun Dewa Cakra."


Jaya mengangguk, "Ya ingsun juga merasa jika masalah ingsun dengan Pukulun Kaisar Dewa tak akan mudah terurai."


"Kami memiliki tautan akar permasalahan yang tak akan usai begitu saja."


Dewa Kebijaksanaan mengangguk, "Ingsun tak bisa berbicara di sini, Pukulun Dewa Cakra dan Pukulun Kaisar Dewa sama sama kolega ku, Ingsun tak bisa memihak satu di antara Pukulun berdua."


"Tak apa, ingsun mengerti dan cukup mengerti, ini masalah pribadi kami." sahut Jaya.


"Ngomong omong apakah Pukulun tahu bagaimana dengan Dewi Krystal Nurmala? kekasihku?."


Dewa Kebijaksanaan mengangguk, "Dewi Krystal di tempatkan di Istana Ungu, istana-nya para janda."


"Kenapa ada di sana? bukan di istana ku istana Dewa Perang?." seru Jaya sedikit gusar.


Dewa Kebijaksanaan tersenyum penuh ketenangan.


"Pukulan jangan tersulut kemarahan lagi, karena ini sesungguhnya Dewi Krystal sendiri yang memintanya."


"Maksud Pukulun?."


"Sesungguhnya Kaisar tetap ingin menjadikan Dewi Krystal Nurmala sebagai selir, tapi sang Dewi menolaknya dengan alasan sudah tak suci lagi, maaf bukankah kalian sudah melakukan 'itu'?."


Jaya terperanjat, kelakuan buruk nya di masa lalu memang tak bisa di maafkan, namun sesungguhnya dirinya tak melakukan apapun dengan sang Dewi, semenjak dirinya bertemu untuk pertama kali dengan sang Dewi, dia tersadar akan kelakuan buruknya, sejak itu dia selalu menjaga tindakannya, bahkan tak akan menyentuh sang Dewi sebelum resmi menjadi istrinya.

__ADS_1


Jika Sang Dewi berkata demikian di kalangan para Dewa Dewi, bisa di lihat betapa besar pengorbanan sang Dewi atas kesetiannya terhadap Dewa Cakra.


Jaya hanya mengangguk, menarik nafasnya dalam dalam, berita ini membuatnya semakin ingin segera bertemu dengan Pujaan hatinya tersebut.


Dewi Krystal Nurmala memang meminta kepada para Dewan Agung Dewa agar di tempatkan di istana Ungu, yang artinya dia akan ada di sana bersiap melajang seumur usianya.


Istana Ungu adalah istana para janda Dewa yang telah wafat, perbedaan istana Ungu dan lainnya adalah, siapapun yang berada di istana tersebut sudah tak boleh di lamar lagi oleh Dewa yang lain, atau bisa di kata siapapun yang ada di sana, sudah menyatakan "Jangan lamar saya". Dan itu mutlak atas kehendak para janda tersebut, terkecuali jika janda itu menyatakan keluar dari sana secara suka rela, dan itu berarti dia siap di persunting lagi.


"Pesan Ingsun kepada Pukulun Dewa Cakra, jika memang permasalahan kalian berdua (Dewa Perang dengan Kaisar Dewa) tak bisa di selesaikan dengan damai, jangan bertarung di alam manusia karena pasti akan hancur dan lenyap alam tersebut."


Jaya mengangguk, pikirannya kini bercabang, antara keselamatan dua calon istrinya dan seluruh manusia, masalah Dewi Krystal Nurmala serta permasalahannya dengan Kaisar Dewa yang tengah mengerahkan Dewa Pemusnah.


"Bagaimana menurut Pukulun Dewa Kebijaksanaan?, jalan yang terbaiknya?."


Dewa Kebijaksnaan menarik nafasnya, berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan tersebut.


"Ingsun sebenarnya tak mau ikut campur, tapi berhubung ini menyangkut nyawa banyak manusia, maka ingsun menyarankan agar Pukulun Dewa Cakra mendatangi istana Kaisar Dewa."


"Jika masalah tak bisa di redam, maka kalian bisa bertarung di alam Dewa, alam Antara atau alam Ngare Suwung atau bisa ke alam ini lagi alam Ruang Hampa, jadi tak merusak alam manusia yang sempit itu."


Jaya mengangguk setuju, memang apa yang di sampaikan Dewa Kebijaksanaan adalah hal yang tepat.


"Pukulun memang hebat, tak ada masalah yang tak bisa pukulun pecahkan dengan bejaksana."


Dewa Kebijaksanaan tertawa pelan mendengar sanjungan tersebut, "Tapi Pukulun lah yang terhebat dalam bertarung," pujinya kepada Jaya.


Mereka sama sama tersenyum, mengangguk merasa menyadari perbincangan yang mereka lakukan kali ini sarat akan manfaat dan faedah.


"Sebaiknya kita keluar dari alam ini, bukankah Pukulun akan segera melakukan Sumpah Janji Langit?," kata Dewa Kebijaksanaan mengingatkan.


Jaya mengangguk, tersenyum karena teringat dua gadisnya pasti saat ini sedang cemas dan gelisah.

__ADS_1


__________


Jejaknya....


__ADS_2